SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 69 : Bahagia Itu Sederhana


__ADS_3

"Mayasa, kita semua sudah memaafkanmu. Belajarlah untuk memaafkan dirimu sendiri."


"Kak, apakah dosaku benar-benar akan diampuni?"


"Yang kakak tahu Allah itu maha Pengampun. Mengampuni setiap dosa hambanya, apabila hamba itu mau bertaubat padanya. Kakak hanya bisa bilang, bahwa kakak yang punya hak menuntutmu, sudah memaafkan. Dan kakak akan memohonkan ampun padaNya."


" Rasanya tak mungkin Tuhan akan memaafkanku."


"Jangan pernah putus asa akan rahmat Allah. Tetap ikuti jalannya. Yang lalu biarlah berlalu, tak baik kita mengingatnya, bila itu akan menjadikan lupa akan rahmatnya."


"Kak, bawa aku ke peristirahatan terakhir kak Zahara."


"Boleh, kebetulan besok hari minggu, Kakak nggak ngantor. Dan sudah saatnya kamu mengenal mami kita. Sekalian kita ke sana."


"Benarkah, Kak." Terlihat kegembiran terpancar dari wajah Mayasa.


"Sudah kewajiban kakak untuk memperkenalkanmu pada mereka."


"Oh ya ... bagaimana dengan nenek Yasmin, yàng kamu ceritakan itu."


"Aku tak tahu kabarnya lagi, sejak kejadian itu."


"Sayang sekali," kata Zaidan,"Sudah, kita sholat maghrib dulu, yuk."


Mayasa mengangguk. Membiarkan Zaidan mendorong kursi rodanya. Setetes embun dia rasakan menjadikan hatinya sejuk dan tenang.


💎


"Putri sholihah ... hari ini murojaah apa, Sayang."


"Al Mulk 3 ayat, Ayah."


"Oke, ayah dengarkan." Dengan seksama Zaidan mendengarkan bacaan Anya. Sambil memangku putrinya. Dengan al Qur'an saku di tangannya. Sekali-kali Zaidan meniup ubun-ubunnya pelan. Hingga bacaannya berakhir dengan lancar.


Lalu, melanjutkan bacaan AlQur'annya sendiri, dengan tetap memangku Anya. Yang duduk tenang mendengarkan, sambil bermain-main dengan khayalannya.


Sedangkan Mayasa dengan terbata-bata, mengikuti bacaan fatihah, yang diucapkan Dinda. Dinda dengan sabar dan telaten mengulang-ngulang bacaan itu, hingga tak terasa Mayasa bisa mengucapkan dengan tartil dan lancar.


"Shodakallahul adziiim." ucap Mayasa dan Dinda bersama-sama


"Terima kasih, Kak."


"Sama-sama."


Lalu keduanya melepaskan mukena yang mereka kenakan untuk sholat. Melipatnya dengan rapi. Lalu meletakkan dalam almari kecil yang ada di musholla itu.


"Kita makan dulu. Yuk ..." Ajak Dinda pada semuanya.


Zaidan segera menyelasaikan bacaannya.


"Kebetulan sekali, ayah juga sudah lapar."


Dia melepaskan Anya dari pangkuannya. Berdiri dan meraih Anya dalam gendongannya.


"Mayasa, bagaimana lukamu?"


"Sudah banyak kemajuan, Kak." Dia mencoba berdiri, tanpa bantuan Dinda yang sudah mengulurkan tangan.


Dengan sedikit tertatih, Mayasa bisa mencapai kursi rodanya.


"Alhamdulillah."


Mayasa tersenyum bahagia. Tapi dia membiarkan saja, ketika Dinda mendorong kursi rodanya.


Terlihat bi Sari dan bi Rahma telah menata hidangan makan malam di meja makan.


"Tumben bi Sari tak pulang?"


"Ya, Den. Anak-anak dibawa semua sama ayahnya ke rumah neneknya."


"Oh, tapi bukan kenapa-napa, kan?"


"Nggak ada apa-apa, Den. Besok mereka akan diajak pamannya rekreasi."


"Syukurlah."


Zaidan amat perhatian pada seluruh orang-orang yang ada di rumahnya. Ini yang membuat mereka betah dan setia bekerja di rumah itu.


Lalu dia menarik kursi, duduk tenang. Menanti Dinda yang dengan telaten mengambilkan untuknya dan putrinya.

__ADS_1


"Kakak Anya makan sendiri, ya ..."


"Baik, Bunda."


Tapi Dinda rupanya yang tak bisa keluar, dari kebiasaannya, untuk tidak menyuapi Anya.


Maka ketika melihat Anya agak sedikit berantakan, dia segera mengambil piring putrinya. Dan mulai menyuapinya. Meninggalkan piringnya yang masih penuh.


Hingga Zaidan menegurnya.


"Bunda ..., Atau bunda yang ayah suapi."


"Kakak Anya sudah besar, Bunda." kata Anya yang memang kali ini ingin makan sendiri.


"Nach, kan ... Bunda." Ayah Zaidan menatapnya dengan senyum.


"Sekarang bunda yang belum selesai. Makanya kalau makan tenang. Anya sudah besar, biarkan makan sendiri."


Dinda terdiam dan tersenyum menunduk. Mendengar Zaidan 'menegur'nya.


"Silahkan Bunda selesaikan makan, kita mau main piano lagi ya, Anya."


Namun tak berapa lama, dari jauh terdengar suara azan berkumandang.


"Bener, Ayah?"


"Ya. Setelah selesai sholat isya'."


"Bunda, aku tunggu ya...."


Dinda mengganguk, karena mulutnya tengah sibuk menguyah makanan terakhirnya. Kemudian membereskan peralatan makan yang dibantu oleh bi Sari.


💎


"Apakah Anya sudah tidur?"


Zaidan menatap mesra Dinda, yang baru masuk ke kamar mereka. Sambil meletakkan buku yang baru dibacanya, di atas nakas. Yang ada di pinggir ranjang.


"Sudah ... di kamarnya. Hari ini Anya manis sekali. Apa karena kita memanggilnya 'kakak'."


Zaidan yang melihat istrinya berpikir, hanya tertawa kecil. Lalu meraih tangan Dinda yang berjalan ke arahnya. Mendudukkan Dinda sampingnya. Meski Dinda masih duduk membelakanginya.


"Dia bukan hanya putrimu tapi putriku juga." Jawab Dinda.


Dia menatap Zaidan , protes.


Zaidan makin tertawa. Ternyata bahagia itu sederhana. Membuat gemes istrinya adalah salah satunya.


Lalu, meraih Dinda dalam pangkuannya.


"Dia sudah besar sekarang, semoga di sini sudah tercipta adiknya."


Tangan Zaidan menyentuh perut Dinda dengan lembut.


"Aku menyimpan beberapa tespect di laci itu. Coba habis ini kamu pakai untuk mengetes, Sayang."


"Kenapa mas inginnya buru-buru."


"Buru-buru?!"


Dinda menghentikan pernyataanya, bingung sendiri. Lalu mencari jawaban pada tatapan Zaidan.


"Bagaimana hal itu takkan terjadi. Sedangkan kita selalu bersama, Sayang. Dan kamu membiarkan mas menyentuhmu."


Dinda masih diam, tertunduk.


"Apa kamu tak bahagia jika itu terjadi?"


Zaidan meraih dagu Dinda, dan menatap dalam di bening matanya.


"Aku bahagia. Tapi aku masih belum sanggup jika mereka hidup dalam bayang-bayang musuh-musuh mas."


"Humaira sayang ...." Dia meraih istrinya dalam pelukannya. Mendekapnya dengan hangat.


"Itu tak selamanya. Pasti ada akhirnya, karena kita ada dunia fana. Hanya kita sabar atau tidak."Hanya itu yang bisa ia katakan, karena dirinya juga merasa rapuh.


Ya Robb ....


Berikanlah kami kekuatan untuk menjalani semua ini. Hingga Engkau menangkan kami atas orang-orang yang ingin mendholimi kami.

__ADS_1


Tak ingin larut dalam kesedihan. Zaidan segera mengalihkan pembicaraan.


"Bunda, sudah saatnya kita membawa Mayasa ke mami Haydi. Bagaimana menurutmu?"


"Itu hak Mayasa, Mas. Semakin cepat dia tahu mungkin akan lebih baik."


"Sayang, ikut nggak?"


"Kalau boleh."


"Tapi jangan cemburu ... kita mampir ke makam Zahara dulu."


"**Ya." Dinda menunduk.


Tapi tetap saja hatinya terusik. Ketika Zaidan menyebut istri pertama di hadapannya. Jika di hadapan orang lain dia bisa bersikap tenang. Tidak kalau sedang berduaan. Rasa cemburunya terlihat sekali.


Akui saja kalau kamu cemburu, Sayang.Bisik hati Zaidan dalam senyum yang mengembang.


Ingin dia meraih Dinda dalam dekapan hasratnya. Tapi tak berani. Takut Dinda belum siap. Seperti yang baru saja dia ucapkan.


"Kita tidur saja ya ..." Sambil melepas pelukannya. Lalu merebahkan diri di samping Dinda.


Dinda yang merasa suaminya tak seperti biasanya. Merasa kecewa.


"Mas, marah?"


"Untukmu, mas nggak bisa marah."


"Baiklah. Aku ke kamar mandi dulu. Mau coba tespect yang mas punya?"


"Jangan, kamu tak mau hasilnya, kan?"


"Aku yakin mas akan menjaga kami. Untuk apa aku takut."


"Kamu yakin?"


"Aku sangat yakin."


Dia beranjak dari sisi Zaidan. Mengambil tespect yang ada di laci meja kecilnya. Lalu, ke kamar mandi, diiringi senyuman Zaidan yang mengembang.


Dengan sabar Zaidan menanti sang kekasih keluar kamar mandi. Rasanya hatinya tak sabar lagi.


Diambil kembali buku yang tadi sudah diletakkan di atas meja. Mencoba untuk mebacanya kembali, namun tak berhasil.


Tak lama kemudian Dinda telah keluar dari kamar mandi dengan membawa sebatang tespect.


"Bagaimana hasilnya?"


Senyum Dinda mengembang, membuat Zaidan gemas. Dia segera meletakkan bukunya. Menanti dan sabar kata-kata Dinda, dengan hati yang berdebar.


Dinda yang tahu akan keingintahuan suaminya, berjalan melambat dengan senyum yang menggoda. Mambuat Zaidan gemes.


Dia segera bangkit, sedikit berlari mendekati istrinya.


Entah mengapa Dinda masih ingin berlama-lama untuk mengungkapkan hasilnya. Dia menghindar dari tangan Zaidan yang hendak meraihnya. Berlari mengelilingi ranjang.


"**Bunda!?"


Akhirnya tertangkap juga Dinda. Dan Dinda sudah tak bisa lagi berlari, karena Zaidan telah memeluknya dengan erat.


"Apa hasilnya."


Dengan berbisik lembut di telinga Zaidan, dia berkata,


"Dua setriip merah."


sambil menunjukkan tespect yang dia pegang.


"Alhamdulillah. Terima kasih, Bunda. Maukah Humairah mengandung anak-anakku?"


Zaidan mencium dahi istrinya mesra.


"Ya ... sudah di sini, tanya gitu."Tangannya meraih tangan Zaidan, agar menyentuh perutnya.


"He ... he ... he .... Bisanya diriku sebodoh ini ..."


Dinda menatap dalam Zaidan, dengan senyum manjanya ....


Hingga menyibak keangkuhan untuk ungkapkan rindu. Hasrat yang sempat sirna kini kembali datang, mengetuk pintu cinta untuk menyatu dalam satu raga ....

__ADS_1


💗💗💖💖💖💕💕💕💕


__ADS_2