SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 51 : Dia Mayasa


__ADS_3

Zaidan terus mengarahkan pandangannya ke arah Fadly dan Layla yang tengah menyantap makanan. Mengamati dengan seksama. Ada keraguan saat menatap Layla. Sayang, dia pakai lengan panjang. Aku tak bisa melihat ciri-ciri yang disebut Anya


Dia Layla atau Mayasa.


💎


flassback


"Layla, nanti kalau pak Fadly datang, suruh masuk saja!"


Meski bersaudara tapi dalam pekerjaan, Zaidan menerapkan profesionalisme. Tak membedakan saudara dengan pegawai lainnya.


"Ya, Kak."


Zaidan pergi meninggalkan Layla.


Hari ini banyak sekali yang harus dia selesaikan. Sehingga tak menyadari ada seorang pria berdiri di sampingnya.


"Mayasa, sejak kapan kamu di sini?" Layla terperanjat.


"Maaf, Bapak siapa ya?"


"Mayasa, baru 2 hari yang lalu kita bertemu. Kamu sudah lupa."


"Maaf, saya benar-benar tidak mengenal Bapak."


"Mayasa, 2 hari ini aku mencarimu, ternyata kamu di sini.Apa kamu ingin menghindariku."


"Baik ... baik. Maksud bapak apa ya ...."


Layla benar-benar dibuat bingung dengan lelaki ini.


"Baiklah, Mayasa kalau kamu tak mau bersamaku, tak mengapa. Tapi janganlah engkau berpura-pura tak mengenalku."


"Maaf, Pak. Apakah Anda ... bapak Fadly."


"Baiklah Mayasa. Kamu benar-benar melupakanku,"


Terlihat kekecewaan di matanya.


"Silahkan masuk, Pak Fadly. Bapak sudah ditunggu."


Hanya sekitar setengah jam. Dia sudah kembali dari ruangan Zaidan.


Terlihat keduanya akrab. Zaidan mengantarkannya hingga keluar pintu ruangannya.


"Mayasa, apakah kamu belum bisa mengenalku. Atau kamu sengaja melupakanku."


Layla menghentikan pekerjaannya saat disadari pak Fadly sudah berdiri di depannya lagi. Membuatnya bingung.


Bagaimana ini, sedangkan dia memang benar-benar tidak kenal sama orang ini. Ketemu juga baru kali ini.


Tapi Layla mencoba bersikap propesional dalam pekerjaan. Jadi tetap memberikan senyum cool. Meski tak tahu untuk apa.


Untunglah, saat itu Zaidan melihatnya.


"Pak Fadly, ada apa?"


"Meski bapak ceo di sini, tapi tolong jangan rebut Mayasa dariku."


"Mayasa?!" Zaidan terkejut.


"Bapak Zaidan tak usah berpura-pura."


"Maaf pak Fadly, dia bukan Mayasa, dia Layla"


"Bukan Layla, dia adalah Mayasaku."


"Baiklah pak Fadly. Tak usah bapak khawatir. Saya tidak akan merebut dia dari bapak."


"Mayasa, aku mau bicara."


Layla semakin dibuat binggung. Akhirnya dia melirik kakaknya. Mohon pertimbangan.


Sayangnya yang ditanya juga kelihatan bingung. Hanya mengangkat kedua bahunya.


"Baiklah, Pak Fadly. Tapi tidak sekarang."


"Aku tunggu di Hayana Restaurant, sore ini."


"Ya ..."Jawab Layla segera. Karena dia tak ingin lama-lama berdebat.


Alhamdulillah, akhirnya pergi.


Mau gimana lagi. Dijelaskan juga tak mungkin difahami. Kalau sebenarnya dia bukan Mayasa.

__ADS_1


Dan siapa lagi itu Mayasa ...


"Mayasa" Gumam Zaidan.


"Ada apa , Kak."


"Tidak. tidak usah kau pikirkankan."


"Kakak, sebenarnya ada apa?"


"Sore nanti kamu mau temui dia?"


".Tak tahulah."


"Layla, insya Allah besok sekretaris kakak sudah datang. Kamu bisa lebih ringan."


"Alhamdulillah ...."


"Di Australia, kamu bisa belajar sekaligus bekerja di perusahaan daddy Kamal. Kalau tak menggangu belajarmu."


"Mauku juga begitu, Kak."


"Kalau terlalu berat, belajar saja."


"Ya, Kak."


💎


Bayangan itu mengusik angan Zaidan.


"Ada apa Mas?"


Zaidan tersenyum menatap istrinya.


"Sebentar."


Zaidan mengangkat Hp-nya. Mencoba menghubungi Layla. Namun beberapa kali dia coba, dia tidak mendapatkan reaksi dari Layla yang ada di bawah sana.


Tapi kenapa Hp ini terhubung dan berdering. Setetah 2x meradialnya akhirnya terangkat juga.


"Assalamu'alaikum ... Layla."


"Wa'alaikum salam ... ada apa, Kak."


"Kok tak diangkat-angkat. Kamu dimana?


"Ya, sudah. Kalau sudah pulang. Ku kira belum"


"Tumben mengkhawatirkanku?"


"Kamu itu adik kakak yang suka hilang. Makanya kakak khawatir."


"Assalamu'alaikum ...."


"Wassalamu'alaikum ..."


Allahu Akbar,


Ternyata dia bukan Layla, dia Mayasa.


Seperti pinang dibelah dua. Sangat-sangat mirip. Tinggi, rambut,suara, gaya bicara , busana pilihannya. Tidak meninggalkan sosok Layla sama sekali.


"**Mas."


"Dia bukan Layla."


"Maksud Mas."


"Dia Mayasa."


"Ayah, es creamnya enak sekali. Boleh lagi?"


"Bunda."


"Tunggu di sini, Bunda akan ambilkan."


"Dibungkus saja, Bun. Kita pulang."


Zaidan melihat Mayasa dan Fadly meninggalkan restorant itu.


"Bunda , cepat ya. Kutunggu di tempat parkir dengan Anya."


Dinda menuju ke dapur restoran dengan cepat. Sedangkan Zaidan meraih putrinya. Mendekapnya dalam gendongan. Mengikuti Mayasa dan Fadly keluar.


Tak lama kemudian Dinda menyusul. Dengan cepat Dinda meletakkan bawaaannnya di bagasi.

__ADS_1


"Sudah, Ayah."


"Sayang, Kamu sama Anya di belakang ya ...."


"Ya, Ayah."


Kali ini dia tak mau terganggu dalam mengemudi mobil.


Dinda mengikuti perintah Zaidan dan menggantikan menggendong Anya. Duduk dengan tenang.


Begitu mesin mobil dihidupkan, Zaidan langsung tancap gas. Mengejar Masaya dan Fadly, sesaat lalu telah meninggalkan restorant.


Dari kejauhan Zaidan masih bisa melihat mobil mereka. Namun sayang saat lampu merah, dia sudah tak bisa mengejarnya lagi. Dia kehilangan jejak.


Meski begitu, dia masih mencoba. Akhirnya dia menumakannya lagi.


Dari jarak 100 meter, dia melihat Mayasa turun dari mobil. Menuju ke sebuah apartemen yang cukup mewah. Tak jauh dari kawasan perkantoran perusahaan Layla berada.


Rupanya kamu di sini, Mayasa. Kamu selalu mematai-matai Layla. Apa kamu yang menyebabkan kerugian yang besar pada perusahaan Layla.


Zaidan menghentikan mobilnya tak jauh dari tempat Mayasa turun.


Sesekali terlihat Anya menguap. Dinda membelai kepalanya dengan berlahan. Sehingga Anya tertidur.


"Kurasa hari ini cukup kita jalan-jalannya. Kita balik pulang."


"Sudah mau maghrib, Mas."


"Ya , kita akan sholat maghrib di rumah."


"Sekarang temani ayah. Bunda dan Anya boleh di depan."


"Anya sudah tidur, Mas"


Senyum Dinda yang mengulum, membuat Zaidan tenang.


"Terima kasih, Sayang. Kamu begitu tenang dan menjaga Anya dengan baik. Hingga dia tertidur."


Dengan sedikit bantuan Zaidan, dia berpindah, duduk di sampingnya.


"Tanganmu dingin, Humairah."


"Aku sangat takut, Mas."


"Ya, mas mengerti."


Dia kecup dahi istrinya dan memeluknya cukup lama. Agar Dinda tenang. Lalu melepaskannya ketika terlihat Dinda tersipu.


" Bagaimana sayang, kita lanjut."


Dinda tersenyum.


"Apa tidak sebaiknya kita pulang dulu, mungkin mami bisa membantu.


Mereka benar-benar sama."


"Tak mungkin ...."


"Apanya yang tak mungkin?"


"Aku tak bisa membayangkan, kalau Mayasa adalah juga adikku. Karena ...."


"Ya , Dinda mengerti, Mas."


Akhirnya Zaidan memutuskan untuk pulang.


Berlahan dia meninggalkan tempat itu. Menyusuri jalanan dalam remang cahaya mentari, yang mulai memasuki peraduan. Menyisakan warna merah saga di cakrawala.


Tepat adzàn mulai terdengar, mobil Zaidan memasuki pelataran rumah besar itu.


Berlahan dia membawa mobilnya ke garasi.


"Alhamdulillah, putri ayah sudah bangun."


"Kita di mana, Ayah."


"Sudah sampai rumah oma."


"Ayo, Anya ikut ayah. Biar bunda kita tunggu di musholla."


Ya Allah yang senantiasa menjaga hati tersembunyi.


Bila Mayasa adalah adikku


Aku tak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


:


__ADS_2