SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 94 : Kalau Mommy Ana Sudah Bertindak


__ADS_3

"Apa perlu aku gendong?""


Mayasa hanya tertawa kecil. Sambil berusaha untuk melangkah. Namun kakinya belum kuat untuk menahan berat tubuhnya hingga dia terhuyung akan jatuh.


Secara raflek tangan Fadly menggapainya. Membiarkan tangan Mayasa memegang lengannya dengan kuat. Mayasa berhenti sejenak menahan sakit yang mulai terasa berat.


"Sudahlah, biarkan kakak menggendongmu?"


Dia menyerah pada inisiatif Fadly. Membiarkan tangan kekar Fadly mengangkat dirinya secara berlahan.


"Maafkan kakak, May."


Tak dapat dipungkiri bahwa detak jantungnya ikut berdebar. Manakala tubuh Mayasa telah sempurna dalam pelukannya.


"May yang merepotkan kakak."


"Jangan banyak bicara. Kita langsung ke dalam atau di teras dulu?"


"Kita ke dalam kakak. Bukankah saatnya acara pertunangan kita."


"Baiklah."Meski lelah, Fadly tetap tersenyum membawa tubuh yang kini kesakitan dalam pelukannya. Hingga akan memasuki ruang utama.


"Kak sudah, turunkan aku disini. Aku malu."


"Tak apa." Fadly masih enggan untuk menurunkan tubuh orang yang telah memperkenalkan dirinya pada cinta.


"Kumohon." Mayasa menatap dengan mengiba agar Fadly berkenan menurunkan dirinya.


"Tidak, Sayang. Sebelum sampai di kursi rodamu."


"Aku bisa berjalan, Kak." Fadly menggelengkan kepala dengan menatap langit, untuk menghindari tatapan Mayasa.Terlihat air mata Fadly menetes, tanpa sengaja mengenai pipi Mayasa.


"Kakak lelah?"


Fadly tersenyum. Tak memberikan jawaban apa-apa.


Ingin dia ceritakan bahwa hatinya begitu perih melihat ketidakberdayaan wanita dalam gendongannya ini.


"Mengapa kakak menangis?"


Fadly tetap diam. Hanya hembusan nafas yang berat, terasa akan keluar dari dirinya.


"Apa dirimu tak suka dalam gendongan kakak, May."


"Kita belum halal, Kak?"


Senyum Fadly mengembang dan berkenan menurunkan Mayasa tepat ketika mereka akan melewati ruang utama acara.


Sejenak Mayasa merapikan busana dan juga jilbabnya, dengan satu tangan. Sedangkan tangan yang lainnya, berpegang erat di lengan kekar milik Fadly.


Baru hendak berjalan, Mayasa sudah kembali akan jatuh. Beruntung saat itu Fadly belum beranjak dari tempatnya. Dengan sigap dia menangkapnya.


"Ya kan, sudah kakak bilang. Mau nekat?"


Mayasa hanya meringis menahan sakit.


Sekali lagi dirinya harus rela saat Fadly mengangkat tubuhnya. Dan melewati para tamu dengan berbagai tatapan.


Sesaat acara terhenti karena kehadiran mereka. Yang telah lama ditunggu. Dari sejak acara lamaran hingga akan dimulainya acara pertunangan.


Semula semua mata memandang ke arah Aris, yang akan menyematkan cincin di jari manis Layla. Kini semua pandangan beralih pada Fadly yang tengah menggendong Mayasa, berlahan memasuki ruangan.


Dari depan dekat mc, Zaidan menyaksikan perlakuan Fadly pada Mayasa agak ketir-ketir. Sebab adegan seperti ini kalau sampai terlihat mommy Ana bisa berabe.


Zaidan mencoba tenang sambil memberi isyarat pada Shaffa dan Reza untuk melanjutkan acara penyematan cincin pertunangan.


Aldo yang berada di samping Zaidan menyenggol lengan Zaidan, mengisyaratkan sesuatu dengan lirikan matanya.

__ADS_1


"Zai ... Zai ... mommymu."


"Ya." Jawab Zaidan gugup. Nach lo ... aku harus bilang apa ke mommy.


Apalagi pada saat yang sama Shaffa dan Reza memanggil mereka berdua untuk acara penyematan cincin pertunangan. Dengan keadaan Fadly masih menggendong Mayasa. Dan baru menurunkannya ketika sudah ada di depan para undangan.


Zaidan sudah tak bisa lari lagi dari sikap geram mommynya kali ini.


"Zai ... tahu tugasmu sebagai kakak?" Pernyataan awal mommy yang membuat Zaidan pusing kepala.


"Ya, Mom. Lalu Zaidan harus bagaimana?"


"Gitu kamu biarkan."


"Mereka sudah saling kenal, dan punya hati sebelum Zaidan bertemu dengan Mayasa. Maafkan Zaidan Mom ... tak bisa menjaga adik."


"Lalu?"


"Bukankah acara ini sudah sangat baik buat mereka ... Rencananya esok mereka menikah di KUA."


"Itu sudah mami dengar?"


"Lalu apalagi yang kurang, Mom?"


"Tak kasihankah kamu dengan istrimu yang harus menemani Mayasa dan putrimu?"


"Maksudnya, Mom?"


"Nikahkan saja mereka sekarang?"


"Siri?"


"Ya, besok baru ke KUA."


"Aku tak berani, Mom. Kalau tak tercatat di negara. Mayasa adikku."


"Mommy tahu. Tapi dengan tindakan Fadly saat ini. Nikahkan saja mereka saat ini."


"Terserah Mommy saja, Zaidan ikut. Tapi apa Mayasa dan Fadly setuju?"


"Itu jadi urusanmu."


"Lalu bagaimana dengan mama veronica, mamanya Fadly?"


"Mommy akan bantu."


"Aku ke mereka dulu, Mom."


Hendiana mengangguk. Zaidan pergi meninggalkannya. Dia akan menemui Fadly dan Mayasa. Yang kini sedang menyematkan cincin pertunangan.


Selesai sudah acara pertunangan. Kini mereka sedang menuju ruang tengah untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.


Sementara itu baik Mayasa , Fadly, Layla dan Aris masih berbincang-bincang santai. Tak menyadari kalau Zaidan menghampirinya.


"Selamat untuk kalian semua."


"Terima kasih kakak."


"Tinggal besok tugas kakak."


"Habis itu?"


"Terserah kalian."


"Mayasa, Fadly bisa ikut kakak sebentar?"


Fadli berdiri akan mengikuti Zaidan, tapi diurungkannya. Dia melihat Mayasa mencari-cari kursi rodanya untuk bisa mengikuti kakaknya.

__ADS_1


Beruntung Aris dan Layla melihat itu. Sehingga mereka berdua yang dengan suka rela yang berpindah tempat.


"Kita makan dulu, Sayang?"


"Baik, Kak."


Aris dan Layla pergi meninggalkan mereka bersama Zaidan untuk berbincang-bincang. Sementara mereka menikmati hidangan sambil menyapa tamu-tamu yang lainnya.


"Mayasa, Fadly ... kakak mau ngomong serius. Tentang kalian."


"Ya, Kak. Ada apa?"


"Kakak mau to the point saja."


Ada tanda tanya besar yang melintas di dalam pikiran Fadly. Sehingga menyebabkan dahinya berkerut.


"Katakan, Kak. Kami siap mendengarnya. "


"Ini semua gara-gara kalian. Sehingga mommy Ana jadi malu."


"Maksud Kakak."


"Kamu ke sini pakai acara menggendong Mayasa. Dilihat orang kan nggak baik. Kalian itu belum sah."


"Lalu?"


"Siap nggak siap kalian harus siap menikah malam ini."


Bagai mendapat durian runtuh. Fadly berkata sambil mengusap wajahnya dengan gembira.


"Alhamdulillahi robbil alamiiin, akhirnya bisa ngikuti jejak kak Zaidan. Lamaran dan menikah satu waktu. Seperti yang Fadly harapkan selama ini."


Sedangkan Mayasa bingung tak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya jadi panas dingin tak tentu. Dan telapak tangannya dingin seketika.


Zaidan yang melihat reaksi Fadly yang kegirangan jadi bertanya-tanya.


"Jadi, itu tadi modus Lo .... agar bisa bawa adik gua tanpa surat dari negara."


"Nggak ... nggak, Kak. Itu tadi tak sengaja. Sayang Mayasa mau jatuh waktu akan jalan. Siapa yang nolongin. Kan aku yang ada bersamanya."


"Sebenarnya aku nggak rela kalau pakai nikah siri-sirian segala. Beruntung besok kita sudah ke KUA. Kalau enggak ....?"


"Kenapa, Kak."


"Sudah kugebuki dirimu babak belur."


"Sadis."


"Sudah, persiapkan diri kalian. 15 menit kutunggu di sini."


"Siap, Kak."


Zaidan pergi meninggalkan mereka berdua hendak menemui abah Hamdan dan Syarif untuk menikahkan mereka.


"Sayang, tunggu sebentar aku mau minta restu dulu ke mama."


"Ya." Jawab Mayasa binggung.


Setelah menemui mamanya sejenak. Fadly menghampiri Mayasa yang masih bingung.


"Sayang, boleh aku numpang mandi di kamarmu, lepek banget."


"Ya." Tanpa ekspresi.


Mayasa juga membiarkan saja sewaktu Fadly mengangkat tubuhnya di bawa ke kamar.


Zaidan yang melihat itu menepuk jidat sendiri.

__ADS_1


Nich orang makin parah ....


Setelah berbicara sejenak pada abah Hamdan dan ustadz Syarif, Zaidan menyusul ke kamar Mayasa.


__ADS_2