
Zaidan melajukan mobilnya, menyusuri jalanan yang sudah mulai terlihat ramai. Meski cahaya matahari belum sempurna terlihat.
Mobil itu berbelok ke sebuah jalan sepi yang ada di belakang sebuah hotel berbintang. Sepertinya ini sebuah perumahan elit. Tampak dari rumah-rumah yang berjejer dengan megahnya.
Mas Zaidan tak menghentikan mobilnya hingga mencapai ujung gang . Seorang laki-laki membuka gerbang. Dan membiarkan kami lewat.
"Terima kasih, Pak."Sapa Mas Zaidan dengan menundukkan kepalanya..
"Sama-sama." jawab laki-laki itu.
Di sebuah halaman yang luas dan taman yang sangat asri. Zaidan menghentikan mobilnya. Lalu mengajakku berjalan, menyusuri jalan kecil, menuju sebuah rumah megah, yang berjarak 25 meter dàri kami berhenti.
Tepat di depan sebuah pintu, dia meraih tanganku. Memberiku sebuah kunci.
"Bukalah!"
Ku ikuti yang jadi permintaanya. Membuka pintu yang ada di depanku.
Aku hanya berbisik,
"Ya Alĺah, luaskan kuburku sebagai mana engkau luaskan rumah bagiku. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.
Anya yang sudah bangun di mobil berlari ke arah kami.
"Bunda, ini rumah siapa?"
Aku hanya menjawab dengan melirik ayahnya, yang sedang tersenyum.
"Rumah kita. Bagaimana, Bunda. Suka?!"
"Terima kasih, Ayah."
"Tinggal memperbaiki bagian belakang. Dan mengisi dengan perabotan. Insya Allah 2 minggu sudah siap untik ditinggali."
Tak bisa kupungkiri, kalau aku menyukai rumah ini.
"Ini hadiah untukmu, telah mengajari putriku hingga hafal juz 30."
"Terima kasih, Ayah."
Dengan memberikan kecupan di pipinya, sesuai dengan permintaanya. Yang sejak tadi sudah menyentuh pipinya. Sambil melirikku.
Aku dan Anya melihat ruang demi ruang. Yang terlihat teramat luas bagiku.
"Sudah siang. Kapan-kapan kita ke sini lagi."
Setelah mengunci pintu itu, aku mengikuti langkahnya.Yang berjalan sambil menggandeng Anya.
Memasuki mobil dengan rasa senang. Lalu menjalankan mobil itu dengan tenang meninggalkan tempat itu.
He ... he ... he ....
"Mengapa tertawa?"
"Humaira tak mengira, kalau Mas sudah menyiapkannya. Humaira merasa tersanjung."
"Untuk bunda Anya, sebagai ucapan terima dari Anya."
"Terima kasih, Anya. Bunda senang sekali."
Kupeluk tubuhnya sambil menyentuh hidungnya dengan gemas.
"Ya, Bunda." jawabnya polos. Membuatku tertawa. Padahal dia tak tahu mengapa harus mengucapkan kata itu.
__ADS_1
Lalu kuambil benda pipih persegi dari tas kecilku. Mengetik sesuatu untuk Yeyen. Koki restoranku.
[ Yeyen...tolong nanti buatkan 100 kotak nasi untuk adik-adik panti asuhan
Sekalian kamu antarkan.]
[Baik, Mbak.]
"Suami di sampingnya, dicuekin."
Dinda tersenyum, lalu memperlihatkan ketikannya pada Zaidan.
"Oh tak kira apa, boleh."
"Waktu di rumah mami, Yeyen bisa ambil sendiri racikan bumbu yang kubuat. Kalau kita di rumah mas. Gimana?"
"Ya, aku ngerti. Nanti bisa minta tolong pak Tata untuk mengantarkan."
"Aku tak ingin rumahku yang satu itu, diketahui oleh orang luar. Kecuali orang yang aku kehendaki. Layla dan keluarganya saja tak pernah tahu kalau aku tinggal di tengah sawah."
"Mengapa harus sebegitunya, ayah."
"Entahlah, Kenapa aku merasa selalu punya musuh."
"Aku juga merasa begitu."
"Kamu juga tahu. Kalau kita sering dikejar-kejar orang tak dikenal."
"Bukankah kemarin udah tertangkap semua."
"Kita tak tahu. apa sampai di situ saja. Ataukah hanya percikan kecil dari musuh yang sebenarnya."
Wajah Dinda sedikit tegang , mendengarnya.
"Sudàh, jangan dipikirkan. Senyummu jadi hilang. Nanti Anya jadi takut."
"Bilang sama ayahmu, ANYA TAK TAKUT, Hayana ...!!"
Anya yang mendengar kata-kata bunda Dinda, mengangkat suaranya tinggi-tinggi. Dengan ekspresi yang menyakinkan.
"ANYA TAK TAKUT."
Mata hitamnya yang membulat sempurna, membuat Zaidan dan Dinda tertawa lepas.
"Sudah ... sudah," Dinda berucap sambil mengusap wajah putrinya yang mengekspresikan kekuatan jiwanya. Namun dengan mimik kanak-kanaknya.
Tiba-tiba laju mobil diberhentikan mendadak oleh Zaidan. Membuat Dinda sedikit tersentak.
"Ada apa , Mas."
"Itu tadi ada orang mau nyebrang, tapi nggak kasih tanda."
Sebenarnya tidak hanya itu, yang membuat Zaidan menghentikan mobilnya, secara mendadak. Dia melihat orang yang menyeberang itu, adalah orang yang sepertinya sudah dia kenal. Dia adalah orang yang pernah masuk ke rumahnya.
Kenapa dia sekarang bebas berkeliaran di sini?
Siapa yang membebaskannya.
Dan pikiran-pikiran lain, yang sekarang telah memenuhi angannya.
Tak berani dia menceritakan hal itu pada Dinda. Nanti akan membuatnya khawatir.
Berlahan, Zaidan melajukan mobil. Melanjutkan perjalannya hingga tak lama telah sampai di rumah Zaidan yang ada di tengah sawah.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kita sudah sampai."
"Asyiiik ...."seru Anya gembira.
"Bagaiman, Bunda."
Dinda hanya tersenyum. Sambil bermain-main dengan Anya.
Di depan pintu gerbang mobilnya berhenti sejenak. Menunggu dibukakan.
Setelah terbuka, maka tampak olehnya, pak Tata yang tersenyum menyambut kedatangannya.
"Assalmu'alaikum pak Tata."
"Wa'alaikum salam, Pak."
Mobil itu memasuki pelataran yang rindang. Baru kemudian Zaidan menghentikan mobilnya dengan sempurna. dengan mematikan mesinnya.
"Ayo semua, turun!" seŕu Zaidan senang.
Terlihat dari tengah pintu rumah, Mayasa yang masih duduk di kursi roda, menatap mereka dengan senang.
Tak sangka kak Zaidan akan benar-benar memenuhi janjinya. Membawa Dinda dan Anya bertemu dengan dirinya.
Tak lama kemudian bik Rahma keluar, menghampiri mereka. Membantu membawa barang-barang Dinda.
"Selamat, Pak. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah."
Kata yang telah lama dia ingin ucapkan, tapi taknpunya kesempatan. Karena semenjak Zaidan berpamitan hendak melamar Dinda. Semenjak itu dia sudah tak bertemu lagi. Dan baru kali ini dia punya kesempatan itu.
"Terima kasih, bik Rohmah."
"Sekarang, kami punya nyonya rumah. Dan non Anya punya teman untuk bermain."kata bik Rahmah dengan polosnya. Membuat Dinda menyungging senyuman.
"Ada saja, Bibik ini ..." kata Dinda lembut.
Mungkin Anya sudah amat rindu dengan rumahnya. Begitu turun dari mobil. Dia berlari menuju samping rumah, yang ada ayunannya. Tanpa peduli dengan Dinda yang memanggilnya.
" Sepertinya, itu pekerjaan awal bunda di sini dech." sambil tersenyum melirik pada Dinda.
Tak tahulah, sepertinya harus demikian. Kalau sudah tidur, susah amat bangunnya. Begitu terbuka itu mata, ada saja hal yang dilakukan. Dan tak kenal kata lelah. Hingga dia tertidur lagi.
Dinda lalu mengikuti putrinya itu, meninggalkan ayah Zaidan dan bik Rahmah mengangkat baràng-barangnya. Membawanya ke dalam rumah.
"Anya sayang, ayo ... kita ke dalam rumah dulu, itu tante Mayasa sudah menunggu." Teriak Dinda sambil mendekati putrinya yang sedang bermain ayunan.
"Tante Mayasa. Siapa itu, Bunda?"
"Itu, menunggu kita." Kata Dinda sambil menunjuk Mayasa, yang melambaikan tangan ke arahnya.
Anya terlihat tertegun. Sejenak diam dan kelihatannya berfikir.
"Bunda, itu tante Mayasa?"
"Benar."
"Seperti tante Layla."
"Benarkah."Jawab Dinda singkat. Dengan mengangkat kedua alisnya. Seolah-olah terkejut.
"Ya sudah. Ayo kita ke sana. Tante Mayasa rindu sama kamu, putriku."
"Bunda, tak bohongkan?"
__ADS_1
"Mengapa bunda harus bohong, putri kecilku ...."Dinda berucap sambil meraih Anya dalam dekapannya.
Dinda mencoba mengikuti jalan pikiran putrinya. Yang mulai membuka lembaran kelamnya.