
Sudah lebih 15 menit, sejak telpon itu ditutup. Belum juga menghubungi lagi.
Tapi Layla, Aris dan Alfath sudah siap untuk bernegoaiasi. Sesuai dengan arahan Aldo.
"Layla, kamu sudah siap melepaskan sahammu."
"Kak Zaidan jangan khawatir. Yang penting semua selamat."
"Terima kasih, Dik."
"Sekarang, biar aku yang atasi masalah ini. Kakak pergilah menyelamatkan Anya dan kakak ipar."
Aldo menatap Layla, Layla mengangguk.
"Lakukan dengan tenang. Biarkan yang lainnya bagian pak Aslam."
"Aris, Alfath. Aku pasrahkan Layla pada kalian.Jaga dia dan bimbing dia. Jangan sampai terjadi kesalahan."
"Jangan khawatir. Ibu Layla bukan orang bodoh. Zay."
Aris menepuk bahu Zaydan.
Akhirnya mereka menghubungi, setelah lewat 30 menit.
", Hallo ,bagaimana, apa sudah kau siapkan."
"Mana anak dan istriku?"
"Sabar, setelah surat itu ada ditanganku. Aku akan melepaskan mereka."
"Apa maumu?"
"Aku tunggu kalian di bawah tol ...."
"Baik."
"Hanya 10 menit dari sekarang,"
Dan lagi-lagi telpon ditutup sepihak.
"Aku pergi dulu, Kak."
"Ya. Alfath, Hubungi terus kami. Apapun yang terjadi."
Alfath mengangguk.
"Kami juga mau menjemput Anya dan Dinda."
Ya Allah mohon mudahkan urusan kami.
Kami hanya bisa berpasrah padamu.
Mereka menuju mobil masing-masing. Dan melajukannya dengan tenang hingga tiba di tempatnya.
Tiba di bawah jalan tol , terlihat sepi, tak ada mobil atau orang di tempat itu. Sejenak mereka tertegun.
Ada apa dengan tempat ini.
Mengapa terlihat sepi.
"Ternyata yang dikirim hanya seorang perempuan." sebuah suara yang sempat membuat mereka tertegun
Dari balik tembok penyanggah jalan, muncul 3 orang, berpakaian kaos hitam dan berkaca mata. Terlihat sangar.
Ternyata mereka sudah menunggu. Entah sejak kapan.
"Maaf, aku yang memiliki saham itu. Mengapa bukan aku sendiri yang datang." jawab Layla tenang.
"Besar juga nyalimu, Nona."
"Tapi, aku tak perduli kamu laki-laki atau perempuan. Yang penting, apakah kamu membawa apa yang kami minta."
__ADS_1
Layla tersenyum.
"Tidakkah kamu melihat koper yang kubawa."
"Serahkan pada kami, urusan selesai."
"Maaf, tak semudah itu. Bagaimana dengan jaminan untuk surat yang akan kuserahkan ini."
"Dimana mereka?"
"Hemmm ... tak sangka kamu wanita yang berani."
"Baiklah, kalau kamu ingin melihat merèka. Tapi serahkan koper itu dulu."
"Kelihatannya bapak terlalu bernapsu dengan koper ini."
"Bagiku koper itu tak ada artinya, dari pada nyawa dua orang yang kini kalian jadikan tawanan."
"Di mana mereka."
"Baiklah, mari nona ikut kami."
"Waw ... ikut Tuan. Apa aku tak salah dengar?"
"Datangkan mereka ke sini. Baru aku akan percaya."
"Mengapa nona sulit diajak kerja sama?"
"Atau kami harus memakai kekerasan."
"Maksud Bapak?"
"Kami hanya mau perusahaan itu."
"Sudah kuduga. Kalian tak pernah menghargai nyawa orang."
"Serahkan koper itu, atau kami pakai cara kekerasan."
Alhamdulillah regu pak Aslam sudah bergerak . Dan mampu meringkus mereka semua.
Hanya tinggal 3 orang tersisa. Yang kini berdiri di hadapan Layla, Aris dan Alfath.
Melihat orang yang dibawanya semua sudah dikuasai. Membuat 3 orang itu menjadi panik.
Apalagi dari arah belakang mereka telah berdiri polisi yang menodongkan pistol ke arah mereka.
Tanpa disadari oleh Layla, orang yang ada di depannya mengunci dirinya. Hingga koper yang dipegangnya terlepas.Lalu menodongkan pistol ke kepala Layla.
" Ibu Layla " Teriak Aris dan Alfath hampir bersamaan.
Aris mengambil koper itu cepat. Sedangkan Alfath mengambil kuda-kuda hendak menyerang orang tersebut.
"Serahkan koper itu!"
Sambil dia menarik mundur tubuh Layla berlahan menjauhi lokasi itu. Hingga mendekati mobilnya. Diikuti oleh Aris dan Alfath.
Dengan isyarat Layla, Aris melempar koper ke arah orah tersebut. Yang membuat Layla bisa melepaskan diri.
Segera tangan Aris menarik tubuh Layla menjauhi orang tersebut. Sementara Alfath segera melancarkan serangan dengan tendangannya.
Tak disangka lelaki itu mengeluarkan 1 tembakan ke arahnya. Yang hampir saja mengenai jantungnya.
Belum sempat pistol itu meletus, kaki Alfath telah menyentuh tangan lelaki itu, hingga membuat tangannya bergoyang. Sehingga peluru itu hanya menyasar pundaknya saja. Alhamdulillah.
Lalu lelaki itu masuk ke mobil, untuk melarikan diri. Dengan membawa koper Layla. Aris dan Alfath membiarkannya pergi. Tanpa berusaha mengejarnya.
"Alfath, lukamu?" kata Layla.
"Ris, tolong."
Aris membuka baju luar Alfath. Untuk digunakan membalut luka agar darahnya tidak banyak keluar.
__ADS_1
"Terima kasih, Ris."
"Ibu Layla. Mengapa diam."
Aris tertegun melihat Layla yang tiba-tiba diam. Terlihat matanya berkaca-kaca seperti hendak menangis.
Tak lama kemudian terdengar terisak. Sambil menutup wajahnya.
Membuat Aris dan Alfath bingung.
"Mari, Bu. Kita ke mobil. Kita kembali."
Layla menurut. Bertiga mereka ke mobil. Namun Layla masih saja terdengar terisak.
Lalu Aris berlahan menghidupkan mobil meninggalkan area tersebut melewati pak Aslam dan beberapa polisi yang berhasil meringkus penjahat itu. Semuanya berjumlah 7 orang.
"Mari, Pak Aslam, Bapak-bapak , saya duluan. sambil menundukkan kepala."
"Ya, silahkan."
Bingung juga, Aldi melihat Layla yang belum berhenti dari tangisnya. Ingin bertanya tapi takut, tidak berkenan.
Akhirnya dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Mengabaikan Alfath yang merintih menahan perih di pundaknya. Tapi untung Alfath pengertian. Dia tidak mempersalahkan.
"Layla, masihkah ada yang mengganjal di hatimu dalam masalah ini."
Layla menggelengkan kepala.
Lalu Aldi memberika sebotol air mineral kepadanya. Layla meminumnya. Sesaat kemudian dia terlihat sedikit tenang. Dan dia mau menghentikan tangisnya.
"Maafkan aku. Sebenarnya aku sangat tegang dan takut menjalankan misi ini.
Kalian teman-teman yang baik. Sehingga aku kuat waktu melakukannya."
"Terima kasih, Aris." Layla spontan memeluk Aris, menumpahkan tangis di dadanya.
Innalillahi .... batin Aris menjerit.
Lha ... lha, ini tak masuk skenario rencana.
Bisa kena tempeleng Zaidan kalau sampai tahu. Hatinya berkecamuk tak menentu.
Alfath yang menyaksikan tersenyum, melihat kekikukan Aris. Lalu dia membuang muka sambil menahan nyeri. Nich ... orang tidak tahu apa kalau aku lagi sekarat.
"Ya, Aris mengerti. Tapi sekarang sudah selesai, Bu."
Layla lalu melepaskan pelukannya. Mengusap wajahnya.Lega rasanya.
Aku masih normal. Jangan asal peluk. Nanti imanku hancur Layla.
"Aku terlihat bodoh sekali ya, sudah selesai baru nangis."
Layla tertawa ringan, seperti tak ada beban. Aris dengan senang hati ikut tertawa bersamanya.
"Jangan panggil bu lagi."
"Ya ... Layla." Aris tertawa. Membuat Layla bertambah gembira.
"Aduh ... sakit." Alfath berkata lirih. Bukan beracting, tapi benar-benar sakit.
"Ya , kita langsung ke rumah sakit."
"Maafkan kami, pak Alfath."terlihat pipi Layla bersemu merah.
Aris menghidupkan mesin mobil. Lalu menjalankannya dengan tenang hingga tiba di rumah sakit terdekat.
💎💎
Ternyata aku dipencundangi sama wanita itu. Koper ini hanya berisi kertas bekas saja.
Si*****lan. Jangan harap Istri dan anakmu kembali dengan selamat.
__ADS_1