
Tak ingin beranjak dari tempat dia bersandar, Mayasa menanti Fadly dengan sabar. Yang sampai saat ini belum datang juga. Debar jantungnya bukan murni irama rindu lagi. Tapi telah bercampur sempurna dengan kegelisahan dan kecemasan.
Bukanlah berlebihan, bila kini Mayasa berbalut kegelisahan dan kecemasan pada Fadly. Karena kerasnya dunia hitam yang pernah dijalani, telah memberikan bekas yang tak pernah hilang dari tubuhnya apalagi di hatinya.
Ana yang tersadar bahwa Mayasa telah berada di belakangnya, menatapnya dengan damai. Seakan ingin berkata,
"Nak, jangan cemas nanti dia akan datang."
Namun kata itu tidaklah mampu Ana ucapkan. Hanya belaian lembut jari-jarinya menyentuh kepala yang kini terbungkus jilbab dengan sempurna.
Dari ruang depan sudah terdengar suara Shaffa yang memandu acara bersama dengan Reza. Namun tak membuat Mayasa beranjak dari tempatnya semula. Tetap berdiri hingga Ana dengan sedih menghampirinya.
"Kita ke dalam, yuk."
"Tidak tante, biarlah aku menunggu di sini?"
"Semua sudah dipersiapkan mamamu. Meski Fadly tak bisa hadir sekalipun."
"Aku mengerti, Tante. Tapi di dalam terlalu berisik, membuat Mayasa tak bisa berdo'a dengan baik untuk kak Fadly."
"Kalau gitu, ijinkan tante menemanimu."
"Ya, tante."
💎
Sewaktu Zaidan menghubungi Fadly pertama kali telpon itu tak diangkatnya. Dalam pikiran Zaidan mungkin sedang dalam perjalanan.
Lalu dia menghubungi pak Aslam. Alhamdulillah terangkat. Tapi alangkah terkejutnya saat mendapat penjelasan dari pak Aslam kalau Fadly telah mendahului pulang 20 menit yang lalu. Yang seharusnya sudah tiba di kediamannya. Tapi mengapa sampai acara akan dimulai belum menampakkan batang hidungnya.
Saat menghubungi yang ke dua. Alhamdulillah terangkat. Alangkah terkejutnya saat mengetahui, bahwa dalam perjalanan Fadly dihadang lagi dengan 3 pengendara sepeda motor yang berboncengan, tak diketahui asalnya. Dia memutuskan untuk berputar agar dapat menghindar dari kejaran.
Sebagai akibatnya dia semakin lama untuk tiba di tempat pertunangannya.
Untunglah saat ini Zaidan sudah bersama Aldo, yang dengan cepat mengetahui lokasi itu, serta meminta kepolisian terdekat untuk membantunya.
Zaidan dan Aldo tak tinggal diam. Mereka segera menyusul Fadly. Yang kini masih berputar-putar dan adu kecepatan dengan orang-orang yang menginginkan dirinya.
Akhirnya mereka bisa melihat keberadaan Fadly, yang kini dikurung oleh tiga pengendara motor. Dari sisi kanan, kiri dan belakangnya.
__ADS_1
Dan yang sangat mengkhawatirkan adalah salah satunya membawa senjata api. Kini senjata itu telah mengarah sempurna ke arah Fadly.
Aldo yang kali ini tidak dibelakang kemudi, mengarahkan pistol yang dia bawa pada orang itu, menembak pistol yang dipegangnya. Dan tembakannya tepat sekali mengenai benda itu, hingga terlempar jatuh ke bawah jalan layang.
Tak berhenti hanya di situ. Aldo mengeluarkan tembakan lagi. Kali ini ditujukan pada roda-roda motor yang mereka kendarai. Sehingga mereka semua terpelanting dan terkapar di sisi motor yang roboh namun masih tetap bergerak. Hingga menyeret mereka beberapa meter.
Setelah dapat menyusul Fadly. Aldo memberi sentuan terakhir pada aksinya, dengan memberikan tembakan pada tanki motor masing-masing hingga menimbulkan ledakan dan kebakaran. Untuk selanjutnya sudah ada pihak kepolisian yang meringkusnya. Meski datangnya teramat lambat.
Sekarang Fadly dapat melajukan motornya dengan tenang diiringi oleh mobil Zaidan. Meski dengan kecepatan yang masih sama seperti saat dikejar. Malah mungkin lebih. Karena takut masuk waktu injure time dalam penantian Mayasa. 😁😊
💎
Shaffa dan Reza membawa acara demi acara dengan sangat baik. Dari pembukaan, pembacaan al Qur'an, salam sapa tuan rumah, lamaran, dst. Tak tahulah ....
Yang tuan rumah maunya seperti ini. Resmi ... .
Hanya sayang yang punya hajat pergi entah kemana. Dan sampai sekarang belum datang juga. Yang bikin bingung untuk mc adalah saat lamaran.
Kalau saat pak Hamdan menyampaikan lamaran Aris untuk Layla. Layla ada di ruangan itu. Dan semua bisa menyaksikan sikap Layla secara langsung. Ya dan tidak-nya. Meski diam, tidak melalui kata-kata.
Itulah jawaban bila masih perawan. Kalau diam berarti ya. Apalagi kalau bisa berterus terang dengan mengatakan iya. Semakin jelas dan nyata persetujuannya.
Kecuali kalau tidak. Katakan tidak saja. Biar semua jelas dan tak boleh sakit hati, mungkin belum jodoh. he ... he ... he...
Nach .... giliran paman Fadly menyampaikan lamaran Fadly pada Mayasa. Dua-duanya tak ada di tempat. Gimana ini ....
Mayasa juga nggak mau masuk kalau Fadly belum datang. Padahal sudah dibujuk mama Veronica. Tapi tetap saja dia memilih menunggu Fadly di luar. Tidak mengikuti acara ....
Syarif juga celinguk-an harus bagaimana ....
Beruntung ada pak Hamdan yang bisa meluruskan persoalan.
"Semua sudah menyaksikan jawaban Nak Mayasa, atas lamaran pak Fadly yang diwakili oleh pamannya.
Bagaimana dia menantikan kedatangan Fadly.
Kurasa itu sudah menunjukkan sikapnya. Kalau dia bisa menerima lamaran ini. Meski tanpa kata.
Apa sich yang diinginkan oleh orang yang saling rindu, kecuali bertemu.
__ADS_1
Berarti lamarannya diterima. "jawab pak Hamdan memecah kebingungan semua orang. Termasuk mama Veronica yang makin cemas dengan keberadaan putranya saat ini.
Membuat semua yang hadir senyum-senyum. Sempat ada yang iri juga.
Sorry ini nggak masuk skenario ...☺
Mungkin hati sudah terpaut. Begitu Fadly memasuki gerbang, Mayasa berdiri dan berlari menyambutnya. Lupa pada dirinya yang masih belum sembuh dari luka.
"Kak, kanapa terlambat?"
Hampir saja Fadly menyambutnya dengan pelukan. Kalau tak ingat tubuhnya masih lepek penuh keringat dan belum berganti baju.
"Tak apa-apa, sebentar kakak mau ganti dulu."
Zaidan dan Aldo terheran-heran, menyaksikan Mayasa lari.
Kapan dia mampu berlari?
Bukankah selama ini masih memakai kursi roda. Bisa berjalanpun hanya pelan dan kadang tertatih-tatih.
Mungkin ini awal yang baik untuk mereka.
Doakan saja ....
Aldo dan Zaidan meninggalkan mereka, menuju ke ruang utama untuk mengikuti acara sampai dimananya.
Fadly sendiri pergi mengambil pakaian yang ada di mobil dan berganti sekalian. Sedikit membersihkan badan pakai cairan pewangi dan pembersih ala anak muda sekarang. Maklum keadaan darurat. Tak ada rotan akarpun jadi. Meski tak bersih-bersih amat. Setidaknya bau badan telah hilang.
Lalu menjumpai Mayasa yang menunggu dengan setia, dengan bersandar pada mobil yang terparkir.
"Sayang, mengapa masih di sini?"
Mayasa baru menyadari kalau tubuhnya sudah kembali padà kesadaran semula. Rasa sakit dan ngilunya datang kembali. Hingga rasanya dia tak lagi mampu berjalan.
Hanya sayangnya Fadly salah faham. Melihat Mayasa yang teramat manis dengan dandanan seperti itu. Dan ditambah suasana yang mendukung. Di bawah temaran cahaya bulan yang bersinar malu-malu. Menyangka kalau Mayasa ingin berduaan dengannya sebelum masuk ke dalam.
Berlahan dia mendekati dan ingin dia bisikkan kata.
"Kamu teramat cantik malam ini."
__ADS_1
Tangan Mayasa sudah menyentuhnya dan berkata,
"Kak, aku nggak bisa jalan."