
"Kakak, maafkan aku."
"Ya."
Hanya kata itu yang kudengar dari bibir kakakku. Dia tak menoleh padaku sedikitpun. Dia begitu dingin.
Dia mendorong kursi roda yang kududuki, dengan diam. Meninggalkan ruangan yang selama satu minggu ini aku tinggali, hingga tiba di pelataran rumah sakit.
Menuntunkanku berlahan, menuju mobil yang diparkirnya. Memapah dan membantu diriku untuk duduk, di sampingnya, tempat dia mengemudi, tanpa senyum di wajahnya.
Rasanya ingin menangis saja. Merasakan sesak yang menghimpit dadaku. Inginku memeluknya, tapi aku tak punya keberanian. Karena begitu berat kesalahan yang aku torehkan di hatinya. Dengan menghilangkan nyawa belahan hatinya. Dan juga bunda dari seorang anak yang tak berdosa.Kesalahan apa yang lebih besar dari itu.
Aku hanya tertunduk lemah di sampingnya. Tak berani menatapnya, apalagi berbicara dengannya.
"Masaya, Bagaimanapun kamu adikku. Aku sudah mencabut laporan itu. Dan sekarang aku ingin kamu pulang."
Aku tak tahu harus menjawab apa.
"Untuk saat ini, kuharap kamu tidak keberatan tinggal di rumah kakak."
"Terima kasih, Kak."
"Di sana, kamu akan ditemani bik Rahma dan pak Tata."
Mayasa menggangguk lemah.
"Bila perlu apa-apa, bilang pada mereka."
"Ya."
Tak terasa bening di mataku lolos begitu saja melewati pelupuk. Namun dia masih tetap tak menoleh.
Kakak ... aku juga rindu pada mereka, entah mereka tahu atau tidak tentang keberadaanku.
Aku tak tahu sebenarnya aku ini siapa. Sejak kecil diasuk oleh nenek Yasmin, orang tua renta yang ada di kampung kecil. Di kaki gunung Sinabung.
Selesai SMA, aku dijemput papi Ryan. Dan sejak saat itu, aku sudah diperkenalkan dengan dunia hitam. Meski hanya sebagi pencatat atau mengatur kurir-kurir papi.
Hingga suatu hari, papi membawaku ke kota ini. Tanpa sengaja aku melihat Layla. Anehnya papi selalu menyuruhku berperan sebagai Layla. Membobol perusahaan yang Layla kelola.
Akhirnya kutahu, kalau aku kembaran Layla yang tertukar. Siapa yang menukar dan kapan, sengaja atau tidak. Aku tak tahu.
Papi sangat marah waktu perusahaan itu dapat bangkit. Karena bantuan Zaidan. Papi Ryan sangat marah. Menugaskanku untuk menghabisi putri Zaidan dengan alasan bahwa putri Zaidan yang telah merebut hakku atas perusahaan itu. Aku tak tahu, kalau itu hanya permainan Papi, untuk menghancurkan keluargaku dan perusahaan Zaidan sekaligus.
Siapa yang mau menjadi pembunuh. Aku pun begitu, aku tak mau ....
Tapi aku tak punya pilihan, Papi Ryan mengancam akan membunuh nenek Yasmin dan keluarganya tanpa tersisa.
Malam itu ada adalah malam yang paling aku takutkan. Pertama kali papi telah melumuri tangan ini dengan darah. Tapi aku tak berdaya. Andai aku punya pilihan ....
Andai ini bisa kuceritakan pada kakak, yang sedang ada di sampingku saat ini. Tapi sungguh aku tak mampu.
Setelah melewati jembatan, di jalanan yang membelah persawahan, kakak menghentikan mobilnya. Berdiam sekian lama. Kuberanikan diri untuk melihatnya.
Terlihat bulir-bulir bening keluar dari pelupuk matanya yang terpejam. Lama-lama dia terisak. Dari bibirnya yang bergetar, kudengar bibirnya berbisik,
"Zahara, aku tak sanggup."
Diletakkan kepala di kemudi. Tanpa menoleh dia berkata padaku,
"Apakah di tanganmu ada gelang rantai?"
Aku tak berani menjawab ...
"Jawab Mayasa !!!"
Suara amat berat dan keras. Membuatku tersentak. Hingga aku sangat gugup dan takut. Tapi akhirnya bisa ku kumpulkan keberanian untuk menjawabnya. Meski berat karena pasti akan menyakitkan bagiku dan baginya.
__ADS_1
"Ya..."
"Keluarlah. Buang jauh-jauh benda itu!!"
Aku hanya bisa diam terpaku duduk di sisinya.
"Mayasa, kamu tak mendengarku!!"
Dia sama sekali tak melihatku. Bahkan memalingkan muka dengan air mata yang tak bisa dia bendung lagi.
Dengan gemetar aku buka pintu mobil. Kucoba mengangkat tubuhku yang masih terasa nyeri di bahu dan kaki kiriku. Dengan tertatih-tatih, aku berdiri dengan memegang mobil itu. Mencoba berjalan untuk menuju ke sungai yang ada di hadapanku. Hanya 5 langkah aku berjalan, aku sudah terhuyung, dan terjatuh.
Dalam keadaan duduk, sejenak ku beristirahat, sambil melepas gelang dan juga kalung perak putih yang berbentuk rantai, pemberian papi Ryan.
Jika hidup hanya untuk dipermainkan. Apalagi hanya sebagai boneka, menghancurkan keluarga sendiri. Apa artinya ....
Aku sudah tak inginkan papi Ryan lagi .... Bersamaan dengan itu, aku melemparkan kalung dan gelang jauh ke dalam aliran sungai yang deras di sana.
Aku masih terduduk di rumput itu. Kurasa lukaku yang semakin nyeri. Ingin ku menangis. Tapi ....
Aku harus kuat ....
Akhirnya aku bisa berdiri kembali. Dan melangkah kembali ke mobil. Ku dapati dirinya masih memalingkan muka tak mau menatapku.
"Achrrgg ..." aku menjerit lirih menahan sakit.
"Kenapa, sakit!!"
Aku diam.
"Kenapa diam??!!"
hiks ... hiks ... hiks ....
"Maafkan Mayasa, Kakak. Ku mohon .... Bunuhlah Mayasa ....
Hiks ... hiks ... hiks ....
Dia diam, dan tetap memalingkan muka. Menatap nanar jauh ke depan.
"Satu lagi, Tato kupu-kupu di tanganmu apa sudah kau hapus."
Aku sudah tak peduli lagi dengannya, akupun berteriak.
"Siapa yang punya tato. Lihatlah tangan Mayasa."
Aku mengulurkan kedua tanganku padanya. Sambil memalingkan muka. Aku tak mau melihatnya. Karena dia tak punya hati ....
Kak, lebih baik engkau bunuh diriku, dari pada kau perlakukan aku seperti ini.
"Gambar-gambar di tanganku bukanlah tato tapi hayna. Aku suka melukis, apalagi melukis hayna."
Hiks ... hiks ... hiks ....
Kudengar kakak berbisik lirih.
"Zahara, maafkan kami. Tenanglah kamu di sana."
Tak sangka, kakak memelukku sangat erat. Dan membiarkan aku menangis dalam dekapannya.
Kurasakan bulir-bulir air matanya menetes membasahi rambutku.
"Maafkan kakak, Mayasa. Kemarahan kakak telah menyakitimu."
"Kakak, aku inginkan kakak. Aku inginkan semua. Maafkan May, Kakak."
Dia tetap mendekapku.
__ADS_1
"Kalau kakak belum bisa memaafkan Mayasa. Biarkan Mayasa menjalani hukuman Mayasa."
"Maafkan kakak, Mayasa. Kakak hanya ingin memberimu ini."
Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari laci mobil. Lalu melepaskan satu tangannya dan memperlihatkan gelang permata yang berkilau.
"Tapi mengapa kakak seperti itu, Mayasa takut."
"Kakak hanya takut melihat apa yang pernah dilihat Anya tentangmu."
"Kakak tak ingin Anya melihatmu sebagai orang yang selama ini dia takuti."
Lalu memasangkan gelang permata itu di tanganku, tanpa melepaskan pelukannyanya.
"Kamu adalah Mayasa, tantenya Anya."
"Kakak jahat," aku memukul dadanya lemah dan menangis di dadanya.
Baru kali ini aku merasakan dekapan dari orang yang menyayangiku sebagai saudara.
"Sudah, maafkan kakak."
Aku hanya mengangguk. Dan melepaskan diri dari dekapannya. Dan mengusap sisa-sisa air mata.
Kakak tersenyum tulus menatapku. Lalu menjalankan kembali mobilnya. Menyusuri jalanan di tengah persawahan.
Hingga tak terasa telah di sebuah rumah yang sangat asri.
Dengan hangat, kali ini kakak membantuku keluar dari mobil. Dan memapahku duduk di kursi roda. Lalu mengantarku ke dalam.
"Oh ya ... kakak mau kasih tahu kamu, 2 minggu lagi kakak akan mengadakan resepsi atas pernikahan kakak."
"Jadi belum resepsi. Boleh aku menggambar hayna pada kakak ipar dan Anya."
"Terserah mereka."
"Ka, bolehkah Mayasa menemui mereka?"
"Boleh, Moga-moga besok kakak bisa ajak mereka ke sini."
Kakak mengantarkanku hingga ke kamarku.
Kulihat ada sebuah al Qur'an dan mukenah di atas ranjangku.
Aku menatap kakak.
"Ini untukmu."
"Kak, aku belum bisa."
"Untuk hari ini, kamu belajar sama bi Rahma. Insya Allah selanjutnya akan kakak ajarkan. Ini tanggung jawab kakak."
"Terima kasih, Kakak."
"Kakak pergi dulu,"
"Cepat kembali sama Anya dan kakak ipar."
"Insya Allah ."
___________________________
Maaf readers, lama tak bisa up,
sibuk dengan Anya-anya dalam nyata.
Semoga readers belum lupa dengan ceritanya.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya berupa like, saran atau vote. Agar author semangat update-nya