SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 39 : Kecemasan Anya


__ADS_3

Seharian ini kami berkeliling kemana-mana. Dari kantor KUA. Lalu belanja keperluan, termasuk mampir ke butik untuk memesan baju-baju untuk kami seperti yang suami janjikan. Tak lupa mampir ke restoranku. Melihat keadaan sekaligus mempersiapkan makan siang di sana. Tanpa pulang terlebih dahulu kami langsung ke kantor Zaidan.


Nach ... di sini ini nich yang bikin selalu salah tingkah.


Sikap Zaidan yang mesra banget itu yang bikin aku sering salah tingkah. Kadang kala Zaidan menggandeng tanganku erat. Atau menarik diriku mendekat padanya, saat aku berjalan agak jauh darinya. Bikin tak enak hati dengan pegawai-pegawai yang kebetulan bersisipan jalan.


"Bunda tak usah malu, bulan depan kita adakan resepsi." bisiknya ditelingaku.


Hatiku sedikit tenang dan lega.


Untunglah ada tuan putri Anya yang mengemaskan. Berlari ke sana ke mari tak perduli banyak orang. Hingga aku lupa sedang banyak mata memperhatikanku. Mereka menyimpannya tak berani mengatakan.


Anya memanggil-manggil diriku dengan sebutan 'Bunda'. Aku tersenyum dibuatnya.


Ah sudahlah . Mau tak mau, lama-lama juga mereka akan tahu. Mengapa harus ragu dan bingung menghadapi mereka.


Jadi ingat pertama kali ke sini. Ya ... saat itu untuk pendirian restoranku. Anya sudah sangat bermanja padaku. Itu saja sudah menarik perhatian.


Apalagi saat ini, Zaidan dan Anya bersikap teramat manja.seakan ingin memamerkan keberadaanku di sisi mereka. Ah narsis plus gr...


Nikmati sajalah ....


Untuk menghindari dari kecurigaan, akhirnya Zaidan menjawab keheranan mereka. Dengan memberi penjelasan pada sekretarisnya, yaitu pak Aris.


"Jangan salah sangka, dia istriku."jawab Zaidan tanpa ditanya.


"Kapan menikah?"


"Semalam."


"Kok, nggak undang-undang. Dan mendadak."


"Ya mungkin sudah yang di sana menghendaki kayak gini. Dijalani saja."


"Berarti masih siri, Pak."


"Resmi. ini sudah ada buku nikahnya."


"Kok kami nggak diundang."


"Belum resepsi, baru ijaban."


"Selamat pengantin baru ...."Akhirnya pak Aris tersenyum tanpa curiga.


"Barokallahu lakuma wa baroka 'alaikuma bil khoir."


"terima kasih. Alhamdulillah."


"Hari ini jam 12 mau pulang. Tolong siapkan berkas-berkas yang aku perlukan untuk besok."


"Ya Pak. Layla hari ini mau ketemu."


Anya yang bermain dan melompat-lompat tiba-tiba berhenti. Tampak ketakutan di wajahnya. Meraih tanganku, memegang dengan erat. Terasa dingin. Ku usap rambutnya yang berkepang satu. Namun tak membuatnya tenang. Akupun meraih dan menggendongnya. Tak mengerti dengan apa yang terjadi padanya. Semua itu luput dari perhatian Zaidan. Namun aku merasakan kegelisahannya yang sangat dan ketakutan yang tiba-tiba.


"Sayang..." bisikku di telinganya. Lalu mengecup dahinya.


"Mas aku keluar dulu. Sama putri bunda yang cantik ini."

__ADS_1


"Oh ya ?!" jawab Zaidan dengan mengeryitkan alisnya.


"Jam berapa Layla mau datang?" Terlihat wajah Zaidan yang serius menatap sekretarisnya itu.


"Jam 10."


"Kalau datang suruh masuk saja ke ruanganku."


"Ya, Pak."


Aku berlalu meninggalkan mereka, yang sibuk dengan pekerjaannya. Menuju ke taman kecil yang ada di bawah. Untuk menenangkan Anya yang tiba-tiba pucat dan gemetar dalam gendonganku.


Duduk di dekat kolam ikan koi yang teduh,dengan pohon rimbun di sekelilingnya. Membuat suasana hati Anya lebih tenang. Dia menatap wajahku dengan cemas.


"Ada apa, Putri bunda yang cantik?." seperti biasa kucubit hidungnya dengan gemas. Namun tak ada respon.


"Katakan sayang, ada bunda di sini."


Lama dia terdiam, ada bulir-bulir bening mengalir di sudut matanya. Seperti ada yang mau di sampaikan, tapi berat. Hingga aku tak tega.


"Sayang, katakan pada bunda. Percayalah sama bunda." ku bisikkan kata-kata itu di telinganya.


"Tante Layla jahat. Dia jahat sama Anya."


Aku tak tahu apa maksudnya. Namun sinar matanya belum sirna dari ketakuatan.


"Bunda tak boleh pergi. Yang harus pergi tante Layla."


Aku semakin tak mengerti dengan apa yang diucapkannya.


"Bunda jangan dekat-dekat dengan tante Layla, dia jahat."kata Anya sambil terisak .


"Bunda ayo kita pulang. Aku tak mau bunda kenapa-napa. Lalu pergi meninggalkan Anya. Aku tak mau kehilangan bunda lagi."


Semakin membuatku bertambah bingung dengan kata-katanya. Yang seperti merancau.


"Tenanglah sayang. Bunda di sini. Kita punya Allah."


Ku peluk dia yang terisak. Ku belai rambutnya dan juga punggungnya, hingga dia tertidur dengan sendirinya. Mungkin karena lelah menangis atau memang sudah waktunya tidur.


Rasanya capek juga menggendongnya. Ku putuskan kembali ke ruang Zaidan. Setidaknya aku bisa meletakkannya di sofa. Dan aku sedikit bisa beristirahat.


Tapi langkahku terhenti.Ketika kulihat seorang wanita yang duduk di depannya, berkata dengan manja.


"Kakak ... , aku ingin setiap hari ketemu, dulu ada Zahara yang menghalangi. Bukankah sekarang kakak sudah sendiri. Boleh dong aku setiap hari ke sini."


"Layla ... 1 bulan lagi perusahanmu kutargetkan sudah sehat." Ku dengar Zaidan berkata dengan tegas. Mengalihkan pembicaraan.


" Aku nggak perduli. Nanti juga akan jadi milik kakak. Kalau kita menikah."


"Hai putri ayah sudah kembali." kata Zaidan ketika melihatku berdiri di tengah pintu. Dia bangkit, berjalan menghampiriku. Lalu meraih putrinya dalam gendonganku.


Dia memapah putrinya dan menidurkannya di sofa.


"Perempuan ini babysisternya Anya ya ..."


Wanita ini sungguh cantik,elegan dan berkelas. Tapi kata-katanya sungguh tajam.

__ADS_1


Zaidan yang dekat di sisiku hanya mengedipkan mata menyuruhku untuk diam dan sabar.


"Layla sepertinya cukup."


"Kakak mengusirku."


"Kakak ada urusan penting."


"Aku tunggu ya ..."


" Sebaiknya kamu kembali ke kantormu." kata Zaidàn dengan tegas. " Kalau kamu tinggal terus kapan baiknya perusahaanmu.apa kamu nggak kasihan sama mamimu."


"Jangan-jangan kakak sudah jatuh cinta padanya."


"Layla, aku tahu kamu sudah punya pacar. Mengapa tidak menikah."


"Aku masih berharap pada kakak."


Mendengar percakapannya, hati terasa terusik dan sakit. Ku rasa aku cemburu. Dia terlalu berani mengatakan itu.


Layla mendekatiku dan berbisik.


"Jangan berani-berani kamu mendekati Zaidan."


Aku hanya diam dan terpaku, membisu. Rupanya dia tak tahu, aku telah menjadi istri resminya. Ingin aku memberi tahukan status kami saat ini.


Tapi kulihat mas Zaidan memperhatikanku, dan memberi isyarat untuk tetap tenang dan diam.


"Perkenalkan nama saya Dinda."akhirnya hanya kalimat itu yang bisa kuucapakan. Sambil mengulurkan tangakanku. Namun tak disambutnya. Malah membuang muka.


"Mungkin minggu ini aku mau bertemu mami Haydi."


"Melamarku kak?"


"Suruhlah pacarmu melamarmu, jangan kakak. Hati kakak untuk Anya." kata Zaidan sambil mendekati kami berdua, setelah meletakkan Anya.


"Kakak ..."


"Ya, adik kakakku yang cantik."


Hampir saya dia memeluk Zaidan, untunglah Zaidan segera mundur, menghindar.


"Aiiit ... sudah kakak mau kerja. Kamu juga harus urus itu perusahaan. Kasihan mami Haidy dan adikmu. Pikirkan mereka. Jangan pikirkan dirimu saja."


"Aku hanya akan memikirkan kak Zaidan."


"Maafkan kakak."


Layla akhirnya pergi. Tapi sepertinya esok dia akan kembali.


"Baiklah kali ini aku pergi ..."


____________________________________________


Readers yang budiman, mohon dukungannya ya...


Komentar positif,like atau vote yang author harapkan.

__ADS_1


__ADS_2