SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 28 : Layla Haydi


__ADS_3

Setelah melaksanakan sholat dhuhur, bersama dengan beberapa karyawan di musholla kantor, Zaidan kembali lagi ke ruangannya.


"Ris, Layla sudah datang?"


"Belum, Pak."jawab pak Aris, sekretaris Zaidan.


"Nanti kalau sudah datang. Lansung saja suruh masuk ke ruanganku."


"Ya, Pak. Ini berkas-berkas yang bapak minta kemarin."


"Makasih."jawab Zaidan sambil berlalu menuju ruangannya.


Duduk di kursi kebesarannya seorang diri. Sejenak membuatnya  termenung.


Entah sejak kapan dia mulai terbiasa bahkan selalu, bila tidak,serasa ada yang kurang. Setelah sholat memandang dua wajah di foto gallery yang ada hp. Dua wajah yang  dirindukan untuk berkumpul bersama. Anya dan Dinda.


Pikirannya mengembara, tak berhenti. Mampu menggerakkan jari-jari, untuk menuliskan kata-kata yang terlahir dari kedua nama. Dalam file khusus di sisi hatinya yang dalam. Memberi gairah dan semangat untuknya bekerja kembali.


Zaidan tampak serius memperhatikan isi dari berkas-berkas tersebut. Hingga tak menyadari ada seseorang yang telah berdiri di tengah pintu.


"Assalamualaikum ... Kak.?"


"Waalaikum salam ... Layla, duduk."


Seorang wanita berperawakan tinggi semampai, wajah yang menarik, berhias make up tipis, dan rambut yang dibiarkan terurai, berjalan berlahan, duduk dihadapannya. Terlihat raut wajahnya menampakkan ketidaksukaan. Menunggu Zaidan yang sedang memeriksa berkas-berkas.


Layla dan Zaidan sebenarnya sejak kecil sudah bersahabat. Mengingat keluarga Hendiyana dan keluarga Heidy, ayah dari Layla masih ada hubungan keluarga, keluarga jauh. Dia tak berani bersikap keras padanya. Mengingat jasa orang tua Layla saat perusahaan keluarga Hendiyana jatuh. Mereka yang menolongnya.


Hanya saja roda selalu berputar, kadang di atas kadang dibawah. Setelah ayah Layla meninggal, dalam sebuah kecelakaan pesawat yang ditumpanginya, praktis perusahaan itu tidak bisa berkembang. Putra-putrinya belum siap melanjutkan kepemimpinan ayahnya. Keluarga Hendiyana tak tinggal diam, mengulurkan bantuan juga. Baik finansial maupun pengelolaan perusahaan agar perusahaan itu mampu tumbuh dan berkembang. Setelah Layla sudah menyelesaikan s1-nya. Maka mengelola perusahaan itu dikembalikan lagi pada keluarga Haidy. Dalam hal ini diangkatlah Layla sebagai direkturnya. Namun akhir-akhir ini perkembangannya semakin menurun. Zaidan dipanggil oleh ibundanya Layla, untuk memulihkannya kembali.


"Apa maksudmu Zaidan, kamu memanggilku ke sini. Toh itu perusahaanku itu milikku sendiri. Kok kamu ikut campur." jawabnya ketus setelah beberapa saat duduk di hadapan Zaidan.


"Baiklah Layla, kalau begitu kamu bilang ke mami Haidy. Aku melakukan ini semua atas permintaan mamimu juga." jawab Zaidan agak sedikit keras.


"Kak Zaidan. Mengapa kakak nggak mengerti juga. Selama ini mami menyuruh kakak karena ...." Layla menghentikan kata-katanya.


"Karena apa, Layla?" kata Zaidan lebih lembut.


"Apa selama ini kakak tidak merasakannya?"


"Maksudmu?"


"Aku menyimpannya sebelum kakak mendapatkan kak Zahara."


"Layla, aku tak mengerti apa yang kamu katakan."


"Itulah kakak. Tak pernah memperhatikan aku."

__ADS_1


"Layla, tolong fokus. Jangan karena perasaanmu kamu mengabaikan tanggung jawabmu." jawab Zaidan tegas.


"Sudahlah Layla. Aku hanya bisa menganggapmu sebagi adik. Jangan berharap lebih. Kalau engkau teruskan, Ini akan menyakitimu."


"Adakah orang lain setelah kak Zahara?"


"Layla, sudahlah. Kita fokus ya?"


"Akan kucoba." jawabnya sambil menahan air mata.


"Layla, dua bulan yang lalu kamu tidak buat laporan. Sekarang laporanmu seperti ini. Apa sebenarnya yang terjadi?"kata Zaidan pelan tapi tegas.


"Sebenarnya ada masalah serius kak. 2 bulan yang lalu pengiriman untuk daerah Ternggalek tak sampai. Satu truk kontainer beserta isinya lenyap. Tak bisa kutelusuri lagi jejaknya. Pegawai yang mengangkat sopir itu juga akhirnya kupecat.


Kerugian perusahaan amat besar. Hingga kita kekurangan bahan untuk produksi. Aku hanya bisa bertahan saja. Kasihan para pegawai...."


"Mengapa sejak awal kamu tak cerita. Agar bisa segera kita selesaikan."


"Aku mencoba untuk mandiri, Kak."


"Itu yang ku suka dari adik kakak." jawab Zaidan sambil menyembunyikan perasaannya yang lama dia simpan.


"Adik. Adik lagi ... adik lagi. Kapan hatimu untukku." jawab Layla dengan lirih.


Zaidan hanya menatapnya dengan tersenyum tipis dan fokus pada pekerjaannya. Seandainya Layla tahu yang disembunyikan Zaidan selama ini. Tentang perasaanya, tentang hatinya  untuk Layla. Andaikan peristiwa itu tidak terjadi.


Sejak kecil mereka tumbuh dan berkembang bersama. Sekolah bersama, bermain bersama. Bahkan memiliki hobby yang sama terhadap musik. Zaidan suka piano sedangkan Layla suka biola. Sehingga untuk les musikpun mereka di tempat yang sama. Sering mereka tampil bersama mewakili lembaganya untuk tampil di ajang perlombaan tingkat daerah, propinsi dan nasional. Bahkan pernah mereka mencoba untuk ikut di ajang perlombaan tingkat internasional. Meski belum berhasil.


Hingga pada suatu hari, ketika dia asyik bermain piano bersama Layla. Nyonya Haydi datang dan mengeluarkan kata-kata yang sangat menusuk perasaannya. Bahwa Layla tidak cocok untuknya. Dan mengusirnya begitu saja. Ketika itu Layla masih kelas 8 dan dia sudah kelas 12.


Sejak saat itu, perasaannya terhadap Layla dicoba untuk dikuburnya dalam-dalam. Sampai kapan dia tidak tahu. Mungkin karena cinta pertama jadi sulit untuk dilupakan. Walupun itu hanya berawal dari cinta monyet belaka.


"Kakak, menghitungnya kok keliru." kata Layla membuyarkan lamunan Zaidan.


"Mana ?"


"Ini. Ini banyak kak, apa kakak tidak keberatan?"


"Itu sudah jadi tanggung jawab kakak yang sudah dipercaya sama keluargamu."


"Kakak sekarang tinggal di mana. Hampir 5 bulan lebih kakak tak pernah datang ke rumah. Dan kulihat rumah kakak yang dulu sudah dijual."


"Aku ingin fokus ke Anya dulu dan sepertinya pembunuh itu mengincar nyawa anakku. Maaf kalau tidak memberitahumu keberdaanku saat ini."


"Tapi harapan untuk aku adakan?" tanya Layla tertunduk.


"Layla. Sudah berulang kali kakak bilang, lupakan kakak. Kamu cantik, menarik, profesional muda yang handal. Tentu banyak yang tertarik denganmu. Dari pada kamu harus memilih kakak yang sudah duda dan sudah punya Anya pula."

__ADS_1


"Oh ya. Bagaimana keadaan Anya. Aku kangen sama dia."


"Haaalaaah kangen ... Kau datang malah sering bikin dia nangis tak berhenti-henti. Dan kamunya tak peduli. Pernah kamu gendong dia sekali saja sejak dia lahir?"


"Ennggaak ... he ... he."jawabnya sambil tersenyum.


"Kamu itu ..."kata Zaidan sedikit memarahi.


"Kurasa  cukup."


"Ya sudah. Minggu ini, kalau ada apa-apa langsung lapor. Bukannya kakak tak percaya. Ini demi karyawanmu nanti makan apa kalau tak kerja."


"Ya kak."dengan senyum yang mengembang.


"Kamu bawa mobil?"


"Ya. Ada apa."


"Nanti biar diantar temen kakak. Tapi pakai mobilmu."


"Jangan bilang kalau kakak jodohkan aku sama dia."


"Siapa juga yang bilang begitu. Dia juga sudah beristri."


"Kak." Layla memanggil Zaidan yang duduk berputar membelakangi. Membiarkan Layla membereskan berkas-berkas itu sendiri.


"Hem ..."jawab Zaidan sambil mengangkat telpon yang tiba-tiba berbunyi. Lalu terlihat kegembiraan diwajahnya. Lalu berbalik kembali menatap Layla yang sibuk membereskan berkas-berkasnya. Dan siap menanggapi pertanyaan Layla baru saja diucapkannya.


"Ada apa?" kata Zaidan yang kini fokus menatapnya.


"Adakah harapan untukku ?" pertanyaan itu senantiasa diulangnya.


"Tidak."jawab Zaidan tegas. Membuat Layla membuang napas berat.


"Nach, itu dia supirmu sudah datang." kata Zaidan ketika Aldo terlihat berdiri di pintu ruangannya.


"Bagaimana Zai, suka?" sapa Aldo yang berjalan menghampiri mereka. Dan dijawab Zaidan dengan anggukkan kepala. Tanda senang atas pilihannya.


"Sekarang kamu bisa antarkan nona cantik ini?"


"Pakai mobil?"


"Mobilnya." jawab Zaidan ringan.


"Lalu baliknya?"


"Ngojeklah."

__ADS_1


"Tega kamu Zei." kata Aldo sambil bersungut. Membuat Zaidan tertawa.


Namun Aldo menyanggupi pula karena dia tahu tugasnya yang tak perlu Layla tahu.


__ADS_2