
Setelah Dinda dan Alfath menghilang dari pandangan. Zaidan termenung sendiri menyaksikan putri kecilnya yang masih bermain air sambil bercerita pada ikan.
"Hai ikan kecil ...."
"Sudah makan belum...."
"Maaf ya...aku nggak bisa kasih makan kamu. Makananannya sudah habis untuk ikan di taman tadi."
"Kamu yang kecil jangan nakal ya ... nanti ditinggal pergi sama bundamu"
Hati Zaidan sangat sedih. Melihat putrinya bermain sendiri.
Trauma yang dialami putrinya sulit hilang. Terbawa hingga ke dalam alam bawah sadarnya. Dan dia ungkapan lewat cerita-cerita dalam permainan.
Terkadang terbawa dalam mimpi. Mengigau di tengah tidur. Atau kadang terbangun dan menangis karena mimpi yang sangat menakutkan. Untuk bertemu orang terkadang masih terlihat ketakutan. Hanya pada ayahnya saja dia bisa bermanja dan merasa nyaman. Dan kepada eyang putrinya, namun jarang sekali bertemu, katena tinggal di negeri seberang. Hanya bisa bebincang-bincang melalui vc.
Hari ini pertama kali Zaidan melihat Anya dapat menikmati hatinya dengan ceria, tertawa lepas dan gembira bersama Dinda. Tak rasa takut atau canggung saat bertemu. Bahkan langsung akrab. Yang lebih mengherankan Anya dengan mudah memanggil Dinda dengan sebutan 'bunda'.
Apakah karena ketulusa pribadi Dinda, yang terpancar dalam bentuk perhatian. Sehingga Anya merasa hangat bila berada di dekatnya. Dan apakah kerinduan pada ibundanya menyebabkan Anya bisa membuka diri pada sosok yang mirip dengan bundanya. Dan juga apakah trauma yang dialami Anya sudah saatnya sembuh. Semua itu berputar-putar memenuhi pikiran Zaidan.
Lalu dia membuka galeri di hp. Ada foto Dinda yang dia ambil secara sembunyi-sembunyi. Baik saat Dinda sendiri, maupun saat tertawa ceria dengan putrinya.
"Bunda, maafkan ayah. "
Tak dapat dipungkiri hati Zaidan telah terpesona dengan sosok Dinda yang baru dikenalnya. Mencoba menggantikan bayang-bayang istrinya yang telah meninggal. Mengusir kenangan-kenangan suram dalam benaknya.
"Anya, sudah selesai belum berceritanya."Sambil membelai rambut Anya yang teruai.
"Ayo kita pulang!"
Dilihat jam sudah menunjukkan pukul 14.35 WIB, sebentar lagi memasuki waktu sholat asyar.
"Baik, Ayah."
__ADS_1
Dengan tersenyum dia menghentikan tangannya, memercik-mercikkan air pada ikan yang sedang berenang. Segera bangkit dengan menggerakkan kedua tangannya ke atas.
"Mari pak Aris ...." Pak Aris mendekat, Anya spontan ke belakang ayahnya , memegang tangannya dengan erat. Pak Zaidan hanya tersenyum. Walau hatinya sedih melihat keadaan putrinya itu.
"Tak apa-apa Anya. Dia akan mengantarkan kita pulang." Melihat reaksi Anya, pak Arispun tersenyum dan mendekat.
"Anya, Om punya coklat. Kamu mau tidak?" Sambil mengeluarkan sebatang coklat dari sakunya. Tapi Anya ragu untuk menerima. Kemudian menoleh pada Zaidan seolah-olah minta persetujuan. Zaidan mengangguk. Baru kemudian Anyapun mau menerimanya.
"Bagaimana pak Aris, Apa bibi jenengan bisa bekerja di tempat saya dan menginap."
"Insya Allah, Pak."
"Kapan bisa datang."
"Apa perlu sore ini saya jemput,Pak."
"Boleh, saya tunggu di rumah."
"Baik, Pak."
"Baik, Pak."
Segera setelah itu pak Aris mengambil mobil yang ada diparkiran. Dan menjemput Zaidan dan Anya yang sedang sibuk mengunci pintu. Setelah yakin semua aman, mereka meninggalkan tempat itu.
Setelah 15 menit, perjalanan mereka terhenti di sebuah rumah. Terletak jauh dari kota. Bahkan perkampungan. Baru beberapa rumah yang berdiri di sana. Letaknya sangat berjauhan. Dibatasi oleh berpetak-petak sawah. Dengan udara yang senantiasa segar, apalagi pada waktu pagi. Tak ada kebisingan apalagi polusi. Yang ada hanya nyanyian burung yang tak pernah berhenti. Bersahut-sahutan sejak fajar hingga petang. Bahkan malampun mereka masih ada yang berbunyi.
Rumahnya saat ini tidak besar apalagi mewah. Cenderung klasik dan alami. Namun sangat asri, dengan tanaman bunga hias yang dia sukai. Seperti anggrek dan mawar. Dan beberapa jenis lainnya yang tak bisa disebutkan. Membentuk taman yang sangat mempesona di depan rumahnya. Dari pagar hingga garasi yang berjarak tak kurang dari 50 meter.
Dan juga ada tumbuhan buah-buahan. Seperti kelengkeng, jambu, mangga dan juga rambutan. Berjejer rapi di tepi jalan yang dilewati. Tak lupa buah anggur sebagai pagar hidup dan naungan di atas jalan setapak menuju rumah utama. Sehingga terasa sejuk bila melewati jalan itu. Ternaungi dari teriknya sinar matahari. Hanya satu yang kurang dari semua ini. Sepi penghuni ....
Walaupun demikian tidak melupakan masalah keamanan. Dia menempatkan 2 orang satpam. Untuk menjaga ketika dia tinggalkan.
Karena sampai saat ini pembunuh istrinya belum tertangkap. Sedangkan Anya adalah saksi hidup satu-satunya yang melihat langsung kejadian itu. Ini menyebabkan Zaidan menjadi was-was atas keselamatan putrinya. Kemanapun dia pergi, akan dia bawa. Tak peduli ke kantor atau harus keluar kota dengan setumpuk pekerjaan.
__ADS_1
Setelah melakukan sholat ashar berjamaah dengan bossnya di musholah yang ada di samping rumah, pak Aris berpamitan untuk menjemput bibinya yang berada di kampung.
Tinggallah Zaidan sendiri ditemani Anya yang sekarang terlihat lelah dan wajah yang terlihat lusuh. Seharian kesana kemari menemani ayahnya kemanapun pergi.
"Anya , mandi sayang, biar cantik." Ajak Zaidan menggandeng Anya dengan lembut.
"Anak ayah." Sambil berlari Zaidan menggendong Anya di belakang punggung. Bibi Sari yang melihat hal itu, tersenyum menatap mereka.
"Bibi mau pulang sekarang."
"Iya, Den."
"Tunggu sebentar, Nanti biar diantar pak Aris."
"Terima kasih, Den."
Zaidan ke kamar mandi atas, di dalam kamarnya. Meninggalkan bibi Sari dengan kesibukkannya. Dia memandikan Anya sambil bermain-main gembira. Setelah selesai memandikan, baru sadar belum menyiapkan pakaian Anya yang akan dikenakan.
"Anya, di sini dulu ya ..., ayah mau ambil bajumu." Meninggalkan Anya yang masih asyik bermain air.
Zaidan keluar menuju kamar Anya yang ada dibawah. Mengambil handuk beserta satu set baju ganti, dan kembali. Dan Zaidan terkejut ketika didapati Anya sudah keluar dari kamar mandi, sedang a bermain seorang diri di pinggir ranjang, dalam keadaan basah dan tanpa memakai penutup badan. Tak urung keadaan kamar menjadi berantakan dan basah oleh Anya yang belum bisa mengerti.
Sedangkan dari kamar mandi masih terdengar bunyi shower dinyalakan. Segara Zaidan menuju kamar mandi. Tapi keadaan di kamar mandi tak kalah heboh. Bak air penuh busa, botol sabun mandi terbuka, air meluber ke mana-mana. Zaidan hanya bisa geleng-geleng kepala. Dan tersenyum menatap Anya yang belum berpakain lengkap.
"Adik parno ah, sini!" Panggil Zaidan dengan lembut setelah menutup kran air di kamar mandi. Dan menghampiri Anya, yang belum rapi. Dengan telaten memakaikan baju dan menyisir rambut putrinya. Terlihat tambah cantik ketika Zaidan mengikat rambutnya menjadi dua kepang.
Setelah itu baru Zaidan membersih diri meninggalkan Anya bermain lagi. Tak perduli dengan kamar yang masih berantakan. Nanti saja dibersihkan, pikirnya. Mandi dengan santai. Menghilangkan keringat yang lengket di badan. Segar ....
Sebenarnya bibi Sari sudah ingin segera kembali ke rumahnya. Tetapi melihat rumah yang berantakan, dia berfikir ulang hendak mengurungkan niatnya untuk pulang. Dia rapikan dulu rumah tersebut. Karena seperti biasa, kalau tuan putri Anya sudah pulang alamat ada saja yang dibuatnya berantakan. Wajar anak-anak.
Lalu bibi Sari pergi ke dapur, memanaskan makanan serta menyiapkan semua di atas meja. Lalu mencuci peralatan yang kotor. Barangkali tuannya hendak makan.
Dia bekerja di sini baru 2 bulan semenjak pak Zaidan menempati rumah ini. Hanya saja dia tidak menginap, walaupun telah disediakan tempat untuk itu. Dikarenakan di rumah dia punya tanggung jawab yang tidak bisa dia abaikan. Anaknya 5 lima masih kecil-kecil. Paling besar kelas 9. Dan suaminya saat ini sering sakit-sakitan. Sehingga keberadaannya di rumah sangat dibutuhkan. Tugasnya di sini bersih-bersih dan menyiapkan makanan bila dibutuhkan.
__ADS_1
Ingin segera berpamitan tapi sang tuan tak kunjung keluar dari kamar.