
Meski pernikahannya hanya disaksikan oleh beberapa orang saja. Alhamdulillah , akhirnya dapat terlaksana dengan lancar. Fadly Sudah menjadi suami Mayasa meski harus siri dulu.
Waktu pelaksanaanya sengaja menunggu undangan pulang. Dan yang tidak berkepentingan meninggalkan tempat. Agar tidak menimbulkan prasangka yang tidak-tidak.
Ini demi Mayasa yang sangat perlu pendampingan untuk merawat dirinya yang sampai sekarang masih tertatih-tatih. Dan orang yang paling dekat saat ini, hanyalah Fadly.
Semoga pernikahan resmi mereka besok juga lancar.
"Selamat Fadly, Mayasa. Kalian mendahuluiku. Kak Zaidan benar-benar tak adil." Kata Aris.
"Ris, masa kamu iri sama aku. Kasihan Mayasa. Sedangkan aku mau tak mau, harus menyentuhnya untuk bisa merawat dirinya."
"Kamu baik sekali Fadly, melebihi kami yang dianggap orang lebih ngerti."
Fadly senyum-senyum saja mendengar pujian dari calon kakak iparnya itu.
"Kamu sudah hafal do'anya belum. Kalau belum jangan keblabasen malam ini."
"Do'a yang mana?"
Tapi Fadly terpaksa menghentikan Aris karena Fadly melihat mamanya hendak pulang. Diapun bangkit menghampirinya.
"Sebentar, aku mau ke mama dulu. Kamu jangan pulang lho, Ris."
"Ya ... ya ... aku tinggal sendirian. Tak ada yang menunggu. Dan tak ada yang perlu aku pikirkan."
Fadly menemui mamanya bersama Mayasa.
"Ma ... besok Mayasa akan Fadli bawa pulang. Untuk malam ini Fadly minta maaf tak bisa pulang."
"Mama mengerti, doa mama untuk kalian."
"Terima kasih, Mama."
Fadly dan Mayasa mencium tangan dan mama Veronica sebelum mengantarkannya ke depan.
Setelah semua tamu telah pulang, Fadly menemui Aris. Meninggalkan Mayasa yang sedang mengobrol dengan kak Lisa dan Layla.
"Aris, tadi kamu mau bilang apa? "
"Oh ya ... jangan lupa do'anya."
"Nah itu dia, maksudnya doa yang mana?"
"Oke ... oke, sini dengarkan baik-baik! "
Dengan sabar Aris mengajari Fadly melafadzkan doa itu, yang diikuti dengan baik oleh Fadly.
Tak perlu waktu lama, Fadly sudah bisa melafadzkannya dengan baik.
"Terima kasih, Ris."
"Jangan lupa ajari istrimu juga. Agar bisa memperbaiki keturunan."
Fadly hanya tertawa mendengar candaan Aris.
Semakin lama semakin larut, satu persatu penghuni rumah menuju peraduan masing-masing. Meninggalkan Fadly dan Mayasa yang masih ragu untuk masuk ke kamar mereka. Bahkan mereka memilih keluar menuju halaman.
__ADS_1
Sejenak keduanya terdiam sambil menatap rembulan, yang sekarang sempurna memberikan sinarnya. Tanpa terhalang oleh aqan. Seakan ingin menyaksikan dan memberi salam pada bahagia yang mereka rasa.
"Sayang, aku merasa seperti mimpi. Kalau saat ini dirimu sudah jadi halalku . "
"Apa kak Fadly tak menyesal memilikiku yang lemah, tak seperti awal kak Fadly mengenal Mayasa. "
Dengan lembut jari telunjuk Fadly menyentuh bibir Mayasa. Dan menatapnya dengan senyuman yang meneduhkan.
"Tak baik sayang mengatakan hal itu. Apapun yang sudah digariskan untuk kita. Itulah yang terbaik."
Fadly, sejak kapan kamu sok bijaksana gini. Batin Fadly bermonolog sendiri.
Tapi saat melihat respon Mayasa, dia tak menyesal dengan kata-kata yang baru saja dia ucapkan.
Karena kata-kata Fadly itu telah benar-benar membuat Mayasa tersenyum. Meski dia sebenarnya tahu kalau itu mungkin hanya penghibur laranya saja.
Tak ragu Fadly berjongkok di hadapan Mayasa.
"Aku ingin manjadi kekasihmu untuk selamanya."
"Andaikan itu bisa."
"Kok gitu ngomongnya, Sayang?"
"Aku begitu ragu .... tapi aku menginginkannya. "
"Bikin kakak khawatir saja."
"Sekarang, jangan berkata apa-apa lagi. Aku ingin menatapmu sampai puas."
Mayasa tertawa kecil. Balik menatap Fadly dengan manja. Sesaat Mayasa bisa merasakan keteduhan tatapan Fadly. Dia hanya bisa menunduk tak mampu membalas tatapannya. Hingga Fadly mengangkat dakunya pelan. Menyentuh bibir Mayasa dengan bibirnya hingga berpaut mesra. Sambil berbisik.
Mayasa mengangguk pelan. Lalu mendorong tubuh Fadly, memutar kursi rodanya menjauh dari Fadly. Dengan membawa wajahnya yang bersemu merah.
Fadly menatap kepergian Mayasa dengan tersenyum bahagia. Setelah mengunci pintu ruang utama. Dia mendekati Mayasa hingga bisa menggapai kursi rodanya. Dia membantu mendorongnya hingga sampai di kamar mereka. Dan Fadly menguncinya.
Berlahan Mayasa berdiri, ingin berpindah ke ranjangnya.
"Sayang, ijinkan kakak membantumu ya?"
Mayasa bernafas cepat karena menahan tubuhnya. Fadly meraihnya dengan cepat. Dan memeluknya sambil berdiri.
"Sudah, pelan-pelan dulu nanti juga bisa. Jangan dipaksakan. Ini juga gara-gara kakak ya ..."
"Kalau kakak tak terlambat datang, kamu pasti takkan berlari."
Mayasa meletakkan kepalanya di bahu Fadly sambil mengatur nafasnya. Setelah tenang, dia meminta pada Fadly untuk membiarkannya berjalan menuju tempat tidurnya.
Tapi Fadly tak mengijinkan. Dia mengangkat tubuh Mayasa. Meletakkannya dengan lembut di atas kasur.
"Terima kasih, Kakak. "
"Tak usah berterima kasih. Kakak senang melakukannya. "
Lalu Fadly merebahkan diri di samping Mayasa yang sudah terlihat lelah.
Fadly hanya mengusap wajah ayu dengan lembut. Mengecupnya dahi Mayasa dengan sangat lama.
__ADS_1
Membiarkan debar jantungnya berpacu cepat. Hingga tak malu meski terdengar oleh Mayasa yang ada di bawah wajahnya.
"Sayang, aku lama merindukanmu. Tak apa bila kakak menyentuhmu saat ini."
Wajah Mayasa kembali bersemu merah.Dia tak mengiyakan ataupun menolak. Dia membiarkan jari-jari Fadly menyentuh bibirnya sebelum menciumnya dengan lembut.
Bagaimanapun Fadly adalah laki-laki normal yang hasratnya akan bangkit bila didekat wanita. Apalagi wanita yang diinginkannya. Dia membiarkan hasrat itu menguasai jiwanya. Hanya melihat Mayasa yang seakan-akan menggodanya.
Namun hasratnya berlahan hilang manakala dia menyentuh lubang di bahu Mayasa. Dan melihat Mayasa meringis.
Bukanlah dia marah karena hasratnya tak tersampaikan. Tapi sulit baginya untuk menyakiti orang yang sangat dia cintai.
"Sayang, tidurlah dengan tenang. Bukankah besok kita akan ke KUA. "
"Ini yang aku khawatirkan, Kakak belum siap menerima Mayasa yang cacat."
"Tidak ... tidak." Jawab Fadly cepat. Lalu dia mencium lembut bahu Mayasa meski tidak pada lukanya.
"Sekarang kamu percaya."
Mayasa mengiyakan dengan mengedipkan matanya. Tak ayal Fadly tergoda untuk mencium mata kekasih yang sangat manja itu. Dan mendekap erat dalam pelukannya.
"Kakak akan menunggumu sembuh dulu. Agar kakak tak mendholimimu."
"Mayasa bahagia, kakak pengertian dan menerima Mayasa apa adanya."
"Tidurlah,"
Dia membiarkan kepala Mayasa di bahunya hingga tertidur pulas. Setelah dirasa tak menganggu, berlahan dia menarik bahunya dan meletakkan kepala Mayasa di sisinya.
"Selamat mimpi indah sayang, tentunya bersamaku."
Sekali lagi dia mencium istrinya.
Lalu Fadly ikut memejamkan matanya dengan memeluk tubuh istrinya.
💎
Hingga saat azan subuh berkumandang, mereka masih larut dalam dunia mimpi. Sehingga Zaidan harus mengetuk pintu kamar mereka untuk membangunkannya.
"Mayasa, Fadly. Subuh ... kakak tunggu. "
Beruntung Mayasa mendengarnya.
"Ya, Kak." Jawab Mayasa lirih. Dia bangkit
sambil melepaskan tangan Fadly dari tubuhnya.
"Sayang, bangun. Sudah ditunggu kak Zaidan."
Fadly gelagapan mendengar suara Mayasa. Dia terbangun mengira sudah waktunya pergi ke KUA.
"Kita sudah terlambat kah?"
"Ya hampir. Kita sudah ditunggu."
Mata Fadly melebar sempurna. Tapi ketika melihat jam yang ada di atas meja kecil dia pingin tidur lagi.
__ADS_1
"Masih jam 4."
"Mas ditunggu kak Zaidan untuk sholat jamaah!"