SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 66 : Maafkan Tante, Anya


__ADS_3

"Mengapa bunda harus bohong, putri kecilku ...."Dinda berucap sambil meraih Anya dalam dekapannya.


Dinda mencoba mengikuti jalan pikiran putrinya. Yang mulai membuka lembaran kelamnya.


"Tidak, Bunda. Anya takut ... Anya takut dia yang membuat bunda Zahara berdarah."


"Di sini ada ayah dan bunda yang akan menjagamu. Anya tak usah takut. Kalau Anya selalu takut , bunda Zahara sedih di sana."


Anya semakin mempererat pelukannya pada Dinda.


"Yakinlah pada dirimu, bahwa tante Mayasa tak akan melukaimu, bahkan dia akan melindungimu."


"Benarkah, Bunda."


"Karena Allah akan mengasihi orang-orang yang baik. Seperti putri bunda ini."


"Baiklah, Bunda. Tapi bunda jangan jauh dariku ya ...."


"Bunda tak akan jauh darimu, Sayang." Lalu Dinda menghujani beberapa ciuman baik di pipi, dahi maupun rambutnya. Membuat Anya tertawa dan menampakkan lesung pipinya. Sehingga tampak semakin manis.


Lalu berlahan Dinda melangkah ke arah Mayasa, yang menunggu di depan pintu. Dengan menggendong Anya dalam pelukannya.


Zaidan terlihat bahagia, sewaktu Dinda berhasil membujuk Anya. Dia menunggu sambil mengembangkan senyum, berdiri di belakang kursi roda Mayasa.


Tak lama kemudian Dinda sudah berdiri di hadapan mereka berdua, dengan tangan memeluk Anya dengan erat.


Dia memutarkan tubuhnya agar Anya dapat melihat tante Mayasanya yang menantikannya dengan tegang. Meski dapat dia sembunyikan dalam senyuman.


"Anya, tante kangen sama kamu." sambil merentangkan kedua tangannya. Ingin menggapai Anya dalam pelukannya.


Dinda berlahan menurunkan Anya. Dia berjongkok di sisi Anya. Menanti apa yang akan diperbuat oleh putrinya.


Anya diam dan menatap Mayasa tanpa berkedip. Dengan suara jelas dia berucap.


"Tante nggak punya gambar kupu-kupu dan gelang rantai, kan?"


Tubuh Mayasa bergetar. Dadanya seakan sesak. Hati teriris mendengar pertanyaan dari bibir mungil itu. Mayasa tak marah, tapi penyesalannya yang mendalam akan tindakannya waktu itu, tak mampu dia hilangkan.


Mayasa tersenyum menatap Anya. Anak yang begitu lucu, berdiri di hadapannya, dan menatapnya dengan tajam. Ada ketakutan di matanya. Ada kemarahan yang disembunyikaknnya. Tapi tak mengurangi kecerdasaannya dan kewaspadaanya.


Dengan suara jelas berucap padanya. Sekedar bertanya untuk ungkapkan prasangka yang selama ini dipendamnya.


Mayasa segera menunjukkan tangannya pada Anya. Seketika itu Anya tersenyum dan menatap gembira pada Mayasa. Anya menghampirinya dan memeluknya pula.


"Tante Mayasa bukan yang membuat bunda Zahara berdarah." Ucap Anya yang terdengar jelas di telinga Mayasa. Membuat Mayasa tak bisa menghentikan air matanya yang menetes di pipinya. Anya menjadi bingung.


"Tante, mengapa menangis?"


"Anya, maafkan tante ya ...."


Anya hanya diam, tak mengerti.


"Ya, tapi tante jangan menangis. Nanti Anya jadi sedih." Anya memeluk Mayasa, melakukan seperti dia dapatkan, pelukan dari ayah bundanya, ketika bersedih.


Tak terbilang bahagia hati Mayasa mendapatkan pelukan hangat dari gadis kecil yang selama ini dia sakiti, meski dia tak mengetahui dan mengerti. Bahwa sebenarnya dia pelakunya.


Anya melirik pada ayah bundanya, meminta persetujuan untuk duduk di pangkuan Mayasa.


Dinda dan Zaidan mengelengkan kepala.

__ADS_1


"Biarkan, Kak."Jawab Mayasa sambil meraih tubuh mungil Anya. Tapi sulit dia melakukannya. Hingga Zaidan merasa iba.


Dengan berat, dia mendudukkan Anya di pangkuan Mayasa. Sungguh dia tak tega.


Namun Mayasa tersenyum bahagia. Meski wajahnya tak bisa menyembunyikan nyeri yang dirasa. Mungkin karena luka di bahu dan betisnya belum sembuh benar.


Janganlah kita tanya bagaimana senangnya Anya. Dia menikmati sekali duduk di pangkuan Mayasa.


"Asyik bisa naik kereta seperti kalau di belanja sama ayah dulu."


Zaidan menatap iba pada Mayasa. Yang terlihat kesakitan.


"Anya, sudah ya ..."


"Biarkan, Kak. Sakit yang aku rasakan tak seberapa , dibanding derita yang dia rasakan."


"Lukamu biar sembuh dulu."


"Anya turun ya ... kasihan tante masih sakit. Nanti kalau sudah sembuh boleh minta pangku lagi sama tante Mayasa?" kata Dinda dengan lembut.


Untunglah Anya menuruti kata-kata bundanya. Dia tak menolak sewaktu Dinda menurunkan dari pangkuan Mayasa.


Berempat mereka memasuki rumah. Ada senyum yang tersungging di bibir Mayasa. Hingga tak terasa air matanya meleleh.


"Mayasa, ada apa?"


"Aku bahagia, Kak."


Mayasa segera mengusap air matanya, sebelum terlihat Anya.


Tak terasa, matahari kian terasa hangatnya. Mengingatkan Zaidan akan rencana dan tugas-tugasnya.


"Masih jam tujuh," jawab Dinda.


Bersamaan dengan Zaidan melihat jam yang melingkar di tangannya. Segera dia beranjak meninggalkan mereka.


"Sayang, Anya, Ayah pergi dulu ya ...,Ayah sepertinya sudah ditunggu."


"Ya, Ayah. tapi ...."


"Maaf, sayang. Satu rantang untukku, kah?"


"Ya,"


"Aku harus berangkat. Sudah tahukan kamar kita, kan?"


Dinda menggelengkan kepala.


"Nanti juga tahu. Bukankah rumahku, rumahmu juga.Kalau tak tahu ... kamar yang kau pilih itu jadi kamar kita. oke." sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Dinda. Agar Mayasa maupun Anya tak mendengar.


"Biar aku tanya Anya saja."


"Hemmmm ... hus ... jangan." Zaidan melirik tajam Dinda, yang senyum-senyum dikulum. Sambil menggigit bibirnya.


Sabar ya .... Hati jangan sampai tergoda.


"Oke, ayah berangkat. Assalamu'alaikum semua."


"Wa'alaikum salam ..."

__ADS_1


"Hati-hati, Ayah."


Zaidan sejenak mencium pucuk kepala putrinya. Lalu menarik tangan Dinda sambil berbisik,


"Ikut mas, sebentar."


"Kenapa, Mas."


"Mayasa, titip Anya sebentar. Oh ya... kamu titip apa?"


"Aku ingin kanvas lengkap dengan cat untuk melukis."


"Okè ."


Kemudian dia berlalu dari tempat itu sambil menggegam erat tangan Dinda.


Dengan bingung, Dinda mengikuti langkah Zaidan berjalan menuju mobilnya.


Lalu dia membuka pintu mobil, menyuruh Dinda masuk dengan ekor matanya.


Ada apa dengan mas Zaidan. Kok aneh gini ...


Setelah itu Zaidan masuk dari pintu yang lainnya.


"Mas, ada apa."


"Ada kamu."


Dia menyentuh bibir Dinda dan mendaratkan satu ciumannya pelan.Tak lama kemudian dilepaskannya


Dinda kaget dan diam.


"Maafkan, Mas. Malu kalau di depan mereka."


Membuat hati Dinda jadi campur aduk tak karuan. Bingung ....


"Sudah jangan bengong."


Dinda melotot menatap Zaidan


"Sekarang mas siap pergi. Kamu boleh keluar."


Kali ini tak hanya cubitan kecil yang mendarat di pinggangnya. Lukisan tangannya berhasil dibentuknya, kalau saja Zaidan tak sigap menangkap tangannya.


"Istri sholihahku ...." membuat tangan Dinda berhenti.


"Please ... mas tak tahan tadi lihat kamu. Dari pada nanti pusing, nggak bisa kerja!" Wajah polosnya memohon. membuat Dinda tertawa.


"Selamat kerja suamiku,"


" Jangan lupakan kami ya ..."


"Oke, bye ... bye ..." Zaidan melambaikan tangan.


Dinda akhirnya keluar mobil dengan sendirinya. Menatap mobil Zaidan berlalu dari hadapanya. Ada-ada saja ....


Dengan langkah santai dia berjalan berlahan sambil menikmati udara yang segar. Sebelum memasuki rumah Zaidan. Yang kini menjadi tempat tinggalnya juga.


Sejenak dia berhenti menatap sekeliling.Melihat pak Tata yang sedang menyiram tanaman. Lalu kembali berjalan memasuki rumah.

__ADS_1


__ADS_2