
"Berarti sekarang aku sudah boleh panggil bunda untuk selamanya."kata Anya dengan polosnya. Membuat semua tertawa. Dinda menanggapainya dengan tersenyum. Dan mendaratkan satu ciuman pada pipi Anya.
Karena acara resminya sudah selesai Dinda beranjak dari tempat itu. Kembali ke dalam rumah. Hendak menyiapkan hidangan bersama Hani , Silvi, dan bi Sari.
Namun tangan mungil Anya menariknya untuk kembali.
"Mulai sekarang bunda harus tinggal bersama kami. Kok balik lagi ke dalam."
Melihat tingkah Anya yang lucu membuat semua tertawa.
"Kita mau makan, sayang." kata Dinda dengan lembut.
"Semua tak boleh makan, kalau Bunda belum menjawab iya." kata Anya dengan suara yang mengiba.
"Kok?" Dinda heran dengan kata-kata Anya yang baru saya terucapa dari bibirnya.
"Kata eyang putri, Bunda akan tinggal bersama kita kalau sudah dibawakan kue."
"Bagaimana pak Zaidan, apa perlu kita ijab qobul sekalian?" kata ustadz Arifin sambil tersenyum. Membuat Zaidan salah tingkah.
"Eyang putri nggak bohongkan , Ayah?"
Mendengar kata-kata putrinya yang jelas terucap, membuat Zaidan tertegun dan terdiam. Terasa jantungnya mau lepas.
Bahkan nyonya Hendiyana diam beribu bahasa melihat tingkah laku cucunya itu. Memang itu yang dia katakan pada saat akan berangkat tadi. Terlihat kesungguhan dalam kata-katanya. Meski belum mengerti apa maksudnya.
Dengan umur yang demikian sulit baginya mencerna kata-kata yang diucapkan oleh eyang putrinya.
Yang Anya tahu setelah ini bunda Dinda akan tinggal bersamanya. Zaidan sangat memahami sifat putri kecilnya itu. Bila tak dituruti akan terluka. Namun untuk saat ini apakah mungkin. Dia hanya mampu menatap Zaidan dan Dinda bergantian.
Mendapati tatapan mommynya yang demikian, Zaidan menarik napas panjang.
Karena mau tak mau Zaidan harus mewujudkan keinginan dari putrinya. Mengingat putrinya baru saja mengalami kegembiraan yang lama hilang semenjak bundanya tiada. Tapi bagaimana dengan Dinda?
"Anya sayang, duduk sama eyang putri dulu ya." kata Zaidan lembut sambil membelai putri kecilnya itu.
"Ayah mau ngomong sama bunda dulu."
Untunglah Anya menurut. Sambil dituntun ayahnya, dia menghampiri eyang putrinya dan duduk di pangkuannya dengan manja. Untung mereka semua sudah sama dewasa dan sudah menikah semua. Sehingga kejadian tersebut tidak merusak mood mereka untuk acara selanjutnya.
"Mari semuanya silahkan makan terlebih dahulu. Dan menikmati hidangan yang tersedia." ajak Alfath kepada semua tamunya ke sebuah ruangan. Di sana ada sebuah meja besar yang sudah penuh dengan sejumlah menu masakan, siap untuk disantap.
Sementara itu Zaidan berbisik pada Dinda dan mengajak keluar ke teras rumah.
"Ada apa, Mas?"
"Humaira, bolehkah mas panggil namamu demikian?"
Wajah Dinda bersemu merah, terlihat diantara cahaya lampu yang bersinar di taman kecil depan rumah. Dia tersenyum, tersipu malu.
"Ya mas, nggak apa-apa. Tapi ada apa ...** Dinda benar-benar bingung."
"Humaira, mas nggak sanggup untuk tidak meluluskan permintaan Anya." kata Zaidan hati-hati.
__ADS_1
"Haruskah saat ini?"
Zaidan hanya mengangguk lemah. Ada kekhawatiran pada dirinya bila Dinda tak setuju. Atas kehendak putrinya untuk segera membawa Dinda ke rumahnya.
"**Mas ..."
"Mas tak ingin keputusan ini jadi beban bagimu. Mas ingin Humaira bahagia. Tentu lebih cepat terwujud akan lebih baik."
"Berarti Mas menginginkan ijab qobul sekarang?"
"Tak ada jalan lain. Mas tak mau membohongi kebagian Anya. Dan semoga itu jadi kebahagian kita juga."
Dinda terdiam lama, menata hatinya untuk menjawab kegalauan yang dia rasa. Mungkin juga Zaidan merasakan hal sama. Atas permintaan putri kecilnya, Anya.
Sejenak dia menatap langit, yang diam dalam keheningan. Dihiasi indah dengan bintang-bintang. Bulanpun seakan tertawa. Akan kegelisahan diri. Mencari jawaban yang bijak untuk sebuah keputusan. Tak ada salah bila disegerakan. Bila itu harus terjadi.
"**Baiklah."
"Terima kasih, Humaira sayang."kata Zaidan lembut, membuat Dinda tertegun dan malu. Dengan langkah kecil dia ke dalam rumah. Berlalu menuju kamarnya. Membiarkan Silvi, Hani dan bi Sumi menyiapkan hidangan di meja besar untuk para tamu.
Silvi yang melihat Dinda berjalan dengan gelisah menyusul ke kamarnya.
"Ada apa ,Din?" tanya Silvi yang mendapati Dinda, melamun sendiri di sisi ranjang.
Bukan Dinda namanya kalau tak bisa tenang.
"Nggak ada apa-apa. Hanya saja mas Zaidan meminta untuk diadakan ijab qobul sekarang."
"**Lalu?" tanya Silvi dengan wajah polosnya.
"Ya ... nggak apa-apa tho, Din. Bukankah itu lebih baik."
"Aku hanya terkenang ayah ibundaku. Andai mereka di sini. Mungkin aku tidak sebingung ini. Dan bagaimana dengan kak Alfath nantinya, bila saat ini aku harus pergi."
"Secepatnya itukah, Din." tanya Silvi tak kalah bingungnya. Mengingat tentang tokonya juga.
"Kalau ini yang terjadi. Apa kamu ada solusi?"
"Kalau kata hatimu kamu harus melakukan itu, aku akan mendukungmu. Tentu semua ada konsekwensi, tapi yang yang maha Kuasa tentu punya solusi dan kita tinggal menjalani."
"Terima kasih, Silvi. Kamulah solusinya jika aku harus pergi."
"Maksudnya?"
"Nanti juga kamu tahu. Sekarang bantu aku dong ... masa mau ijaban pakai baju ini?"
"Kelihatannya kamu bahagia, Din." Dinda tersenyum mendengarnya.
"Seumpama aku pakai ini, menurutmu bagaimana?" kata Dinda yang membuka bingkisan yang dibawa Zaidan untuknya. Sebuah abaya berwarna pink pastel, ditutupi dengan kain broket berbunga silver, dengan gaya payung bagian bawah. Terlihat sangat pas waktu Dinda memakainya. Sehingga kecantikan dan keanggunan terlihat sangat sempurna.
"Cocok banget ... kamu jahitkan di mana?"
"Bukan, dibelikan mas Zaidan sebagai ganti bajuku yang basah waktu di pantai."
__ADS_1
💎
Sementara itu, setelah Dinda pergi, Zaidan juga beranjak mendekati mommynya yang sedang menikmati hidangan. Di samping Anya, terlihat menikmati makanan sendiri tanpa perlu disuapi. Dia sudah mampu mandiri.
Zaidan terlihat serius berbicara pada mommynya dengan cara berbisik. Nyonya Hendiyana menanggapinya dengan mengangguk-panggilan kepala.
"Kurasa itu yang terbaik. Tapi apa kamu sudah siap."
"Mohon do'anya, Mon."
Lalu Zaidan mendekati Syarif yang juga sedang menikmati makanannya. Dan berbisik sebentar. Lalu keduanya keluar ke teras. Duduk di lantai dekat pohon kelengkeng yang rimbun. Tampak serius Zaidan mengucapkan sesuatu dan Syarif menyimaknya sambil menikmati makanannya.
"Ya sudah bagus."
"Kamu khutbah lho."
"Jangan khawatir."
Lalu kedua nya kembali lagi masuk ke ruangan. Syarif mengembalikan peralatan makannya di ruang tengah. Sedangka Zaidan sibuk sendiri mendekati beberapa orang untuk membicarakan sesuatu. Sehingga belum sedikitpun dia mencicipi hidangan yang sudah disediakan. Demi permintaan putri tercintanya.
Kali ini dia mendekati Alfath yang merupakan kakak kandung Adinda Humaira. Tampak dia membisikkan sesuatu.
"Kalau bapak siap. Saya akan berterima kasih." kata Alfath.
"Jangan panggil Bapak, Alfath."
"Baiklah, Zai."
"Hem ... itu lebih baik."
Terlihat semua telah selesai menikmati hidangan yang ada. Dan kembali duduk ke tempat semula sambil bercengkrama.
"Bagaimana nak Zaidan, kita lanjutkan dengan ijab qobul?" kata ustadz Arifin yang sejak tadi memperhatikan Zaidan.
"Perbuatan yang baik bila disegerakan akan bertambah baik. Untuk walimahnya bisa kapan saja. Asalakan sudah diakui secara agama maupun negara."
Ustadz Arifin paham akan keadaan Dinda dan keluarganya. Sehingga permintaan yang terlontar dari putri Zaidan bisa dijadikan solusi. Bukankah juga, untuk masalah menikahkan dan pencatatan pernikahan sudah menjadi kewajibannya sebagai pegawai KUA.
"Bagaimana?" tanyanya sekali lagi.
"Ya Ustadz." jawab Zaidan mantap.
"Baik bisa kita mulai?"
"Calon mempelai wanita, ada."
"Sebentar ustadz." jawab Hani dari dalam.
Dengan diiringi Silvi, Dinda berjalan memasuki tempat untuk dilakukannya ijab qobul.
Zaidan melihat Dinda yang memakai baju yang telah dia belikan sebagai hadiah menemani Anya dan dirinya ke pantai. amat terpesona. Tak menyangka kalau baju itu akan dipakai untuk acara ini dan cocok sekali. dengan Dinda.
"Alhamdulillah, sudah bisa dimulai."
__ADS_1
"Untuk maharnya?"
"Ya, ustadz. Ijinkan saya untuk memperdengarkan bacaan surat Ar Rohman terlebih dahulu."