
Tanpa sepengetahuan Mayasa, Anya pergi masuk ke dapur, menemuhi bunda Dinda. Yang sedang asyik membuatkan kue puding buah.
"Bunda kok lucu bentuk pisangnya?"
"Mau ... tapi boleh bantu bunda dulu."
"Bantu apa, Bunda."
"Mencopotnya."
"Bisa, Bunda."Jawab Anya senang.
"Letakkan dalam baskom ini, ya..."
Alangkah senang hatinya, mencopot puding-puding kecil yang berbentuk berbagai buah itu.
"Anya boleh mencicipi, Bunda?"
"Boleh,"
Satu, lezat sekali. Dua , masih ingin lagi. Tiga, semakin ingin. Tak terasa, setiap kali puding itu terlepas. Maka mulut Anya sudah siap melahapnya
Dinda yang sedang mengaduk puding yang lain, yang ada di atas kompor, tak menyadari kalau hampir separuh lebih, puding buahnya telah berpindah ke dalam perut putrinya.
"Anya, kalau sudah selesai. Bisa menyiapkan cupnya, Sayang."
Kata Dinda sambil mengangkat panci dari kompor. Kemudian mengaduknya untuk dicetak. Terkejut juga dia melihat puding buah yang hanya tinggal beberapa buah di dalam baskom.
"Lho mana buahnya. Kok tinggal sedikit."
"He..."Senyum polosnya mengembang.
Dinda hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Ya sudah. tak usah di cup. Tolong ambilkan biskuit yang di kulkas."
Sementara Anya mengambil biskuitnya, Dinda menyiapkan cetakan bundar yang bermotif serta mempunyai lubang di tengahnya.
"Ini, Bunda."
"Sekarang kita letakkan biskuitnya ke dalam puding."
Dengan riang, Anya membantu bunda Dinda, memasukkannya ke dalam puding. serta meletakkan puding buah yang tersisa ke dalam loyang itu.
"Sekarang tunggu dingin. Uapnya sudah tak ada. Biar cepat kita masukkan dalam kulkas."
"Masih lama jadinya, Bunda."
"Nanti sore, kita keluarkan dari kulkas. Untuk survive ayah dari kakak Anya..Oke."
"Oke."
"Sekarang Anya makan dulu. Bunda masak sup ayam.:
"Asyik."
Kalau tak ada ayah Zaidan. Biasanya Anya mau makan sambil jalan-jalan. Makannya menjadi banyak.
""Kakak Anya, ayo makannya dihabiskan." kata Dinda sambil mengejar Anya yang berlari ke pekarangan belakang.
Dimana Mayasa masih asyik menyelesaikan lukisannya.
"Ammah, tidak makan dulu?"
"Hemmmm...."
Sepintas Dinda melirik pada lukisan Mayasa.
"Cantik sekali,"
"Secantik hatinya."
"Amiin. Yang melukis juga sama."
Mayasa tak peduli. Tetap melanjutkan lukisannya. Hingga Anya menyelesaikan makan dan berlalu dari hadapannya.
"Mayasa, kakak tunggu habis ini kita sholat dhuhur berjamah."kata Dinda sambil lalu.
"Baik, Kakak."
Baru kemudian dia beranjak dari tempatnya. Membereskan peralatan lukisnya. Dan membawanya ke dalam kamar pribadinya.
π
Menikmati senja di beranda, dengan putri dan istri tercinta, setelah bersih diri, dari bekerja seharian di luar rumah. Membuatnya menjadi manusia yang berbahagia. Itu yang dirasa Zaidan di sore itu.
"Kakak Anya, pudingnya sekarang pasti sudah jadi, Kita potong, Yuk!"
"Kakak?!"
Zaidan mengeryitkan dahi.
__ADS_1
Dinda dan Anya berlalu ke dalam rumah. Tak lama kembali dengan membawa puding buatan mereka.
"Ayah, ini buatan kakak Anya."
"Benarkah."
"Terima kasih, Kakak Anya." kata
Zaidan menirukan ucapan Dinda, yang memanggil Anya dengan sebutan kakak Anya. Lalu dia menyuapi Anya, satu sendok kecil puding. Yang langsung dilahapnya dengan senang. Sebelum kembali lagi mengejar capung dan juga kupu-kupu yang banyak berterbangan di taman rumahnya.
"Kakak ... Bunda isi?"tanya Zaidan sambil menunjuk perut Dinda.
"Maksud Ayah?"
"Adik Anya."
"Belum, Ayah."
"Kukira ... terlanjur aku senang sekali waktu Humaira panggil Anya 'kakak'."
"Aku panggil begitu, agar dia bangga dan lebih berkembang."
"Tapi, 1 bulan ini kamu belum mens!."
"Mentruasiku nggak teratur. Jadi tak bisa jadi patokan."
"Dites, bagaimana?"
"Ayah !"
"Untuk jaga-jaga saja."
Dinda terdiam menanggapai ucapan Zaidan. Memang benar sudah lebih dari satu bulan dia belum mendapatkan tamu bulanannya. Kalu dihitung-hitung hampir telat 2 minggu.
Tapi kalau banyak pikiran, itu lumrah terjadi padanya.
"Aku senang, kalau itu benar. Rumah kita akan ramai dengan suara anak-anak."
"Ayah?!"
Ingin Dinda mencubitnya.
"Eiiittts ... ada putrimu ... nanti ditiru lho!"
Segera Dia menarik tangannya sebelum mendarat di pinggang Zaidan.
"Mas, apa benar mas mau menuruti permintaan mami dan adik-adik mas."
"Bukannya Humaira setuju."
"Ada ide lain."
"Lama aku nggak pernah tengok kak Alfath. Aku kangen."
"Ide bagus. Aku antar Humaira ke sana. Dan dijemput di hari H-nya. Jadi tak perlu dipingit di rumah mami. Oke?"
"Tapi tak bisa sekarang. Mas masih benar-benar sibuk."
Sebenarnya, yang jadi alasan utama untuk tak mengantarkan, adalah keadaan Alfath. Apakah dia sudah benar-benar sembuh dari luka tembaknya, atau belum. Dia masih khawatirn, kalau Dinda akan kembali syok. Ingat peristiwa penculikan itu.
Dan Zaidan tak mau, itu terjadi.
"Oke." jawab Dinda senang. Dinda bangkit menghampiri suaminya. ingin memberikan ciuman mesrahnya. Namun segera Zaidan mencegahnya.
"Jangan sekarang, nanti malam saja. Ada si kecil."Dinda tertegun.
Sejak kapan suamiku mulai beradab, tentang tempat ciuman. Bukankah dia yang sering memancing-mancing diriku untuk melakukannya.Tapi syukurlah kalau sudah mulai sadar.
Sekarang, ku dibuat malu sendiri, dengan apa yang hendak kulakukan padanya. Dinda mundur dan tersenyum. Lalu menatap ke taman, dimana putrinya sedang berlari di sana.
Tapi ternyata itu hanya akal-akalan Zaidan saja. Agar dia bisa mendominasi. Tak mau terlihat manja.
Zaidan menghampiri Dinda, yang berdiri menatap Anya. Yang sedang berlari meninggalkan mereka.
Kesempatan emas, tak ada yang menyaksikan. Zaidan menghampiri Dinda. Lalu memeluknya.
Dengan cepat dia mencium bibir Dinda ... dan ... lalu melepaskannya sambil tersenyum.
Dinda terkesima. Jantungnya seakan terhenti. Namun aliran darah perpacu cepat. Hingga pipinya bersemu marah. Entah rasa ini selalu saja menguncinya dalam diam.
"Mas!!"
"Sudah ah..."Jawabnya ringan tanpa dosa.
Lalu, dia memanggil-panggil Anya dan melambaikan tangan. Meninggalkan Dinda yang masih gemetar menahan degup jantungnya.
"Kakak Anya. Sini ... kita main piano. yuk."
Mendengar ayahnya mengajak bermain piano. Anya segera balik badan dan menghampirinya. Karena ini yang selalu Anya tunggu-tunggu. Bermain piano bersama ayah seperti dulu lagi.
"Ya, Ayah." jawabnya, sambil berlari menghampiri .
__ADS_1
Berdua mereka berlalu ke dalam rumah menuju perpustakaan keluarga. Meninggalkan Dinda yang membereskan puding dan peralatannya. Dengan membawa itu semua ke dapur.
π
Terakhir Zaidan memainkan piano itu, ketika dia mengungkapkan lamaran pada Dinda di malam itu melalui telepon.
Sedangkan Anya terakhir bermain piano itu pada saat bunda Zahara masih ada.
Alangkah senang hatinya saat ini, ketika ayah Zaidan mengajaknya bermain di piano, yang banyak menyimpan kenangan pada sesorang, yang kini telah ditemukannya kembali. Yaitu bunda Dinda pengganti bunda Zahara yang kini telah pergi.
"Ammah ... "sapa Anya pada Mayasa yang telah sedang asyik membaca buku di ruangan itu, di atas kursi rodanya.
"Hei, Kakak Anya." balasnya dengan mata berbinar. Lalu melanjutkan bacaannya kembali.
"Hai Mayasa." kata Zaidan sambil membuka piano di depannya.
"Hai juga, Kakak." Mayasa menoleh sejenak. Melihat Zaidan yang sedang memangku Anya.
Dengan lembut, Zaidan mulai memainkan tuts-tuts piano. Kemudian diikuti putrinya dengan baik. Jari-jari mungilnya lincah mengikuti permainan Zaidan. Semakin lama semakin menarik dalam mengalunkan irama sebuah lagu.
"Sekarang putri ayah mau menyanyikan lagu apa?"
"Judulnya 'Bunda', Ayah."
"Oke ..."
πΆπΆ
Bunda tercinta, pengasuh penuh suka
Senyum bahagia,kutemukan surga
Ku tunduk beraimpuh, di telapak kaki
Bundaku tersayang , wajib dihormati
Bunda a a a 4x
Bundaku tercinta, bundaku tersayang
Di singgasana yang penuh kasih
Bunda membalas nyanyian kalbu
Tak kusakiti, tak kulukai
Bunda Penawar sedih hatiku
Bunda a a a 4x
Bundaku tercinta, bundaku tersayang
Jika ku bersedih, diapun tersiksa
Sebagai tanda kebesaran cinta
Ku lantunkan laguku dengan pujian
Jalan di depanku, bundaku penerang
Bunda a a a 4x
Bundaku tercinta, bundaku tersayang
Tetaplah bunda dalam jiwaku
Pengantart bahagia dalam hidupku
Do'aku bunda yang melahirkan
Hanyalah salam keselamatan
πΆπΆ
Lagu itu dinyanyikan dengan merdu oleh Anya. Sedangkan Zaidan mengiringinya dengan baik.
Mayasa yang sedang membaca buku, mendengar lagu yang dialunkan Anya terkesimak. Lagu menyentuh kalbunya. Mengetuk-ketuk nurani untuk mengakui kekhilafan yang dia sembunyikan pada gadis kecil itu. Yang sampai kini masih menyiksa jiwanya. Hingga tak terasa air matanya menetes. Sepintas Zaidan melihatnya, tapi tak berani mengganggunya.
Dinda yang baru masuk ke ruangan itupun tersentuh. Membuatnya tersenyum atas alunan lagu yang dinyanyikan putrinya.
"Ayah, sudah mau maghrib."
"Kakak Anya sudah ya ... besok lagi. Sekarang ikut bunda dulu. Tunggu ayah di musholla."
Anya mengangguk dan mengikuti Dinda pergi.
Zaidan menghampiri Mayasa yang masih diam dalam tangisnya.
"Kakak, maafkan aku ..." Dia menangis sesugukan di tangan Zaidan yang memegangnya sambil berdiri.
"Mayasa, kita semua sudah memaafkanmu. Belajarlah untuk memaafkan dirimu sendiri."
__ADS_1
_________________________
Maaf readers, banyak tiponya...