
Beberapa hari sebelumnya ....
"Ris, setelah dhuhur, kamu bisa ke sini?"
"Ya, Pak."
Ada apa ya... mengapa pak Zaidan mendadak memanggilku. Bukankah laporan yang kemarin sudah aku kirim dan kelihatannya dia puas. Ah, sudahlah ....
Masih banyak yang harus aku selesaikan.
Dia mengangkat telpon yang terhubung langsung dengan meja sekretaris.
"Reza, tolong kamu ke sini!"
"Baik, Pak."
"Bawa laporan bagian pemasaran dan produksi minggu ini."
Ternyata selama di pegang oleh Layla banyak hal kurang diperhatikan hingga menyebabkan perkembangan perusahaan stagnan. cenderung menurun. Alhamdulillah sekarang berangsur-angsur membaik.
Akhirnya selesai juga pekerjaan ini. Keadaan bagian produkai dan bagian pemasaran sudah mulai membaik. Kenapa Layla seceroboh ini. Mangkin bukan bidangnya. Pikir Aris sambil menatap berkas-berkas yang ada di depannya.
Akhirnya kelar juga. Tepat menjelang dhuhur.
"Reza, aku tinggal dulu. Kalau ada yang mencari, aku lagi ke kantor pak Zainal."
"Ya, Pak."
"Ayo, kita sholat dulu."
.
Berdua mereka berjalan menuju musholla kecil yang ada di kompleks perkantoran Layla.
Baru saja Aris keluar dari mushalla, telponya sudah berdering.
"Assalamu'alikum, Pak."
"Janganlah resmi seperti itulah."
"Ya, Zay."
"Cepet ke sini, temenin aku belanja."
"Tak kira apa."?
"Sudah, aku tunggu."
"Oke, Boss."
Tak berapa lama, dia sudah tiba di hadapan Zaidan yang sedang makan siang di ruangannya.
"Hai sini, Ris."
"Boleh."
Sebenarnya Aris agak sebel waktu mendapati Zaidan masih mau makan. Tapi ketika melihat makanan yang terhidang di depannya, sebelnya menghilang.
Rasa lapar yang ditahannya, demi memenuhi panggilan si boss. Kini semakin liar, minta di penuhi. Cacing-cacing yang ada di dalam sana sudah berteriak gaduh, melihat hidangan yang penuh selera, hingga dia menjadi malu sendiri.
"Wah, si boss. Sekarang enak kali." Kata Aris sambil mengambil nasi lengkap dengan lauknya.
"Belum jadi istri, juga sudah dimasakin. Cuma dulu bayar. Sekarang he ... he ..."
"Nach, kamu kapan nyusul."
"Tak tahulah."
"Gimana sich kamu, kok nggak meyakinkan."
"Bagaimana boss aja dech."
"Ris, kalau kamu memang sungguh-sungguh, aku nggak keberatan menitipkan Layla padamu."
__ADS_1
"Aku bukan dirimu, Zay."
"Maksudmu?"
"Apakah Layla bisa menerimaku, tanpa bayang-bayang dirimu."
"Tapi sebenarnya, kamu ada hati padanya?"
"Ya, haruskah aku menunggu dia selesai S3-nya di Australia dulu."
"Aku tahu, dia mau ke sana karena ingin mengalihkan masalah yang sebenarnya. Ingin menghindariku."
"Sejak dulu kamu tahu kalau aku menantinya, tapi dia tak pernah tahu, karena ada kamu."
"Tapi, kulihat dia mulai belajar bahwa aku kakaknya."
"Entahlah, kalau Layla jadi pergi ke Australia. Biarlah aku mencoba untuk melupakannya. Mungkin bukan jodohku. Maafkan aku."
"Aku mengerti, urusan hati memang bukan kuasa kita. Tapi seandainya kamu jadi keluargaku tanpa atau dengan Layla, aku senang sekali."
Tanpa terasa makanan yang ada telah berpindah tempat semua. Ke dalam perut-perut mereka. hingga cacing-cacing di dalam merasa kenyang. Dan tertidur lelap.
Lalu, Zaidan membereskan makanan yang sudah bersih dari isinya. Meletakkan samping mejanya. Lalu menyentuh foto yang ada di mejanya.
"Makasih, Sayang. makananmu lezat sekali."
Aris yang sedang minum air mineral, melihat itu hampir saja tersedak. Ada-ada bossku satu ini.
"Zay, sebenarnya aku ingin melamarnya saat ini, Aku takut jika ia jadi ke Australia, dia akan melupakanku."
"Benarkah ..."
Aris mengangguk. Menatap lekat Zaidan.
"Kamu sudah mengungkapkan pada walinya. Aku harus sampaikan ini pada Layla. Apapun yang diputuskan Layla, semoga menjadi jalan terbaik bagi kalian berdua."
"Eh balik lagi ke urusan kita, sebenarnya aku panggil kamu ke sini. Untuk nemeni aku belanja pakaian wanita."
"Mayasa."
"Siapa lagi tuch ..."
"Jangan curiga. Dia kembarannya Layla. Yang menyelamatkan Dinda dan Anya saat itu."
"Lha, tinggal ajak Layla. Beres."
"Masalahnya bukan di situ, Semua keluarga belum ada yang tahu kalau Layla punya saudara kembar."
"Lalu."
"Kali ini aku tak mau ada pertanyaan atau penolakan."
Aris hanya tersenyum menatap Zaydan. Kalau sudah ngomong dengan gaya boss seperti ini, berarti ini perintah yang tak boleh tidak, harus dilaksanakan.
Sebentar kemudian Zaidan mengangkat telepon.
"Nisa, kamu segera ke sini?"
Tak lama kemudian, seorang gadis sudah berdiri di tengah pintu.
"Ayo, Ris."
"Oke."
Bertiga mereka meninggalkan tempat itu, Melintasi ruangan Layla yang tengah duduk di tempatnya. Menatap Aris yang sedang berjalan di samping kakaknya. Mengobrol santai. Hingga tak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya.
💎
Tiba di pusat perbelanjaan, Zaidan menghampiri Nisa untuk memilihkan baju untuk Mayasa dan segala perangkat mengenai wanita yang sesuai dengan ukuran Layla. Baik baju pergi dan baju rumah.
Zaidan berjalan ke arah yang lain. Ingin membelikan baju buat Dinda dan Anya. Meninggalkan Aris yang bingung sendiri.
"Zey. Aku ngapain?"
__ADS_1
"Temenin Nisa. Bawain barang."
"Ya...tak kira mau di ajak apa, tak tahunya suruh bawain barang."
Aris akhir hanya senyum-senyum sendiri, melihat sahabat itu. Yang selalu bisa ngerjain dirinya. Sebetulnya mau dongkol gimana. Kayaknya tak mempan. Dibawa cuek saja.
Akhirnya dia mengikuti Nisa.Yang sedang memilih-milih pakaian sesuai dengan yang diperintahkan si boss.
Sebentar-sebentar, bukannya Mayasa dan Layla kembar. Aku ingin belikan untuk Layla juga. Siapa tahu dia suka, Kurasa kalau hanya menganjurkan saja tak lengkap
"Mbak Nisa, aku juga minta tolong untuk memilihkan baju yang sama."
"Maksud, Bapak?
"Ini untuk calon saya. Ukurannya sama. Untuk calon saya." Aris menekankan.
"Baik, setelah ini."
"Mbak Nisa, yang baju seperti itu masih ada tidak."
"Aku tanyakan dulu."
Nisa mendekati mbak yang tadi melayaninya. Lalu melambaikan tangan pada Aris.
"Bapak pilih sendiri."
"Oke, aku pilih ini, ini dan ini. Buatkan nota sendiri, Mbak!"
"Tunggu sebentar."
" Ini, Pak."
"Makasih, Mbak."
"Sudah selesai, Mbak Nisa?"
"Sudah, tinggal urusan wanita."
"Okè, aku menjauh."
Tak berapa lama Nisa juga sudah selesai membelikan apa saja yang menjadi pesanan bossnya.
"Bapak sudah selesai?"
"Sudah."
Setelah menyesaikan semua pembayaran. Aris membawa semua barang dengan menggunakan troli, membawa ke tempat parkiran. Meletakkan di bagasi mobilnya.
Tak lama kemudian Zaydan juga terlihat keluar dari mall dengan mententeng 4 buah paper bag.
"Sudah semua." sambil meletakkan paper bagnya di jok tengah. Bersama dengan Nisa yang sudah terlebih dahulu duduk di tempat itu.
Kemudian duduk di samping Aris, yang duduk di belakang kemudi.
"Sudah tak mampir lagi, Pak?"
Kalau di depan pegawainya, tak berani Aris memanggil Zaidan sembarangan. Agar tidak menjatuhkan wibawanya.
"Sudah, kita langsung balik ke kantor saja. Aku ada metting."
"Baik, Pak."
Tak berapa lama, mereka telah tiba kembali di kantor Zaidan.
"Nisa, pindahkan semua barang ke mobil saya."
"Ya, Pak."
"Aku ke atas dulu, Ris."
"Ya, Pak."
"Terima kasih sudah nemenin aku."
__ADS_1