SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 87 : Selalu Siap


__ADS_3

Zaidan tampak tertunduk sedih. Pikirannya kemana-mana. Ingin rasanya dia menyeret langsung Handoko. Tak perduli dia adalah pamannya. Karena telah nyata kejahatan yang dilakukan pada keluarganya.


Tapi demi dilihat Mayasa yang baru saja bangkit. Tak tega bila dia menjadikan Mayasa sebagai tersangka. Karena itulah jalan satu-satunya agar dia dapat menyeret pamannya untuk mengakui dan mempertanggung jawabkan perbuatannya.


"Percayakan semua pada kakak. Kakak akan mencari jalan agar dapat menjeratnya tanpa harus kembali pada masalah dakwahan yang pernah kucabut atasmu."


"Tak apa, Kak."


"Sudah, istirahatlah. Bukannya nanti Fadly dan mamanya datang. Setidaknya kalau kamu putus asa lihatlah pada mama Veronica. Dia sembuh olehmu. Bagaimana kecewanya dirinya kalau kamu putus asa."


"Kakak benar-benar memaafkanku, kah?"


"Sudah jangan tanya-tanya itu lagi."


Mayasa diam dan menunduk.


"Mungkin kamu punya informasi lain tentang paman."


"Tapi bolehkah May tanya dulu."


"Tentang?"


"Paman itu benar saudara kandung mami atau bukan."


"Bukan."


Zaidan yang tadi sudah mulai lagi meneruskan bacanya, kembali menutup bukunya. Lalu menatap Mayasa dengan penuh perhatian.


"Tadi sudah kamu tanyakan. Apa kamu masih ragu kalau paman itu bukan saudara mami."


"Makanya ..."


"Maksudmu apa, May"


"Apa kakak selama ini tak merasakan."


"Merasakan apa?"


"Dia ingin sekali memiliki perusahaan keluarga."


"Kalau itu sich, kakak mengerti. Tapi selama keluarga percaya sama kakak. Insya Allah perusahaan itu takkan lepas."


"Cuma ya ... seperti itu. Nggak ada puasnya.


"Yang kakak nggak mengerti adalah yang seperti kamu ceritakan. Menghalalkan segala cara. Itu yang sama sekali kakak tak tahu."


"Oke, Kak. Mungkin kalau diperlukan, Mayasa siap membantu."


Sepertinya sekarang saatnya untuk bertindak.


Paman, aku sudah habis kesabaran atas perbuatanmu yang semena-mena.


Semoga besok, aku sudah bisa menerima laporan dari pak Aslam. Tentang orang yang pernah aku penjarakan tapi kini telah bebas.


Apalagi terakhir kudengar Ryan juga berhasil melarikan diri dari penjara.


Yang pasti keluargaku dalam bahaya.


Apa semua berhubungan dengan paman?


Semoga Aldo besok sudah datang , sesuai dengan waktu yang dijanjikan. Untuk mengaitkan semua peristiwa yang terjadi selama ini.


Zaidan beranjak dari tempat duduknya. Menuju ke kamar. Menemui istri dan putrinya yang sedang beristirahat. Setelah menyiapkan sesuatu untuk acara nanti.

__ADS_1


"Bunda, sudah selesai?"


"Alhamdulillah, Mas. Capek juga." Kata Dinda dengan bersandar di tepi ranjang. Sambil membelai Anya yang tertidur pulas di sisinya.


Akhir-akhir ini, memang Adinda sering mudah capek dan ... agak ... ce ... re ... wet.


Mungkinkah tanda 2 strip merah itu, benar adanya. Semoga ....


Senyum Zaidan terus tersungging menatap Dinda. Berlahan dia mendekati istrinya. Lalu berjongkok di sisinya. Mencium perut istrinya dengan mesra. Membuat Dinda terkesima.


"Ich ... Mas. Apaan sich ... geli tahu!"


"Masak nggak boleh. Aku mencium calon beby di perutmu."


Dinda hanya tertawa menyaksikan suaminya yang teramat perhatian padanya. Hingga tak sungkan bila dia bermanja padanya. Untuk sekedar kangen.


"Bundanya tidak?"


"Lho, bundanya iri tho ... oke ... dengan senang hati."


Tangan Zaidan meraih dagu Dinda dan mendaratkan ciumannya di bibir Dinda dengan mesra. Maksud hati hanya sekedarnya saja. Tapi kok ya ... keterusan.


Habis kalau berdekatan. Lalu ada bagian yang bersentuhan apalagi bibir. Seperti terkena medan magnet yang teramat kuat. Hingga melekat tak mau lepas.


Makanya bagi belum halal jangan coba-coba nanti keterusan.


"Bunda, Sudah puas?"


Dinda hanya tersenyum menggoda. Membuat hasrat Zaidan melompat keluar. Diraihnya kembali wajah Dinda. Lalu mengulangi hal sama. Entah berapa lama hingga kedua merasa kehabisan napas. Baru melepaskannya dengan rasa puas.


"Sudah ya ... bukan tempat yang tepat. Ada putri kita." Syukurlah sekarang sadar.


Meski sama-sama menyimpan hasrat. Namun direlakannya saja. Kasihan tubuh Dinda dan dirinya juga perlu istirahat. Dan yang terpenting jangan sampai waktu kejadian Anya melihatnya. Be ... ra ... be....


Biasanya yang mengucapkan sayang adalah Zaidan. Tapi kali ini ... Dinda yang mengucapkannya.


Zaidan yang mendapatkan panggilan sayang dari istri tercinta. Merasa angannya melambung ke udara. Seakan kembali pada waktu SMA. Masa muda yang penuh gairah. Gairah belajar maksudnya.


Tak tahulah kalau sekarang gairah apa.


Jangan bertanya dan jangan mencari jawaban. Oke ....


Kali ini untuk mengobati rasa gemasnya, Zaidan hanya memberikan kecupan di dahi. Lalu berjalan berlahan menuju sisi yang lain. Di sebelah putrinya yang tertidur pulas.


"Sayang, sudah tidur?"


"Ada apa, Sayang." jawab Dinda dengan mata yang masih terpejam.


"Wow, mas suka dech kamu panggil dengan sebutan itu."


"Tak tahulah, Dinda hanya pingin aja."


"Keinginan yang indah buat mas."


"To the point aja dech. Mau ngomong apa."


"Gini, Yang. Sepertinya mas mau meluluskan permintaan Aris dan Fadly."


"Permintaan yang mana ... Bukankah resepsinya mereka sama dengan kita. Itukan permintaannya?"


"Bukan yang itu."


"Lalu?"

__ADS_1


" Besok mereka akan kita bawa ke KUA."


"Selama mereka tak keberatan."


"Itu sich urusan kecil buat mas."


"Ya sudah. Dinda hanya mendoakan saja agar acara ini dari lamaran hingga resepsi nanti bisa berjalan lancar."


"Tapi bolehkah Dinda tahu alasan mas apa?"


Sejenak Zaidan terdiam, mengambil napas dan membuangnya dengan berat. Dikatakan apa tidak ya ....


Takut kalau-kalau Dinda tidak siap mendengarnya.


Tapi ... lebih baik kukatakan, untuk mempersiapkan mentalnya.


"Sayang kan tahu sendiri, akhir-akhir ini terlihat banyak yang mau mencelakai keluarga mas. Terakhir kemarin Anya dan Mayasa. Aku ingin adik-adikku ada yang yang menjaga dengan sepenuh hatinya. Siapa lagi kalau bukan suaminya."


"Aku setuju."


"Yang ke dua, mulai besok kak Alfath kita ajak tinggal bersama dengan kita, di rumah yang di persawahan itu."


"Kalau itu menurut mas baik."


"Ketiga kita bisa pulang. Sementara di sini sudah ada Aris dan pak Aslam yang menemani."


"Aldo dan kak Alfath bersama kita."


"Mas sebenarnya ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Bukankah kita mulai besok sudah mulai kedatangan banyak tamu. Mommy Ana dan Deddy Kamal, Kak Lisa . Bibi pamanmu juga sudah mulai datang?"


"Tidak ... tidak ... ada yang mas sembunyikan dari Dinda."


"Baiklah .... Mas merasa ada gelagat yang tak baik pada saat paman datang kemari."


Mendengar itu Dinda agak sedikit syok. Tapi mencoba menerima. Karena bagaimanapun beberapa kali dia mengalaminya membuatnya bisa tabah dan terlatih untuk tenang.


"Baiklah Mas, moga-moga tak ada apa-apa."


"Amin ... sudah tidurlah. Biar segar tubuhmu nanti."


"Ya."


Tak lama kemudian mata Dinda terpejam seiring angannya melayang ke dunia mimpi.


Zaidan membiarkan Dinda tertidur, sementara dirinya sibuk mengutak-atik handpon untuk mengirim notifikasi pada beberapa orang. Termasuk pada Fadly dan Aris.


[Bagaimana bro ... sudah siap maharnya]


[Kalau siap, besok pagi kita ke KUA]


Tak usah menunggu, langsung masuk jawaban dari keduanya.


[Beneran kakak ipar?]


[Itu yang kami minta sejak kemarin]


[Yang penting maharnya, siap nggak]


[Selalu siap]


[Sip]

__ADS_1


__ADS_2