
"Kak, mengapa abah tahu masalahku ya ..."
"Karena kak Zaidan itu anaknya abah."
"Maksudnya?"
"Aku tak tahu persis. Yang kutahu waktu aku ke sini. Kak Zaidan sudah duluan ada di sini. Kata kakak-kakak yang terlebih dahulu di sini. Sejak bayi sudah dirawat sama abah."
"**Oh ..."
"Kalau ada masalah, larinya pasti ke abah. Dan nginap di kamar anak-anak."
"Lalu apakah abah tahu, bahwa kami sebenarnya saudara."
"Kurasa tidak. Yang dia tahu kak Zaidan itu anak yang dititipkan padanya, oleh nyonya Ana."
"Sudah jangan dibahas. Nantinya kamunya jadi berharap lagi."
"Ya, Kak.Layla hanya penasaran."
"Kak Zaidan sangat sayang padamu. Sebagai saudara kandung. Tak lebih, itu yang kakak ketahui."
"Sejak kapan."
"Sejak menyadari kalau dia anak panti asuhan."
"Itulah sebabnya, Kak Aris bilang pada mami. Kalau kakak, anak panti asuhan?"
"**Ya ..."
"Makasih, Kak. Membuat hati Layla terbuka."
Mereka terus mengobrol panjang lebar, hingga tak terasa telah sampai di tempat yang dituju. Rumah pak Fadly, rekan bisnis kak Zaidan.
Rumah yang cukup besar. Tertutup rapat dengan pagar tinggi menjulang. Terletak di lahan luas. Dengan taman yang indah. Sempurna.
Susah amat masuk rumah ini. Pertama melewati satpam. Protokol pemeriksaan. Alhamdulillah terlalui dengan aman. Sampai depan rumah, pintunya tertutup. Pencet bell belum juga terbuka. Sudah tiga kali ... baru ada jawaban dari dalam. Itupun setelah kami melangkah hendak pergi.
"Sebentar,"Jawabnya dari dalam.
Kami menghentikan langkah dan balik lagi ke rumah itu.
Ternyata oh ternyata ....
Harus menunggu lagi, persis orang cari sumbangan.
"Bapak, cari siapa?" tanya seorang gadis yang berseragam khas baby sister dengan wajah tak ramah. Bikin orang pingin lari saja.
Aris dan Layla saling pandang dan mencoba tersenyum seramah mungkin padanya.
"Benar ini rumahnya pak Fadli?"
"Ada keperluan apa ya ...?"
Subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illahu Allahu Akbar.
Paket kompolit dech ... sampai-sampai bingung mau bicara apa.
Pertanyaan belum dijawab. Balik tanya lagi.
"Pak Fadli ada?"
"Sebentar saya panggilkan."
Dia berlalu ke dalam, tanpa mempersilahkan kami masuk. Sabar ....
Aris tersenyum menatap Layla yang terlihat sedikit kesal.
Lalu membalikkan badan. menunggu dengan sabar sambil bercanda.
"Sabar dicinta sama Allah, lho."
"Disayang sama kak Aris juga."Jawab Laila bercanda. Sekedar menghilangkan kesal.
"Ulang-ulang." kata Aris serius menatap Layla.
__ADS_1
"**Tak."
"Mengapa?"
Layla berbisik di telinga Zaidan.
"Nanti kalau sudah halal."
"Yes ... oke." ujar Aris melirik Layla.
Mereka tak menyadari bahwa pak Fadly tengah berjalan ke arah mereka. Melihat dan mendengar kata-kata mereka.
Darahnya seakan mendidih, menyaksikannya.
"Oh, jadi selama ini kamu menghindariku demi dia."
Aris dan Layla terkejut dan balik badan. Melihat Pak Aris yang mukanya merah padam, menakutkan.
Dia lalu meraih Layla dan ingin memeluknya.
Layla mundur. Aris maju, berdiri diantara mereka.
"Jangan halangi aku."
Dia mendorongnya hingga Aris hampir terjatuh. Lalu kembali ingin meraih Layla.
"Tidak, kamu tak akan kulepaskan untuknya."ujarnya ketika berhasil meraih tangan Layla.
"Mayasa, tak kasihan kamu sama mama. Dia merindukanmu."Ujarnya. Pandangannya lekat menatap Layla.
Layla yang tak berkutik dalam gengaman Fadly, hanya bisa tertegun dan bingung.
"Maaf, Pak Fadly, saya bukan Mayasa." Layla mencoba menjelaskan.
"Selalu itu yang kamu katakan, bila bertemu denganku."
"Pak Fadly, Dia Layla."ujar Aris sekali lagi. Tapi tak digubris sama sekali.
Fadly segera menariknya masuk ke dalam rumah ... lebih tepatnya menyeret Layla. Aris mencoba menghalangi. Namun Fadly makin erat memegang Layla. Membuat Layla meringis kesakitan.
Fadly tertegun, menghentikan langkahnya. Lalu melepaskan tangan Layla.
"Ya, Pak Fadly. Itu semua karena sikap anda. Adikku lari darimu."
"**Adik?!"
"Ya, Mayasa itu adikku. Kalau kamu tak percaya. Silahkan sekarang ke rumah kami."
Dia terdiam lama, lalu meneteskan air mata, terisak.
"Aku bisa gila memikirkannya." Sahutnya mengadu. Lalu mengusap air matanya.
"Maafkan aku. Silahkan masuk."
Fadly terlihat rapuh. Dia berjalan tertunduk, menahan air mata yang ingin keluar.
"Mayasa ... maaf ibu Layla, ada maksud apa kalian kemari?"
"Kami hanya ingin mengundang bapak dalam resepsi pernikahan kak Zaidan." kata Layla sambil memberikan undangan itu padanya.
"Fadly, apakah itu suara Mayasa?" Terdengar suara memanggil.
Fadly nampak bingung. Dia melihat Aris dan Layla bergantian.
"Ini semua salahku."
"Datanglah ke Mayasa, mungkin dia akan memaafkanmu."saran Aris.
Belum selesai pembicaran mereka. Wanita paru baya dengan tertatih mendekati mereka.
Fadly berdiri dan menuntunnya untuk duduk.
Tapi Pandangannya tertuju pada Layla.
"Mayasa, itu kamu Nak." Layla tertegun, dia melirik ke Aris. Dia mengangguk.
__ADS_1
Layla bangkit dan memeluk wanita itu.
"Maaf mama, aku bukan Mayasa. aku Layla."
"Mayasa dimana?"
"Bila mama pingin bertemu, Layla akan ajak mama menemuinya."
"Fadly, antar mama?"
"Baik, mama."
Layla mencoba membantu mama Fadly untuk berjalan. Sedangkan Fadly bergegas menuju garasi untuk menyiapkan mobilnya.
"Kalian kembar?"
"Ya, Mama."
"Maafkan anak mama. Kalian sama-sama lembut."
"Sebelum mengenal Mayasa dia lebih kasar dari ini. Beruntung dia mengenal Mayasa."
"Mama lebih mengenal Mayasa dari saya. Saya baru tahu kalau Mayasa adalah adikku baru hari ini."
"Lalu selama ini ..."
"Kak Zaidan dan mami yang tahu."
Mama pak Fadly mengangguk-angguk. Sambil terus berjalan hingga di beranda. Lalu Layla mendudukkannya di kursi yang ada di situ.
Tak lama mobil pak Fadly datang. Dia yang menggantikan Layla menuntun mamanya.
Aris dan Layla mengikutinya di belakang.
Mereka masuk ke mobil masing-masing meninggalkan rumah itu beriringan.
Fadly menyetir mobil dengan hati yang gelisah namun tetap fokus.
"Fadly, belajarlah untuk memahami Mayasa, kalau kamu ingin dia jadi pendampingmu."
"Aku mencintainya, Mama?"
"Tak hanya kata cinta saja untuk membangun rumah tangga."
"Sudah jangan banyak kata, mama nggak suka."
"Lalu Fadly harus bagaimana?"
"Wanita yang kau sukai adalah wanita pendiam dan perasa. Kamu harus peka. Kalau kamu berhasil menyentuh hatinya. Dia akan jadi sangat istimewa untukmu. Bersabarlah ... jangan sekali-kali kasar padanya."
Fadly menghentikan mobilnya saat melihat Aris juga menghentikan mobilnya.
Dari balik cendela mobil Aris berkata,
"Tunggu sebentar."
Aris memasuki sebuah toko jilbab seorang diri, meninggalkan Layla dalam mobil. Tak lama kemudian telah kembali dengan membawa paper bag. Dan kembali menghidupkan mesin mobilnya melanjutkan perjalanannya.
💎
"Anya jangan lari...!"
Tapi gadis kecil itu terus saja berlari, mengejar burung gereja yang kebetulan sedang terbang rendah, dari pohon satu ke pohon lainnya.
Dia berhenti di pohon beringin yang baru setinggi satu setengah meter namun sangat rimbun daunnya. Dia menatap ke atas, terlihat sarang burung, berisi anak burung yang sedang bernyanyi. Mungkin memanggil induknya.
Tiba-tiba seekor burung jatuh tepat di depannya. Dengan berlahan dia mengambilnya. Meletakkan di telapak tangannya.
"Ammah ... burung kecil."
_________________________
Maaf masih banyak tiponya.
Readers yang budiman. Mohon dukungannya, saran positif, like atau vote. Agar author bersemangat dalam berkarya.
__ADS_1
Moga-moga karya ini bisa menjadi bà caan favorite readers