
"Mommy, Daddy ... kalian datang."
Zaidan memeluk mesra penuh kerinduan pada daddy Kamal. Orang yang telah membesarkannya.
"Hemm ... nangis. Daddy tak suka. Ke mommy kalau mau nangis, please."
Kamal melepaskan pelukan Zaidan yang matanya memerah. Sebenarnya diapun ingin menagis. Namun sebagai seorang pria enggan dan malu, apalagi di hadapan banyak wanita di sisinya. Kalau berdua sama istri sudah sering. He ... he ....
"Mommy ... "
Zaidan mencium tangan mommynya dengan ketawadhuan.
"Sudah ... aku bangga. Kamu sudah lebih matang menghadapi persoalan." Dia mengusap kepala putranya dengan lembut.
"Mana Layla dan Mayasa?"
"Di kamarnya."
"Kak Lisa, Kakak ipar juga ikut."
"Kabarmu gimana adikku. Sudah nyimpan apa ... telinga, hidung?"
"Kak Lisa . gitu dech."
Pria itu tersenyum, mendengar celotahan wanita di sampingnya, yang tak lain adalah istrinya.
"Kakak ipar." Zaidan memeluknya dengan penuh kehangatan.
"Aldo, Alhamdulillah kamu datang."
"Nyonya Ana mengajakku sekalian."
"Dari Singapura langsung ini tadi?"
"Ya."
"Silahkan Dad, semuanya. Kita makan dulu."
"Sudah boleh makan tho, Zay. Nggak nunggu tamu-tamu yang lain?"
Zaidan tersenyum.
"Untuk tamu seistimewa Daddy ada pengecualian."
"Kebetulan daddy lapar, Zay."
Zaidan mengajak ke ruangan tengah. Di sana sudah tersedia berbagai menu, dengan di jaga oleh seseorang, dari Hayana Restaurant, milik Dinda.
"Biarlah Daddy dan para pria makan. Kita mau ke Layla dan Mayasa. Yuk Lis."
"Ya, Mom."
Zaidan mengantar mereka ke kamar Layla terlebih dahulu. Kebetulan di tengah jalan berpapasan dengan Syarif.
"Hei,kamu sudah di sini, Syarif."
"Iya, Nyonya. Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikum salam ..."
"Mom, aku mau nemeni daddy ."
"Ya."
Zaidan mengajak Syarif untuk makan bersama daddy Kamal dan para pria lainnya. Mumpung tamu-tamu belum ada yang datang.
💎
Di kamar Layla, Ana mendapati keponakannya tengah berdandan cantik. Meski tanpa bantuan perias.
"Kak Lisa. Akhirnya kakak datang." Layla memeluk Lisa dengan mesra.
"Akhirnya ada juga yang mau sama kamu."
"Kak Lisa selalu gitu dech."
"Habis dari dulu selalu nolak orang."
__ADS_1
"Kakak kan jadi khawatir nanti kamu jadi perawan tua."
Layla cemberut dibuatnya.
Lisa memberikan 1 buah paper bag pada Layla.
"Layla, pakailah."
Layla melihat gaun berwarna kuning pastel di dalamnya. Sangat menarik.
"Bagus sekali kak Lisa."Dia mencoba menserasikan dengan tubuhnya.
"Aku coba ya ..."
Tanpa menunggu jawaban dari Lisa dan tantenya, dia menuju kamar mandi mengganti pakaiannya.
"Cantik ..."
"Tinggal pakai jilbabnya."
Untunglah sejak kemarin Layla sudah bolak-balik membuka tutorial cara memakai jilbab.
Jadi agak hafal. Dan semakin cantik dengan jilbab plasmina-nya.
Sedangkan Haydi hanya membantunya sedikit-sedikit.
"Mana Mayasa?"
" Sedang berdandan di kamarnya, bersama kak Dinda."
"Sudah terusin dandannya. Tante mau ke tempat Mayasa."
Hendiyana meninggalkan mereka dengan membawa paper bag di tangannya.
Di tengah-tengah tirai, yang ada di kamar Mayasa, langkah Hendiyana terhenti. Dia menatap takjup pada keponakan yang ada di depannya.
Dengan tersenyum Ana mendekati. Dan memeluknya. Mayasa menyambutnya dengan hangat tanpa mengerti siapa sebenarnya dia.
"Mayasa, maafkan tante waktu engkau lahir, bukan tante yang disamping mamimu. Justru pamanmu. Sehingga kamu jauh dari keluarga."
"Apakah tante yang mengasuh kak Zaidan?"
"Maafkan May, Tante?"
"Sudah, lupakan."
Mayasa terharu dengan kata-kata Hendiana. Meski sedikit, namun sangat berarti bagi Mayasa. Rasa bersalah yang senantiasa mendera hatinya. Dengan itu berlahan sirna. Dan mulai tumbuh harapan dalam jiwanya yang rapuh. Dia makin erat memeluk Hendiana.
" Itu masa lalu. Jangan kau pikirkan. Bukankah sebentar lagi punya pasangan. Percayakan hatimu padanya. Tapi kamu juga harus belajar bagaimana bersandar pada Yang Kuasa."
"Terima kasih, Tante."
Hendiana melepas kan pelukan Mayasa. Dan menatapknya dengan kasih sayang.
"Ini, bukalah!"
Lisa telah memilihkan untuk mereka berdua, baju yang sama. Yang kuning pastel untuk Layla. Sedangkan yang biru muda pastel diberikan pada Mayasa.
Mayasa yang melihat baju itu, sinar matanya bercahaya.
"Pakailah!"
"Baiklah."
Mayasa berjalan berlahan menuju ke kamar mandi. Tak lama kemudian telah keluar dan berdiri di depan Ana. Yang menyambut dengan senyum lebar.
"Pilihan Lisa benar-benar cocok untuk kalian."
Tak lama kemudian Dinda masuk, mendapati adik iparnya telah berganti baju yang lebih cantik membuatnya tertegun dan takjub.
"Mayasa, cantik sekali kamu adikku." katanya mengagumi.
"Mommy, "Dia memeluk Hendiaya dengan penuh kerinduan.
"Maafkan Dinda. Tak tahu kalau mommy datang."
"Tak apa. Mana cucuku?"
__ADS_1
"Sedang tidur. Sejak datang dari menjemput ustadz Syarif."
"Ya sudah, lanjutkan kesibukannmu. Biar Mayasa bersama mommy."
"Terima kasih, Mommy."
Terdengar seseorang datang. Dinda segera beranjak hendak menyambutnya. Meninggalkan mereka berdua.
Rupanya mereka adalah Reza, Nisa, Abid dan entah dua lainnya. Yang telah disambut oleh Shaffa terlebih dahulu.
"Alhamdulillah kalian sudah datang. Sudah tahu tugasnya, kan?"
Mereka semua mengangguk.
"Shaffa, ini kak Reza yang akan menemanimu menjadi mc di acara ini."
"Perkenalkan, saya Reza."
"Senang berkenalan dengan Kakak." Dia menjawab sambil tertunduk segan.
"Kak Reza tolong bimbing Shaffa,"
"Baik nyonya Zaidan." Kata Reza sopan. Membuat Dinda agak tertegun. Nich ... orang kok jadi takut denganku. Ada apa ....
Dipandang seperti itu semakin membuat Reza tertunduk tak berani sedikitpun memandangnya.
"Ada apa denganmu, Kak Reza?"
"Nggak apa-apa. Hanya saja kalau sampai ketahuan sama pak Zaidan. Nanti bisa kena bogemnya dan dipecat, Nyonya Zaidan."
Mas Zaidan ini ada-ada saja. Bikin orang ketakutan seperti ini. Guman hati kecil Dinda.
"Yang diminta untuk baca Al Qur'an, siapa?"
"Saya, Nyonya." kata Abid, yang berdiri di samping Reza.
"Ya sudah, kalau begitu aku tinggal semua. Kalau mau minum dulu, silahkan."
"Baik, Nyonya Zaidan."
Lalu Dinda meningglkan mereka, menemui mertuanya, yang sedang bercengkrama dengan suaminya.
"Assalamu'alaikum ... Daddy?"
"Wa'alaikum salam ... inikah istrimu, Zay."
Zaidan memegang tangan Dinda dengan lembut. Dan menarik tempat duduk di sampingnya. Mempersilahkan Dinda duduk tenang di sisinya.
"Iya, Daddy."
"Haruskah Daddy menilai padahal sudah jadi istrimu?"
"Tak salahkan Zaidan memilihnya?"
"Mas, apa-apaan sich." jawab Dinda tertunduk malu.
"Daddy hanya bisa bilang ,'barokallah lakuma wabaroka 'alaikuma bil khoir' untuk kalian berdua."
"Terima kasih, Daddy. Itu yang Zaidan inginkan."
"Ini berarti, kamu sibuk terus 5 hari ke depan."
"Iya, Daddy."
"Kamu perlu cuti kerja sepertinya, Zay."
"Tak mungkin, Dad. Siapa yang menggantikan Zaydan di perusahaan."
"Daddy insya Allah 1 bulan ke depan akan ada di Indonesia. Nanti Daddy bantu."
"Aku juga pinginnya gitu, Daddy. Agar bisa ajak istri bulan madu."
Dinda melirik tajam Zaidan. Tapi terus terang hatinya berbunga-bunga. Sepertinya dia juga ingin sejenak berlibur.
Tanpa disadari oleh semua, Anya sudah terbangun dan mencari-cari bundanya. Hingga dia mendapati ayah bundanya sedang berbincang santai dengan orang yang sudah dia kenal.
"Grandfa ... Anya kangen " Dia menghampiri Kamal dan memeluknya dengan manja.
__ADS_1
"Hayana ... makin besar saja kamu."