
Sejenak mereka diam.
"Sudahlah, nikmatilah acara kalian besok dengan bahagia. Masalah itu jadi urusanku."
"Terima kasih, Aldo. "
Aldo mengangguk. Lalu menatap wajah-wajah lesu penuh rindu yang ada di hadapannya dengan wajah kasihan. Membuat mereka makin kesal dan tersiksa.
Apalagi saat hp Aldo berbunyi. Menjawabnya dengan bahagia.
"Ya, Sayang. Aku jemput. "
"He ... He ... selamat menahan rindu. Ini sayangku sudah mau take off. Aku mau jemput dia di bandara."
"Ya sudah, sana pergi. " Jawab Zaidan kesal.
Beruntung nyonya Haydi datang.
"Eh kalian sudah malam nggak pada pulang. Besok bukankah resepsi?"
"Ya, Mam." Jawab mereka kompak.
"Mami, malam ini boleh Aris nginap di sini." Aris memberanikan diri. Syukur-syukur kalau diijinkan.
"Maksudmu mau menemui Layla?"
"Ngapunten, Mami?"
"Mami ngerti kok, Ris. Sana temui Layla.
Dan kamu Zaidan boleh pulang sekarang. Kasihan istri sama anakmu."
"Lha Mami nggak marah?"
"Mana mungkin mami menghalangi seorang suami mau menemui istrinya. "
"Benarkah, Mam."
"Itu hanya akal-akalan Layla, menggoda kalian."
"Ya ... Mami, mengapa nggak bilang sejak kemarin."
"Kalian nggak nanya."
Serentak mereka berpamitan pada nyonya Haydi dengan senyum bahagia. Meninggalkan Aris yang menyimpan sedikit kedongkolan di dadanya.
"Layla sayang, awas!!"
Dia berjalan dengan bahagia, menuju ke kamar Layla.
Di depan pintu dia berdiri agak lama. Meski hati rindu tapi dia ragu. Akankah Layla mengijinkannya untuk masuk.
Beberapa kali dia mengetuk pintu dan memberi salam. Namun tak ada jawaban. Akhirnya Dia mencoba untuk membukanya. Ternyata pintunya tak terkunci. Dia masuk dengan berlahan. Agar si empu kamar tidak terbangun.
Dia mendapati lampu di kamar itu telah remang-remang. Rupanya penghuninya sedang meringkuk di bawah selimut dengan senyum bahagia.
Dia menatap wajah itu dengan senyum sejenak sebelum membersihkan diri di kamar mandi.
Sayang, teganya kau permainkan hati kakak yang sedang rindu. Dia berkata sendiri tanpa melepas pandangan pada Layla yang tertidur.
Setelah wajahnya segar dia mendekatinya. Berbaring miring agar dapat menikmati wajah wanita yang kini telah halal untuknya.
Tergoda juga tangan lembut Aris untuk menyentuh wajah pemilik hatinya kini. Ada beberapa helai rambut yang menutupi wajah manis nan ayu itu. Disingkirkan dengan pelan dan mengusap pipinya dengan berlahan.
Tangannya yang masih basah terasa dingin, membuat Layla terjaga. Di antara cahaya remang, dia menatap seakan tak percaya. Apakah ini mimpi ataukah nyata.
"Kak, kamukah itu?"
__ADS_1
"Maaf membuatmu terbangun."
Aris menatap intens wajah Layla yang terlihat bingung namun tersenyum.
"Apakah kamu tak suka kakak ada di sini?"
"Apakah aku tak sedang mimpi?"
Aris semakin mendekatkan wajahnya mencubit pipi Layla kecil. Agar dia mengerti bahwa dia tak sedang bermimpi.
"Awwuuu ... sakit Kak."
Seketika dia ingin duduk, tapi terhalang oleh wajah Aris yang teramat dekat dengan wajahnya.
"Kak, kapan ke sini. Nanti ketahuan mami diusir nanti."
Mendengar ucapan Layla membuat Aris ingin tertawa. Tangan jahilnya segera menyentuh hidung Layla dan memainkannya. Membuat Layla geli sekaligus jengkel.
"Kak,"
"Ya. Ada apa ... pokoknya malam ini Sayang nggak boleh tidur."
"Kak. Cepet balik.!"
"Tak, malam ini aku menginap di sini."
"Nggak boleh."
"Kata siapa nggak boleh. Apakah salah seorang suami mendekati istrinya."
"Bukankah saat ini ...."
Kata-kata Layla terhenti ketika jari telunjuk Aris telah menyentuh bibirnya dan memainkannya dengan lembut.
"Sejak kapan bibir ini belajar untuk berbohong ... atau perlu dihukum dulu agar lebih jujur dan tak membuat orang tersiksa."
"Sudah jangan dibahas, Kakak memaafkanmu. Lain kali jangan lakukan."
Melihat wajah Layla yang ketakutan membuat Aris iba. Dia mengurungkan niatnya untuk memanjakannya malam ini.
"Tidurlah, Kakak hanya menemanimu malam ini. Biarkan tubuhmu istirahat. Semoga besok lebih segar." tangannya yang kekar telah memeluk erat dengan kepala saling bersentuhan.
Tak lama kemudia Aris sudah pergi ke alam mimpi sambil memeluk erat tubuh Layla.
Sedangkan Layla sepertinya tak bisa lagi untuk memejamkan mata. Apalagi tubuhnya tak bisa bergerak. Tapi dengan susah payah, akhirnya dia tertidur juga.
💎
Pagi-pagi buta, Zaidan mengajak Dinda dan putrinya menuju ke hotel dimana akan diselenggarakan resepsi untuknya dan kedua adiknya.
Menikmati suasana pagi, menatap indahnya fajar yang mulai tampak kemerah-merahan muncul di langit sebelah timur dari beranda kamar hotel yang sudah disewanya. Sambil menyeruput susu murni bersama Dinda dan Anya.
"Bunda, dingin."
" Sini,peluk bunda. Biar hangat."
Anya meringkuk dalam pelukan bunda Dinda dengan sisa-sisa kantuknya.
"Kakak Anya kok manjanya sama bunda saja. Nggak kangen ayah?"
"Ayah yang nggak kangen sama Anya. Tiga hari menghilang nggak jenguk Anya."
Zaidan menarik nafas panjang. Dengan tersenyum dia mengambil putrinya dari pangkuan Dinda.
"Maafkan ayah. Ayah sangat kangen, tapi ayah mau bikin susprise untuk Anya dan bunda."
Dia mengecup Anya dengan penuh kehangatan dan menggelitiknya hingga terpingkal-pingkal.
__ADS_1
"Ayah geli."
"Biarin. Habis ayah dicuwekin. Ayah kan kangen."
"Baik-baik Anya maafkan. Asal ayah nggak akan ninggalin kami lagi. Biar adik Anya nggak ngambek."
"Maksudnya?"
"Bunda nggak mau makan."
"Makan dikit, dikeluarkan lagi."
Sambil menggendong Anya, Zaidan mendekati Dinda yang sedang menatap sunset dengan senyumnya.
"Bunda, maafkan ayah!"
Zaidan mengecupnya sangat lama. Dia merasa berdosa sekali telah meninggalkan mereka berdua.
"Tak apa-apa. Mami nggak marah waktu Mas pulang."
"Kita semua malah disuruhnya pulang."
"Mami akhirnya nggak tega juga." jawab Dinda sambil menyungging senyum bahagia.
"Sekarang bunda ayah suapi ya?"
Zaidan mengambil sepotong roti dan menyuapkannya pada Dinda yang menerima dengan senang dan tertawa.
"Sudah-sudah ... Kakak Anya juga?" Dinda melirik putrinya yang tertawa senang saat melihat ayahnya memanjakan bundanya.
"Bidadari surga ayah semua." kata Zaidan sambil menyuapi mereka bergantian.
"Sekarang masih mual?"
Dinda menggelengkan kepala.
"Syukurlah. Berarti emang kangen sama ayah. "Zaidan meundukkan kepala mencium perut istrinya dengan manja.
" Mas, masih juga datar sudah dicium. Malu sama orang dan Anya. "
Zaidan semakin senang menggodanya.
"Anya, cium adiknya. Biar kalau sudah lahir sayang sama Kakak Anya."
Senyumnya mengembang. Dia mendekati dan mencium perut Dinda sangat lama. Sambil berucap,
"Adik ... yang pintar ya ... kakak tunggu kamu. Agar kita bisa main bersama."
Dinda mengusap rambut Anya dengan lembut. Senyumnya tersungging menatap putrinya. Ada rasa bahagia yang mnyelinap dalam hatinya. Meski Anya bukan putri kandungnya.
"Kita jalan-jalan sebentar ya...." ajak Zaidan.
Semuanya mengangguk. Dan menghabiskan susu serta roti bakar yang masih tersisa dalam sekejap.
Mereka bertiga beranjak dari tempat itu turun ke lobi. Kemudian keluar hotel, menikmati suasana pagi dengan jalan santai di pinggir pantai. Sesekali Anya berhenti bila menemukan batu karang yang unik dan juga kerang-kerang yang sedang berjalan di pantai.
"Ayah ... Bunda ... kejar Anya!" panggil Anya sambil berlari.
Anya berlari dengan cepat mendekati bibir pantai, diikuti Zaidan yang tertawa riang. Suasana masih sangat sepi, membuat mereka bebas mengespresikan diri. Melempar air, bermain pasir. Hingga keduanya basah kuyup dan kotor sekali. Sedangkan Dinda hanya menyaksikan dari jauh. Duduk di kursi dibawah pohon bakau yang rindang.
Mereka baru berhenti manakala ada seorang laki-laki tegap mendekatinya. Dan berbisik sejenak, lalu pergi meninggalkan mereka. Zaidan menyudahi bermainnya dan mengajak Anya kembali.
Mereka menemui Dinda yang sedang menunggu dengan santai.
_____________________________
Silahkan membaca dengan bahagia.
__ADS_1
Episode-episode terakhir dari Novel ini.