
Biarkanlah Anya dengan mimpinya. Zaidan dan Dinda dengan kemesraannya. Kini kita ikuti perjalanan Hendiyana beserta putrinya ke rumah Haydi, mami Layla.
Di atas ranjang yang cukup besar, tergeletak wanita separuh baya. Tampak kelelahan di wajahnya.Sudah dua hari ini badannya seperti kurang sehat. Ingin beraktifitas, sebentar sudah lelah. Dia adalah Haydi, bunda Layla.
Kini yang bisa dia lakukan hanyalah tidur-tiduran saja di atas kasur yang empuk.
"Mami , kenapa?"seorang gadis berjilbab masuk ke kamarnya, menyapanya dengan heran.
"Tak tahulah, Shaff. Mammy dua hari ini kok mudah lelah. Kamu nggak berangkat ke sekolah."
"Lho Mamy lupa ya ... ini kan hari sabtu. Nggak ke sekolah."
Haydi mengeryitkan dahinya. Mungkin faktor usia telah mempengaruhi daya ingatnya.
"Ya ... ya ... sekarang hari sabtu. Mami lupa." Shaffa tertawa.
"Mamy masih cantik kok ..." kata-kata yang menghibur.
"Mam ... shaffa mau bantu kak Layla setelah lulus sekolah ini."
"Bagus. Tapi kamu kuliah dulu saja."
"Kasihan kak Layla .... Sambil kuliah gitu lho, Mam."
"Sudah ada kak Zaidanmu."
"Kak Zaidan mau menikah dengan kak Layla apa, Mam?"
"Mami harap begitu Shaffa, tapi kelihatannya Zaidan hanya menganggapnya sebagai adik saja selama ini. Mungkin ini juga salah mami, dulu sempat menghinanya."
Shaffa sesaat terkejut mendengar pernyataan maminya. Menatap maminya dengan tanda tanya. Tapi dia tak berani mengungkapkannya. Dia hanya bisa diam dengan mulut menganga.
Ah ... kenapa aku keceplosan omong. Batinnya mengingatkan.
"Hai kelihatannya hp mamy bunyi. Ambilkan Shaffa!"
Shaffa, putri keduanya itu mengambil hp yang tergeletak di atas nakas. Dan membaca apa yang tertulis di layar itu
"Dari tante Ana." kata Shaffa. Tante Ana panggilan yang diberikan oleh keluarga Haydi terhadap Hendiyana.
"Assalamu'alaikum tante."
"Wa'alaikum salam. Ini Shaffa ya ..."
"Ya."
"Mamymu ada?"
"Ada tante. Sebentar."
"Mam ." sambil menyerahkan hp itu ke orang tuanya.
"*Hallo kak Ana. Apa kabar?"
"Kamu di rumah Haydi?"
"Ya kak, istirahat. Lama kakak nggak pulang ke Indonesia."
"Ini aku sudah di depan rumahmu."
"Benarkah*...?!"
__ADS_1
Haidy segera menutup hp-nya. Hendak turun dari ranjang. Tapi baru kakinya menginjak lantai, terasa tubuhnya terhuyung, hendak jatuh.
"Mami." dengan sigap Shaffa menahan tubuh maminya. Lalu mendudukkannya di tepi ranjang. Menata bantal untuk maminya agar bisa duduk bersandar.
"Mami di sini saja. Aku saja yang ke depan. Biar tante Ana yang ke sini."
"Baiklah Shaffa ..." Terlihat lelah di wajahnya, hingga tampak tua dari umur sebenarnya.
Terdengar bel berbunyi, yang menandakan tantenya sudah berada di pintu gerbang. Untunglah bik Siti telah mendahului melangkah untuk membuka pintu gerbang untuk mereka. Dan mempersilahkan ke dua tamu tersebut menunggu di ruang tamu.
Selesai menyandarkan maminya pada posisi yang pas, Shaffa bergegas menuju ke ruang tamu. Di sana sudah menunggu Hendiyana dan Lisa.
"Assalamu'alaikum tante ..." dengan takdzim dia mencium tangan Hendiyana
"Ini Shaffa ya ... sudah benar-benar jadi seorang gadis." senyum merekah di bibir Hendiyana menyambut keponakannya itu.
Membuat Shaffa tersenyum.
"Kak Lisa ..." sambil menyalami Lisa yang tersenyum nakal padanya.
"Sudah punya pacar belum?"kata Lisa menggoda adik sepupunya itu. Membuat Shaffa cemberut.
"Kak Lisa ini ... gitu dech. Shaffa masih sekolah kak. Nggak mau pacaran dulu."
"Benar itu Shaffa ... Nanti kalau sudah waktunya, pasti ketemu jodohnya." kata Hendiyana. "Kak Lisa dan kak Zaidanmu dulu ketemu dengan jodohnya juga nggak pakai pacaran."
"Aku mau seperti itu saja, Tante."
"Sekarang sudah kelas berapa?"
"Kelas 12 ."
" Mau melanjutkan kemana?"
"Bagus itu. Mana mamimu?"
"Menunggu di kamar, tante. Kelihatannya mamy sakit.Tadi mau turun dari tempat tidur, tapi nggak kuat."jawab Shaffa polos.
"Nggak kamu periksakan."
"Belum, Tante."
Hendiyana lalu beranjak dari tempat duduknya. Berjalan ke arah kamar yang ditunjukkan Shaffa, diiringi oleh Lisa.
"Kenapa kamu Heydi?"Sambil memeluk adiknya itu dengan hangat. Lalu duduk di samping Haydi yang duduk bersandar di sisi ranjang.
"Tak tahu kak. Rasanya lemes banget.Padahal nggak pernah telat makan."
"Coba kamu ke rumah sakit. Atau aku panggilan dokter Herman ke sini."
"Ya ... nanti aja ,Kak."
"Jangan gitu." Segera Hendiyana. menghubungi dokter Herman. Dokter keluarganya semasa dia tinggal di Indonesia.
"Jam 12 dia baru akan ke sini. Masih ada pasien."
"Bagaimana Layla?"
"Sekarang dia sibuk di perusahaan."
"Baguslah."
__ADS_1
"Tumben kakak ke Indonesia?"
"Kangen sama Anya. Kebetulan Lisa ada kegiatan di sini. Sekalian melepas rindu."
"Kak, sekarang Zaidan bagiamana?"
"Tante, aku tinggal dulu ya ..."
Shaffa pergi meninggalkan mereka. Ingin menyiapkan minuman dan makanan kecil.
"Ya."
"Tumben tanya tentang Zaidan."
"Jangan gitu, Kak. Aku yang salah, telah membuat anak itu terluka. Padahal putriku yang menginginkannya. Bagaimana kalau saat ini kita satukan mereka?"
"Tak mungkin tante." jawab Lisa. Membuat Haydi mengeryitkan, binggung dengan apa yang diungkapkan Lisa baru saja.
Hendiyana melotot menatap Lisa dengan tajam..
"Lisa, bisa kamu tinggalkan mommy dan tante Heydi di sini."
"Maaf , Mom."
Lisa berlalu dari ruang itu, meninggalkan mereka agar bisa bicara dengan leluasa.
"Ada apa , Kak. Apa Zaidan sudah menikah lagi?"
"Sebenarnya saat kamu membuat Zaidan patah hati, aku bersyukur."
"Kakak sama sekali tak marah?"
"Apa selama ini aku pernah marah padamu.Tapi memang begitu seharusnya."
"Maksud kakak ... kakak juga tak menginkan dia ada di keluarga kita?"
Hendiyana tersentak mendengar kata-kata yang baru saja terlontar dari bibir Haydi.
Tapi salah dia juga membuat pernyataan yang membingungkan. Diapun tersenyum.
"Haydi ... sejak dia ada di keluarga kita, aku selalu menanamkan bahwa mereka itu saudara. Tak ingin ada hubungan lebih dari itu. Alhamdulillah Zaidan menuruti kata-kataku. Hingga dia bisa mengendalikan lukanya dari sikapmu itu."
"Terima kasih, Kak. Maafkan aku."
"Aku kakakmu. Aku mengenalmu. Tapi kadang-kadang kamu berbuat yang nggak nalar. ltu yang membuat aku selalu was-was."
"Kak. Boleh aku bertanya. Mengapa kakak berbuat seperti itu. Bukankah kalau kakak menginginkan Zaidan benar-benar berada di keluarga kita. Tentu saja pernikahan itu lebih baik."
"Ini keinginan anakmu atau dirimu."
"Layla menginginkannya. Bahkan setelah Zahara meninggal seakan sia sangat terobsesi pada Zaidan. Kini aku sadar, aku yang salah, Kak. Dulu pernah memutuskan hubungan mereka."
Hendiyana mengambil napas panjang. Ingin dia menjawab pernyataan-pernyatan Haydi itu. Tapi terasa berat. Dia memejamkan mata, seperti berfikir keras.
"Mungkin sudah saatnya kamu tahu semua tentang Zaidan. Tak mungkin aku simpan selamanya."
"Tentang Zaidan?"
____________________________________________
Readers yang budiman.
__ADS_1
Mohon dukungannya agar author semangat dalam berkarya.
Bisa like, vote atau kritikan/komentar yang positif.