SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 84 : Lulus


__ADS_3

"Aku mau lihat dia."


"Benar, sudah enakkan."


"Aku hanya nggak habis pikir, dengan pemikiran ayahnya Anya ... Bisa-bisanya mempermainkan adik-adiknya."


"Sekali waktulah."


"Tega kali."


"He ... he ..."


Zaidan hanya tertawa saja, melihat Dinda mengomelinya. Seperti mendengar burung sedang bernyanyi. Dinikmati dengan hati gembira.


Baru satu bulan menikah, bakat terpendamnya keluar semua. Sedikit saja ada yang nggak beres, harus siap menerima kata-kata dari mulutnya yang manis. Tak usah dihitung berapa jumlahnya. Mungkin lebih dari seribu kata. Tapi itu semakin tampak lucu di mata Zaidan.


"Oke, ayo ... kutemani." kata Zaidan penuh kemesraan


Saat sudah tiba di ruang tamu, Dinda hanya senyum-senyum melihat Mayasa yang sedang berusaha keras membaca surat al Ihlas.


"Hai, Ma....?"


Tangan Zaidan langsung menutup mulut Dinda. Lalu mengajak Dinda kembali masuk dan berbicara secara pelan.


"Nikmati aja."


"Kasihanlah."


"Lebih kasihan kalau Aris maupun Fadly menyadari kalau yang menemani mereka bertukar."


"Ada-ada saja."


"Mayasa ... Layla ... kalian?!." Dinda geram dan gemes menatap adik iparnya itu.


"Dah, ayo ke sana. Temui mereka."


Sekarang Dinda sudah tampak lebih tenang menatap Mayasa. Ya ... ikuti sandiwara mereka.


"Kakak Anya, sini!" panggil Zaidan.


Anya menghampiri Zaidan dengan malas. Dia masih ingin melanjutkan makannya. Masih ada separuh pizza yang belum selesai dia makan.


"Gimana, sudah disimak?"


"Om Fadly nggak mau ..." katanya sambil merajuk.


"Ya sudah, sini sama bunda!" Dinda meraih Anya untuk duduk disampingnya.


"Sudah hampir jam 9, sudah. Sekarang setor. Siap tak siap." Ujar Zaidan penuh penekanan.


"Subhanallah ... calon kakak ipar, galak juga." Aris melirik pada Layla.


"Kak Aris. Bagaimana ini?"


"Semampunya." jawab Aris sambil menunduk.


"Kalau gagal?"


"Entahlah. Mungkin kakak nggak berjodoh denganmu."


Kata-kata Aris membuat Mayasa makin sedih dan merasa bersalah pada Layla. Kalau sampai gagal, berarti dia yang menghalangi pernikahan kakaknya.


Dengan lirih dia terus melafalzkan surat al Ikhlas. Meski Aris sudah menghentikannya. Kelihatan Mayasa sudah mau menangis.


"Minumlah dulu."


Dia mengambilkan air minum untuk Mayasa. Dan memaksanya minum. Meski Mayasa kelihatan enggan dan masih fokus. Kelihatan sekali rasa takutnya.


"Ris, tolong panggilin Fadly. Suruh masuk."


"Oke,"


Aris beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa berat meninggalkan Mayasa, yang masih berusaha menghafal surat al Ikhlas dengan baik.

__ADS_1


"Uuuaaaahhh ... "


Aris mencoba melepas napasnya yang terasa berat.


Dia merasa iri dengan Fadly. Yang sudah hafal dengan baik, 3 surat yang jadi tantangannya.


"Fadly , Mayasa ... sudah ditunggu kakak ipar."


"Menurutmu bagaimana, bacaanku?"


"Bagus ..."


"Kalau kamu ngomong gitu, aku jadi bersemangat."


"Kita kesana."


"Oke ..."


Sambil mendorong Mayasa, Fadly mengikuti langkah Aris menuju ruang tamu.


Layla tampak tertegun menatap kembarannya yang tampak lelah, tapi tak mau berhenti untuk terus menghafal. Dia segera mendekatinya. Lalu menggenggam erat tangannya yang penuh keringat. Layla segera memeluk Mayasa.


"Sudah ..."


"Bagaimana kalau gagal?"


"Kak Zaidan nggak sekejam itu."


Zaidan merasa iba juga. Namun disembunyikan.


"Sudah Layla, sekarang saatnya. Tetap duduk. Biar kakak yang ke situ."


"Bisa kamu berpindah dulu, Ris."


Aris berpindah ke tempat duduk di samping Anya. Bermain-main dengannya untuk menghibur diri.


"Tolong kamu duduk sini, Fadly!"


Fadly terlihat ragu. Untuk duduk di samping Layla, takut kalau Aris cemburu.


Dia melangkah berlahan mendekati mereka. Duduk di samping Layla dengan tenang.


Layla yang sesungguhnya menatap mereka dengan senyum yang mengembang. Bukannya mau senang di atas penderitaan orang, apalagi saudaranya.


Dia merasa bangga atas kesungguhan saudara dan calon adik iparnya yang sudah berusaha untuk memenuhi syarat kak Zaidannya.


"Mulailah!" seru Zaidan.


Berlahan Fadly mengucapkan ayat demi ayat dengan baik. Didukung pula dengan suaranya sangat merdu. Membuat Mayasa terkesima.


Setahunya, selama ini belum pernah Fadly mengalunkan bacaan Al Qur'an. Tapi kok bisa sebagus ini. Dia memujinya diam-diam.


Setelah Fadly menyelesaikan ketiga surat itu, giliran Mayasa yang harus menunjukkan hafalannya.


"Kak,"


"Ucapkanlah."


Zaidan memegang kedua tangan Mayasa. Memberikan dorongan kekuatan dan keberanian untuk mengucapkan yang sudah dihafalnya.


Aris menatapnya sedih dan iba. Sedih karena belum mampu mengajari Layla dengan baik. Itu bukan main-main bagi Zaidan, itu yang dia kenal selama ini.


Bila sudah memberi syarat seperti itu. Artinya ada seauatu yang ingin dia tunjukkan padanya. Tapi sayangnya dia tak mampu. Dia hanya bisa mendengar Layla menyelasaikan bacaannya. Dan menunggu putusan Zaidan.


Meski dengan terbata-bata, Mayasa mampu menyelesaikan bacaannya. Segera Zaidan mendekap dalam pelukannya. Yang membuat Mayasa menangis.


"Maafkan Mayasa, Kak."


Fadly yang mendengar pengakuan Mayasa disampingnya, kaget sekaligus terharu.


"Kamu sudah menyelesaikan bacaan itu dengan baik. Ada yang ingin kamu katakan pada Aris."


Mayasa menggangguk.

__ADS_1


"Terima kasih, Kak Aris. Sudah mengajari Mayasa. "


Aris menatap Mayasa tak percaya dan masih binggung harus bagaimana. Sebenarnya dia ingin tertawa, hanya ingin mentertawakan dirinya masih belum mengenal calon istrinya dengan benar. Dan lagi-lagi dia salah orang.


"Dan maafkan. Mayasa bukan murid yang baik."


"Tak apa-apa, May. Sudah cukup baik, kok."


jawab Aris sambil tersenyum.


"Cuma jangan lakukan ini sama kakak. Karena kakak tahu di hati kakak hanya ada Layla. Dan di hati Fadly hanya ada kamu. Kami akan sedih kalau sampai bertukar lagi."


Lalu Mayasa menatap laki-laki di sampingnya dengan tertunduk malu.


"Maafkan aku, Kak."


"Tak, kamu sudah membuat kakak terbakar cemburu kalau membayangkan kamu berduaan sama Aris." jawab Fadly tanpa senyum di wajahnya. Lalu menundukkan kepalanya.


Aku harus minta kompensasi sama Zaidan. Kesempatan ...


Makasih, Kak Fadly. Ini menunjukkan kalau kakak suka. Batin Mayasa berbisik sendiri.


Zaidan meraih kedua tangan keduanya. Menautkannya dengan erat.


"Fadly, maafkan Mayasa. Aku titip adikku. Ini aku katakan sebelum kalian melamar, agar niat kalian menjadi kuat dan lurus."


"Tapi aku juga minta syarat. Karena Mayasa sudah berpura-pura jadi Layla."


"Aku juga, Kakak ipar." Aris menimpali.


"Heeeemmm ... gara-gara kalian berdua, kakak jadi kena demo."


Dia menatap kedua adiknya yang sedang senyum-senyum.


Kepala Zaidan dibuatnya pusing, sampai-sampai dahinya berkerut. Lalu menatap mereka dengan tersenyum.


"Apa tuntutan kalian."


Fadly dan Aris berpandangan penuh arti. Lalu keduanya sama-sama akan membuka mulut untuk bicara.


"Satu-satu!" Belum bicara, Zaidan sudah menginterupsi.


"Fadly dulu!"


"Aku nggak mau lagi keliru mengenal pasangan kami. Jadi bagaimana baiknya."


"Aku tahu maksud kalian, besok bukankah sudah lamaran."


"Bukan gitu ..."


"Maksudnya?"


" Ku ingin ittibah sama kakak iparlah" jawab Aris sambil tertawa.


"Kalau orang lagi sedang dilanda cinta. Apa yang harus dilakukan."


"Ya ... nanti resepsinya sama-sama. Sambil nunggu Mayasa sembuh."


"Alhamdulillah." jawab Fadly dan Aris sama-sama.


Membuat Mayasa dan Layla melotot.


"Tidak untuk Aris. Tugasnya belum selesai."


"Maksudnya?"


"Surat al Ahzab."


"Ayah Anya, ingat saja."


"Kita tunggu, Ris."


Fadly senyum-senyum menatap Aris dan Layla.

__ADS_1


Layla yang sudah mengembalikan kursi Mayasa. Terpaksa menuruti syarat Zaidan. Tak ada cara lain.


Untunglah tak perlu waktu lama untuk menyelesaikannya. Karena pada dasarnya Layla sudah bisa baca Al Qur'an.


__ADS_2