
Pembaca yang budiman. Episode ini mengandung konten dewasa. Yang belum menikah mohon bijak untuk menyikapinya.
__________________________________________
"Terima kasih,Sayang. Kamu telah percaya sama mas."
Zaidan memelukku dan mencium dahi ini. Dan kurasakan tangannya membelai lembut kepalaku.
"Mas, aku cemburu."
Hanya kata itu yang bisa kuungkap. Sambil membenamkan kepala ini semakin dalam. Di dada yang bidang, agar aku bisa kuungkap rasa.
Entah mengapa aku tak bisa menutupi perasaan ini padanya. Ketika kulihat Layla mencoba merayunya di hadapanku.Tak ingin yang kutitipkan rasa percaya, jatuh pada dosa.
"Maaf, Sayang."
Senyumnya menenangkanku. Dia menatap wajahku lama.
Ada kelembutan dalam hembusan napasnya. Menyentuh rasaku untuk tumbuhkan percaya. Yang mampu menyapu kegelisahan yang hadir sesaat lalu.
Kulihat kerling matanya menggoda dengan manja. Memacu darah, mengalir dengan tergesa. Berdesir, meluruhkan kesadaran, membawaku larut dalam buaian keindahan yang tercipta. Aku terpana.
Kulihat kerlip cahaya bintang mengitari wajahnya. Tuhan tolong apa ini.
Mengapa ada getar-getar rasa, membuat tubuh ini lunglai, terbuai dalam dekapan. Hilang kesadaran dalam sentuhan kasihnya.
"Sayang kecemburuanmu akan menjaga mas selalu ...."
Bisikan Zaidan terasa lembut di telinga.
Aku larut. Hingga bibirnya kubiarkan menyentuh bibirku mesra. Aku terlena.
Biarlah kasih ini mengalun, seirama detak jantung berdegup yang nyata terdengar.
Desiran darah ini mengalir teramat cepat hingga membakar hasrat dalam dada.
Dan dia masih dengan kesadaran dan kelembutan merayuku dengan sentuhannya.
"Sayang."Entah mengapa hampir kami hilang kesadaran. Kalau saja tak ada bunyi ketukan dari luar.
"Assalamu'alaikum wr.wb."
Terdengar suara pak Aris dari balik pintu yang terkunci. Membuat kesadaran kami kembali. Aku malu dan ingin segera berlari. Namun dia masih mendekapku erat.
"Perbaiki jilbabmu di kamar itu. Aku menyusul. Entah keadaan yang mempermainkan mas. Atau hasrat mas yang ingin segera memilkimu seutuhnya." bisiknya sebelum melepaskanku.
Dengan sekali tekan pintu itu terbuka.
"Ini Pak, berkas-berkasnya."
"Terima kasih ..."
__ADS_1
"Oh ya Ris. Jangan lupa undang juga bapak ibu pengasuh dan adik-adik waktu resepsi ya ..."
"Baik Pak."
"Ya sudah."
Dinda menuju kamar yang di tunjukkan Zaidan. Ruangan kosong yang bersih dan rapi. Dengan sebuah hamparan karpet tebal.
Mungkinkah ini untuk Zaidan istirahat. Ataukah untuk tempat sholat. Yang jelas memang tersedia juga tempat tidur di sana. Di ujung kanan ada kamar mandinya juga.
Rasa capek membuat diriku lupa dengan maksud hati ke dalam kamar ini.
Kulepaskan jilbab, dan kurebahkan tubuh ini di atas kasur. Hingga tak sadar mataku terpejam. Dalam buaian mimpi indah yang terusik dengan kehadiran pak Aris, sekretarisnya.
💎
"Humaira ..." Ditatapnya wajah yang terpejam itu dengan segenap rasa. Disibaknya helai demi helai rambut yang menutupi. Membelainya dengan lembut tanpa terhalang.
"Kamu teramat lelah sayang, namun tetap cantik ..." kata rayuan yang terucap, seakan menjadikan semilir angin yang mengantarkan tidurnya semakin lelap. Hingga dengan leluasa zaidan mengecup sayang pada pipi, dahi dan mata yang terpejam.
"Sayang maafkan mas ..."
Gejolak hasrat yang berulang kali sempat tertunda dan dapat ditahannya. Kini telah benar-benar menguasai tubuh. Nafasnya kian memburu bersama detak jantung yang makin berpacu. Hingga kesadarannya membimbing, untuk mengecup bibir merah merekah itu berulang kali.
"Mas ..." Sentuhan itu membuatnya terjaga.
"Teruskan pejamkan matamu, Sayang."bisiknya lembut.
"Anya masih tidur."
Kembali kurasa tubuh ini gemetar oleh desiran aliran darah yang terpacu hasrat asmara.
"Humaiara Sayang, sudah siap..?"entah itu pertanyaan atau kah pernyataan. Karena bibir ini tak diberi kesempatan untuk menjawabnya. Kurasakan sentuhannya semakin dalam. Ya ... sangat dalam tepat di dadaku. Hingga aku malu.
"Tak usah malu, aku suamimu." bisikannya membimbingku untuk mengarungi samudra cinta bersama. Dan aku mengikutinya dengan rela.
"Aku lepaskan bibirmu hanya untuk berdo'a." katanya merayu.
"Mengapa hanya kau jawab dengan senyum sayang."
Kudekatkan bibirku di telinganya dan berbisik.
"Bagaimana aku tak mengucapakan doa selalu. Jika mas ada di dekatku. Takut mas keblabasan."
"Hem....kamu pandai menggoda." Kata terakhir yang kudengar sebelum hilang bersama desanan nafas bersama. Dalam rindu dan hasrat cinta yang membara.
Hingga keindahan pernikahan dapat meraihnya bersama. Tertumpah seirama alunan yang ada. Dalam samudra cinta yang tercipta. Dalam restu robbnya yang menjaga akan kasihnya. Hingga terlena. Untuk melarutkan kerinduan yang selama ini tersimpan. Yang berulang kali sempat tertunda. Hanya bermanja, merayu yang bisa mewakili rasa. Kecemburuan itu sirna seirama kepercayà an itu tercipta dan ada.
"Terima kasih sayang ..." Kupeluk tubuh lelah dan mendekapnya. Ketenangan terukir di wajahnya yang ayu. Yang selalu menyimpan kerinduhan akan sentuhanku sebagai suaminya. Yang dinyata lewat bibir yang menyungging senyum bahagia. Aku mendekapnya dalam pelukan bahagia pula. Hampir ku tergoda kalau tak ingat waktu, daya dan Anya.
"Sayang lelah?" Seperti biasa tanpa menunggu jawaban, Zaidan menggendongku menuju kamar mandi. Memberikan kesempatan padaku untuk bermanja. Karena telah kuserahkan diriku seutuhnya.
__ADS_1
"Sudah hampir dhuhur. Kita mandi bersama."katanya beralasan, tanpa melepaskan tubuhku dalam gendongannya. Dan hanya menurunkanku ketika sudah ada di kamar mandi.
Aku menggelayutkan tanganku di lehernya. Dan disambutnya dengan tertawa bersama.
"Saat ini, mas ingin memanjakanmu." Sambil dia memutar kran air. Menyiapkannya untuk mandi, membersihkan diri bersama.
"Mas. Malu...." tak mau kulepas kain yang tinggal sehelai melekat di tubuh ini.
"Malu pada siapa?"jawabnya sambil menyiramkan air kutubuhku. Tak ayal membuat tubuh ini basah.
"jahat."
"Masih malu ?"tatapannya membuat tubuh ini merinding. Ganti kusiramkan air di tubuhnya. Agar lepas hawa panas, yang mulai naik
ke pikirannya, segera reda.
"Awas ya..." jawabnya sambil tersenyum nakal.
"Sudah Mas."
"Tak akan."
Dia meraih tubuh ini dari belakang. Tangannya berlahan melepaskan sehelai kain yang menutupi.
"Mas ..."Lirih kuberteriak. Hanya hembusan napas lembut yang menyapu di leherku sebagai jawaban. Sentuhannya yang mendekap erat, kembali menghanyutkan jiwaku dalam permainan cinta yang berulang, seakan tiada akhirnya. Tatapan penuh hasrat telah menyapu seluruh tubuhku. Membuatku tak berdaya mengikuti irama kasih dalam cintanya.
Dan baru usai setelah nyata terdengar azan dhuhur berkumandang.
"Sayang, apa kamu puas." tanyanya sebelum melepaskanku.
Kuraih kepalanya, untuk membisikkan sebuah kata ditelinganya.
"Ya ..."
Dia memberiku kecupan terakhir di keningku sebelum melepaskanku. untuk mandi dan bersuci setelah jima'yang kami lakukan.
Lalu dia mengguyurkan air ke seluruh tubuhnya dengan rata.Walau sesekali mengguyurku juga sebagai selingannya.
"Kalau lama, tak mandiin lho, Sayang."
"Tidak-tidak." Jawabku sambil mandi dengan tergesa.
💎
Senyum merekah tampak di kedua bibir insan yang telah usai, memupuk rasa cinta. Masih tampak tetesan air di ujung rambutnya.
_____________________________________
Readers yang budiman mohon dukungan nya ya...
Agar athor makin bersemangat dalam berkarya.
__ADS_1
Bisa berupa like, komentar positif atau vote
😘