SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 70 : Tidurlah Dengan Tenang, Zahara


__ADS_3

Zahara, kami datang.


Jika kemarin-kemarin, hanya diriku saja yang mengunjungimu. Hari ini, kami semua bisa datang menjengukmu.


Lihatlah putrimu. Kini dia telah tumbuh ceria seperti saat kita bersama dulu. Sengaja dia tak pernah kuajak menemuimu, sebelum-sebelum ini.Karena aku takut engkau akan bersedih dalam tidur abadimu. Dia amat bersedih, saat engkau tinggal pergi. Hingga dia menemukan bayangan dirimu, dalam diri wanita, yang saat ini memangkunya.


Dia bernama Adinda Humaira, ku tak ingin menduakanmu. Janganlah engkau cemburu padanya. Takdir mempertemukan diriku padanya. Dia telah mengisi hari-hariku dan putrimu. Penguatkan kami untuk menerimamu, pergi menghadap Illahi terlebih dahulu. Engkau masih di hatiku, meski engkau tak lagi di sisiku.


Kini beristirahatlah dengan tenang. Aku telah menemukan siapa yang sengaja memisahkan kita. Tapi aku tak bisa menghukum dia. Janganlah engkau marah, bila aku memaafkannya. Karena dia juga yang melindungi putrimu, hingga dia sendiri terluka.


Ini kesalahan yang nyata. Tapi membuatku tak berdaya. Dia Mayasa. Dia adalah adikku, Zahara.


Maafkan aku, Zahara.


Sekarang tidurlah dengan tenang.


Biarlah Anya, aku yang akan menjaga bersama Dinda dan Mayasa.


Sedangkan di sisi lain, Mayasa tampak berkaca-kaca. Sambil menatap gundukan tanah yang kini bertabur bunga di hadapannya.


Kak Zahara. Maafkan aku ...


Aku benar-benar menyesal. Akan kujaga putrimu selagi aku bisa.


Al fatihah ....


Zaidan memimpin doa di atas gundukan tanah. Yang setiap pekan dia datangi, tanpa sepengetahuan keluarganya.


Setelah menabur semua bunga yang dibawa dan menyiram air diatas gundukan itu. Mereka meninggalkan makam itu dengan tenang.


"Ayah, itu tadi makam siapa?"


Anya membuyarkan lamunan Zaidan, yang masih terbayang kenangan-kenangan masa lalu, hingga meneteskan air mata tanpa disadarinya. Lalu dia meraih sapu tangan yang ada di depannya. Dari tangan seseorang yang kini telah menjadi pengganti Zahara di kehidupan nyata.


"Makam bunda Zahara, Sayang."


Dia melirik Dinda. Terlihat wajahnya sendu menunduk. Zaidan tersadar bahwa ada hati yang yang dibakar cemburu.


"Bunda, maafkan ayah."


"**Ya. Humaira mengerti., Ayah."


"Terima kasih."


"Bunda tidur?"tanya Anya.


" Bunda tidur dengan tenang di pangkuanNya. Sekarang, bunda Zahara sudah tak berdarah lagi."


Terlihat tawa Anya yang memperlihatkan deretan gigi putihnya. Mungkinkah bayangan tentang bunda Zahara yang berdarah sekarang telah hilang dari angannya.


Semua berjalan dengan diam. Tak demikian dengan Anya. Terdengar nyanyian lirih dari mulutnya. Memecah kesunyian di area pemakaman. Zaidan maupun Dinda membiarkannya, tak ingin menghentikannnya.


Hingga mereka tiba, di mana Zaidan memarkirkan mobilnya.


"Anya sama ammah di belakang?"


"Ya, Ayah."


Zaidan membukakan pintu untuk Anya dan Mayasa, sedangkan Dinda membantu nya untuk bisa duduk di mobil. Sementara Zaidan membereskan kursi rodanya. Untuk di letakkan di bagasi.


"Sekarang kita ke oma Haydi. Siap semuanya." kata Zaidan ketika sudah siap di belakang kemudi.


"Siap, Ayah."


Dinda dan Mayasa hanya tersenyum menyaksikan dialog antara ayah dan putrinya.


Sedangkan Zaidan sudah asyik menghidupkan mesin mòbil dengan tenang.

__ADS_1


Berlahan, mereka meninggalkan pelataran pemakaman. Melajukan mobil di jalanan yang tak pernah sepi. Meski tak sesibuk pada hari kerja.


"Bagaimana, Bunda Dinda. Siap!"


"Siap untuk?"


"Ya ...."Zaidan tertawa sambil mengemudi dengan tenang.


"Menghadapi adik-adikku."


"Shaffa dan Layla itu ada-ada saja."


"Lha, aku masih punya saudara lagi ya, Kak. Selain Layla."


"Benar, Mayasa." jawab Zaidan,"Ada Shaffa yang terkecil. Baru lulus SLTA tahun ini. Dan baru daftar kuliah kemarin."


"Kita bersaudara banyak, Kak."


"Bukan-bukan. Kita bersaudara orang, bukan banyak (angsa)."


"Kakak!!!!" Mayasa berteriak.


"Lho bener, kan?"


"Mas ini ....ada-ada saja."Dinda melirik Zaidan yang tertawa senang.


Tak terasa, sampai juga di rumah mami Haydi.


"Kak?" Mayasa terlihat sedikit gelisah.


"Tak apa.",


Berlahan Zaidan menghentikan mobil. Lalu mengambil kursi roda yang ada di bagasi. Menatanya agar siap diduduki. Anya dan Mayasa turun dari mobil bersama-sama,dari pintu yang berbeda.


Depan pintu rumah, Zaidan memencet bel rumah. Tak lama pintu itu terbuka. Terlihat Shaffa berdiri mematung melihat kakaknya datang. Pandangannya tertuju pada sosok yang ada di depan Zaidan.


"Wa 'alaikum salam, Kak." Matanya masih menatap lekat Mayasa yang duduk di kursi roda. Sedang didorong oleh Zaidan.


"Kak, siapa dia?"Terlihat wajah Shaffa tertegun. Sambil dia menyambut tangan kakaknya yang hendak memeluknya.


"Shaffa ... kakak boleh masuk?"


"Boleh, Kak. Bukankah ini juga rumah kakak?"


Shaffa memberikan jalan pada Zaidan dan yang lainnya, untuk masuk ke dalam rumah.


"Kakak ipar," sapa Shaffa


Dinda juga memeluk adik iparnya itu dengan hangat.


"Hai adik kecilku, Anya."


"Aku sekarang kakak Anya, Tante Shaffa ...." protes Anya


"Oh ya ... sekarang sudah jadi kakak ya ..." Shaffa melirik pada kakak Zaidan dan kakak iparnya.


"Aku sudah mau punya keponakan lagi, Kak?"


Zaidan tak menjawab, hanya mengeryitkan dahi.


"Shaffa, mami mana?"


"Di kamar, Kak. Sedang tak enak badan."


"Obatnya diminum, nggak?"


"Ya, itulah mami. Kadang mau minum, kadang nggak mau."

__ADS_1


"Aku mau ketemu mami dulu."


"Kak, aku kok nggak diperkenalkan pada ..." jari telunjuknya mengarah pada Mayasa yang hanya diam menyaksikan kehangatan saudara kecilnya itu, Shaffa maksudnya.


Mayasa segera mengulurkan tangan yang disambut hangat Shaffa.


"Mayasa."


"Shaffa."


"Kita ke tempat mami dulu!"


"Baik, Kak."


Zaidan membawa Mayasa dan Dinda ke kamar maminya. Sedangkan Anya sudah berlari terlebih dahulu menjumpainya.


Shaffa menghilang entah kemana. Mungkin ke dapur. Menekuni hobbynya. Atau ....


Ternyata Shaffa menuju ke kamar Layla, kakak perempuannya.


"Kak Layla, sini dech." Teriak Shaffa. Meskipun suaranya lirih, tapi cukup membuat Layla kaget.


"Ada apa sich Dik?"


"Dan ... kalau masuk kamar orang itu, ketuk dulu. Agar kakak nggak kaget."


"Maaf, Kak. Kak Zaidan tadi datang."


"Syukurlah. Kalau sudah datang. Tapi sesuai perjanjian, ini belum waktunya. Mungkin kangen kita."


"Bukan itu, Kak."


"Lalu ...?"


"Sudah dech, Kak. Ikut aku ke kamar mami."


"Bentar, kakak pakai jilbab dulu." kata Layla sambil merapikan jilbabnya yang tak kunjung rapi. Maklumlah dia baru belajar memakai jilbab.


"Sini, aku benerin."


Layla menurut saja pada adiknya. Yang dengan terampil merapikan jilbab kakaknya.


"Emangnya kakak mau ke mana. Kok rapi banget."


"Mau mengantarkan undangan."


"Sama?"


"Kak Aris."


"Oh .... Kakak pacaran sama kak Aris, ya?"


"Tak, ini karena kak Zaidan yang menunjuk kita mengurusi acara resepsinya. Jadi mau nggak mau kakak sering jalan bareng sama kak Aris. Insya Allah kakak akan terjaga bersamanya."


"Kalau kakak ada hati, dan kak Aris juga sama. Shaffa pasti akan bahagia."


"Entahlah ..."


"Sudah. Kok ngelantur ngomongnya. Tadi katanya mau ajak kakak menemui kak Zaidan."


Dengan cepat Shaffa menarik tangan Layla menuju kamar maminya.


"Assalamu'alaikum, Mam."


"Masuk Shaffa, Layla."


Layla tercegang, saat melihat gadis yang ada di atas kursi roda. Cermin dirinya. Dan kebetulan baju yang dipakainya sama, hanya sedikit berbeda warna.

__ADS_1


__ADS_2