SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 22 : Bercanda


__ADS_3

Bahagia rasanya bisa berkumpul dengan keluarga. Asyik bercengkrama di ruang tengah menemani Anya yang masih belum tidur. Bergantian menggodanya. Hingga kita tertawa gembira menanggapi kelucuannya. Dan lagi-lagi aku jadi sasaran empuk kak Lisa dan mommy. Dengan celoteh Anya yang masih polos ini. Tega ....


Ditambah lagi, saat bik Rahma datang membawa baju perempuan warna hijau toska cenderung pastel, yang sudah terseterika rapi.


"Den, baju ini di letakkan dimana?"


" di lemari." jawab Zaidan tanpa melihat baju yang di maksud.


"Lemarinya den Anya atau den Zaidan?"


Zaidan tak menjawab, tetap fokus dakon dengan Anya. Kak Lisa yang melihat aneh dengan baju itu segera berdiri. Dan men'jereng'nya di depan kita semua.


"Adikku diam-diam menghanyutkan ternyata. Sudah berani menyimpan baju perempuan." sambil tak henti-hentinya bibirnya berdecak sambil senyum-senyum penuh arti.


"Kak Lisa. Kemarikan!"


Zaidan baru sadar,  langsung berdiri hendak mengambil baju itu. Tapi terlambat, Lisa telah berlari mengitari Mommy. Membuat Zaidan bertambah gemas. Anya yang dari tadi duduk di depan alat mainnya, menjadi tersenyum dan tertawa gembira menyaksikan itu. Dalam pikirannya, ayah dan tante main kejar-kejaran, asyik sekali. Ikutan ah ....


Akhirnya mereka bertiga jadi main kejar-kejaran mengelilingi nyonya Hendiyana yang sedang membaca.


Bik Rahma yang menyaksikan itu hanya senyum-senyum lalu pergi meninggalkan mereka.


Nyonya Hendiyana yang sedang membaca juga menjadi terganggu dan  menghentikan bacaannya. Memandang mereka dengan geleng-geleng kepala.


"Kalian ini. Dari kecil sampai sekarang kalau ketemu ribut aja kerjaannya."kata nyonya Hendiyana, membuat mereka segera menghentikan aksinya. Dan diam sambil saling melirik satu sama lain.


"Sini Anya sama eyang putri." kata nyonya Hendiyana sambil meraih cucunya itu, didudukkan di sisinya.


"Kalian berdua, duduk di bawah!"


Nach lo ... Kena hukum semua sama Mommy.


"Sini bajunya."


Kak Lisa segera memberikan baju itu.


"Anya ... ayah pernah pakai baju ini." tanya nyonya Hendiyana dengan lembut.


"Mom. Aku bukan seperti itu." kata Zaidan kaget.


"Nggak, Eyang putri ... ayah tidak pernah pakai itu. Itu bajunya ammah Dinda waktu ke pantai kemarin." kata Anya.


"Syukurlah, tidak ada kelainan." kata Hendiyana, masih dengan senyumannya.


"Zaidan. Kamu mencuri atau ...."


"Percayalah, Mom. Zaidan tidak macam-macam ...?!"


"Lalu ...?"


"Ya dech, Mom. Zaidan ngaku ... Zaidan suka sama dia. Tapi masalah baju itu, Zaidan sama sekali tidak tahu."


"Lalu?"


"Baru ini tadi tahu kalau baju Dinda terbawa."


"Kok bisa ya ...."sambil menatap Zaidan yang masih terbengong-bengong.


"Anya. Kamu suka sama ammah Dinda, sayang."


Wah ini tidak usah ditanya dua kali, pasti jawabnya ya ....


"Suka banget. Orangnya baik dan kalau masak pasti enak. Kadang Anya tidak kebagian dimakan semua sama ayah."


Ups ..... Putriku.


"Zaidan ...."


"Maaf khilaf, Mom."


"Besok, Mommy mau cicipi masakannya."


"Ya. Mom."


"Lisa ...."


"Ya. Mom."

__ADS_1


"Selesai seminar. Kamu mampir ke butik cari yang seukuran. Atur untuk adikmu."


"Dengan senang hati, Mom."jawab Lisa senang sambil melirik Zaidan.


Apa-apaan sich Mommy sama kak Lisa ini. Bercandanya kelewatan. Tapi kalau sudah ngomong gini apa boleh dikata. Diturutin saja dech. Tapi ... masak aku harus telpon malam-malam begini. Zaidan tak berkutik. Seperti maling ketahuan hansip kampung. Maling hati maksudnya. Sabar ....


"Mom, mau dibuatkan minuman hangat secang."


"Boleh. Kamu masih ingat juga minuman kesukaan mommy."


"Ya pastilah, Mom."


Aku menuju ke dapur menyiapkan minuman itu sendiri. Karena bi Rahma sibuk membereskan peralatan makan dan mencucinya. Tak enak mengganggunya.


Kucari beberapa bahan untuk melengkapi minuman itu. Ada kayu secang, kayu manis dan juga jahe. Semua direbus dengan 4 gelas air hingga mendidih. Lalu dituang dalam sebuah mug yang tahan panas. Dan menghidangkannya untuk kami semua. Kecuali untuk Anya, aku tambahkan sedikit gula agar terasa manis.


"Eyang tidur sama Anya ya ..." terlihat Anya mulai menguap.


"Boleh. Tapi Anya harus sikat gigi dulu sayang. Biar kuman di gigi nggak berani mengganggu gigi Anya yang cantik ini."


Mommy masih seperti dulu. Telaten sekali dengan anak-anak.


"Baik, Eyang."


Kemudian Anya berlalu, berjalan menuju kamar mandi di antar Zaidan. Dan mengganti baju putrinya dengan baju tidur yang hangat.


Setelah mengantarkan Anya tidur. Mommy ke ruang baca, bersebelahan dengan ruang keluarga. Membaca buku di sana.


"Mommy. Maafkan Zaidan Mom. Tidak bisa melindungi menantumu dengan baik."


"Sudahlah Zaidan, semua sudah terjadi. Tidak perlu disesali. Yang penting sekarang bagaimana ke depannya. Kamu masih punya Anya."


"Ya, Mom."


"Aku datang bukan untuk melihatmu menangis. Tapi untuk melihat cucuku tertawa gembira. Buat dia bahagia. Kita akan berusaha menyelesaikan ini bersama-sama."


Nyanyo Hendiyana mengerti benar perasaan putra angkatnya itu. Beban berat yang harus ditanggungnya seorang diri. Dari mulai pakerjaan di kantor, mengasuh anak, dan juga bayangan masa lalu yang belum bisa terlupakan. Tentu ini cobaan yang berat. Yang dia bisa lakukan hanya mendoakan saja. Semoga Zaidan kuat.


"Mommy, tidur di kamar atas saja. Biar aku saja yang menemani Anya tidur."


"Tak usah Zaidan. Nikmati tidurmu malam ini dengan nyenyak. Biarkan Mommy bersama Anya. Mommy juga masih kangen."


"Ya."


Kemudian Zaidan meninggalkan nyonya Hendiyana, yang sedang membaca seorang diri di  perpustakaan pribadi. Menuju kamar atas untuk sejenak beristirahat.


🔸


Jam masih menunjukkan pukul 02.50 saat Zaidan selesai sholat tahajud. Ada ketenangan yang menyapa dalam jiwanya. Yang kemarin sempat benar-benar down, karena peristiwa yang akan merengut jiwa putrinya. Tapi alhamdulilla, semua itu tidak terjadi.


Sejenak Zaidan keluar kamar, melihat keadaan rumahnya yang tenang. Kemudian ke ruang kerjanya. Membuka email yang masuk. Dan membaca semua perkembangan dari perusahaan yang dipimpinnya.


Terlintas dalam kesunyian hatinya, sosok Dinda melintas di tengah-tengah dia menatap laptop. Dia teringat akan tulisan yang dia tulis di laptop Dinda waktu itu. Dan tersenyum sendiri.


Ah .... moga-moga online. Biasa jam segini dia sudah mulai masak.


🔸


Ini malam-malam kok ada telpon berdering. Jangan-jangan dari kaum amstral yang lagi iseng. Batin Dinda.


Tapi diangkatnya juga tanpa melihat dari siapanya.


"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Hi ... hi ... hi ...." entah mengapa kok timbul iseng gue ya.... Dinda tersenyum seorang diri. Padahal dirinya agak sedikit merinding.


Sebelum ditakuti, aku takuti duluan. Kata Dinda dalam hati.


Tak pelak Zaidan yang mendengar itu nggak bisa menahan tawa. Untung dia di dalam kamar yang tertutup.


"Waalaikum salam hi ... hi ... hi ... juga." persis seperti hantu.


Ups .... Boss. Ketika dilihat nama yang tertulis di hpnya.


"Maaf, Mas."


"Tidak apa-apa. Aku hantu tengah malam yang mau menggoda kamu." sambil menahan tawanya.


"Jangan gitu dong. Aku takut, tahu!" Dinda merajuk

__ADS_1


Membuat Zaidan di seberang sama, makin senang untuk menggodanya.


"Masak tengah malam telpon. Ada apa, Mas."


"Sudah baca?"


"Baca apa?"


"Tulisan yang ada di laptop."


"Ya haruslah, biar tahu perkembangan keuangan tokoku."


"Hem ...."


"Apa sich, Mas."jawab Dinda pura-pura tidak tahu. Iseng menggoda Zaidan.


"Hem ...."


Aku engkau goda. Tak mempanlah ....


"Iya sudah. Ada apa?"tanya Dinda.


"Diterimakah?"


"Benarkah tulisan itu untukku?"


"Apa kamu sangsi?"


"Mulanya."


"Aku tak pandai berpuisi, jadi tak bisa jawab."jawab Dinda ringan. Andai Zaidan melihat langsung mungkin sudah gemesnya minta ampun.


"Adinda Humaira."


"Apa?!"


"Which ... marah."


"Habis mas gitu sich."


"Bagaimana?"


Dengan berat akhirnya Dinda berkata,


"Ya ... Aku bersedia."


"**Tapi ...."


"Kok ...."


"Syaratnya. Mas harus siap jadi yang kedua."


Hampir saja hp yang dipegang Zaidan terlepas kalau Dinda tidak melanjutkan kata-katanya.


"Yang pertama Anya."


"Syarat diterima."


"Besok aku jemput di restoran ya ... Mommy mau ketemu kamu."


"Berarti pesanan makanan dibatalkan. Kan sudah ada Mommy."


"Justru Mommy minta masakanmu. Bisa?"


"Menunya apa?"


"Terserah. Mommy suka semua. Jangan lupa bawa kue tradisional. Biasanya Mommy selalu cari kalau lagi ke Indonesia."


"Insya Allah."


Banyak banget pesannya.


"Pak Zaidan. Boleh saya masuk. Terlihat pak Aldo membuka sedikit pintu ruang kerja Zaidan.


"Sudah ya ... assalamualaikum .... hi ...hi ....."


Suara apa itu?!..

__ADS_1


Dindapun melempar hpnya begitu saja. Untung hanya jatuh di kasur. Coba kalau di lantai** ....


__ADS_2