
"Layla ...." masih juga belum sadar
Aris mengambil selembar tissu. Dia mendekati Layla. Mengusap sisa-sisa es cream di sekitar mulutnya.
"Maaf. Blepotan banget ... "
Layla benar-benar terkesimak. Sesaat diam menatap Aris, yang dengan telaten membersihkan mulutnya.
"Sudah..." tampak Aris tersenyum, setelah melihat tak ada lagi sisa es cream di wajah Layla.
"Terima kasih, Kak."
Aris mengangguk.
"Sudah, kita lanjut!"
"**Oke."
Sebenarnya, Aris ingin membenarkan kerudung Layla. Yang terlihat berantakan.
Dia mencoba untuk menahan diri.
Sesaat setelah di dalam mobil, dia menatap Layla dengan senyum tersungging.
"Maaf, bisa kau rapikan kerudungmu?"
Layla mencobanya. Tapi dia merasa kesulitan. Beberapa kali dicoba, namun belum menemukan kenyamanan.
"Baiklah, kubantu. Tapi jangan tatap aku berlebihan." Kata Aris menginterupsi.
"**Ya." jawab Layla.
Layla membalikkan badan.Membuat Aris gugup. Tapi tersenyum mana kala Layla tenang.
"Maafkan Layla, belum bisa."
"Tak apa, kalau kamu suka, nanti akan mudah."
Tak sengaja pandangan mereka beradu. Membuat Aris gugup. Sehingga cemiti yang dipegang, mengenai jari tangannya.
"Innalillahi .... " ucapnya
"Kenapa, Kak."
"Nggak apa,"
"Sudah, silahkan lihat di spion. Bagaimana?"
"Makasih, Kak."
"Siap bertemu camer?"
"**Maksdnya?"
"Bapak/lbu Hamdan ... "
Layla binggung, tertunduk lesu. Ada keresahan yang terlihat di raut mukanya.
"Kenapa kak Aris nggak cerita, kalau mau ketemu mereka."
"Kenapa, ?"
"Nddak pa - pa."
"Syukurlah. Mereka itu, seperti orang tuaku sendiri."
"Aku malu."
Aris tersenyum menatap Layla.
"Sudah, jangan dipikirkan. Ada kakak kan?"
"Tetap saja."
"**Lalu."
"Tak tahulah."
"Mereka pasti suka padamu. Apalagi adik-adikku."
"Maksud kak Aris."
"Nanti kamu juga mengerti."
Aris menghentikan mobilnya, tepat di sebuah bangunan tua, yang terlihat kokoh dan terawat.
"Di sinikah dulu kakak tinggal?"
"Ya, masih sama saat kutinggalkan dulu."
"Nggak pernah berubah?"
"**Ya."
"Lalu dimana panti asuhannya?"
"Dulu masih jadi satu, serumah dengan Bapak Hamdam, karena masih sedikit. Sekarang itu ... di gedung itu adik-adik tinggal."
Aris mengarahkan telunjuknya ke arah sisi timur dari bangunann tua itu.Ternyata ada bangunan bertingkat, yang cukup asri. Di kelilingi pohon mangga dan rambutan serta pohon-pohan yang lainnya. Saat ini sedang berbuah lebat.
Yang membuatku terkejut, dari semua pohon itu, turun satu persatu anak yang berumur sekitar 8 - 12 tahun. Dengan buah di tangan mereka.
"Assalamu'alaikum ... Kak Aris." kata anak yang tertua, di antara mereka.
Ada 15 anak yang menghampirinya. semua berebut untuk bersalaman pada kak Aris dan juga Layla. Sejenak Layla dibuat kikuk.
Namun akhirnya dia bisa menikmati momen berharga itu. Hingga senyumnya mengembang. Membuat Aris terkagum-kagum pada Layla. Tampak raut kebahagian di wajahnya.
Tetaplah seperti itu, adik ....
Layla menatap rambutan yang tampak menggoda. Yang terletakkan di atas rumput. Dia melirik ke Aris.
Aris membelalakkan mata.
Nich calon istri gue emang benar-benar manja.
Tapi ....
__ADS_1
"Kak Aris. Ayo kita nikmati rambutan ini ramai-ramai."ujar mereka.
Syukurlah ....Tanpa harus meminta, mereka telah mengajaknya, menikmati buah bersama-sama, yang baru mereka petik.
"Pucuk dicita ulam tiba."ujar Aris sambil melirik Layla.
Layla ngikut saja, saat Aris menghampiri mereka. Duduk di atas rumput melingkar, mengelilingi rambutan, jambu merah, jambu air dan mangga.
"Silahkan dicicipi, Kakak."
Dia menatap Aris yang tersenyum.
Ingin sekali Layla menikmati buahan-buahan segar yang baru saja dipetik dari pohonnya.
"Bagaimana ...?"
"**Boleh." Aris mengangguk.
"Arini, tolong ambilkan pisau dan piring ya ..."kata anak yang tertua kepada seorang gadis kecil yang kebetulan lewat, tak jauh mereka berada.
"Ya, Kak."
"Panggil teman-teman yang lain juga."
"Oke ..." sambil berlari menuju rumah utama.
Lalu kembali,dengan diiringi beberapa gadis kecil di belakangnya.
Seorang gadis yang paling kecil menghampiri Layla. Dia membawa segerombol rambutan, diberikannya kepada Layla.
"Kak, kupasin ..."
"**Boleh,"
Dengan telaten dan riang, Layla mengupaskan buah rambutan itu dan diberikan padanya.
Terlihat wajahnya gembira, lalu memakannya dengan lahap.
"Kakak cantik sekali dan baik hati."
Layla tertawa sambil mencubit hidungnya.
"Kamu makannya cepat sekali, sampai kakak nggak kebagian."
Dia hanya tertawa tanpa menghentikan makannya. Dan terus menanti buah yang telah terkupas, dari tangan Layla.
"Kakak, namanya siapa?" tanyanya manja.
"Layla."
"Kalau kamu?"
"Aruzza sativa."
"Nama yang bagus."
"Kakak pacarnya kak Aris, ya ...."
Layla tertawa kecil. Demikian juga dengan Aris.
Setelah dirasa cukup, mencicipi rambutan. Aris mangajak Layla berdiri.
Sambil mengibaskan-ibaskan bajunya, dari rumput-rumput kering yang menempel, Aris perpamitan pada mereka semua.
"Makasih ya ... adik-adik. Kak Aris mau ketemu abah dulu."
"Ya, Kak."
Ternyata menyenangkan berada di panti asuhan. Makanya kak Aris nggak pernah melupakan tempat ini.
Rasanya tempat ini memberikan kenyaman tersendiri. Yang tak didapatkan di tempat lain.
"Bagaimana, asyikkan?"
Layla mengangkat bahu, tapi senyumnya melebar.
"Mereka anak yang lucu-lucu."
"Andai mereka bagian dari kita ...."
"Maksud kak Aris?"
"Aku menginginkan mereka lahir dari rahimmu,"
Kata-kata itu membuat langkah Layla terhenti seketika.Dia benar-benar terhenyak namun juga sadar. Layla diam membisu.
Aris termanggu. Lalu meraih tangan Laila yang dirasa membeku.
"Ada apa?"
"Tak ... Kak Aris."
Aris tersenyum menatap Layla yang mepucat dan terdiam.
"Tentu kalau ... Adik telah siap."
Berlahan kulit wajah Layla bersemu merah. Tangannya mulai terasa hangat. Lalu tersenyum membalas tatapan Aris dengan senyum kegembiraan.
Bodohnya diriku, kenapa mengatakan hal itu. Padahal melangkah saja ... baru mulai. Sesal yang melintas dalam hati Aris.
Di depan pintu yang terbuka, langkah mereka terhenti. Layla melangkah mundur ke belakang Aris.
"Mengapa mundur, Dik?"
"Tak apa, Kak. Aku hanya gugup."
"Assalamu'alaikum ... "
"Wa'alaikum salam. Masuk saja, Ris."
"Ya, Abah."
"**Yuk!"
"**Baiklah."
Mereka melapaskan alas kaki yang mereka pakai, dan menaruhnya di rak, yang ada di samping pintu itu.
__ADS_1
Aris dengan santai masuk ke rumah itu. Sedangkan Layla mengikutinya dari belakang.
Setiap mau melangkah, selalu saja dia menjadi ragu.
"Nggak usah takut." bisik Aris di telinga Layla.
Di dalam ruang tersebut, mereka mendapatkan pak Hamdan sedang sibuk menulis sesuatu.
"Abah ..."
Aris mendekat dan mencium tangan beliau dengan takdzim. Begitupun Layla.
Pak Hamdan menghentikan pekerjaannya, menatap mereka heran.
"Siapa dia, Ris?"
"Adiknya kak Zaidan, Abah."
"**Lalu ...!"
"Kalau Abah tak keberatan, tolongkan lamarkan dia untuk Aris."
"Pantes ... sejak dulu kamu ngikut Zaidan terus .... Ternyata kamu ngincar adiknya. Ya?!"
Aris tertunduk malu.
Sedangkan Layla yang duduk di sofa, tak jauh dari mereka, hanya diam membisu mendengar percakapan antara Anak dan bapak asuhnya, seperti anak dan orang tua kandung, penuh kehangatan dan kasih sayang.
"Oke, kapan?"
"Lusa, Abah."
"Persiapkan dengan benar, Ris. Hargai dia ... dan sayangi dia ... karena dia seorang wanita."
"Mohon bimbingannya, Abah."
"Kemarilah, Nak." panggil pak Hamdan pada Layla.
Layla mendekat dan duduk di samping Aris.
"Siapa namamu, Nak?" Pandangannya menatap penuh pada Layla.
"Layla, Abah."
"Lupakan Zaidan. Dia kakak kandungmu."
Mendengar itu Layla tertunduk sedih. Ingatannya kembali pada kenangan masa kecil dulu. Ketika dia belum sadar kalu Zaidan adalah kakak kandungnya.
"Baik, Abah."
"Kamu pasti bisa. Insya Allah dengan menggapnya sebagai kakak, tak mengurangi kasih sayangnya padamu."
Layla mengangguk, tak berani menatapnya.
Dalam diam dia berfikir, mengapa pak Hamdan ini tahu tentang dia dan kakaknya. Tapi dia tak berani bertanya. Dan berkata-kata.
Untunglah Aris mengerti.
"Dan ini Abah, untuk adik-adik." Aris menyerahkan sebuah amplop pada pak Hamdan. Dan pak Hamdan mencatatnya dalam buku, yang telah ada di hadapannya.
"Ummi mana, Abah?"
"Sedang ada pengajian."
"Aris pergi dulu, Abah. Salam untuk ummi."
"Ya, Ris. Segeralah menikah, agar Layla lebih tenang hatinya. Kamu nggak apa-apakan, Ris."
"Aris mencintainya, Abah."
"Ya sudah. Abah percaya."
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam ...."
Mereka meninggalkan pak Hamdan.
Mereka berjalan dengan diam, Hingga di dalam mobil.
Dari samping, Aris melihat Layla. Tampak wajahnya tak cerah. Ada buliran-buliran bening melintas di pipinya.
"Kalau mau menangis, menangislah."
Aris menatap Layla dengan iba dan penuh kasih sayang. Hingga dengan sadar, Layla menangis di dadanya. Menumpahkan keresahan, yang selama ini dipendamnya.
"Jangan berkata apapun. Jika menangis membuatmu lega."
Aris membelai lembut jilbab Layla. Tak terasa matanya pun ikut berkaca-kaca. Lalu mengambil air mineral yang ada di depannya. Memberikannya pada Layla.
"Meski adik pergi ke Australia. Takkan mungkin adik bisa melupakannya."
"Kak Aris bisa menerimaku dengan seperti ini."
"Meski sakit, tapi kakak bahagia bersamamu."
"Aku akan belajar, Kak."
"Aku percaya."
Tuhan, maafkan kami ....
"Sekarang kita lanjut ke pak Fadly. Sebelum kakak terbawa suasana. Dan merusak kepercayaan kak Zaidan pada kakak."
Layla segera melepas pelukannya pada Aris dan merapikan jilbabnya. Dan lagi-lagi harus dibantu oleh Aris.
"Sepertinya habis ini, kita harus mampir ke toko dulu. Membeli jilbab yang cocok untukmu."
Layla tersenyum.
_________________________
Maaf masih banyak tiponya.
Readers yang budiman. Mohon dukungannya, saran positif, like atau vote. Agar author bersemangat dalam berkarya.
Moga-moga karya ini bisa menjadi bàcaan favorite readers
__ADS_1