SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 60 : Selamat Kembali, Cinta


__ADS_3

Dalam diam, Layla menatap lekat pada Aris, sahabat kakaknya, yang juga wakil di perusahaan yang dimiliki Layla.


Jika kakak bisa pempercayakan perusahaan itu padanya. Mengapa aku tak bisa mempercayakan hatiku untuknya. He...he..


Aku baru sadar, dia tak hanya menghargaiku. Namun juga menjagaku dengan hatinya. Hingga dia sanggup menungguku, hingga aku tersadar dari laraku, untuk berlari dari rasaku. Ya ... rasaku yang salah.


Kilau pesona ketulusan dalam senyummu, membimbing hati ini.Ingin aku berlari dan memeluk, dalam dekapan kasih, yang lama telah kau hamparkan tanpa kusadari.


"Hai! ... jangan melamun. Nanti kesambar setan lewat." Dengan ujung jarinya dia menyentuh pundakku.


"Siapa juga yang melamun." Layla tersipu.


"Kak Aris,"


"Hem ..."


"Jawabnya kok gitu."


"Ya, ada apa Layla ...?"


Entah mengapa Aris ingin menggodanya. Diturunkan nada suaranya, dengan menatap Layla dengan sebelah matanya. Hayo Aris ... dosa lho ....


"Kakak, belum pernah punya pacar?"


Sejenak dia diam. Bibirnya tak bisa menutupi keinginannya untuk tertawa.


"He ... he ... he ..."


"Kak Aris malah tertawa sich."


"Nggak gitunya Layla. Masih pantaskah kak Aris memikirkan pacar. Kakak ini sudah hampir kepala 3."


"Berapa, Kak."


"27 tahun, ada apa?"


"Persis kak Zay, dong."


"Lalu?!"


Layla hanya senyum-senyum. Di hadapan Aris rasanya dia ingin sekali bermanja seperti pada kakaknya, Zaidan.


"Aku senang, aku bisa bermanja."


"Enak saja, emangnya aku siapamu?"


"Kak Arisku."


"Kapan kita jadian."


"Nggak perlu jadian. Yang penting halalkan?!"


"Mulai pintar .... Siap dilamar nich."


"Nggak, pikir-pikir dulu."


"Aku juga pikir-pikir dulu, kalau mau melamar."


"Ya ..."


"Habisnya kamu masih kecil banget. pantesnya jadi adik saja. Umurmu?


"22 tahun?"


"Hebat, 22 tahun sudah S2. Kakak kagum."


Akhirnya mereka diam dengan pikiran masing-masing. Sambil menyusuri koridor rumah sakit yang terlihat teramat sepi.


Hingga tak terasa meraka telah keluar, sampai di pelataran.


"Bagaimana sekarang, masih takut?"


"Kak Aris, jangan goda Layla, lah ...?"

__ADS_1


"Tapi aku senang bisa menemanimu jalan. Takut kamu hilang. Adik Layla."


"Ya, Kakak."Layla tertawa.


"Kak Aris ngomongnya mulai melantur. Aku pergi duluan."Hatinya Layla benar-benar berbunga-bunga. Sejenak dia berhenti melangkah, menatap Aris dan tersenyum. Lalu pergi dengan tergesa menghampiri Shaffa yang lama menunggu.


"Terima kasih, Kak."


"Ya. Mat malam."


Aris menatap Layla melangkah pergi meninggalkannya, dengan senyum yang mengembang. Hingga Layla memasuki mobilnya bersama Shaffa.


Kuharap penantianku tak lama lagi.Tuhan jaga hatinya untukku, agar aku sabar menantinya kembali. Atau saat ini akan ku mulai. Aku harap petunjukMu. Kemana arah yang Engkau tunjukkan padaku.


"Sudah selesai urusannya."


Tak kusadarai Zaidan telah ada dibelakangku dan menepuk bahuku.


"Entahlah, tapi memang tak ada apa-apa."


"Aku dah tahu kalau tak ada apa-apa, Maafkan Layla yang manja."


"Dia manis,"


Zaidan menoleh, seakan tak percaya dengan apa yang baru di dengarnya. Lalu dia pergi meninggalkannya, dengan senyum yang disembunyikan.


"Maafkan aku pulang dulu."


"Ya, Zay."


Biarlah hati mereka terpaut dengan sendirinya. Agar mereka menjadi dewasa.


Zaidan menghampiri Dinda yang lama menantikannya. Yang sekali-kali terlihat bercanda dengan putri kecilnya. Mengajaknya ke mobil yang terparkir di halaman rumah sakit ini.


Akhirnya mereka semua berlalu. Meninggalkan Aris seorang diri, memandang langit. Tuk melukiskan rasa yang lama terpandam.


Yang sekarang menampakkan sinarnya. Meski pancarannya, belum seterang mentari. Setidaknya bintang yang muncul di gelapnya malam, sangatlah berarti untuk mengisi ruang-ruang kosong dalam hatinya.


Ku harap ini tak akan membagi cintaku padaMu. Karena aku mohon ridhoMu. Ku harap wahai yang maha Kasih. Yang membolak-balikkkan hati.


"Akhirnya kita kembali ke rumah juga." seru Zaidan sambil menghidupkan mobil yang dikendarainya. Dinda hanya tertawa menatapnya.


"Asyyiiiikkkk ..... "


Ternyata Anya tak kalah heboh. Tenaganya berlebih setelah berjam-jam tidur nyenyak dan makan. Menyebabkandia ingin bergembira dan bermain. Tak sadar kalau sekarang sudah tengah malam.


"Putri ayah ..."Zaidan mencubit hidungnya.


Yang dicubit hanya senyum-senyum saja. Tak tahu apa maksud ayahny. Semakin riang bermain dengan bundanya. Lebih tepatnya menggoda bundanya.


Ada hikmah juga, Anya tertidur terus saat kejadian penculikan itu. Sehingga dia happy-happy saja dengan semuanya. Bahkan bisa menjadi pelipur lara hati Dinda yang masih trauma.


Sepertinya ayah Zaidan yang harus ektra. Lelah sehari penuh belum juga beristirahat. Mencari keberadaan mereka berdua. Sekarang harus menemani si kecil bermain-main, tak mau tidur lagi. Tak tega rasanya untuk menggagu istrinya yang perasaan dan pikirannya belum stabil.


Zaidan senyum sendiri, seakan teringat masa lalu. Ketika dia belum bertemu dengan Dinda. Dia yang menjaga Anya untuk bangkit dari traumanya. Begitu Anya sudah bangkit dengan kehadiran Dinda di sisinya. Sekarang Dinda yang harus dia keluarkan dari traumanya.


"Bunda, jangan bengonglah."


Dinda tersentak, lalu menatap suaminya.


"Ah maaf, Ayah."


"Anya, Bundamu bengong tuch ...."


"Bunda masih ngantuk ...?"


Dinda tersenyum kecil, meraih Anya di satu tangannya. Sedangkan tangan yang lainnya menggapai tangan Zaidan, yang sedang menyetir. Terlihat keresahan masih menyelimuti wajahnya, meski dia tersenyum untuk Anya.


"Bunda."


"Maaf ... maaf, Ayah. Bunda tak sengaja."


"Tak apa."

__ADS_1


Ayah meraih kepala Dinda dengan satu tangan. Dan mencium sejenak kepala Dinda.


"Anya, mana ciuman manisnya. Kasih bunda hadiah dong ...!" Zaidan mencoba menghilangkan keresahan Dinda.


Dalam lampu teraman yang ada, Anya hanya melihat bunda sedang tersenyum. Dia bermanja dalam pangkuannya. Tanpa mengetahui Dinda sedang resah. Untunglah ...


Anya mendekatkan bibirnya di pipi Dinda dan memberikan ciuman manisnya. Membuat Dinda tersenyum.


"Putri bunda ..." Dia membalas ciuman Anya hangat. Hingga mereka bisa tertawa.


"Bagaimana mungkin bunda akan melupakan putri Anya..."


"Terima kasih, Bunda." bisik Zaidan di telinga istrinya.


Ayah Zaidan, adakah ini yang membuat hati kak Alfathku resah waktu melepaskanku untuk dirimu. Meski damai aku ada di sisimu, tapi bayangan satu musuh saja, membuatku lupa bahwa engkau ada di sisiku.


"Maafkan aku, Mas." bisikan lembut Dinda di telinga Zaidan.


"Apa yang perlu dimaafkan?"


Dinda tertunduk. Lalu dengan sedikit tersipu, dia mengalihkan penglihatannnya pada Anya, yang bermain dalam pangkuannya dengan gembira.


Dengan sembunyi, Dinda menatap dalam Zaidan, yang sedang fokus mengemudikan mobil, di jalanan yang lenggang.


"Aku tahu engkau menatapku, jangan buat hatiku berdebar. Apalagi saat aku sedang


menjalankan kemana arah kita melaju."


"Whealaaa ... rayuan gombalnya keluar ...."


"Aku merayu untuk yang tercinta, dia bundanya Anya. Tak bolehkah?!"


Meski kata itu begitu umum, tak ayal membuat hati Dinda berdebar, membawa khayalnya melayang. Hingga sejenak terlupa lelah jiwanya sesaat lalu.


"Terima kasih,"


Alhamdulillah Humairah, kamu sudah kembali.


Dengan lembut, Dinda membelai lembut rambut Anya, hingga dia tertidur di pangkuannya.


Tak terasa, mobil yang di kendarainya telah memasuki pelataran rumah masa kecilnya. Dia segera memarkirkan mobilnya di garasi.


"Akhirnya kita kembali, Sayang."


"Ya, Mas. Serasa lebih dari setahun aku meninggalkannya."


"Jangan berkata begitu, Sayang." Dengan lembut Zaidan mengecup dahi Dinda. Sebelum keluar dari mobil. Dan membuka pintu untuknya.


"Biarlah Anya bersamaku."


Zaidan meraih tubuh putrinya dari tangan Dinda. Menggendongnya melewati ruangan-ruangan yang telah senyap, hingga tiba di kamar mereka.


Maklumnya sekarang sudah melewati tengah malam. Layla dan Shaffa yang telah tiba terlebih dahulu, pasti juga telah lelah dan sudah nyenyak dalam alam mimpinya.


Berlahan Zaidan menurunkan putrinya di pembaringan. Lalu dia menatap Dinda yang duduk di meja riasnya. Dia tersenyum dan mendekatinya.


"Bolehkah aku membantu membuka kerudungmu." Dinda tersenyum.


"Aku ingin mengulang kembali saat kita pertama bersama."


Dinda diam, menatapnya dengan manja. Membiarkan jemari suaminya membuka kerudungnya.


"Ini wajah yang selalu kurindu."


Dengan lembut Zaidan membelai wajah ayu istrinya. Dan mendekatkan wajahnya. Membuat jantung Dinda semakin berdebar. Tak terasa air matanya keluar.


Zaidan mengerti itu adalah air mata jiwa Dinda yang lelah. Maka menghapuskannya dengan sentuhan bibir di matanya. Sambil memeluknya erat.


Hingga tak terasa, jantung mereka berdegup dengan irama yanga sama. Membangkitkat hasrat hati ingin memiliki seutuhnya .....


Biarlah raga bersatu ungkapakan rindu ....


💗💗💖💖💕💕

__ADS_1


_________________________________


I am Sorry ...sulit melukiskannya. Aku harap readers mengerti. Author masih kecil...he...he..he...😂😂👀


__ADS_2