
Bersama Aris, Zaidan turun dari singgasananya menghampiri pak Hamdan. Yang mengobrol dengan daddy Kamal dan juga mommy Ana.
"Abah, doanya."
"Ya ... Aris, Zaidan. Abah selalu mendokan kalian berdua. Selamat, semoga bisa mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah." ujar abah Hamdan,
" Kami pulang dulu, Aris, Zaidan."
"Mari foto dulu ,Abah dan Ummi."
Abah dan ummi Hamdan berdiri dengan tertawa lebar.
"Lha. Tadi jeprat-jepret itu bukannya foto?"
"Di depan, bersama-sama, agar punya kenangan."
Hamdan mengusap lembut kepala keduanya. Kemudian berjalan bersama Kamal dan Ana menuju ke panggung, Dimana Dinda dan yang lainnnya sedang menunggu.
Dia duduk memangku Anya, karena kelelahan. Berdiri hampir 3 jam menyalami para tamu yang mengucapkan selamat padanya.
Melihat abah Hamdan dan istrinya menaiki tangga, Laila dan Dinda menghampiri. Mencium tangan beliau dengan takdzim. Diikuti pula oleh Mayasa dan Fadly. lalu mereka foto bersama.
Kemudian abah dan ummi Hamdan berpamitan.
"Hamdan, let me carry your children.as well as l stopped by your place. I haven't been there in long time."
"Oke. I'am glad you remember that place again."
"Kamu masih fasih berbahasa Inggris."
"Mau tak mau, sering mengantarkan haji dan mewakili kegiatan organisasi ke luar negeri."
Kamal menggangguk-angguk senang, sahabat semasa kuliah di Indonesia, yang tak pernah dia lupakan. Dia sangat energik meski umurnya sudah tak lagi muda.
Hamdan melambaikan tangan memanggil Rizki, anak tertua di antara mereka.
"Abah pulang dulu, titip adik-adikmu. Yang kecil dan perempuan bersama abah pulang. Yang besar belakangan nanti diantar sama pak Kamal. Tolong panggil mereka. Abah tunggu di parkiran."
"Nggih, Abah."
Rizki menghampiri teman-temanya, yang sedang duduk bergerombol menikmati hidangan bersama-sama. Setelah semua selesai , mereka mengikuti arahan Rizki menuju di pintu keluar.
Satu yang sulit diajak pulang. Siapa lagi kalau bukan Ariza Sativa. Sejak datang tanpa malu menuju ke panggung. Menemui kak Aris dan kak Layla yang baru dia kenal.
Mereka tak keberatan ketika Tiva bermanja. Bahkan menyambutnya dengan gembira.
Anya sendiri terlihat bosan diantara orang dewasa. Begitu mendapat teman sebaya, dia sangat gembira. Dia mengajak bermain dan bercanda.
Tanpa malu, keduanya bereaksi ketika fotografer membidikkan kameranya. Dengan berbagai gaya yang menggemaskan. Kadang kala membuat semuanya terpingkal-pingkal.
__ADS_1
Maka tak jarang bukan pengantin yang mereka ajak berfoto melainkan 2 gadis imut itu. Dan mereka melayaninya dengan gembira.
Tiva keasyikan bermain dengan Anya hingga tak mau diajak pulang.
"Tiva, ditunggu abah."
"Tiva nggak mau pulang. Tiva mau di sini, masih mau bermain bersama kak Layla dan kak Aris." jawabnya.
"Sudahlah, Rizki ... Biar Tiva bersama kakak. Nanti kakak yang antarkan dia pulang."
"Baiklah, Kak."
Rizki pergi mengantarkan teman-termannya ke parkiran. Menemui Hamdan yang telah menunggunya.
"Abah, Tiva mboten purun mantuk. Larene tasek glibet ten kak Aris kale mbak Layla.
" Yo wis. Dijogo yo. Abah bali disek."
"Nggih, Abah."
Hamdan, Kamal beserta istri-istri mereka memasuki mobil, setelah memastikan semuanya masuk. Lalu menghidupkan mesin, meninggalakn hotel.
Sedangkan Rizki kembali lagi ke dalam ruangan, 'menikmati hidangan yang tersedia.
Karena yang datang sudah agak jarang, baik Dinda, Mayasa maupun Layla sudah akan membubarkan diri. Kalau saja tak ada teman Dinda yang ingin foto bersama.
Pada saat itu, Zaidan melihat Handoko sedang mengisi daftar tamu. Yang dikuti 3 orang yang berbadan kekar. Salah satunya menarik Shafa dengan paksa dan menyeretnya ke dalam ruangan.
Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Shaffa untuk melepaskan diri. Dan mencoba menenangkan diri di pojok ruangan ditemani oleh Reza.
Zaidan yang melihat kejadian itu dari panggung baru menyadari, kalau banyak tamu tak diundang ada bersama mereka.
Yang lebih disayangkan lagi, saat ini Aldo tidak ada. Dia sedang mengikuti daddy Kamal mengantarkan anak-anak panti asuhan. Untunglah dia melihat istri Aldo yang berjalan cepat menuju tempat pengantin.
"Sayang, Layla , mana anak-anak."
"Sedang mengambil es cream."
"Cepat bawa mereka ke atas."
"Mayasa, antar mereka."
"Tak mungkin Kak. Mereka ada banyak dan di mana-mana."
"Lalu bagaimana. Kamu bisa mengidentifikasi mereka."
"Sedikit."
Sementara Zaidan, Mayasa dan Fadhil mencoba mengatur strategi, Dinda turun dari panggung tanpa diketahui oleh mereka, mencari Anya dan Tiva yang lepas dari pengawasan.
__ADS_1
Demikian dengan Aris, turun dari arah yang lain. Karena masih banyak anak-anak panti asuhan di antara mereka.
"Rizki, panggil teman-temanmu, cepat bawa keluar semua."
"Ada apa Kak."
"Tak ada apa-apa. Biar nanti bisa langsung pulang. Tak usah mencari-cari."
Sedapat mungkin Aris bersikap tenang. Agar adik-adik panti asuhan tidak gelisah, apalagi sampai ketakutan.
"Baik, Kak."
Belum selesai menjawab, Rizki melihat seseorang yang mengarahkan pistol ke arah panggung, entah siapa yang dituju. Reflek dia melempar sebuah kursi yang berhasil diraihnya. Dan tepat mengenai kepala pria itu. Sehingga membuat pria itu merasakan trauma. Sedangkan pistol yang dipegangnya, terlempar ke arah Aris. Tak membuang kesempatan, Aris menangkap pistol itu.
"Terima kasih, Rizki. Segera ajak teman-temanmu ke tempat yang aman."
"Tak mungkin, Kak. Kakak kalah jumlah. Biarkan kami membantu."
"Aku nggak bisa mengikuti jalan pikiranmu. Tapi terima kasih. Berhati-hatilah."
Dengan suitan yang berirama Rizki menghubungi teman-temannya. Beberapa anak-anak menghampirinya. 3 anak datang membantu meringkus pria yang terkena lempar kursi. Menyeretnya pergi tanpa diketahui oleh temannya.
Aris segera mengacungkan jempolnya pada mereka. Rizki melirik temannya yang lain untuk mencarti tempat yang lebih tinggi untuk mengetahui posisi orang-orang yang kini mulai menyerang. Bahkan sudah mulai mengeluarkan pistol.
Maka salah satu anak yang bernama Ayyas segera melompat ke joglo dari besi yang dipakai untuk menyediakan makanan.
Atas petunjuk dari Ayyas, Aris segera bergerak menghampiri salah seorang yang mencurigakan. Berlahan tapi pasti dia membekap mulut tamu tak diundang itu dan menutup matanya, membawanya pergi. Tentu dengan bantuan Rizki dan teman-termannya.
Mungkin ini keuntungan tersendiri bagi Aris. Karena perusuh itu takkan mengira bahwa ada bantuan tak terduga. Mereka, anak-anak yang lebih besar keberaniannya dari pada perhitungannya. Karena rata-rata mereka masih SMA.
Zaidan yang menyaksikan aksi Aris dan adik-adiknya merasa tertolong. Tapi dia masih khawatir. Memang saat ini tempat dia berdiri adalah termpat yng baik untuk mengetahui keadaan secara keseluruhan. Tetapi tempat yang paling rawan. Karena jadi sasaran empuk penyerangan.
"Fadli, kita berpencar."
"Sebaiknya begitu kak."
Belum sempat Zaidan turun, Handoko sudah menghampirinya.
"Mengapa kamu turun, Zaidan." Zaidan menyambutnya dengan tersenyum dan juga waspada.
Sementara itu Mayasa dan Fadly secepatnya turun.
"Ya, Paman. Acaranya sudah selesai."
"Wah , aku terlambat datang dong ..."
"Kurasa begitu, Paman."
"Tapi bagi paman, ini baru dimulai."
__ADS_1
_____________________________
selamat membaca dengan bahagia. Bab-bab terakhir Novel ini untuk readers tercinta.