
Zaidan menatap Layla lama sekali. Adiknya kini sudah besar. Sudah saatnya dia menyerahkan pada orang yang bisa menjaganya. Baik iman, jiwa maupun raganya. Dan yang bisa membuatnya bahagia serta merasakan kasih sayang.
Laki-laki yang bisa membuat hati Layla luluh. Dan juga mampu menciptakan keindahan taman hatinya yang pernah terkoyak. Oleh harapan yang sia-sia dan terlarang.
Zaidan tahu, Aris adalah seorang sahabat yang sangat setia. Yang telah lama dia kenal, semenjak dia kanak-kanak. Hidup bersama bersama di panti asuhan. Dan bertemu kembali ketika kuliah di kampus yanga sama.
Dan Zaidan juga tahu, kalau Aris telah lama menyukai adiknya itu, sebelum dia menikah dengan Zahara.Tapi dipendamnya, karena Layla masih belum bisa melepas Zaidan dari hatinya. Meski Zaidan sudah melepaskan diri darinya.
"Layla, bagaimana Aris menurutmu ?"
"Baik. Kak."
"Apa kakak berniat menjodohkan aku dengannya?"
"Kakak hanya melihat kamu akhir-akhir ini sangat dekat dengannya. Dan dia menyatakan ingin melamarmu."
"Mengapa tak ke sini, Zai?"
"Mungkin belum saatnya, Mam."
"Menurut kakak dan mami, bagaimana?"
"Dia itu sahabat kakak sejak kecil. Dan menemani kakak sejak awal merintis karir, selepas SMA dulu. Dia pria yang baik dan bertanggung jawab. Tapi semua itu balik lagi ke kamu yang akan menjalani. Suka dukanya kamu nanti yang merasakan."
"Aku tak tahu, Kak. Menurut mami, bagaimana?"
"Bolehkah mami bertemu dengannya?"
Panjang umur kali yang namanya Aris. Baru saja disebut, sudah nongol di depan pintu dan memencet bel rumah. Beberapa kali dia tekan. Namun belum ada yang membukakan pintu.
Maklumlah, Dinda seperti biasa di dapur. Anya dan Shaffa ada di ruang musik sedang asyik bermain piano , hingga tak mendengar kalau bel rumah berbunyi. Hanya Mayasa yang merasa bebas. Duduk di atas kursi roda dan asyik membaca buku di ruang tengah.
Beberapa kali bel berbunyi, tak ada yang bereaksi. Membuat Mayasa mengambil inisiatif untuk membukakan pintu itu sendiri.
Meski dengan duduk di atas kursi roda, dia akhirnya bisa ke depan, dan menemui siapa gerangan yang datang ke rumah mami Haydi.
Dengan sedikit berusaha Mayasa bisa berdiri, membuka pintu, lalu bersandar ke dinding
"Assalamu'alaikum ..., Layla."
Mayasa tersenyum. Sudah pasti orang di depannya ini, mengira dia Layla.
"Silahkan masuk!"
"Layla, kamu cantik sekali dengan baju itu."
"Terima kasih, Kak."
Berlahan dia duduk di kursi roda kembali. Lalu mengajaknya ke ruang tamu.
Aris yang melihat Mayasa yang dikiranya Layla tampak heran. Sejak kapan Layla pakai kursi roda. Bukannya kemarin bertemu masih bisa berjalan normal.
"Ada apa, Kak?" Mayasa ganti bertanya.
"Layla mengapa kamu pakai kursi roda?"
"Biar nyaman aja."
"Jangan begitu, Layla. Nanti terkabul lho ... Kamu benar-benar pakai kursi roda." meski dengan lirih dia ucapkan takut terdengar oleh Layla. Yang sebenarnya dia sendiripun takut kejadian beneran.
استغفر الله العظيم
Akhirnya, dengan memejamkan mata, Aris menarik ucapan tersebut. Masak mendoakan keburukan, pada orang yang dia sukai.
__ADS_1
Mayasa hanya meliriknya saja. Ingin melanjutkan pura-pura jadi Layla. Tapi tak tega, mau membohongi orang, yang punya wajah polos seperti itu.
"Maaf, Kak. Aku bukan Layla, aku Mayasa." jawab Mayasa sambil tertawa.
"Oh .... Maaf. Aku kira Layla. Hemmm ... "Aris tertegun, menatap gadis yang ada di depannnya. Ia benar-benar tertipu oleh penglihatannya.
"Bisa ketemu Layla."
"Silahkan duduk dulu, Kak. Tunggu sebentar."
Mayasa berlalu dari hadapan Aris, yang masih tertegun dengan Mayasa. Inikah kembaran Layla, yang pernah diceritakan oleh Zaidan? ...
Tak lama Mayasa kembali dengan seorang gadis yang mendorong kursi rodanya.
"Maaf, Kak. Apa ini gadis yang kakak cari?"
Mayasa mendongakkan kepala, pada saudara kembarnya, sambil tak berhenti tersenyum.
Sejenak Aris terpesona. Dia tak bisa membohongi, akan pesona Layla. Yang hari ini, tampil beda dari biasanya. Tak sia-sia dia memberinya baju muslimah. Dia terlihat semakin cantik.
Layla yang menyadari, akan pandangan Aris padanya, tertunduk dan tersenyum malu. Tak mampu membalas tatapannya. Bahkan melangkahpun, dia tak berani. Hingga dia hanya berdiam, di belakang kursi roda Mayasa.
Senyumnya benar-benar mengembang, menatap wanita, yang selam ini dinantinya. Demikian pula dengan Layla, yang menyembunyikan senyumnya, di balik kerudung.
Aris berbisik " ماشاءالله"
Cantik kali engkau, Layla. Tak bolehkah kakak mengagumimu? ...
"Hem ... hem ... Hallo, Kakak."
Kata-kata Mayasa, membuyarkan angan Aris, yang mulai kemana-mana. Lupa kalau belum halal.
"Bukankah gadis ini, sudah berdiri di hadapan kakak?" Mayasa memandang Layla, ingin menggodanya.
"Maaf, Kak Aris. Mami ingin bicara sama kakak." lirih Layla berkata.
"Mami ... baiklah. Dimanakah mami?"
"Di kamar, agak nggak enak badan."
Aris mencoba untuk tenang. Meski hatinya berdebar-debar. Mungkinkah ini berhubungan dengan, apa yang dia ungkapan kepada Zaidan.
Kalau itu benar ....
Bagaimana ....
Harus siap ....
Ya Allah .
Lapangkanlah dadaku.
Mudahkanlah urusanku.
Lancarkanlah aku dalam mengatakannya.
Hingga mereka memahami,dengan apa yang kukatakan.
Aris mengiringi jalannya Layla yang mendorong kursi Mayasa menuju kamar Haydi. Membuat Mayasa senyum-senyum sendiri.
Nich, orang repot amat sich. Pakai bawa-bawa gue buat nemenin. Wuualah, persis ABG.
"Kak Layla, aku mau nerusin baca buku ya."
__ADS_1
Layla berhenti mendorong kursi rodanya. Dan menatap Aris, mohon pertimbangan.
"Ya ... tak apa-apa."Dia menggangukkan kepala.
Mayasa menghidupkan otomatisnya, berlalu dari hadapan mereka berdua. Agar mereka bisa bicara, sebelum sampai pada mami Haydi.
"Laila ... "
"Hem ... " masih dengan wajah tertunduk.
Jawabannya kok gitu, sich Layla. Batin Aris mengerutu. Ditambah lagi, sikapmu tak seperti biasanya. Tak semalu ini. Membuatnya gemes.
Ya ... sudahlah.
Akhirnya, mereka berjalan dalam kesunyian.
Mayasa yang melihat dari jauh, hanya geleng-geleng kepala, menatap mereka.
"Itu suara musik ya ... indah sekali. Siapa yang memainkannya?" Aris mencoba memecah kesunyian di antara mereka.
"Shaffa dan Anya."
"**Anya?"
"Benarkah, putri kak Zaidan?"
"Ya, ada apa?"
"Hebat, belum genap lima tahun sudah bisa memainkan alat musik dengan baik."
"Mungkin bakat dari kak Zaidan. Karena, ayahnya dulu juga begitu."
"Aku dengar, Layla juga pandai bermain musik."
Layla hanya tersenyum menjawab pertanyaan Aris.
"Wah, menyenangkan sekali punya keluarga yang semuanya suka seni."
"Sebagai hiburan kami, kalau lagi bete."
Tak terasa perjalanan mereka sampai juga di depan pintu kamar Haydi.
"Maaf Layla, mengapa mami ingin bertemu denganku. Apakah aku melakukan kesalahan."
"Aku tak tahu, mungkin." jawab Layla tak peduli. Menyembunyikan senyum dalam hatinya.
"Apa itu?"
"Entahlah."
"Aku kok ngerasa, kalau ini berhubungan dengan kita."
Layla tersenyum simpul menatap Aris. Membuat Aris semakin bertanya-tanya, ingin meyakinkan, hatinya yang amat berharap pada Layla.
Lalu Aris menghentikan langkahnya. Meraih Layla untuk menghadapkan padanya.
"Layla, sebelum aku nyatakan pada mami, aku ingin tahu jawabanmu dahulu. Apakah engkau tak keberatan, bila aku menginginkanmu, untuk menjadi halal bagiku?"
_________________________
Maaf masih banyak tiponya.
Readers yang budiman. Mohon dukungannya, saran positif, like atau vote. Agar author bersemangat dalam berkarya.
__ADS_1
Moga-moga karya ini bisa menjadi bàcaan favorite readers. Terima kasih.