
Ternyata aku dipencundangi sama wanita itu. Koper ini hanya berisi kertas bekas saja.
Si*****lan. Jangan harap Istri dan anakmu kembali dengan selamat.
Ryan segera melajukan mobilnya dalam keadaan marah. Menuju hutan, dimana dia menyekap Dinda dan Anya.
Dia tak menyadari, di dalam mobil ada orang, selain dirinya. Yang dengan tenang meringkuk di jok belakang.
Sesampai di sebuah rumah yang ada di tengah hutan. Dia menghentikan mobilnya. Dia turun dan dengan marah, dia membanting pintu mobil.
Salah satu anak buahnya yang melihat kedatangannya dibuat terkejut dan ketakutan atas tindakannya.
"Son, mana wanita itu."
Dengan sedikit gemetar, dia mendekati bossnya.
"Ada di dalam boss."
Dia tak menyadari, bahwa mereka sudah tak ada lagi, semenjak berpamitan untuk bab.
Dia mengikuti langkah bossnya menuju ruangan tersebut.
"Mana mereka?" Bentak Ryan pada anak buahnya yang dipanggil dengan nama Son.
"Maaf, Boss. Aku lupa, mereka sedang bab."
"Tanpa kalian awasi."
"Bersama Mayasa."
"Kalian benar-benar bodoh. Susul mereka."
"Ba ... baik, Boss."
Orang yang dipanggil Son itupun berlalu meninggalkan boss yang sedang meluapkan emosinya. Marah-marah tak jelas.
Semua kejadian itu tak lepas dari perhatian seseorang yang kini diam bersembunyi di sebuah sudut yang tersembunyi. Lalu dia berjalan berlahan, mengikuti langkah Son pergi meninggalkan rumah itu.
Dia menyusuri jalan setapak, sepertinya menuju sungai kecil yang ada di dekat bangunan itu.
"Mayasa ... jangan lama-lama sudah ditunggu sama boss."
Tapi dia tidak mendapatkan sahutan. Beberapa saat dia menunggu, sambil mengamati lingkungan sekitar yang semakin terlihat gelap.
Tak lama kemudian matanya menangkap bayangan tubuh yang tergeletak di atas rumput. Ya ... tubuh Mayasa yang lemah tak berdaya, karena banyaknya darah yang keluar dari luka tembak yang dideritanya.
"Hai Mayasa, kenapa kamu."
Belum sempat dia lepas dari rasa terkejutnya, dia mendapatkan serangan dari arah belakang. Membuatnya terjatuh seketika.
"Siapa Kau?"
Son hanya melihat bayangan itu meraih tubuh Mayasa dan memanggulnya dengan cepat.
Mengetahui hal tersebut, dia spontan mengeluarkan tembakan pada orang yang ada di depannya.
Reflek bayangan itu menghindar. Namun tak ayal, mengenai betis Mayasa yang ada di atas bahunya.
Diapun mengeluarkan pistolnya dan mengeluarkan 2 kali tembakan yang tepat mengenai jari-jari di kedua tangan Son, baik kanan dan kiri. Sehingga pistol yang ada di tangan, terlepas. Dan dia tak bisa meraihnya kembali.
Sambil berlari dengan kencang, bayangan itu mengeluarkan handy talky dari pingganya.
"Camar 1 dan 2 telah terbang.
Camar 3 bersama elang.
17 tikus berkumpul di sarang.
Ganti."
__ADS_1
"Oke. 3 menit di tunggu di perbatasan."
Secepat kilat dia melesat. Menembus gelapnya malam yang mulai turun menutupi hutan. Apalagi dari jauh terdengar tembakan yang tak tentu arah, seakan-akan mengejarnya.
Sesuai dengan waktu yang ditentukan, dia tiba di perbatasan hutan.
"Elang telah tiba."
Muncul dari kegelapan 2 orang yang segera menggantikan membawa tubuh yang benar-benar terkulai, dengan nafas yang semakin lemah. Dan membawanya pergi dalam kegelapan.
Kemudian keluarlah 19 orang menggantikannya.
"Kini saatnya. Siap!"
"15 menit dari sekarang." kata seseorang yang jadi pimpinannya.
"Aldo, aku ikut."
"Boleh, pegang ini." Aldo melempar sebuah pistol pada Zaidan yang dengan sigap menangkapnya.
"Dekat aku."
"Ya"
Dengan cepat pasukan kecil itu masuk ke dalam hutan.
💎
Sementara itu di dalam hutan.
"Kalian benar-benar brengsek semua, Tak ada yang bisa diandalkan. Menjaga 3 wanita saja tak bisa.
Apalagi kamu, Son. Ceroboh sekali. Aku tak suka anak buah seperti itu. Silahkan keluar kamu."
Orang yang di panggil Son hanya diam, sambil menahan sakit dari kedua tangannya, yang kini berbalut kain seadanya.
Son segera berlalu meninggalkan ruangan itu.
Belum sampai di pintu, sebuah tembakan mengenai punggungnya. Membuatnya terjatuh seketika.
"Itu balasan bagi orang yang mengkhianatiku dan tak becus menjalankan tugas."
Cukup membuat 5 orang yang berdiri di hadapannya bergidik ngeri menyaksikannya.
"Sepertinya markas kita di sini sudah tak aman lagi. Kita pindah sekarang."
"Persiapkan semuanya. Aku tunggu di depan."
"Semua barang dibawa, Bang?"
"**Ya."
"Oke, Bang."
Kelima orang itu berlalu dari ruangan. Meninggalkan tubuh Son yang berlumuran darah. Entah masih bernyawa atau tidak. Mereka tak peduli.
Setelah memberikan perintah, Ryan juga meninggalkan tempat itu menuju beranda rumah.
Sambil menunggu anak buahnya bersiap. Dia menatap langit yang sedikit terang karena cahaya bulan yang hanya sealis menghias.
Terang redup bersama awan yang melintasinya.
Heydi, di mana anak kita. Aku tak melihat bersamamu sejak dulu.
Dan mengapa keluargamu menghancurkan keluargaku dan hidupku.
Takkkan kubiarkan engkau tenang Haydi.
Dendamku belum lunas.
__ADS_1
"Bang, semua sudah aku masukkan ke mobil. Beres."
"Panggil kawan-kawan. Kita pergi."
"Jangan bergerak!!"
Ryan menghentikan langkahnyanya. Melirik ke belakang.
Dia melihat anak buahnya yang lima sama dengan dirinya. Dengan keadaan masing-masing ditodong seseorang yang bersenjata lengkap.
Sedangkan anak buahnya yang lain sudah dapat dilumpuhkan. Dan kedua tangan mereka telah diborgol di belakang tubuhnya.
Dengan tenang Ryan menyerang balik orang yang menodongnya. Diikuti oleh anak kelima anak buahnya.
Tak pelak membuat sedikit kuwalahan orang yang akan meringkusnya.
Ternyata keberanian Ryan dan kawan-kawan untuk melawan, membangkitkan semangat teman-teman yang terlebih dahulu dapat diringkus.
Mereka bergerak meski dalam keadaan tangan terborgol. Membuat beberapa orang terjatuh.
Maka dengan terpaksa, mereka melumpuhkan anak buah Ryan dengan sebuah timah panas. Yang disarangkan di kaki masing-masing.
Namun untuk kelima anak buah Ryan yang mengawalnya ada sedikit tambahan di tangan pula. Karena berusaha menembak.
Yang paling sulit dilumpuhkan adalah pimpinannya. Yaitu Ryan.
Dengan tangan kosong dia mampu melumpuhkan orang yang menodongnya.
Dan menjadikannya tameng agar dia dapat melarikan diri.
"Jangan ada yang coba-coba mengikutiku."
Dia terus bergerak mundur sambil menarik orang itu mundur.
Ryan lupa, siapa kini yang dijadikan tameng. Dan pasukan apa yang dihadapinya.
Dengan sekali hendakan yang mengejutkan, yang diberikan orang yang dipegangnya. Membuat tubuhnya terhuyung sambil memegang perut.
Akhirnya dia mendapatkan hadiahnya. Lain dari pada yang lain. 1 tembakan yang menyakitkan.
Mungkin maksud si sniper mau menembak pahanya. Tapi karena Ryan orangnya aktif bergerak, akhirnya nyasar ke sarang burungnya. Nach lo ....
Setelah semua dapat diringkus, satu mobil sejenis truk tertutup dan 2 mobil jip tiba.
Membawa semua orang yang telah ditangkapnya, termasuk Son yang telah menjadi mayat, ke dalam truk yang dikawal dengan 2 jip tersebut. Mobil Zaidan menyusul kemudian.
"Terima kasih, Pak Aldo. Yang telah membantu kami menangkap gembong narkoba yang selama ini kami cari."
"Sama-sama."
"Untuk istri dan anak pak Zaidan, masih aku tinggalkan 2 orang untuk membantu menemukannya."
"Terima kasih."
"Kami pergi dulu, Pak."
"Ya ..."
Tanpa sepengetahuan Aldo, Zaidan memasuki rumah itu seorang diri. Membuka pintu satu persatu. Namun dia tak menemukan orang yang dicarinya.
"Anya, Humaira , dimana kalian?" Zaidan memanggil-manggil dengan suara serak.
Air matanya tak terasa mengalir membasahi pipi.
"Zai, ayo. Mereka tak ada di sini."
"Dimana kalian, Sayang. Ayah merindukan kalian."
Dengan gontai dia mengikuti langkah Aldo, keluar rumah itu. Yang di kawal oleh 2 orang.
__ADS_1