SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 29 : Hantaran


__ADS_3

💦


Senja di sore ini membiaskan semburat warna gradasi pelangi


Lembut seruni membisikkan  rindu kalbuku


Rona saga di ufuk barat memacu langkah


Berlari menggapai indah impian harapan bersama


Dalam tiga lingkar cincin kutitipkan alunan cinta yang mulai menggema


Yang kecil untuk mutiara hati


Wajahnya mulai melukis keceriaan yang lama menghilang


Gold, tanda kemewahan biarlah kutitipkan pada yang sekedar kupuja


Agar tiada khilaf bila beriring dalam langkah bersama


Bila silver  harus dipakaikan di jari ini aku terima


Mengingatkanku bahwa ikatan itu nyata adanya


Jaga dirimu dan hatimu untukku


💎


"Gimana, Zai. Sudah siap..."


"Tak tahulah Al."


"Kok, apa karena Layla?"


"Bukan, ada saja kamu Al."


"Lalu?"


"Pemasalahan yang dulu belum beres. Rasanya aku tak tega harus melibatkan Dinda masuk ke dalamnya."


"Dinda terlihat tidak keberatan. Dan dia menikmatinya. Aku merasakan dia menyayangi putrimu dengan setulus hatinya."


"Itu juga yang membuatku merasa berdosa."


"Lalu?"


"Bismillah aja."

__ADS_1


"Hebat, teman." kata Aldo sambil menepuk bahu Zaidan.


Setelah seharian sibuk dengan pekerjaan dan permasalahan yang ada di kantornya. Mereka duduk santai di teras rumah, sambil menikmati suasana senja menjelang petang. Ditemani dengan secangkir teh dan pisang rebus. Membuat mereka berdua betah untuk mengobrol ringan tentang persiapan acara nanti malam.


Tak lama kemudian sebuah mobil memasuki gerbang rumah. Dan berhenti di depan garasi. Seorang wanita bergaun motif pelangi keluar dengan membawa napan.


"Zaidan, bantu dong. Jangan duduk-duduk saja."


"Ya, Kak Lisa." jawab Zaidan.


Tapi dari arah halaman, muncul bi Sari yang sedang menyirami tanaman. Meninggalkan pekerjaannya dan mematikan krannya, waktu melihat tuannya sedang kerepotan.  Dia berjalan tergesa, menuju ke arah kak Lisa yang sedang membawa beberapa napan kue dan beberapa hantaran yang lain untuk acara lamaran Zaidan nanti malam.


"Makasih, Bi Sari," kata Lisa sewaktu melihat asisten Zaidan itu membantu dirinya dengan segera.


"Zaidan. Sudah kamu siapkan cincinnya."


"Sudah,Kak."jawab Zaidan.


Kakak pasti tidak tahu, kalau aku sudah mempersiapkan sejak lama. Bahkan Dinda telah melihatnya, saat aku melamarnya di pantai itu. Tapi sayang Dinda belum mau memakainya. Semoga kali ini dia tidak menolak untuk dipakaikan mommy.


"Tumben sepi. Mana Anya?"tanya Lisa yang seharian ini tidaka berada di rumah. Kerana kegiatan yang padat, seminar dan lain sebagainya. Ditambah lagi, membeli hantaran-hantaran yang akan ke rumah Dinda. Tak ketinggalan juga 'peningset sak pengadek', keperluan Dinda dari sandal hingga kerudung sebagai kelengkapan yang dibawa oleh calon suami untuk calon istrinya.


Tak sulit bagi Lisa untuk mencarinya, karena keluarganya sudah punya langganan butik di kota ini. Ditambah lagi ukuran dari baju Dinda yang ketinggalan itu. Sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk dia memilihnya.  Beserta wadah mika yang transparan, beserta hiasan-hiasan yang menyertainya. Untuk itu, dia juga melibatkan jasa pembungkus hantaran. Agar terlihat cantik, sebagainama layaknya sebuah hantaran pernikahan untuk pengantin perempuan.


Tak lupa pula, dia belikan baju kecil untuk keponakannya itu, 2 lembar. Untuk dipakai di acara itu.


"Jam segini masih tidur. Nanti kesorean mandinya. Kedinginan lho."


"Ya, Kak," jawab Zaidan sambil beranjak dari tempat duduknya. Dengan enggan dia membangunkan putrinya yang masih tertidur pulas. Mendekap boneka besarnya yang diperlakukan seperti guling.


"Anya ... bangun sayang. Ada baju baru dari tante Lisa tuch!"


Berlahan Anya bangkit dengan malas.  Mengikuti ayahnya yang melangkah menuju kamar mandi. Seperti biasa Zaidan akan menggugurkan air ke badan putrinya itu dengan kasih sayang. Meskipun mata putrinya masih keadaan terpejam.


Siraman pertama membuat Anya terpejap-pejap karena air yang dingin yang menyentuh kulitnya. Siraman ke dua matanya mulai terbuka, namun masih berwarna merah. Hingga pada siraman ke tiga, baru Anya sadar dengan sempurna. Dan menikmati guyuran itu dengan riang.


Bila sudah demikian, muncul bakat terpendamnya. Memainkan alat mandinya pada semua benda yang ada di kamar mandi. Tak jarang kepala Zaidan jadi sasaran juga.


"Gimana, Tuan putri. Sudah selesai mainnya," kata Zaidan sambil mencubit hidungnya dan membalutkan handuk di badannya. Kemudian mengakatnya ke luar kamar mandi. Menuju kamar Anya sendiri.


"Mana baju Anya yang dibelikan tante Lisa?"


"Ini," jawab Zaidan sambil mengambil bungkusan plastik yang ada di papar bag.


"Horeee." dengan gembira dia berteriak. Dan dengan melompat gembira Anya mengambil baju itu dan memakainya sendiri seperti yang biasa dia lakukan. Zaidan hanya membantunya sedikit, karena dia sudah bisa sendiri dan mandiri. Meskipun masih kecil.


Kalau merapikan ranbut, belum bisa. Sehingga Zaidan yang harus melakukannya. Walaupun belum sempurna, namun selama 4 bulan lebih merawat putrinya, membuat dia trampil untuk menata rambut putrinya dengan rapi. Lalu menyematkan bando kecil di kepala Anya.

__ADS_1


"Sekarang tunggu ayah di ruang baca. Ayah mau ganti baju."


"Kita mau kemana, Yah?"


"Nanti juga Anya tahu?" sambil mengantarkan putrinya ke ruang buku. Disana sudah menunggu eyang putrinya.


Lalu Zaidan menuju ruang tengah. Terlihat disana Lisa sedang menata hantaran untuk disempurnakan, agar siap untuk dibawa.


"Kira-kira yang begini cocok nggak ya ?"tanya Lisa pada adiknya, Zaidan yang juga sedang memeriksa bersamanya.


"Pilihan kakak pasti yang terbaik." jawab Zaidan puas.


Kemudian mereka menatanya berjejer dengan rapi untuk didokumentasikan.


Klik ....


"Ya sudah, Kak. Aku mau mandi dan ganti baju dulu. Kakak juga, kan?" kata Zaidan sambil berlalu menuju kamarnya.


Dan dikuti oleh Lisa yang juga berlalu menuju ke kamarnya masing-masing.


Tanpa sepengetahuan eyang putrinya, Anya pergi dari ruang baca menuju ruang tengah. Mendapati beragam kue yang tampak cantik dengan berbagai hiasan, membuatnya ingin mencicipinya. Apalagi kue yang berbentuk buah-buahan. Pasti rasanya manis, pikir Anya sambil menatap kue tersebut dengan penuh selera.


Tanpa berpikir panjang, dibukalah bungkusan yang telah rapi itu dengan tangannya yang mungil. Namun ternyata tak semudah yang dia bayangkan. Hingga menyebabkan loyangnya miring. Semua kue jatuh berantakan dalam wadah itu. Namun tak juga bungkus itu terbuka.


Dengan tangan tak berhasil. Giginya mulai beraksi. Dan bungkus plastik itu akhirnya terbuka juga. Berkat usaha yang dia lakukan, akhirnya dia berhasil. Kemudian menikmati hasil usahanya dengan gembira. Lalu dia mengambil kue nyang berbentuk wortel dan pisang itu dengan suka cita.


Tak terasa sudah 3 buah kue masuk ke dalam mulutnya. Dan membuatnya kenyang. Lalu dia pergi menemui eyang putrinya kembali, di ruang baca sambil membawa 2 buah kue untuk eyang putrinya.


"Eyang, ini Anya bawakan. kuenya enak sekali," kata Anya dengan penuh semangat. Membuat nyonya Hendiyana berhenti membaca dan tertegun.


"Ini dari mana, Sayang."


"Itu."


Terlihat wajah nyonya Hendiyana berkerut, lalu tersenyum. Menghadapi kenakalan Anya yang dilakukan dengan tidak sengaja.


"Anya tahu, ini untuk apa?"


Dengan wajah sendu dan rasa bersalah, Anya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Anya mau bunda Dinda tinggal bersama kita?"


"Pasti, eyang."


"Nach. Ini mau kita kasihkan bunda Dinda, agar dia mau tinggal bersama kita.Oke?!"


Dia mengganggu-angguk entah mengerti atau tidak. Namun dengan riang dia berseru,

__ADS_1


"Hore ... Bundaku mau ke sini."


__ADS_2