SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 98 : Resepsi


__ADS_3

"Bunda, kita kembali. Sudah saatnya kita bersiap-siap."


Mereka mengikuti langkah Zaidan dengan santai, sambil sekali-kali bercanda ria. Hingga sampai di hotel, tempat mereka akan mengadakan acara.


"Ayah, tadi itu siapa?"


"Teman ayah. Sudah jangan dipikirkan." Zaidan menjelaskan sambil menyungging senyuman. Agar Dinda tak menaruh curiga.


Sampai di kamar, Dinda memandikan Anya dengan segera.


Zaidan tidak segera masuk. Dia mengangkat hpnya, menghubungi seseorang.


"Assalamu'alikum wr.wb. Aldo?"


"Ya, aku mengerti, Zey."


"Layla, Aris bagaimana?"


"Sama istriku. Istriku yang akan mengawal mereka."


"Semoga tak terjadi apa-apa. Aku sangat khawatir."


"Resiko keputusanmu, Zay."


"Baiklah. Semoga mereka masih punya hati."


Terdengar tawa Aldo yang lepas. Seakan ingin mengatakan bahwa itu mustahil.


"Adakah orang yang dendam itu punya hati?"


"Sudah, siap-siap aja dech. Masak .... tamu sudah datang. Kamunya masih blepotan. Kasihan istrimu, udah cantik. Jadi malu bersuamikan kamu."


"Kamu itu!"


Zaidan menyusul istrinya masuk ke kamar dan membersihkan diri.


Tak lama kemudian pintu kamar diketuk. Seorang perias masuk bersamaan dengan sarapan pagi diantarkan. Anya yang memang sudah sangat lapar segera membuka tudung yang berisikan makanan.Tak sabar ingin melahap apa yang ada di dalamnya.

__ADS_1


"Anya, sini bunda suapi. Sudah ditunggu mbak Hesti. Mau cantik tidak?"


"Ya ...iyalah, Bun."


Yang ditanya siapa ... yang jawab siapa. Tahu-tahu mas Zaidan sudah jawab. Sambil menggelitik putrinya yang sedang siap-siap menerima suapan dari tangan ibundanya. Anya menjadi kegelian. Akhirnya mengurungkan niat untuk menerima suapan Dinda.


"Ayah nggak baik, kasihan putrimu." Dinda mencoba mengingatkan.


"Bunda, aku masih kangen ... "


Dinda tersenyum. 3 hari rupanya waktu yang panjang bagi ayah Zaidan berpisah dari putrinya. Begitu berjumpa tak mau sedetikpun jauh dari putrinya. Hingga mbak Hesti geleng-geleng kepala, menyaksikan kemesraan antara keduanya.


Setelah menyelesaikan suapan terakhir, Anya bersiap untuk dirias lebih dulu. Tak perlu waktu lama untuk menjadikannya cantik. Hanya dengan riasan tipis, Anya sudah terlihat semakin cantik. Karena baik bunda maupun ayah Zaidan tak ingin putrinya berhias berlebihan. Lebih segar kalau alami saja. Setelah selesai dengan riasannya, Anya memakai baju pesta berwarna pink.


Dengan segala gayanya yang manja, dia menari-nari memainkan bajunya di depan ayahnya.


"Anya ... putri ayah." Dengan gemas Zaidan meraih dalam pangkuannya. Menunggu bunda Dinda yang sekarang tengah dirias oleh mbak Hesti. Sama dengan Anya, Dinda juga menginginkan riasan yang tipis. Sehingga kecantikan tampak segar alami. Lalu memakai baju yang senada dengan putrinya.


"Ayah, bunda cantik sekali." kata Anya sambil menatap ayahnya, yang kini benar-benar terpesona akan kecantikan istrinya. Hingga dia tak menyadari kalau sedang diajak bicara. Padahal Anya sangat dekat dengan telinganya, masih dalam pangkuannya. Mengapa tak bisa mendengar suaranya.


"Ayah!" suaranya agak dikeraskan sedikit, hingga Zaidan tersadar dan menoleh padanya.


"Anya bilang kalau bunda cantik, bukan?"


"Iya, bunda benar-benar cantik." sahutnya.


Zaidan senyum sendiri mendengar perkataan putrinya yang senada dengan kata-katanya. Padahal sebenarnya, dia sama sekali tak mendengar kata-kata putrinya saat berbicara dengannya sesaat lalu.


"Bagaimana pak Zaidan, apakah masih ada yang kurang?" tanya mbak Hesti padanya.


"Ya ..."


Dia mengambil sebuah kain yang tertinggal dalam bungkusan plastik baju. Sebuah kain tipis yang lembut, yang merupakan rangkaian dari jilbab yang dipakai Dinda. Dia memakaikan dengan tangannya sendiri.


"Bunda terlalu cantik. Dan ayah amat cemburu bila wajah ini dilihat oleh orang selain ayah." dengan memberinya sebuah kecupan kecil di pipi kanannya, sebelum memasangnya untuk menutupi wajah istrinya.


Mendapat perlakuan seperti itu, membuat Dinda tersipu. Dia membiarkan Zaidan memasang cadar di wajahnya. Meski kain itu masih menerawang namun cukup menutupi wajahnya yang ayu dan kini semakin cantik dengan riasan dari mbak Hesti.

__ADS_1


Mbak Hesti yang menyaksikan itu sampai membalikkan badan, agar tak menggangu kemesraan keduanya. Sambil menahan tawa atas kebucinan pak boss Zaidan.


"Mbak Hesti boleh mengatur 2 kamar di sebelah ini." Zaidan mengusirnya secara halus. Karena dia juga ingin mempersiapkan diri. Berganti baju resmi untuk resepsi. Yaitu sebuah stelan jas berwarna hitam dengan sebuah kopyah di kepala. Tak lupa memakai dasi, dengan bantuan Dinda.


Tak berapa lama pintunya kembali diketuk dari luar. Zaidan membuka pintu, mendapati 2 orang tegap,yang berpakaian adat jawa dengan blankon berdiri di depan pintu dan 3 orang wanita yang berbusana muslimah berwarna pastel hijau muda.


"Sekarang sudah jam 09.30. Apakah Pak Zaidan sudah siap?"


"Tunggulah, istriku sebentar lagi siap." Zaidan menutup pintu, mendekati Dinda yang sedang merapikan jilbab nya dan cadar yang dipakainya.


"Sudah bunda, Anya. Kita keluar ya...."


"Baiklah." Dinda meraih tangan kecil putrinya lalu mengikuti langkah Zaidan.


Dinda melihat 5 orang yang sudah menyambutnya di depan kamar agak sedikit gugup. Namun manakala melihat kak Alfath-nya yang yang berpakaian rapi, berjalan menghampiri mereka. Keresahannya sedikit berkurang.


"Kakak kapan datang."


"Baru saja."


Bersama-sama mereka memasuki lift menuju balai room yang sudah dihias sedemikian rupa. Dengan panggung yang teramat megah. Dengan hiasan bunga-bunga hidup yang tertata sangat indah. Dengan tiga pasang kursi pengantin dengan ukiran pada sandaran dan sisi-sisinya.


Rupanya beberapa tamu sudah berdatangan menunggu dengan tenang, di kursi-kursi yang sudah disediakan. Dinda menuju depan pintu hendak menyambut 2 mempelai pengantin lainnya. Yang tak lain dan tak bukan adalah adik-adiknya, beserta suami masing-masing.


Tak perlu waktu lama untuk menunggu. Terlihat 2 buah sedan hitam berhiaskan rangkaian bunga di depannya, berjalan berlahan memasuki halaman hotel. Menurunkan 2 pasangan pengantin. Yaitu Aris dan Layla, Fadly dan Mayasa.


Diiringi hampir 10 buah mobil di belakangnya. Kesemuanya memasuki halaman parkir yang luas di depan hotel. Diantara rombongan itu ada pengawal pengantin yang berpakaian sama seperti yang kini mengawal Zaidan, Anya dan Dinda.


Alhamdulillah sesuai rencana, jam 10 tepat acara sudah dapat dimulai. 3 pasang pengantin berjalan berlahan memasuki ruangan diiringi musik gamelan Jawa. Dengan masing-masing dikawal oleh 4 orang kecuali Zaidan, 5 orang.


Setelah duduk di singgasanan, acara pembukaan dimulai dari pembacaan Al Qur'an hingga do'a. Setelah itu semua tamu menikmati hidangan yang tersedia. Dengan pelayanan dari petugas-petugas yang berseragam sama yang menyenangkan dan ramah. Diantaranya ada Yeyen, Silvi dan Hani.


Dari atas singgasananya, Zaidan tak henti-hentinya tersenyum menyalami dengan semua yang datang seperti tiada akhirnya. Dari rekan kerja, teman kuliah hingga para tetangga ketiga pempelai berdatangan semua. Bahkan pak Hamdan dan rombongan dari Panti Asuhan juga berdatangan, meski agak terlambat.


Hingga acara hampir usai tak ada gangguan yang terjadi, seperti yang diperkirakan sebelumnya. Rasa syukur Zaidan ungkapkan senantiasa.


____________________________________

__ADS_1


Bab-bab terakhir Novel ini untuk readers tercinta


__ADS_2