SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 54 : Melarikan Diri


__ADS_3

Sebenarnya, Zaydan ingin segera mencari Anya dan Dinda saat ini juga. Tapi tak mungkin dia melangkah tanpa perhitungan yang matang.


Mengingat mereka sangat terlatih dalam penculikan. Mereka dapat melakukan penculikan itu, di tengah keramaian. Tanpa ada seorangpun yang menyadari.


Maka Zaidan mencoba menunggu dengan sabar kedatangan Aldo, yang sudah punya jaringan keamanan.


Aldo dan Alfath tiba secara bersamaan.


Aldo lebih tenang dibanding Alfath yang terlihat tegang.


Dalam pikiran Alfath,


Tak biasanya boss memanggil mendadak seperti ini. Mungkin urgent sekali.


Alfath terkejut ketika melihat Zaidan duduk lemas di sofa dengan mata yang sembab.


"Ada apa, Pak."


"Maafkan Kak Alfath. Dinda menghilang bersama Anya."


"Maksud Bapak"


"Mereka diculik."


Alfath lemas mendengarnya. Namun dia berusaha tegar. Tak dapat dipungkiri, bahwa dia terpukul mendengar berita itu. Hingga sesaat, dia tak bisa menyembunyikan air matanya.


"Aku bisa minta tolong. Bawa ini ke Layla."


Zaidan memberikan sebuah kertas ke Alfath.


"Aku juga ingin mencari Dinda,"


"Tunggu di rumah Layla , nanti ada orang yang menjemput kalian."


"Baiklah."


Alfath lalu pergi dari hadapan mereka.


Sesaat mereka diam. Secara berlahan Zaidan menceritakan kejadiannya kepada Aldo.


Mereka benar-benar bisa memanfaatkan situasi dan kondisi. Guman Aldo setelah mendengar penjelasan Zaidan.


"Aldo, ayo kita kejar mereka. Mungkin belum jauh."


"Kemana?"


"Aku tahu satu tempat."


"Kita coba."


Aldo berhenti sebentar. Lalu menghubungi seseorang.


"Assalamu'alaikum ... pak Aslam. bapak bisa ke kantor Zaidan. Pak Tata juga ke rumah nyanya Haydi.."


"Ada apa, Pak Aldo."


"Nanti aku ceritakan."


"Tolong bawa anak buah bapak."


"Yang di rumah amanahkan ke anak buah bapak yang lain."


"Baik, Pak."


Lalu dia menutup handpon-nya. Setengah berlari, Aldo mengejar Zaidan yang berjalan sangat cepat.


"Terima kasih, Al. Aku terlalu menyepelekan keamanan orang-orang yang kucintai. Hingga mereka leluasa menyakitinya."


Aldo duduk di belakang kemudi.


"Sudah, kemana kita."


"Apartemen dekat kantor Layla."


"Baiklah."


Aldo menghidup mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Tak sampai 7 menit, mereka telah sampai tujuan.


Zaidan segera turun dan setengah berlari masuk ke dalam apartemen. Menghampiri bagian security.


"Coba Bapak menuju lantai 4 nomor 56."


"Terima kasih."


Zaidan berlari ke arah yang ditunjuk, disertai dengan Aldo.


Tiba-tiba hp-nya berdering.


Nomor tak dikenal.


"Hallo."

__ADS_1


"Ha ...ha ... silakan cari!"terdengar suara laki-laki dari seberang sana.


"Jangan, main-main dengan anak dan istriku."


" Aku tak pernah main-main."


"Kalau kamu ada urusan denganku, jangan libatkan mereka."


"Oh gitu ..."


"Jangan ganggu mereka. Sampai mereka terluka, aku tak akan mengampunimu."


"Takuuuut ..."


"Apa maumu ..."


"Rupanya, kamu mulai mengerti."


"Oh ya, apa kamu mengenal suara ini ...


"Ayah, cepat selamatkan kami ayah ..." terdengar suara Dinda.


"Bagaimana Anya ...."


"Aku khawatir ayah dia masih tidur. Belum sadar, sejak tadi."


" sayang. Sabar"


"Apa di situ ada Mayasa?"


Pembicaraan Dinda dan Zaidan dihentikan laki-laki itu.


"Sudah cukup. Masih juga sayang-sayangan."


"Kamu mau tahu Mayasa. Oke, akan kuperlihatkan"


Rupanya dia mengirim vidio langsung keadaan wanita yang punggungnya berlumuran darah.


Sambil menahan perih dia menguatkan untuk bicara.


"Kakak, maafkan Mayasa. Mayasa tak tahu harus menebus dengan cara apa kesalahan Mayasa."


"Mayasa?!"


"Angin berhembus dari penantian di puncak asmara. Adakah gambaran dalam angan kita untuk senantiasa menyebut nama. Agar jalan ini menjadi sempurna..


Seandainya ada masa bertemu. Lara mengiris jiwa akankah luruh. Meski tak bisa berharap. Lukamu terlalu menganga untuk kau tutupi


"Dia mengulur waktu."kata Aldo lirih sambil mengacungkan jempol.


"Kita sudah dapat lokasinya."


"Sudah puas lihat Mayasa. Dia pion yang nggak berguna."


"Sekarang, apa yang kau inginkan?"


"Serahkan saham perusahaan Layla. Oke."


"Gila?!"


"Atau ..."


Kulihat dia mengarahkan pistol ke arah Dinda yang sedang mendekap Anya.


Ya Allahu robbii ....


Napasku seakan terhenti saat itu juga, melihat itu.


Tapi kulihat Mayasa menghamburkan diri melindungi mereka. Dengan darah yang makin berceceran.


Allahu Akbar.


La khaula wala quwata illa billah.


"Baiklah, "


"Aku tunggu 15 menit untuk menyiapkan."


sepihak dia memutuskan sambungan teleponnya.


Zaidan menatap Aldo.


"Sekarang reguku sudah mendekati lokasi. 3 menit mereka sudah sampai. Tinggal tunggu perintah."


"Tapi siapkan skenario B untuk berjaga."


"Ya ... Kita ke perusahaan Layla, semoga Aris belum pulang."


"Kamu sudah siap untuk melepaskan saham itu?"


"Aku tak bisa, itu punya Layla, Shaffa dan Anya dan juga mami. Tak mungkin aku melepaskannya."


"Baik, kalau gitu bersiaplah untuk menjemput mereka bertiga saat ini juga. Biarlah yang di sini ditangani Layla, Aris dan Alfath. sudah aku tempat kan orang-orangku di sekitar mereka. termasuk semua perusahaanmu dan rumahmu. Minta mereka untuk mengulur waktu."

__ADS_1


"Orang-orangnya pak Aslam sebagian ikut ke lokasi."


"Semoga, mereka bisa keluar sebelum kita menyergap."


"Maksudmu,"


"Terlalu berbahaya kalau langsung bertindak. Nyawa mereka jadi taruhannya."


"Kita punya Mayasa, semoga berpikiran sama dengan apa yang aku pikirkan. Berdo'alah , Zay."


💎💎


Senja mulai akan sirna. Cahaya mentari mulai redup. Di sekitar rumah, sudah mulai gelap.


Terlihat salah seorang menyalakan getset untuk menghidupkan listrik. Alhamdulillah sekarang lebih terang.


"Mayasa, kamu sudah keluar banyak darah."


"Mbak Dinda, bisa bantu aku."


"Baiklah."


"Bisakah Anya letakkan dulu. tolong balutkan lukaku."


Dinda meletakkan Anya di hadapan Masaya.


Lalu menyobek rok Anya yang panjang. Untuk membalut luka Masaya, agar darahnya tidak lagi keluar.


"Terima kasih, Kakak ipar."


"Kakak ipar?!"


"Jangan kaget, kalau aku tahu semua tentang keluargaku."


"Kenapa kamu nggak kembali ke keluargamu?"


Dia hanya tersenyum. Sepertinya tak mau menjawab. Akhirnya kualihkan pembicaraan.


"Mayasa, mengapa Anya belum bangun-bangun juga."


"Dia hanya kebanyakan menghirup obat bius."


Pembicaraan kami terhenti ketika kudengar banyak burung berterbangan menuju bangunan ini.


"Ini saatnya."


"Maksudmu."


"Kakak ipar harus 'tatak', sekarang saatnya untuk lari."


Dia hanya melingkarkan jari jempol dan telunjuk di matanya.


"Son. Mbak ini mau BAB."


"Hem.... ya sudah. Ayo!"


"Son. Mbak-nya malulah kalau kamu yang ngantar. Biar aku saja. Lagian bagaimana dengan anaknya. Kamu gendong?"


"Ya sudah, cepat. Nanti si boss ke sini, tak ada. Kita yang jadi sasaran."


"Aku tahu."


Setelah di tempat yang tersembunyi. Mayasa mengeluarkan sebuah pistol kecil. dari balik bajunya. Sesaat Dinda kaget dan bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan Mayasa terhadapnya.


"Jangan takut, Kakak ipar. Pistol ini tolong Kakak bawa untuk jaga-jaga. Karena aku sudah tak bisa mengiringi lagi.


Silahkan lari sekencang-kencangnya ke sana. Disana ada perkampungan. Insya Allah kakak bisa aman di sana."


Dia menyerahkan pistol itu padaku. Rasanya tangan ini gemetar memegangnya.


Tapi tangan Mayasa menekan tanganku kuat agar segera menerimanya.


"Mayasa."


"Jangan khawatirkan diriku."


"Sekarang. Lari!" bisiknya.


"Tolong sampaikan maafku pada kak Zaidan."


"Ya, Mayasa."


Dinda pun berlari menurut arahan dari Mayasa. Sekitar seratus merer dari ia berlari. Dia mendengar seseorang memanggil dari balik pohon.


"Din, sini!"


"Kakak kok di sini!"


"Sudah jangan banyak tanya. Ikuti aku.


Anya biar aku gendong, biar cepat. Motorku 300 meter dari sini. Ayo cepat."


Dia segera mengambil Anya dari gendonganku. Kita berlari menembus gelapnya hutan yang mulai turun.

__ADS_1


__ADS_2