SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 46 : Dia Istriku


__ADS_3

Terima kasih ya Allah, telah engkau beri hambamu arah, kemana hendak melangkah. Cerita Anya memberi gambaran jelas siapa pelakunya.


Inikah yang selama ini membayangi putriku. Ketakutanan dan kegelisahan yang selalu menghiasi mimpi dalam tidurnya. Meski dia tak bisa bersaksi. Tapi dia telah memberikan bukti. Tentang apa yang dialami.


Zaidan diam, Lalu bangkit dari tepi ranjang, berjalan ke ruang kerjanya. Dengan segala angannya yang penuh dengan cerita dari putrinya.


Itukah yang sebenarnya terjadi.


Maafkan aku Zahara, aku tak mampu menjagamu.


Semoga orang yang telah membuatmu tiada dari sisiku, segera ditemukan. Do'amu Zahara, moga-moga putrimu menjadi kuat dengan adanya Dinda di sisinya.


Dia mencoba tenang, dengan apa yang didapatkan baru saja. Dan menyibukkkan diri kembali dengan rutinitas yang biasa ia jalani.


Sesekali dia melirik jam dinding yang ada di ruangannya. Dan menengok ruangan di sebelahnya.


"Ayah, Anya sudah cantik. Sudah siap mau ikut Ayah."


Teriakan dari putri kecilnya mengagetkan Zaidan yang tengah membereskan berkas-berkas laporan di mejanya.


Putri kecil itu terlihat manis dengan rambut yang dijalin setengah lingkar mengarah kebalakang. Dengan hiasan japit bunga dari bulu angsa di ujungnya.


"Masya Allah, cantik amat putri ayah. Moga-moga secantik hatinya. Sini mendekat, ayah mau kasih hadiah."Zaidan memanggilnya Anya dengan senyum yang mengembang lebar. Anya dengan riang menghamburkan diri dalam pelukan ayahnya.


"Hadiahnya dua, Ayah." jarinya yang mungil menyentuh kedua pipinya yang menampakkan lesung pipit.


"Oke,"


Zaidan jongkok untuk memberikan kecupan di ke dua pipi putrinya itu. Sambil melirik seseorang yang berdiri di pintu yang tadi dia tinggalkan. Terlihat senyumnya mengembang. menyaksikan kelucuan putrinya itu.


"Ada apa, Bunda ... mau hàdiah juga?" kata Zaidan menggoda. Langsung Dinda melototinya.


"Ya Bunda, Bunda juga harus dapat hadiah. Kan yang bikin ini, Bunda."


Dia menarik tangan Dinda ke arah ayahnya. Membuat Dinda kikuknya setengah mati tapi tak bisa berkutik dengan kemauan putrinya itu.


"Benar-benar putri ayah Zaidan.." guman Dinda lirih.


Zaidan tertawa lebar , tanda kemengan ada di pihaknya. Saatnya pembalasan. Salah sendiri tadi melarikan diri saat ku ingin menciummu. Ini malah putri kita yang yang membawamu padaku.


"Anya, bunda mau ke kamar mandi sebentar. Kebelet nich." kata Dinda sambil pura-pura menahan pipis. Anya melepaskan gandengan tangannya.


"Hemmmm ... lari lagi kau, Sayang." bisik hati Zaidan


Dinda segera masuk ke dalam kamar itu kembali. Hanya untuk mengambil tas kecilnya saja. Untuk beberapa saat dia bisa bersembunyi dari sentuan-sentuan Zaidan yang sering kali membuat hatinya berdebar-debar.


"Iiiiiiiiiyeeesssss..." sorak hati Dinda penuh kemenangan.


Lalu dengan tersenyum dia kembali lagi ke ruangan dimana Zaidan dan Anya berada tanpa beban


"Ayo, bunda juga sudah siap untuk pergi."

__ADS_1


Tanpa menoleh pada Zaidan yang terlihat senyum-senyum melihat sikap istri yang baru dinikahinya itu.


Dia pintar mengelak, kata batin Zaidan.


"Anya jalan duluan ya..." kata Zaidan.


"Oke ayah ..." jawab Anya riang.


"Bunda tolong bantu ayah sebentar, biar cepat selesai beres-beresnya." kata Zaidan tampak serius merapikan mejanya.


"Ya, Ayah." kata Dinda tanpa curiga berjalan mendekatinya.


Sekarang kamu tak bisa melarikan diri lagi.


Begitu Dinda telah berada dekat di sisinya. Segera dia raih pinggang Dinda. Sontak membuat Dinda terkejut. Lalu diangkatnya tengkuk Dinda hingga wajahnya menengadah dalam jangkauan wajah Zaidat. Tatapannya beradu karena teramat sangat dekat.


"Mas ...?!"


Belum habis rasa terkejutnya, bibir Zaidan telah mengecup bibirnya dengan lembut beberapa saat. Membuat detak jantungnya berhenti seketika. Lalu melepaskannya manakala dirasa rindunya telah terobati untuk mencium istrinya sejak tadi.


"Ayah, malu sama Anyalah." Wajah Dinda memerah. Menatap Zaidan dengan melotot.


"Anya udah pergi." kata Zaidan tersenyum puas. Satu kali lagi kecupan dia berikan di dahi istrinya. Lalu melepaskannya dengan rasa sayang.


"Sudah, ayo. Nanti Anya bingung cari kita."


Zaidan meraih tangan Dinda yang masih terbengong-bengong dengan apa yang Zaidan lakukan padanya barusan. Membuat Zaidan bertambah gemas.


"Aaawwuuuu .... Sakit juga cubitanmu, Sayang. Awas nanti malam."


Dinda dengan tenang melenggang pergi menyusul Anya. Meninggalkan Zaidan yang masih memegang pinggangnya, terkena cubitan sayang dari sang istri.


Tak lama kemudian, dia telah selesai membereskan mejanya, berjalan cepat menyusul Dinda dan Anya. Yang sudah hampir memasuki lift.


"Ayah datang ..."seru Anya senang.


Bertiga mereka memasuki lift dengan gembira.


"Oh ya. Sepertinya ayah melupakan sesuatu."


"Ya ... Ayah."kata Anya dengan mimik yang kesal.


"itu ...ayah tadi lupa belum memberikan hadiah pada Bunda."


"Iya ..." Anya tersenyum. Dinda melotot ke arah Zaidan. Orang ini selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan orang dech. Hati Dinda geram dibuatnya.


"Ayah harus memberikannya di pipi apa di dahi ... satu apa dua ya ..."tanya Zaidan serius pada putri kecilnya.


"Dua, Ayah. Di pipi ... biar sama dengan Anya."


"Baik tuan putri Anya." Muka Dinda langsung merah padam. Matanya semakit bulat melotot pada Zaidan. Tapi tetap senyum cool manakala Anya menatapnya.

__ADS_1


"Udah nikmati aja. Kenapa sih."bisik Zaidan sebelum menyentuh pipi Dinda dengan bibirnya.


Tangan Dinda sudah siap mencubit. Tapi dengan sigap Zaidan menggengamnya dengan erat. Dengan leluasa melancarkan aksinya. Membuat Dinda tak berkutik. Dia terkesima dengan sentuhan suaminya. Terlihat pipinya bersemu merah, menyembunyikan rasa malu.


Zaidan tersenyum bahagia dan bangga. Menang telak ....


"Putri ayah nggak takut kita ke rumah oma, kan?"


"Kan ada ayah, bunda. Dan Allah selalu bersama kita. Itu kan, yang ayah katakan tadi."


"Pinter dan shalihah putri ayah." sambil tangannya meraih putri kecilnya itu. Meletakkan dalam dekapannya.


"Lalu kalau bertemu tante Layla, bagaimana?


Bukankah Anya pernah bilang, Ayah nggak boleh dekat-dekat dengan tante Layla. Begitupun Bunda."


"Tapi bukan tante Layla ini," jawab Anya mantap.


"Anya yakin?"tanya Zaidan dengan penuh perhatian menatap Anya.


Anya menganggukkan kepala.


"Ayah bangga sekarang Anya sudah bisa melihat jelas."


Ada sebersit kecemburuan di hati Dinda, Akankah Zaidan akan luluh bila putrinya bisa menerima Layla. Mengingat Layla teramat gigih mendekati Zaidan.


Namun pikiran itu dibuangnya jauh-jauh manakala melihat kebahagian Anya dan Zaidan di depannya.


Akankah aku mengotori hatiku dengan prasangka yang tak perlu. Dan meragukan ikatan yang lebih kuat yang kami punya.


💎


Mobil yang dikendarai Zaidan berhenti tepat di sebuah rumah yang sangat megah milik keluarga Hendi. Yang saat ini ditinggali oleh keluarga Heydi, mami Layla.


"Assalamualaikum, Shaffa ..."


"Wa'alaikum salam, Kak ."


"Mana mami?"


"Ada di kamar, Kak."


"Kak. Itu siapa wanita yang sedang berjalan menggandeng Anya. Sambil bercanda-canda ceria gitu."


Zaidan tersenyum menoleh ke arah pandangannya Shaffa.


"Itu istriku. Ayo , kakak perkenalkan."


Shaffa terhenyak, tak sangka orang yang diidam-idamkan oleh kakaknya kini telah bersanding dengan wanita lain. Wajah Shaffa terlihat sedikit marah. Lalu berlalu dari hadapan Zaidan tanpa lagi punya keinginan untuk berkenalan dengan wanita yang kini merebut calon kakak iparnya itu.


Zaidan hanya menatapnya saja melihat Shaffa balik ke dalam rumah dengan wajah sedikit kesal. Atau marah ya....

__ADS_1


__ADS_2