SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 36 : Bukan Pak Aslam


__ADS_3

Mobil Zaidan berlahan meninggalkan rumahnya. Dengan diiringingi do'a orang-orang yang selama ini sudah dianggap keluarganya. Semoga diberi kelancaran dan kemudahan. Agar keinginan terpendam tuannya segera terlaksana. Dan kehangatan keluarga ini  akan bisa dirasa oleh putri kecil yang bernama Anya.


Senja telah beranjak petang. Tak lama malam datang menjelang. Langit berhias bintang bergelantungan. Menatapnya akan pesona cahaya yang dipancarkan, membangkitkan kerinduan pada keluarga yang ada di pelosok sana. Dalam angan seorang Aldo yang harus bertugas jauh dari orang-orang yang dicintainya. Demi panggilan jiwa seorang detectiv yang harus dijalaninya.


"Ma ... aku rindu."


Itu yang dia bisikan pada angin yang bertiup berlahan tanpa terasa. Menyentuh kulit ari dengan sisa hangatnya senja. Yang  menghilang dalam pelukan malam. Angannya berpacu menembus waktu. Agar bisikan hatinya tersampaikan pada belahan hati tertuju. Lama merenung mengisi waktu antara maghib dan isya dengan tilawah al Qur"an. Sebagai penyejuk kalbu. Dia nikmati sandiri suasana tenang ini, sambil bersandar di dinding musholla depan.  Pak Aslam dan pak Tata telah kembali ke posnya, setelah melaksanakan sholat berjama'ah bersamanya.


Setelah lewat isya' tengah malam ,  Aldo hendak kembali ke kamar. Sepintas melihat bayangan menuju ke ruang perpustakaan pribadi Zaidan. Lalu diam-diam dia mengikutinya. Dari balik pintu dia dapat menyaksikan orang itu membuka piano dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Sesekali menengok kiri kanan. Seakan-akan takut untuk diketahui orang. Setelah merasa aman, dia menutup kembali piano itu pelan. Sehingga tak ada bunyi yang ditimbulkannya.


Setelah dirasa aman, dengan tenang dia keluar. Dan menutup pintu ruangan. Tanpa menyadari ada seseorang berdiri di baliknya.


"Pak Aldi."


"Ya saya. Apa yang bapak sembunyikan? Berikan!"


"Maaf. Ini pak." pak Aslam memberikan bungkusan plastik berisikan kalung emas dengan liontin hati.


"Ini milik siapa?"


"Milik Zahara."


"Zahara, adikku. Istri pak Zaidan."


"Mengapa ada di tangan bapak?"


"Dia memberikannya padaku. Untuk hadiah pernikahanku. Sekaligus mahar untuk calon isteriku saat itu."


"Lalu, mengapa bapak sembunyikan di piano pak Zaidan."


"Aku ingin mengembalikannya. Karena aku tahu itu hadiah pak Zaidan pada Zahara saat ulang tahun pernikahan yang pertama."


"Mengapa tidak langsung dikembalikan pada orangnya. Pakai disembunyikan."


"Saat itu, lima bulan yang lalu. Aku dan istri sedang berkunjung ke rumah pak Zaidan. Sempat ingin menginap. Secara tidak sengaja istriku mendengar percakapan Zahara dan pak Zaidan membahas tentang hadiah pernikahan yang diberikannya."


Lalu pak Aslam diam sejenak menarik napas panjang, tersirat di wajahnya kesedihan yang sengaja dipendam.


"Rupanya isteriku baru menyadari, kalung itu bukalah dariku, melainkan milik adikku, Zahara. Saat itu juga Maryam ingin mengembalikannya. Tapi tak tahu harus bagaimana."


"Saat itu juga dia melepaskan kalungnya, dan meletakkannya di piano. Agar Zaidan bisa menemukan secepatnya. Karena Maryam tahu kalau tiap hari Zaidan akan memainkannya bersama Zahara dan putrinya."


"Hem ... aneh, kenapa Maryam tidak langsung mengembalikan pada Zahara."


"Kalau itu aku tahu. Memang begitulah sifat isteriku. Selain malu, nggak mau nambah masalah.


Jika dikembalikan secara langsung. Zaidan pasti akan tahu, kalau istrinya telah memberikan hadiahnya pada orang lain. Pasti akan merasa tidak dihargai oleh istrinya. Masalah lagi, dia tidak mau."

__ADS_1


Hingga saat malam hari, Maryam minta untuk pulang. Sehingga tidak sempat aku bertemu dengan Zaidan..


"**Kok."


"Ya, saat itu memang aku lagi ada urusan.  Maryam ku titipkan ke Zahara. Belum sempat bertemu Zaidan."


"Sekarang, kenapa diambil lagi?"


"Aku ingin mengembalikannya secara langsung."


"Bagaimana bisa tahu kalau kalung itu masih di sana."pikir Aldo, tapi dia tak berani memotong cerita pak Aslam


"Pada saat aku pamit pada Zahara, Zaidan tidak ada, dia sudah berangkat ke Kalimantan."


Sejenak pak Aslam berhenti cerita lalu menatap langit yang tidaklah sunyi dari hadirnya bintang-gemintang. Terlihat tatapannya kosong.


"Dua hari kemudian,  aku dapat kabar Zahara meninggal karena dibunuh. Apa salah adikku?"


Terlihat matanya berkaca-kaca. Sepertinya dia sudah tidak sanggup lagi meneruskan ceritanya. Lama kami terdiam. Kenangan itu seperti ... sangat menyiksanya. Mata terpejam dan wajahnya terlihat sendu.


Aku menjadi tak tega, untuk menanyainya lebih lanjut. Aku hanya bisa diam ' menunggu dia untuk bisa bercerita lagi. Agar bisa kuurai segera siapa dibalik terbunuhnya Zahara, isteri Zaidan yang pertama. Namun tak juga dia bicara.


Setelah cukup lama, kuberanikan diri untuk bertanya.


"Sebentar pak Aslam. Apakah selama ini bapak belum pernah bertemu dengan Zaidan."


"Mengapa?"


"Sebenarnya aku dan Zahara bukan saudara kandung. Tapi saudara tiri. Zahara anak dari Ayah dengan isterinya yang pertama. Sedangkan aku anak ibu dengan ayahku yang telah meninggal.


Semenjak lulus sekolah dasar aku sudah tidak ikut keluarga ibu. Aku memilih ikut nenek di kampung. Ya ... dekat kampung sini. Bukan karena aku tak suka ayahnya Zahara. Tapi aku lebih nyaman kalau bersama nenek. Jadi jarang bertemu.


Saat pernikahan Zahara, aku tak datang karena aku lagi ujian S2 di Bandung. Setelah itu aku melanjutkan S3 di Australia, sayangnya ayah sakit-sakitan dan menyuruhku untuk pulang. Untuk meneruskan perusahaannya yang hampir jatuh. Akhirnya menikah."


Aldo sedikit terkejut waktu mendengar bahwa pak Aslam memimpin sebuah perusahaan.


"Tadi bapak mengatakan memimpin sebuah perusahaan. Kenapa jadi satpam?"


"Oh ini. Tak bolehkah aku menjaga keponakanku?"


Lalu pak Aslam tersenyum. Kemudian melanjutkan ceritanya.


"Tiap hari aku ke kantor. Hanya kalau petang dan malam aku di sini. Pak Zaidan tahu itu. Bahkan dialah yang memulihkan perusahaan ayahku. Aku masih belajar padanya."


"Balik lagi ke kalung itu. Saya masih penasaran. Mengapa bapak ingin mengambil itu dengan diam-diam. Tidakkah sebaiknya terus terang pada Zaidan dan mengembalikannya." tanya Aldo menyelidik.


"Maryam baru menceritakan tentang kalung itu ... em ... em ... Tak sampai satu bulan yang lalu. Aku bingung bagaimana menyelesaikannya. Bagaimanapun itu barang kenangan Zaidan dan Zahara. Takut membuka kesedihannya. Aku putuskan untuk mengambilnya secara diam-diam."

__ADS_1


Terlihat wajah pak Aslam sedikit bersinar. Mungkin beban yang selama ini dipendamnya mulai terurai. Dengan bercerita pada Aldo secara terbuka.


"Maafkan saya pak Aslam, telah berburuk sangka sama Bapak. Tak sangka bapak telah melindungi keluarga ini dengan sangat baik. Sampai-sampai harus meninggalkan kenyaman bersama istri bapak."


Terlihat pak Aslam tertawa mendengar pernyataan Aldo.


"Saya mengerti pak Aldo. Itu pekerjaan bapak." kata pak Aslam, masih dengan senyumannya yang tulus.


"Maaf Pak. Ada telepon dari pak Zaidan."


"Silahkan," kata pak Aslam.


Lalu Aldo mengangkat telepon tersebut dengan gembira. Entah karena pak Aslam atau memang dari tadi sudah menunggu teleponnya Zaidan.


"Assalamualaikum .... Ada apa, Zai?"


"Langsungan. Benar-benar patas. Nglamar langsung nikah. Selamat pengantin baru." kata Aldo menjawab telepon dari Zaidan


"Jangan salahkan putrimu. Kamu senangkan!?."


"Ya ... Besok pagi habis sholat subuh aku ke sana. Kendaraannya?"


"Baiklah, aku ambil mobilmu yang lama."


"Oke ... oke .... Sekali lagi. Selamat ya ...."


"Waaalaikum salam."


Terlihat Aldo tertawa lebar. Seperti tidak bisa menahan kegembiraan yang dia rasakan. Pak Aslam yang memperhatikan sejak tadi menjadi terheran-heran. Ada apa dengan pak Zaidan?


"Ada kabar baik dari pak Zaidan. Dia sekarang sudah menikah."


"Alhamdulillah." sontak pak Aslam berteriak.


"Akhirnya keponakanku mendapatkan yang diinginkannya. Semoga itu jadi obat untuk selamanya."


"Amin..." ucap mereka serempak.


"Aku bisa kabari Maryam, nich."


"Sebentar. Bapak mau pulang sekarang?"


"Nunggu pak Zaidan pulang.Aku bisa minta seminggu 2 kali liburnya."


"**Kok?!"


"Kasihan isteriku yang akan melahirkan. Perlu suami siaga kan! Kemarin aku benar-benar kasihan dengan pak Zaidan yang harus mengurus semua sendiri. Meski tak bisa membantunya. Hanya sekedar menjaga keamanannya saja yang kumampu. Tapi sekarang sudah ada bu Dinda yang sangat sayang pada keponakanku. Aku jadi lega. Aku juga agak tenang menunggu Mariam yang akan melahirkan."

__ADS_1


__ADS_2