SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 50 : Hangatnya Senja


__ADS_3

Tak terasa, sudah seminggu peristiwa itu berlalu.Keadaan mami semakin hari semakin membaik. Tapi rasanya berat meninggalkan mereka.


Apalagi Shaffa sudah kelas Xll, lebih banyak waktunya di habiskan di sekolah. Siapa nanti yang menemani mami di rumah. Sendiri dengan mbak Asih. Kalau ada apa-apa bagaimana?


Atas pertimbangan itu, maka Zaidan memutuskan untuk sementara waktu, tinggal di rumah masa kecilnya itu,hingga waktu yang tak diketahui. Ya ... mungkin 1 bulan lagi. Setelah kami mengadakan resepsi untuk pernikahan ini. Kalau tak ada aral melintang.


Kenyamanan dan kemesraan kian terasa dalam keluarga mereka ini. Apalagi dengan adanya Anya. Keluarga ini semakin tampak bersinar dan ceria. Seperti yang terlihat di sore itu. Menikmati senja bersama di kebun belakang rumah yang penuh dengan buah-buahan.


"Bunda, kejar aku..." Terlihat Anya berlari mengelilingi pohon mangga arum manis yang sedang berbuah lebat.


"Anya, bunda sudah capek sayang."Dinda bersandar di bawah pohon itu. Membuat Anya berhenti. Dengan lesu dia menghampiri bundanya yang terlihat napasnya 'ngos-ngosan'.


"Ya, kena sekarang." Teriak Dinda meraih tubuh Anya dalam pelukannya.


"Bunda curang ah ..." Terlihat kebahagian di wajahnya yang manis, membuat Dinda makin gemas untuk mencium putri Zaidan itu.


Haydi yang duduk di kursi santai di belakang rumah, terlihat bahagia melihat menantu dan cucunya sedang bermain-main. Tampak senyumnya merekah.


"Anya, coba lihat ke sini. Mangganya oma kelihatannya banyak yang masak. ร€mbil galah yuk ... kita ambil mangganya."


"Asyik ..."teriaknya sambil berlari bergandeng tangan dengan Bunda Dindanya, mencapai galah yang tersandar di tembok pojok rumah.


"Itu, Bunda." Tak henti-hentinya Anya menunjuk buah yang terlihat bergerombol bergelantungan.


"Itu belum matang, Putri bunda. Ini saja sudah cukup."


"Kita kupas untuk oma ya ..."


"**Oke ." sambil membantu membawa beberapa biji buah mangga ke hadapan Haydi yang menyambutnya dengan gembira.


"Mbak Asih. Boleh ambilkan pisau dan piring?"


"Baik, Mbak Dinda."


Dinda segera mengupas beberapa biji dan menyuruh Anya untuk memberikannya pada omanya.


"Manis, Oma. Makan ya ..."


Haydi tertawa saja menyaksikn cucunya makan buah mangga dengan lahapnya.


Hanya disisakan sedikit untuk Haydi.


"Jangan banyak-banyak. Sayang sama perutmu."


"Ya, Oma. Tapi Oma harus cicipi juga."


Tanpa disadari oleh mereka ada sepasang mata yang menyaksikan kebersamaan ini dengan gembira. Kucari-cari di dalam tak kutemukan, ternyata mereka di sini.


"Assalamu'alaikum ..." Dinda dan Anya menoleh.


"Wa'alaikum salam ... Ayah pulang." teriak Anya, turun dari tempat duduknya. Menghampiri Zaidan. Dia mendapatkan dekapan dan kecupan di pucuk di kepalanya. Seperti yang biasa dia dapatkan.


"Ternyata kalian di sini. Ayah juga mau dong ... mangganya." Dinda tersenyum lalu meraih tangan Zaidan untuk bersalaman dan mencium tangannya. Zaidan menghadiahinya padanya seperti didapat oleh putrinya. Dekapan dan kecupan di pucuk kepala


"Bolekah Mas dibawakan mangga dan air putih ke kamar."


"Boleh."jawab Dinda yang tanpa sadar berucap manja. Zaidan hanya melirik tanpa dia tahu.


Zaidan segera berlalu ke dalam rumah. Diikuti Dinda dengan membawa napan berisikan segelas air putih dan sepiring kecil buah mangga. Meninggalkan Anya dengan omanya.


Zaidan sampai terlebih dahulu ke dalam kamar. Duduk sejenak di tepi ranjang, melepas dasi yang semenjak pagi melingkar di lehernya.


"Sayang, kunci pintunya."


"Kok ..."


"Ya malu dong ... mas kan mau ganti."Kata Zaidan


"Sayang, aku haus."


Dinda memberikan segelas air putih yang tadi dibawanya. Lalu Zaidan meminumnya dengan bantuan Dinda karena tangannya sedang sibuk melepas kancing baju.


"Kulihat kamu juga haus. Minumlah." sambil mengambil gelas itu dari tangan Dinda. Dan membantunya minum. Zaidan tersenyum. Lalu dia melanjutkan minumnya dengan memutar-mutar gelas mencari bekas bibir Dinda, minum dari gambaran bibir Dinda di gelas. Membuat Dinda tersipu.


"Humaira Sayang, jadi kangen sama kamu. kalau melihat pipimu seperti ini."Dengan lembut Zaidan mengangkat dagunya. Dan meraih bibir Dinda dengan mesra. Gairahnya bangkit manakala mendengar detak jantung Dinda tak beraturan.


"Engkau yang membuat mas pingin segera pulang. Sayang."


"Tak apa-apa kalau saat ini mas minta ..."Zaidan tak inginkan jawaban dalam kata. Tatapan sayu Dinda telah membangkitkan hasratnya.


Tapi Dinda pun tak bisa memberikan jawaban. Dinda terlalu sibuk dengan degupan yang bergetar bertalu-talu dalam dadanya. Hingga dia membiarkan tangan Zaidan membelainya dengan kelembutan. Yang mampu menghanyutkan angannya, ke mana arah hasrat cinta Zaidan membimbingnya.


๐Ÿ’•๐Ÿ’–๐Ÿ’—


"Terima kasih ,.Sayang."


3 kecupan untuk akhir yang indah. Dalam nuansa senja yang melukiskan kehangatan ikatan cinta.

__ADS_1


Kesegaran air yang membasahi tubuh telah menyapu lelah yang membawa bahagia.


"Humaira, nggak keberatan kan, jika harus tinggal di sini dulu sama mami."


"Mengapa aku harus keberatan, Mas."


"Terima kasih, Sayang."


""Tapi, bolehkah aku sesekali ke restaurantku."


"Boleh."


"Kuliah"


"Boleh banget, Sayang."


"Kapan masuk?"


"September."


"Kapan mau belajar naik mobil, nich?"


"Nggak berani..."


"Istri Zaidan kok nggak berani naik mobil. Malu dong!"kata Zaidan dengan lirikan menggoda, " Kalau pakai mobil urusanmu bisa lebih cepat selesai."


"Ehhmmm ..."


"Kalau gitu sekarang aja, mas ajari."


"Anggap saja sebagai hadiah dariku untukmu hari ini. Ayo ..."


"Baiklah."


"Sambil kita jalan-jalan. Aku tunggu di garasi."


"Ya, Mas. Aku panggil Anya dulu."


"Ho oh ...."


๐Ÿ’Ž


"Anya tenang ya ... biar Bunda bisa konsentrasi."


Dengan patuh Anya mengikuti perintah bundanya. Duduk dengan tenang menyaksikan bunda Dinda belajar.


Akhirnya ...


"Alhamdulillah ..."


"Kita ke restorant bunda yuk!"


"Sudah sekarang ayah yang menyupir, kita jalan-jalan."


"Asyik ..."Teriak Anya.


"Mas, bukankah itu Layla. Mengapa dia ada di restaurant kita."


"Nunggu seseorang."


"Syukurlah kalau dia sudah membuka hatinya. " kata Dinda.


Zaidan hanya senyum-senyum saja. Andaikan itu benar , dia akan bahagia. Karena itu tugasnya sebagai kakak.


"Yok kita samperin tante Layla!"


"Ayo ...."


Bertiga mereka turun dari mobil memasuki restaurant mereka.


"Tante ..."


"Lho kok Anya di disi, sama siapa?


"Ayah, Bunda. Tuch."


"Sudah datang Layla."


"Belum, tapi katanya sebentar lagi."


"Siapa, Mas?"


"Sudah jangan curigaan gitu."


"Kamu kok nggak pesan makanan?"


"Nunggu yang bayarin. Salahnya sendiri ajak-ajak."

__ADS_1


"Kalian mau menu apa, nanti kakak bikinkan."


"Lho , ini restaurant kakak?"


Dinda tersenyum dan mengangguk.


"Kita minum jeruk saja, Bunda. Masakannya kita bawa pulang saja."


"Ya . Aira."


"Oh mbak Dinda."


"Bikinkan minuman es jeruk dan juga bawakan es krim satu ya..."


"Ya, Mbak."


"Ada es creamnya." tanya Zaidan.


"Ya ..."


"Sepertinya kita harus ke atas dech. Itu dia sudah datang."


Zaidan mengajak Dinda berlalu dari tempat itu. Ketika dia melihat rekan kerjanya yang tadi pagi datang ke kantornya, tengah berdiri di pintu masuk. Tengok kesana-kemari seperti mencari seseorang.


"Ah .... kamu di sini , Mayasa."


Mayasa ... mengapa dia menyebut Layla dengan panggilan Mayasa. Siapa dia ....


Dinda mengeryut dahi.


"Pak Zaidan juga di sini!"


"Ya mampir. Perkenalkan ini Istri dan putriku."


"Maaf, saya sudah salah sangka terhadap Bapak."


"Tak apa. Ya sudah ... saya tinggal dulu." kata Zร idan sambil melangkah, berlalu dari hadapan mereka.


"Kakak ..."Layla berteriak lirih.


Zaidan hanya menatapnya Layla sesaat. Lalu meninggalkannya begitu saja. Seolah tak kenal.


"Mas, ada apa?"tanya Dinda yang merasakan seperti ada sesuatu yang sedang direncanakan suaminya itu.


"Makan dulu es creamnya, Sayang."dia mendengar perkataan Dinda sambil mencoba menyuapi putri kecil dengan kasih sayang.


"Tidak ada apa-apa, Humaira." Lalu diusapnya pipi Dinda dengan lembut.


Dinda dapat merasakan kegelisahan suaminya dari sentuhan dan tatapan matanya.


"Cukup Mas kehilangan sekali saja. Jangan sampai kali ini ada korban lagi. Aku mohon jaga dirimu dan putri kita."


"Sudah cukup Zahara yang jadi korbannya."


"Biarlah ini jadi urusan Mas. Tapi maaf kalau mas melibatkan Layla dalam masalah ini.


Kamu masih ingat apa yang diceritakan putri kita."


Dinda mengangguk. Hatinya teriris sedih bila mengingat apa yang diceritakan Anya saat itu.


"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Layla."


Zaidan mengeluarkan hp-nya .


"Assalamu'alaikum ... Aldo."


"Wa'alaikum salam ... Wah gimana pengantin baru."


"Sudah bercandanya."


"Ada apa?"


"Kapan balik nich .."


"Baru satu minggu juga."


"Cukuplah. Besok balik!"


"Ada perkembangan baru."


"Nanti saja aku ceritakan. Kalau bisa malam ini juga."


"Oke."


"Aku tunggu. Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam ...."

__ADS_1


Layla bergelang tangan rantai putih dan bergambar kupu-kupu.


Mayasa kah? ....


__ADS_2