SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 59 : Kak Aris


__ADS_3

Zaidan kembali lagi ke ruang dimana Anya dirawat. Dia tersenyum mendapati Dinda sedang tidur memeluk Anya.


Lama, dia memandang orang yang mengisi hari-harinya dengan kecerian.Yang hampir saja dia putus asa ketika kemarin sulit ditemukan.


Dia lalu mencium putri dan istrinya secara bergantian.


"Uuuaaaaghhhhhh .... ih ... ayah."


Tak sangka putrinya itu menggeliat dan membuka mata.


Dia tak tahan untuk meraih dan memeluknya.


"Putri ayah bangun."


"Ayah, ini dimana?"


Zaidan hanya tertawa.


"Bunda kok cantik banget kaya Anya,"


Zaidan dibuat geli dengan perkataan putrinya.


"Bangunin, yuk!"


"Jangan ... kasihan. Bunda capek."


Tak ayal tangan jahil putrinya, menggoyang-goyangkan hidung Dinda. Seperti kalau Zaidan mempermainkan hidungnya bila gemes.


Dinda merasa geli hingga dia membuka mata,


"Putri bunda, sudah bangun rupanya ..."


"Bunda cantik banget."


"Oh ... ya?!"


kriiiiiuuuuukkkkk ....


"Bunda, di sini nich ... yang bunyi."


Sambil menunjuk perutnya..


Untunglah, tak lama Shaffa dan Layla masuk membawa beberapa kotak. Sepertinya makanan. Mata Anya terlihat berbinar-binar.


"Itu, tante Shaffa ama tante Layla, bawa apa ya...?"


"Hai putri kecil, sudah bangun rupanya. Nich tante bawakan kesukaanmu."


4 kotak makanan mereka letakkan di hadapan nya. Membuat Anya kegirangan


"Asyiiiik ....."


Tak sabar dia membuka kotak itu. Zaidan dan Dinda hanya tertawa menyaksikannya.


"Wah kita nggak dibagi, Anya." Ayah Zaidan melonggo melihat tingkah putrinya.


"He ... he ... boleh, tapi jangan dihabiskan lho." sambil menyerahkan 1 kotak untuk ayahnya.


"Bunda?"


"Ya, Bunda. Ini untuk bunda." Menyerahkan satu kotak lagi ke bunda Dinda.


"Tante?"


Melihat miliknya hanya tinggal 2, dia terlihat bingung. Tantenya ada 2, berarti habis dong ... pikirnya.


Terlihat wajahnya cemberut.


"Anya nggak kebagian, dong." katanya sambil merajuk.


"Sudah dimakan saja." jawab ayahnya tersenyum.


Dengan riang dia membuka kotak itu, lalu melompat kegirangan.


"Wow ... pizza, dan ini ayam goreng kesukaan Anya."


Mereka memakan makanan tersebut dengan lahap. Hingga tak tersisa.


"Bagaimana, kita tidur di sini, atau pulang?"


"Pulanglah, Ayah."


"Baiklah, bersiap-siaplah. Ayah akan bereskan dulu administrasinya."

__ADS_1


"Layla, bagaimana keadaan Alfath."


" Alfath, ada apa dengan kak Alfath." Dinda memandang Zaidan dan Layla bergantian.


Zaidan hanya tersenyum. Tak mungkin dia menceritakan keadaan Alfath saat ini. Takut Dinda akan lebih syok.


"Tak ada apa-apa. Dia bersama Aris."


"Ya, sudah."


"Shaffa ajak kakak ipar ke depan dulu."


"Ya, Kak."


Dinda merasa ada yang disembunyikan oleh suaminya dan juga Layla. Tapi dia tak berani berfikir terlalu jauh.


"Baiklah, aku bersiap dulu, Shaffa."


Setelah merapikan semuanya, dia mengikuti Shaffa menunggu di depan, bersama dengan Anya yang masih sibuk dengan pizzanya. Mungkin karena 2 waktu makan terlewat, hingga dia amat kelaparan.


Setelah Zaidan membereskan administrasi, dia kembali ke dalam. Menemui Alfath yang sedang menahan perih bahunya.


"Kak, terima kasih."kata Zaidan


"Bagaimana Dinda,"


"Masih syok."


"Alhamdulillah sudah kembali. Aku titip adikkku. Jaga baik-baik."


"Ya, Kak. Aku tak bisa memberitahukan kalau kakak si sini."


"Tak apa."


"Aris, makasih juga. Telah menjaga Layla."


"Sama-sama."


"Hai, mana Layla?"


"Itu ..."


"Layla mengapa kamu di bengong di situ."


"Nggak apa-apa, Kak. Acara cowok, nggak enak aku ngeganggu."


Dia malah cemberut, sambil menatap Aris.


Zaidan jadi terbengong-bengong melihat tingkah adiknya yang satu itu.


"Ris, ada apa."


Aris hanya tertawa saja melihat Layla yang agak centil dan manja itu.


Alfath tersenyum penuh arti, sambil matanya melirik pada Aris yang cuwek gitu.


"Bereskan urusan kalian berdua, geh. Aku nggak mau ada masalah sama sahabatku." kata Zaidan, sambil menatap Aris dengan sebelah matanya.


"Nggak ada apa-apa, Zey."


Akhirnya Aris menuruti perintah Zaidan, menghampiri Layla dan mengajaknya menjauh dari kamar Alfath.


"Layla, jangan gitu dong. Aku nggak enak sama kakakmu."


"He ... he ..."


"Malah ketawa."


"Nggak apa-apa, kan. Kalau meminta mengantarku keluar."


"Panggil aku hanya minta diantar keluar?! Memang di sini ada hantu. Sampai-sampai nggak berani berjalan sendiri."


"Kalau berjalan sama kamu, jadi nyaman dech."


"Hem ... Layla."


"Maaf, Kak Aris. Aku nggak bermaksud begitu."


"Kakak ?!" Aris terhenti sejenak dari jalannya. Mendengar Layla memanggilnya Kakak.


"Tak boleh aku memanggilmu kakak."


"Bukannya begitu, Bu Layla." jawab Aris dengan tersenyum ringan. Rasanya dia ingin menggoda adik bossnya itu.

__ADS_1


"Aris ?!"


Dengan gemas Layla memukulkan tas kecil yang dibawanya ke tubuh Aris.


Secara spontan dia menangkap tangan Layla untuk mencegah tas itu mendarat di tubuhnya. Menyebabkan Layla sedikit terpelanting, dan akan jatuh.


Syukurlah Aris bisa menangkapnya dengan tangannya yang lain. Lalu meraihnya dalam pelukan. Sejenak mereka terpaku.


Lalu berlahan Aris melepaskan Layla.


" Maaf, Layla."


"Aku yang seharusnya minta maaf, Kak Aris."


"Baiklah, kamu boleh memanggilku apa saja."


"Terima kasih, Kak."


Ingin Layla memeluknya. Namun dengan segera Aris menjauh darinya.


"Tak halal, Layla."


"Baiklah, Kak. Bimbing aku agar aku pantas untukmu."


Layla, sudah lama aku menaruh harapan padamu. . Tapi pandanganmu hanya tertuju pada kakakmu. Hingga aku menyimpannya untuk beberapa waktu. Apakah saat ini, waktu yang tepat untuk ungkapkan rasaku padamu ....


"Bagaimana aku membimbing adik bos?"


"Sesuai dengan hatimu,"


""Aku nggak mau mempermainkan hati."


"Maksud, Kakak?"


"Kakak nggak bisa jawab sekarang. Aku ingin yakin pada hatiku dulu."


"Aku menunggu, Kak."


"Kabarnya kamu mau ke Australia. Benarkah itu?"


"Benar ..."


"Berarti, kalau seumpama aku jawab sekarang, aku harus nunggu dong ..."


"Itu berarti ... kakak bisa ...."


"Bisa apa, Layla ...?"


"Bisa menerima Layla."


Aris terdiam lama menatapnya. Tak memberikan jawaban. Meski ingin dia mengungkapkan kata hatinya. Rasanya masih berat ....


Apakah secepat inikah Layla akan berubah. Ataukah karena keikhlasan yang ia miliki, hingga dengan mudah, hatinya beralih arah.


Aku memang sangat mengharapkannya. Tapi ....


"Layla, kakak sangat cemburu bila rambut indahmu terlihat orang."


"Terima kasih, Kak. Atas sarannya. Bimbing aku untuk itu.."


"Kewajiban, Layla. Setidaknya lakukan itu untuk dirimu atas kewajibanmu."


"Apa dengan itu, Kak Aris bisa menerimaku."


"Bukan, hatimu yang akan membibingmu padaku. Itu yang menyebabkan hati ini selalu bisa mengingatmu."


"Aku tak tahu kalau selama ini kakak menyimpannya untukku."


"Sudahlah, apakah kamu sudah yakin tentang hatimu?"


"Aku tak mengerti maksud Kakak apa. Tapi aku akan belajar untuk itu."


"Jangan jadikan kakak sebagai pelampiasan hatimu yang rapuh. Aku ingin kamu bisa menata hatimu dulu sebelum nyatakan itu padaku. Aku menunggu."


"Mungkin dengan kita terpisah, kita akan tahu dengan jelas penantian ini untuk apa."lanjut Aris menatap teduh Layla yang mulai terisak.


"Udah, Ah ... jangan nangis melulu."


"Kak Aris yang bikin Layla nangis."


"He .... he ."


"Layla coba akan menata hati dulu, Kak. Maafkan atas sikapku."

__ADS_1


Aris mengangguk.


Kutunggu Layla, cahaya di matamu.


__ADS_2