
Zaidan berlahan meninggalkan kediamannya yang ada di daerah pedalaman. Terletak di tengah-tengah persawahan. Hampir 2 minggu ini tidak pernah dia kunjungi.
Dalam pikirannya, berkecamuk bayangan tentang Mayasa. Satu anggota keluarga yang baru ditemukan.
Bagaimana ia akan menjelaskan pada mami Haydi dan juga Shaffa. Yang sama sekali tak pernah mereka ketahui selama ini.
Hingga tak terasa dia telah sampai di depan rumah Haydi. Disambut Dinda dan Anya. Mereka tengah bermain-main di beranda dengan asyiknya.
"Ayah pulang." Anya berlari mendekatinya.
Melihat putrinya menghampirinya, Dia merentangkan tangan dan meraihnya. Lalu memeluknya dan memberi ciuman di pucuk kepalanya.
Lalu mengeluarkan kue coklat kesukaannya. Tak ayal membuat Dinda cemberut.
"Ayah, kok coklat lagi tho, Nanti giginya lho."
"Ah sekali-kali tak apalah. Jangan lupa sikat gigi ya ...." Dia masih asyik bermain dengan putrinya. Anya senang sekali, dia memeluk ayahnya sekali lagi, sebelum berlari meninggalkan ayah bundanya untuk bersama.
Mereka berjalan beriringan memasuki rumah. Dinda membantu membawakan tas suaminya hingga ke kamar mereka.
"Humaira sayang. bisa bantu lepasin ini."
Dengan terseyum, Dinda menghampiri Zaidan dan membantu melepaskan dasi yang melingkar di lehernya. Zaidan menatapkan intens wajah Dinda.
"Sepertinya ada yang terlupa dech."
Dinda hanya tertawa kecil. Dan jemarinya sibuk dengan dasi itu. Sedangkan Zaidan melepas kancing bajunya satu persatu.
"Apa ya ..."
Tiba-tiba Dinda mencium bibir Zaidan. Namun hanya sesaat lalu melepaskan lagi. Membuat Zaidan terkesima. Tak biasanya ....
Padahal dia hanya lupa untuk memeluk dan mengecup pucuk kepala, yang biasa dia lakukan.
"Hem ..., Sayang. Sejak kapan kamu seperti ini."
Yang ditanya hanya tersenyum, sibuk menyembunyikan pipinya yang mulai memerah.
"Udah, Mas. Mandi ... biar seger," sambil menyerahlan selembar handuk pada suaminya.
"Tidak ... tidak. Mas mau penjelasan."
Zaidan meraih tubuh istrinya, menjatuhkan dirinya di ranjang. Hingga mereka sama-sama terjatuh. Lalu balik mencium bibir istrinya intens. Membuat Dinda sulit bernafas.
"Oke ... oke, Dinda jelasin. Tapi tolong lepasin. "
"Tak akan."
"Mas baauuuk, lepasin." Dinda meronta memukul dada Zaidan.
"He ... he ..." Tangan Zaidan masih memegang erat pinggang istrinya. Tak ingin melepaskan Dinda dari dekapannya.
"Baik, Mas ." sejanak Dinda mengambil napas,
"Kenapa beberapa hari ini, Mas sering pulang telat."
Tak ayal kata-kata yang keluar dari bibir istrinya membuatnya tertawa.
"Ah ... ternyata istriku sedang cemburu,"
Zaidan dengan lembut membuka kerudung, yang sudah berantakan dari kepala istrinya.
Lalu membelai wajahnya dengan satu jarinya.
Ingin tersenyum tapi ditahannya. Lalu dia meraih kepala Dinda, mendekap di dadanya.
"Maafkan mas. Selama ini tak cerita."Dengan lembut dia mencium rambut istrinya.
Berlahan Zaidan bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar di tepi ranjang. Tak lama Dinda mengikuti. Duduk di sisinya sambil menundukkan kepala. Membuat Zaidan kesulitan untuk menatap wajah istrinya.
Rasanya tak puas, bila bicara tidak melihat wajah istrinya secara langsung. Zaidan merebahkan kembali kepalanya di pangkuan Dinda.
__ADS_1
Dinda yang melihat Zaidan bersikap manja, membiarkannya. Bahkan dia menikmatinya. Dapat bebas bermain-main dengan rambut suaminya.
"Humaira sayang, Kamu ingat Mayasa." kata Zaidan penuh kelembutan.
Namun tak sangka membuat tangan Dinda bergetar. Zaidan yang merasakan itu, meraih kedua tangan Dinda, dan meletakkanya ke atas dadanya. Sedangkan tangan yang lain mengusap pipi Dinda.
Zaidan menungggu ....Hingga Dinda mampu membuka suara.
"Mas tahu keadaannya sekarang, apakah dia selamat?"
"Alhamdulillah, dia selamat. Hanya banyak cedera di tubuhnya. Mas nggak tega."
"Lalu ...."
"Tiap hari mas selalu menyempatkan tengok dia di rumah sakit."
"Apakah sekarang masih di sana?"
"Hari ini dia sudah pulang."
"Dia tinggal di mana?"
"Apakah Humaira ingin berjumpa?"
"Aku ingin ... tapi bagaimana dengan Anya?"
"Aku tak tahu ..."
"Satu sisi Mayasa telah melukai hatinya, satu sisi dia juga yang menyelamatkan jiwanya."
"Rumit ... Seperti itu juga hati mas sewaktu menjumpainya." Tak terasa air mata Zaidan keluar. Meraih kedua tangan Dinda, menyatukan dengan kedua tangannya. lalu meletakkan di dadanya. Dalam tangisnya yang lirih dia berbisik,
"Dia adik mas yang hilang. Bila mas dulu dalam pengasuhan yang benar. Sedangkan dia dalam pengasuhan yang salah."
"Tapi mas sudah memafkannya, kan?"
"Mas berusaha, meski itu berat."
"Terima kasih, Humaira sayang." sejenak terdiam. Lalu berkata,"Tolong ambilkan hp-nya mas."
Dengan satu tangan, Dinda meraih benda pipih itu, Yang terletak di atas meja kecil di sisi ranjangnya. Memberikan pada Zaidan, yang masih berbaring dalam pangkuannya.
"Terima kasih, Sayang."
Dia membuka galeri dan menunjukkan beberapa foto Masaya yang sedang berbaring di rumah sakit, dan juga dia yang sedang berada di kursi roda.
Dinda mengambil napas panjang.
"Mas, sebenarnya selama penculikan berlangsung, dia sudah banyak berkorban untuk kami."
"Ya ...mas melihatnya."
"Sekarang dia dimana?"
"Mas tak mau kehilangan saudara lagi. Mas membawanya ke rumah mas yang ada di tengah sawah itu. Tak mungkin, mas bawa ke sini. Karena mas belum bisa menjelaskan pada mami, Layla maupun Shaffa."
"Rencana mas selanjutnya?"
"Bagaimana kalau kita berkunjung beberapa hari di sana?"
"Boleh. Moga-moga Anya juga senang kembali ke sana. Insya Allah tak akan mempengaruhi Anya. Karena dia sudah berbeda." Senyum Dinda mengembang.
"Terima kasih, Humaira. Tanpamu mas akan larut dalam kerapuhan."
Kata-kata itu membuat Dinda tertawa lepas.
"Gomballll ..."
Dinda menyentuh bibir Zaidan dengan telunjuknya. Zaidan tertawa menikmati sentuhan istrinya.
"Yang digombali juga senang,"
__ADS_1
Dia segera meraih tengkuk Dinda. Dan mendekatkan wajahnya pada wajah Dinda yang tertawa.
Seketika tawanya terhenti. Ketika dilihatnya Zaidan telah bangkit dan meraih tubuhnya .
Membuat jantung Dinda terhenti, aliran darahnya berdesir. Antara keinginan dan ketakutan menyatu dalam rindu. Menatap wajah Zaidan yang penuh hasrat kasih dalam bercinta.
"Bikin mas gemes. Tanggung jawab!"
Tak segan Zaidan mendaratkan ciuman pada bibir istrinya, yang semenjak dia datang, telah menggoda hasratnya tuk bercinta.
💕💕💖💖💗💗💗
Lelah jiwanya telah menyatu
Hasrat hati memelukmu dalam manja
Larut dalam hembusan rindu berpaut kasih penuh cinta
Di sisimu biarkan diriku ungkapan semua tanpa sisa
Karena inilah yang kupinta padaNya
Saat engkau hanya berupa bayangan semata
Biarlah nyatamu berlari bersamaku
Melewati masa indah menjaga ingin dari dosa
Dalam gemgaman untaian do'a dan keridhoan
Hingga meraih bahagia untukmu, untukku dan untuk kita.
💕💕💖💖💗💗
"Bagaimana, Bunda Anya?"
"Ya ... ya ... Dinda nggak akan goda lagi."
"Tapi mas tambah suka kalau kamu yang goda."
Dinda segera mendaratkan cubitan kecil di pinggang Zaidan.
"Bunda ...."
"Ayah sich ... selalu bikin bunda marah."
💎
Dinda membereskan kamarnya yang berantakan. Mengganti sprei, mengumpulkan pakaian-pakaian kotor. Hingga tak tahu kalau pintu kamarnya diketuk. Baru sadar ketika akan ke kamar belakang untuk meletakkan pakaian-pakaian kotor itu.
"Bunda, ini Anya."
Dinda segera membuka pintu begitu mendengar pintu diketuk.
"Ada apa putri bunda."
Dia melihat putri cilungan mencari seseorang.
"Ayah mana?"
"Sebentar masih mandi."
"Tante Layla dan tante Shaffa menunggu di ruang musik."
"Oke, nanti bunda sampaikan."
"Jangan lupa bunda juga ya ...."
"Ya, sayang."
Anya berlalu dari kamar itu dengan riang. Sedangkan Dinda dibuat terbengong-bengong .
__ADS_1