SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 86 : Gagal


__ADS_3

Haydi dan Zaidan saling berpandangan.


"Maaf paman. Mengapa sejak awal kakek meninggal, paman tak pernah menyampaikannya. Apalagi itu soal wasiat."


"Belum saatnya, Zai."


"Memangnya kakek berwasiat apa?"


"Maafkan kakak, Haydi ... sekali lagi maafkan kakak."


"Maksud kakak apa sich, Haydi benar-benar nggak ngerti .... Dari tadi kakak minta maaf melulu."


"Ini menyangkut putrimu."


"Maksudnya?"


Dahinya berkerut. Dan matanya sedikit melotot. Membuat Handoko agak tertunduk. Ditambah Zaidan yang menatapnya penuh selidik.


"Nggak usah bertele-tele, Haydi ingin menyiapkan untuk acara putri-putri haydi, Kak"


Akhirnya mau tak mau dia mengatakannya juga.


"Dulu ayah punya teman dekat, namanya pak Wibisono. Keduanya ingin menjalin hubungan kekeluargaan."


"Perjodohan maksud kakak?" rupanya Haydi tak mau mendengar lama-lama apa yang mau dikatakan oleh Handoko. Karena sejak awal Handoko datang, Haydi merasa ada sesuatu yang disembunyian. Dan itu tidak baik.


"Iya ."


"Tak mungkinlah, Kak. Layla nanti malam sudah lamaran. Masak mau di urungkan. Itu akan menyakiti keluarga calonnya."


"Lalu bagaimana dengan wasiat papa?"


"Masalah itu aku nggak ngerti dech, Kak. sebaiknya jangan Layla. Dia sudah punya, bahkan rencananya mau barengan dengan Zaidan resepsinya."


"Secepat itukah?"


"Ya, Kak. Nggak ribet."


"Tapi, yang diinginkan hanya Layla."


"Ada-ada saja. Kenapa nggak pernah datang. Malah kakak yang seperti maksain."


"Kakak nggak maksa. Tapi Haydi ... ini wasiat."


"Maaf paman. Aku nggak bermaksud ikut campur. Adakah saksi saat membuat wasiat itu?"


Handoko terdiam lama, takut kalau rencananya ketahuan.


"Assalamu'alaikum ...." Layla masuk ke dalam rumah, dengan didampingi oleh Aris.


"Layla, kebetulan kamu datang."


Handoko segera meraih tangan Layla dan mendudukannya di kursi.


"Ada apa paman. Mengapa semua berkumpul?"


Haydi sangat gelisah. Tak pernah terlintas sedikitpun akan mendapatkan masalah seperti ini. Berkali-kali dia melihat Zaidin untuk meminta pertimbangan.


Zaidan yang sudah sejak awal merasa ada suatu yang janggal. Hanya bisa mengikuti saja, tak berani campur tangan terlalu jauh.


"Aris, jangan pulang dulu." ujar Zaidan.


Menghentikan langkah Aris yang hendak meninggalkan tempat itu.


"Siapa dia?"


"Calonnya Layla."jawab Haydi


"Dia tak ada urusan dengan masalah ini."


Handoko terlihat tak senang dengan kehadiran Aris ditengah-tengah mereka.


"Sudah ... sudah ... ada apa ini. Tolong beri tahu Layla bila memang berhubungan dengan Layla."


Handoko segera berlutut di hadapan Layla. Meraih kedua tangannya.


"Maafkan paman, Layla."

__ADS_1


Dia berdiam beberapa lama. Sambil menampakkan wajah sendunya. Berbicara berlahan seolah-olah sedih.


"Bisakah kamu ikut paman."


"Maksud paman apa?"


"Nanti kamu akan tahu."


"Tak bisa, Paman."


"Mengapa?"


"Haruskah aku tak di rumah. Sedangkan nanti malam aku sedang dilamar."


Jawaban Layla yang polos, membuat semuanya tersenyum. Kecuali Handoko.


Zaidan menyenggol Aris, yang duduk di sampingnya. Aris tertunduk malu dengan hati berbunga-bunga. Tak lupa Zaidan memberi tanda jempolnya pada Layla, meski dengan sembunyi.


Tapi rupanya Handoko belum juga menyerah. Kembali dia meneruskan sandiwaranya.


"Tak inginkah kamu melaksanakan wasiat kakekmu?"


"Wasiat?"


"Wasiat yang baik untukmu dan keluarga kita."


"Langsung intinya, Paman."


"Sejak kecil kamu sudah dijodohkan dengan putra teman kakek. Putranya bapak Wibisono."


"Sebentar paman. Maksud paman Arya Wibisono?"


"Ya. Itulah orang yang dijodohkan dengan Layla."


"Kamu kenal, Zay?"


"Sedikit."


Zaidan tidak habis pikir.


Masak paman tega menyerahkan keponakannya pada laki-laki yang tidak baik seperti itu. Mana pacarnya dimana-mana. Dan ada diantaranya sudah dihamili, tak juga dinikahi.


"Bagaimana, Zay?"


"Aku sama sekali tak setuju, Mam."


"Tapi ini masalah wasiat."


"Paman ada saksi?"


"Sayangnya yang tahu saat ini sudah meninggal, bibimu."


"Apakah Mommy Ana tahu?"


"Tidak."


"Ini masalah hati paman, Kurasa kita tidak bisa memaksakan kehendak atas nama wasiat."


"Coba nanti paman bertanya pada yang lebih mengerti soal wasiat. Apakah wasiat seperti itu boleh dilaksakan atau tidak." jelas Zaidan.


Ini anak tahu saja kalau itu adalah akal-kalanku saja. Akhirnya Handoko menyerah tak lagi punya keinginan untuk meneruskan akal bulusnya itu.


"Oke ... maafkan paman. Biarlah itu jadi masalah paman sendiri."


"Maafkan kami, Paman."


"Nggak apa-apa, Zay. Aku juga turut senang. Keponakanku semua sudah pada mau menikah."


"Kalau gitu, paman pulang dulu ya..."


"Lho kenapa paman pulang. Tidak menunggu Layla lamaran?"


"Sepertinya nggak bisa, Zay. Paman masih ada sesuatu yang harus paman selesaikan. Tapi resepsi kalian paman pasti akan datang. Oke?!"


"Paman masih di rumah yang sama, kan?"


"Mengapa memang?"

__ADS_1


"Kemarin Layla dan Aris ke sana, nggak ada yang membukakan pintu. Dan sepertinya sudah tak terawat lagi."


"Iya, Paman sudah pindah. Maaf kalau nggak memberi tahu kalian."


Handoko segera bangkit dan berpamitan pada Haydi dan Zaidan. Meninggalkan rumah itu dengan hati yang sangat kecewa. Karena rencananya gagal total.


Haydi merasa lega, kakaknya dapat menerima keputusannya ini. Bagaimanapun dia amat khawatir jika itu dilaksanakan. Kasihan Layla, karena terlihat Layla sudah mulai membuka diri pada Aris.


Dengan perasaan tenang dia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda dengan kedatangan Handoko.


Begitupun dengan Aris, dia berpamitan pada Haydi.


"Mam, Aris pulang dulu." Dia mencium tangan Haydi.


"Ya, Ris."


Semua kejadian itu tak lepas dari perhatian Mayasa. Dia diam-diam mengikuti seluruh pembicaràan di ruang tamu itu dari ruang tengah. Tak henti dia ucapkan syukur, karena Layla bisa lolos dari perangkap Handoko yang licik itu. Karena dia amat tahu aiapa Handoko yang sebenarnya.


💎


Dengan langkah tertatih, Mayasa mendekati Zaidan yang sedang duduk seorang diri di ruang tengah. Sedang membaca buku dengan santai.


"Alhamdulillah, May. Kamu sudah mulai bisa jalan."


"Iya, Kak. Ternyata pijatannya mbak Atun terasa sekali efeknya. Mayasa lebih ringan berjalan."


Lalu dia menyandarkan diri di kursi, dekat Zaidan.


"Kak, tadi siapa yang datang."


"Paman Handoko."


"Hubungannya dengan kakak?"


"Dia itu kakak tertua dari mami Haydi dan mami Ana."


"Kandung?"


"Bukan."


Mayasa mengangguk-angguk.


"Ada apa memang?"


"Apa kakak tidak curiga padanya?"


"Aku tak berani berprasangka yang nggak-nggak. Bagaimanapun, dia adalah paman. Meski bukan kandung."


"Kakak terlalu baik."


"Tapi pernah ada seseorang yang mengatakan, bahwa paman adalah orang yang berbahaya."


"Lalu?"


"Tak tahulah."


"Kak, sebaiknya kakak percaya itu."


"Kakak nggak punya alasan."


Mayasa diam, menundukkan kepala. Berpikir keras bagaimana meyakinkan kakaknya, tanpa membuka masa lalu, yang menyakitkan baginya.


"Kak, percayalah pada Mayasa. Paman Handoko itu orang yang sangat berbahaya."


Zaidan meletakkan bukunya. Menatap mata Mayasa.


"Kamu mengetahui sesuatu, Adikku."


Mayasa menunduk, tak terasa air matanya mengalir. Bagaimanapun peristiwa itu tak mungkin dia lupakan.


"Maafkan aku, Kak."


"Tak apa-apa. Ceritakanlah. Agar kakak bisa menuntaskan ini semua. Kita semua ingin hidup tenang. Lihatlah Anya, Kakak iparmu, kamu, Alfath, mungkin masih banyak lagi yang tidak kakak ketahui. Kurasa itu cukup, agar tak ada lagi korban."


"Dialah yang menyuruh Mayasa membunuh kakak Zahara."


"Benarkah, Dik."

__ADS_1


Mayasa mengangguk sambil menangis.


__ADS_2