
Zaidan menatap makanan yang disiapkan istrinya dengan penuh selera. Lalu dia menarik sebuah kursi di sebelah Dinda. Dengan telaten Dinda mengambilkan nasi lengkap dengan lauknya untuk Zaidan.
"Apakah segini sudah cukup, Mas?"
"Berapapun yang sayang ambilkan. Mas akan makan dengan senang." kata gombal Zaidan diperdengarkan dengan lembut. Yang membuat Dinda tersipu malu, tak berani menatap Zaidan. Dia memberikan makanan itu dengan menundukkan kepala. Padahal Zaidan sedang menatapnya dengan tersenyum mesra. Zaidan meliriknya, rasanya semakin ingin menggoda wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Dia raih tangan Dinda dan menatap bola matanya yang tertunduk itu dengan lembut. Membuat Dinda terkesima.
"Sayang, kamu nggak makan?"
Ucapan lembut yang keluar dari bibir Zaidan membuat Dinda semakin gemetar, gugup, dan takut. Ada getaran yang tak bisa dia ungkapkan. Antara ingin duduk manis menemani suaminya makan ataukah berlari menyembunyikan diri dalam kamar. Untuk menghilangkan degup jantung yang semakin cepat terasa, yang tak mampu dia sembunyikan.
"Aku suapi ya ...." kata Zaidan sambil menyodorkan sesendok makanan ke mulut Dinda yang masih terkatup rapat.
"Malu ah ..." jawab Dinda, yang bikin dia semakin salah tingkah.
Kesempatan itu tak dibuang Zaidan. Segera satu sendok makanan dia masukkan ke mulut Dinda. Dan berhasil ... hap.
Buru-buru Dinda mengatupkan kedua bibir dan menutup mulutnya dengan tangan, agar makanan yang sudah berada di dalam mulut tidak kembali keluar dan menelannya. Lalu segera mengambil air putih untuk diminumnya.
"Apa-apaan sich Mas." kata Dinda dengan mata memerah, menahan nasi yang akan masuk bukan kerongkongan. Bisa-bisa dia akan tersedak.
"Berarti mau nich .... Kalau gitu kita makan sama-sama yuk" kata Zaidan sambil mengambil sebuah sendok lagi, untuk diberikan pada Dinda. Zaidan tak bisa menyembunyikan tawanya, berhasil memperdaya Dinda.
"Sa ... yang. Kami kan tak mau, kalau ada yang mengatakan bahwa mas ini seeorang suami yang nggak peduli sama istri. Masak baru sehari jadi istri sudah kurus kering. Makanya kalau nggak mau makan, akan mas suapi."
"Ya deh ... ya deh. Dinda nyerah. Baik sekarang mas juga harus makan. Dan aku suapi." kata Dinda sambil mengambil sendok yang diberikan Zaidan.
"Nach ... gitu dong. Biar mas juga makin selera makannya."
Sambil bercanda , mereka makan bersama dengan lahap. Bergantian saling menyuapi. Hingga tak terasa nasi yang ada di piring habis tanpa sisa.
"Mas nambah?"
"Yang harusnya nambah itu kamu, sayang. Dari tadi yang makan cuma aku doang, Kamu hanya makan beberapa sendok saja."
__ADS_1
"Tidak-tidak, ini sudah malam. Bikin tidur nggak nyaman." kata Dinda sambil muka sedikit dilipat.
"Baiklah."
"Mas, haruskah Dinda malam ini ikut ke rumah mas?"
"Sebenarnya mas juga maunya gitu. Cuma sekarang mas harus pakai apa untuk membawamu pulang ke rumah mas?"
"Maksudnya, Mas?"
"Mas nggak punya kendaraan. Itu sudah menjadi milikmu sekarang."
"Ya ... itu kan bisa dipakai bersama. Lagian juga aku belum bisa mengendarainya. Kalau ada mobil, harusnya ada sopirnya juga kan." kata Dinda sambil melirik Zaidan.
"Hemmmm , maunya." kata Zaidan sambil tersenyum menggoda." Maunya mas, malam ini. Kalau kamunya sudah siap."
"Mas, tak apa ya ... kalau malam ini, kita tidur di rumahku dulu. Aku benar-benar belum siap. Belum menyiapkan untuk tokoku, kak Alfath dll. Insya Allah kalau besok aku siap."
"Kita?" kata Zaidan, " Mommy dan kak Lisa juga?" kata Zaidan dengan muka terkejut. Padahal hati senangnya bukan main. Karena ini yang diharapkannya.
"Tentu saja tidak keberatan, Sayang." kata Zaidan sambil mengecup pipi Dinda dan memeluknya dengan erat. Membuat jantung Dinda mau lepas.
Maklum, selama ini dia tak pernah mengenal adanya pacar, apalagi berpacaran. Amat asing baginya. Sehingga pernikahan yang tiba-tiba ini, membuat gugup setengah mati menghadapi sikap Zaidan.
Di sisi lain, hatinya berkeinginan untuk bisa mengimbangi sikap suaminya. Yang asal cium, asal peluk. Yang terlihat sangat tidak sopan di mata Dinda. Meskidia tidak bisa memungkiri, ada rasa nyaman bila saat Zaidan bersikap demikian. Bagai ada desiran dalam dada Dinda. Meski dia masih canggung untuk melakukannya.
"Mas, malu dilihat orang." kata Dinda.
"Kan sudah resmi jadi istri mas." kata Zaidan sambil tersenyum jahil.
Makin ditanggapi makin bingung Dinda tentang perasaanya. Jantungnya juga makin berdegup kencang pula.
"Maaf Mas. Bisa kasih tahu mommy dan kak Lisa. Aku mau siapkan kamarnya. Dan Anya tolong bawa ke kamarku juga."kata Dinda sambil membereskan peralatan makan suaminya. Zaidan yang mendengarkan perintah Dinda terbengong-bengong. Banyak amat perintahnya. Sampai lupa semua. Ciri wanita sejati. Banyak kosa kata, kalau dibendung akan jadi masalah. Zaidan belum siap untuk itu.
__ADS_1
"Baiklah, Tuan putri." jawab Zaidan sambil berlalu meninggalkan Dinda. Membuat Dinda cemberut, dia beranikan diri untuk mendaratkan satu cubitan kecil di pinggang Zaidan.
"Aw...sakit juga." langkahnya jadi terhenti, melirik Dinda dan rasanya ingin menjahili.
"Sana pergi." usir Dinda tak peduli. Zaidan menuruti sambil tersenyum penuh arti.
Untunglah bi Sari, Hani dan Silvi sudah kembali ke tempat masing-masing. Bi Sari sudah ke dalam peraduannya. Hani dan Silvi sudah balik pula ke toko depan rumahnyam. Malu kalau sampai terlihat mereka.
Setelah mencuci piring dan meletakkannya kembali ke rak. Dinda mengambil 2 mukenah, 2 baju ganti, handuk dll. dari almarinya untuk mommy dan kak Lisa.
Dinda membawanya ke kamar yang terletak persis di sebelah ruang tamu. Kamar yang lumayan besar dengan tempat tidur yang cukup besar pula. Cukup untuk dua orang. Lengkap dengan kamar mandi. Jika mereka ingin membersihkan diri tidak usah keluar lagi.
"Mom, kakak, malam ini nggak keberatan untuk menginap di sini, ya ..?" kata Dinda setelah menyiapkan segalanya untuk mereka.
"**Boleh. Tapi besok kami mungkin sudah balik ke Singapura."
"Hanya malam ini saja, Mom."
"Tapi boleh dibuatkan kue untuk mommy bawa sebagai oleh-oleh untuk besok."
"Beres, Mom. Insya Allah sudah ada. Tinggal kue basahnya, besok Dinda akan buatkan." jawab Dinda senang.
"Dinda senang sekali, Mom." kata Dinda sambil memeluk mertuanya. Yang sudah dianggap sebagai orang tua sendiri.
"Senang sudah menikah atau senang karena mommy." kata kak Lisa menggoda, membuat Dinda tersipu malu dan pipinya menjadi merah.
"Sudah jangan dengarkan kakakmu."kata Hendiyana sambil melepas pelukan menantunya itu.
"Lis, kita ke kamar dulu yuk. Mommy benar-benar capek hari ini. Mau istirahat dulu."
"Sendiko dawuh, Mom." kata kak Lisa.
"Lho ini nich ... kakakku Din. Tak ada sopan-sopannya, sama mommy lagi. Maka jangan terlalu didengerin omongannya." kata Hendiyana sambil mengusap keras kepala kak Lisa.
__ADS_1
"Aww ... sakit, Mom." teriak kak Lisa sambil mengikuti langkah Hendiyana ke kamar yang sudah disiapakan oleh Dinda.
"Jangan lupa, segera kasih aku keponakan." kata kak Lisa, saat berjalan melewati diriku. Membuatku geram, menatap kak Lisa gemes. Sedangkan kak Lisa berlalu dengan senyum kemenangan.