SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 26 : Mami, Bimbinglah Dinda


__ADS_3

Perjalanan  ini adalah perjalanan menegangkan yang kedua, semenjak dia mengenal Zaidan. Mungkin benar kata Zaidan, mereka belum bisa tenang selama pembunuh istrinya belum ditemukan. Dan keselamatan Anya akan selalu dalam ancaman. Problema awal sebelum Dinda benar-benar bersama Zaidan. Dinda makin bingung. Di satu sisi Dinda sangat ingin menghapus luka Anya sejauh dia bisa. Di sisi yang lain Dinda juga ingin ketengan dalam hidupnya. Memiliki keluarga yang tenang, penuh cinta dan saling menyayangi. Benar kata Aldo, dia harus kuat. Berani untuk kebaikan bersama. Demi Anya yang merupakan kebahagiaannya juga.


Mereka harus berputar-putar dulu sebelum menuju rumah Zaidan. Cukup memakan waktu. Hampir setengah jam, baru sampai Di rumah Zaidan.


Dinda tak menyangka kalau rumah itu berada di tengah-tengah persawahan. Jauh dari kampung apalagi kota.  Boleh dikatakan amat pelosok.


Mungkin suasana begini yang dicari Zaidan. Udara yang segar, suasana alam yang nyaman, serta jauh dari kebisingan. Benar-benar sempurna untuk menikmati kehidupan. Terutama untuk perkembangan putri kecilnya. Dia adalah ayah yang sempurna bagi Anya.


Tiba di tujuan, dari dalam pak Tata menyambutnya dengan membukakan pintu gerbang. Dan menutupnya kembali ketika mereka sudah berada di dalam. Lalu Aldo membawa mobilnya di parkiran. Dan kembali mengiringi mereka berjalan.


Dari gerbang hingga rumah utama berjarak 100 meter. Sepanjang jalan menuju ke pintu, melewati taman dan buah-buahan yang tumbuh subur disamping kiri kanan jalan.


Terlihat dari arah pintu, seorang gadis kecil sedang berlari-lari menuju ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Anya tersayang.


"Bunda ..." dia menghamburkan diri dalam dekapan Dinda, yang menyambutnya dengan pelukan hangat.


Serta memberikan ciuman sayang di kedua pipi dan dahinya.


Zaidan mengambil nafas dalam namun bahagia. Menyaksikan putrinya yang amat dia sayangi kini bisa ceria bila bertemu Ammah Dindanya tercinta.


"Ya ... ayah dilupakan. Selalu Ammah yang pertama." kata Zaidan


Dinda hanya tertawa mendengar kecemburuan Zaidan. Lalu melepaskan Anya sambil tersenyum bahagia. Mengarahkan pada Zaidan yang menunggu pelukan hangat dari putri tersayangnya.


Zaidan memberikan kedua pipinya untuk mendapat kecupan dari Anya, yang dia rindukan. Karena hampir setengah hari tidak berjumpa.


"Om Aldo juga dong ...!"kata Aldo.


Sambil jongkok dan tersenyum, memberikakan kedua pipinya untuk mendapat kecupan sayang dari cucu nyonya Hendiyana.


Sejenak Anya tertegun dan diam. Lalu memandang Dinda dan Ayahnya bergantian. Secara bersamaan mereka menganggukkan kepala.


Melihat ayah dan ammah memberikan persetujuan, dengan ragu Anya memberikan kecupan di pipi Aldo sebelah kanan. Aldo menyambutnya dengan sangat gembira. Membalasnya dengan pelukan hangat dan mengangkat tubuhnya ke atas sambil tertawa. Hingga membuat Anya ikut tertawa, seolah tak ada lagi beban tersisa.


Lalu mengendongnya dan mencubit hidung Anya dengan manja. Terlihat Anya menikmatinya tanpa rasa takut yang selama ini selalu menyelimuti ceria di wajahnya.


"Om ... boleh tanya?"kata Aldo pada Anya yang masih dalam gendongannya.


"Tanya apa, Om."


"Itu ammah atau bunda?"tanya Aldo pada Anya sambil menunjuk Dinda.

__ADS_1


"Bunda ..." jawabnya tanpa ragu.


"Sip ..."


"Sekarang boleh turun." dia menurunkan Anya dengan pelan.


Dan seperti yang dibayangkan Aldo, pasti Anya akan meraih tangan Dinda dan Zaidan dalam dekapannya. Sehingga membuat keduanya berjongkok.


Momen yang pas untuk di foto.


"Curang !" serempak mereka meneriaki Aldo yang sedang memainkan hpnya.


"Siiip." kata Aldo sambil tertawa gembira, berhasil menggoda mereka.


Tapi ternyata Anya tak berhenti di situ. Dia tak mau melepaskan tangannya, pada Dinda dan Zaidan. Berjalan melewati jalan setapak menuju rumah utama dengan bibir yang tak lepas dari senyuman. Membuat keduanya tak berkutik. Mereka harus menuruti keinginan Anya yang sedang dalam puncak kegembiraan dengan orang-orang yang sangat disayanginya.


Di depan pintu nyonya Hendiyana terlihat tersenyum menyambut mereka. Dia sangat menikmati kebahagian cucunya.


"Mom..." Zaidan membungkuk dan meraih tangan nyonya Hendiyana, untuk  bersalaman dengan penuh takdzim. Dinda mengikuti melakukan hal sama pula.


"Ayo masuk." ajak nyonya Hendiyana.


Sambutan yang hangat dari nyonya Hendiyana membuat hati Dinda menjadi tenang. Dia mengikuti nyonya Hendiyana masuk ke rumah Zaidan. Yang mengajak menuju ruang tamu.


"Anya sini!" kata nyonya Hendiyana yang melihat Anya duduk dipangkuan  Dinda.


Tetapi dia malah menggelengkan kepala. Semakin manja pada Dinda. Dia tanpaknya engan berpisah dengan Dinda. Terlihat dia memainkan kedua tangan Dinda untuk bertepuk dengannya.


"Tampaknya cucuku sangat cocok denganmu." kata nyonya Hendiyana, membuat Dinda tersenyum dan tersipu malu.


Anya masih saja bermain tepuk tangan dengan Dinda. Baru berhenti ketika bi Sari dan Ayahnya selesai menata bawaan Dinda di atas meja.


"Eyang, aku pingin kuenya bunda ..." Anya turun dari pangkuan Dinda menuju ke meja makan. Nyonya Hendiyana hanya melihat saja sambil tersenyum.


Dia kembali menatap Dinda yang duduk tenang di hadapannya dengan tertunduk.


"Namu siapa, Ndduk?"kata nyonya Hendiyana lembut. Membuat hati Dinda menjadi terenyuh. Dia teringat kembali masa-masa ketika keluarganya masih utuh. Ibunya sangat lembut, memanggil dirinya dengan panggilan 'ndduk' juga.


Panggilan sayang dan perhatian orang tuanya kepada dirinya.


Ingin Dinda memeluk nyonya Hendiyana. Dan melepaskan kerindukannya pada orang tuanya. Tak terasa hatinya luluh mendapatkan perlakuan lembut dan keibuan dari nyonya Hendiyana.

__ADS_1


Yang dia bisa lakukan hanya tersenyum.


"Adinda Humaira, nyonya." jawab Dinda.


"Panggil aku mom saja, seperti yang Zaidan lakukan."


"Baik Mam."


"Itu lebih baik."


"Aku tahu anakku menyukaimu, tapi aku sadar anakku banyak kekurangan. Apa kamu siap, Ndduk."


"Saya mohon bimbingannya, Mam."


"Keluarga itu tak ada sekolahnya. Gurunya kalian, muridnya juga kalian. Bila kalian bisa saling belajar, insya Allah kalian akan mudah mengemudikannya ke arah yang kalian inginkan."


"Semuanya masih sulit buat saya, Mam."


"Kamu sangat dewasa, Ndduk. Aku percayakan Anya padamu." kata nyonya Hendiyana, membuat Dinda tak berkutik. Dan meneteskan air mata.


"Mengapa mami berkata seperti itu?"


Nyonya Hendiyana hanya tersenyum.


"Bukankah tak selamanya aku di sini." Dinda mengangguk lemah. Dan tak bisa menguasai diri dan menangis di pelukan nyonya Hendiyana. Dinda merasa nyaman berada dalam pelukan nyonya Hendiyana seperti dia menemukan orang tuanya kembali.


Zaidan menghampiri mereka. Dan duduk di samping kursi mommynya. Menatap dengan penuh tanya. sebenarnya apa yang mereka bicarakan sehingga Dinda menangis di pelukan mommynya. Sejenak Zaidan diam terpaku.


"Kami akan datang ke rumahmu nanti malam. Tak perlu repot."


"Ya, Mam."


"Zaidan. Apa kamu sudah memikirkan kebahagian Dinda juga."


"Ya. Mam. Saya akan berusaha."


Suasana menjadi cair ketika Anya kembali dengan membawa kue nogosari di tangan.


"Kamu kok persis eyang. Suka nogosari."


"Enak eyang. Ada pisangnya." jawab Anya sambil menikmati kue yang terbungkus daun pisang itu. Membuat Dinda tertawa dan melepas pelukannya. Meski masih menyisakan butir-butir air mata di sela-sela sudut matanya.

__ADS_1


"Sudah, sekarang aku ingin mencicipi masakanmu."


__ADS_2