SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 96 : Mengingat Rencana Awal


__ADS_3

Hari ini acara benar-benar padat. Sejak pagi telah menyiapkan segalanya guna persiapan pernikahan Layla dan Mayasa.


Meski hanya di KUA.


Memang direncanakan semenjak awal demikian. Ini tak lepas dari seringnya anggota keluarga ini mendapatkan gangguan keamanan apalagi menyentuh keselamatan jiwa mereka juga. Mau tak mau Zaidan harus berpikir keras. Agar semua bisa berjalan dengan aman.


"Aris, Fadly aku titip adik-adikku. Jaga mereka dengan baik."


Zaidan memeluk mereka satu persatu sebelum mereka pergi meninggalkannya.


"Jangan khawatir, Kak Zaidan. Kami akan selalu menjaganya."


Zaidan melepas mereka dengan sedih sekaligus gembira. Sedih karena baru beberapa saat yang lalu, menyadari bahwa mereka bersaudara. Tapi kini harus berpisah.


Yach ... tak apalah. Toh, mereka ikut suaminya.


"Jangan lupa, 4 hari lagi resepsi pernikahannya kalian akan digelar. Oke....?!"


"Oh ya, satu lagi. Ini untuk kamu Layla dan Aris. Dulu kakak kamu beri syarat, sebelum resepsi harus pakai acara pingitan. Apa sekarang kamu juga melakukannya. Kan 3 hari sebelum hari H."


Aris yang mendengar itu terbelalak.


"Maksudnya? "


Zaidan melirik Dinda dengan senyum tersungging.


"Tanyalah pada istrimu." Jawab Zaidan tenang.


Aris menatap Layla yang saat ini mengalihkan pandangan dari mereka.


"Benarkah itu Layla?"


Dia tak tahan untuk tertawa. Meski masih disembunyikannya. Lalu mengangguk


"Bagaimana Layla apakah kamu mau menjalaninya."


"Baiklah. Terserah Kakak lah." Jawabnya ringan.


"Kak Zaidan atau kak Aris."


"Jangan menggodaku, Kak."


"Bagaimana, Ris."


Aris bingung melihat mereka. Meskipun candaan mereka mengasikkan. Tidak untuk kali ini. Tapi bagaimana lagi. Dia memandang Zaidan penuh pengharapan. Agar hal itu ditiadakan saja.


"Kak, ini untukku saja atau juga untuk Fadly dan Mayasa."


Aris mencoba bernegosiasi.


"Aku tak bisa menerapkan untuk mereka."


Jawab Zaidan dengan sedih. Membuat Aris menyerah.


"Sebenarnya kakak pinginnya mengabaikan hal ini. Tapi ... kalau mami bertanya gimana?"

__ADS_1


Zaidan mencoba meyakinkan Aris, dari hal yang sebenarnya dia sendiri tak yakin.


"Baiklah, tak apa. Sekarang aku antarkan kamu, Sayang. Tiga hari lagi kita bersama."


"Layla nurut aja dengan kak Aris."


Jawabnya dengan wajah tertunduk. Mensyukuri keadaan yang sekarang berpihak kepadanya.


Meski hati ini merindu, tapi dirinya belum siap untuk tinggal bersama.


Dengan sedikit lesu, Aris melangkah ke arah mobilnya yang ada di parkiran. Dengan menggandeng Layla mesra. Meninggalkan Zaidan dan Dinda yang


Berdiri melambaikan tangan. Menampakkan senyum bahagianya.


Semuanya sudah pergi bersama suaminya masing-masing. Para mama dan keluarga lainnya juga sudah pergi meninggalkan tempat ini. Hingga tertinggal mereka sendiri.


Beban berat yang ada di pundak, satu per satu hilang dengan berbekas kebaikan. Alhamdulillah.


Pulang dari KUA, sesuai dengan rencana Zaidan pergi ke dokter kandungan guna memeriksakan keadaan Dinda. Yang beberapa waktu yang lalu, menunjukkan tanda kehamilan dari testpeck yang dia gunakan.


"Bagaimana dokter Manda?


Apakah istriku benar-benar hamil?"


"Berbahagialah pak Zaidan, kalian diberikan kesempatan untuk menerima amanah kembali. Yaitu calon bayi yang sekarang sudah ada dalam kandungan ibu Dinda."


Hati siapa yang tak berbunga-bunga. Mendengar itu.


Tanpa ragu Zaidan memberikan kecupan sayang pada wanita di sampingnya.


"Anya mau dapat adik ya Ayah?"


"Benar kakak Anya."


"Makanya, biar adik tenang, Anya duduk sama ayah saja!"


"Nggak apa-apa kok, Kakak. Adik juga suka." Jawab Dinda tak kalah. Membuat dokter Manda senyum-senyum. Ikut merasa bahagia.


"Terima kasih, Dokter."


"Sama-sama."


Terlihat sekali kebahagiaan di wajah Zaidan, saat mereka meninggalkan ruangan itu.


Entah mengapa hari ini, Zaidan ingin bersantai sejenak bersama keluarga kecilnya. Setelah beberapa hari ini dipenuhi dengan kesibukan yang seperti tanpa henti.


"Bunda, Anya. Bagaimana kalau hari ini kita ke pantai."


Mata Anya seketika berbinar -binar.


"Benarkah, Ayah?"


Zaidan menganggukkan kepala.


"Bagaimana , Bunda."

__ADS_1


"Boleh."


"Oke, kita ke pantai."


"Yes ... yes ... asyiiìiiik. Terima kasih ayah.


💎


Sejak semula Zaidan sudah memprediksi ini bakal terjadi. Dia hanya ingin tahu siapa yang telah mengganggu keluarganya selama ini. Dengan rencana menggelar resepsi pernikahannya secara terbuka. Yang sudah dia rencanakan lebih dari satu bulan yang lalu. Semenjak dia mengucapkan ijab qobul untuk mempersunting Adinda Humaira, sebagai istri, sekaligus bunda dari putri kecilnya yang dia sayangi.


Tapi tak sangka, seiring waktu dalam perjalanan untuk dapat mengelar acara itu. Dia menemukan banyak peristiwa. Bertemu bunda kandungnya dan adik-adiknya. Hingga dapat menemukan kehangatan keluarga yang utuh. Meski di celah-celah itu dia tak dapat pungkiri bahwa hatinya sangat sedih sekaligus pedih, harus menerima kenyataan bahwa yang telah membunuh istri pertamanya adalah adik kandungnya sendiri. Sungguh kenyataan yang pahit. Tapi harus diterimanya dengan lapang dada.


Kini semua seakan berjalan sangat cepat. 3 hari berlalu sudah dari mengantarkan adik-adiknya ke KUA. Dan selama itu banyak acara yang dia selenggarakan agar acaranya dapat berjalan lancar.


Rumah Haydi tak henti mengumandangakan ayat suci AlQu'an yang dilakukan oleh hafidz-hafidz yang sudah Zaidan kenal. Yang kemudian ditutup dengan acara yasinan, tahlilan, ataupun pembacaan buku diba' secara bergantian di tiap harinya.


Meski di 3 hari itu, ada saja kejadian-kejadian yang mengancam Zaidan. Yang berefek pada orang'orang yang ada di sekitarnya. Baik Aris maupun Fadly.


Memang selama dalang di balik ini semua belum tertangkap, maka sulit bagi Zaidan dan keluarga merasa aman. Setiap yang tertangkap selalu saja dapat bebas. Dan itu sangat mudah. Adakah uang yang berbicara, entahlah.


"Kak, apakah tidak terlalu beresiko, menggelar acara ini. Mengingat mereka sudah mulai menyerang secara terbuka."


Aku juga berpikir seperti itu. Tapi kalau kita mundur, undangan sudah disebar."


"Mereka seperti tak punya takut untuk menyerang secara terbuka?"


"Ya, Ris."


"Tapi semua sudah kita persiapkan. untuk keamanannya juga." jawab Aldo yang memang sejak awal punya misi khusus dari nyonya Ana.


"Fadly, orang-orangmu siapkan?"


"Insya Allah. "


"Oke, aku mau pulang ke rumah dulu. Kasihan tiga hari tak kujenguk. Untunglah Alfath mau menemani istriku di rumah."


"Nggak boleh. " Jawab Aris.


Zaidan diam seketika menyesali perkataan yang baru dia ucapkan. Andaikan dia tidak mengatakannya, tentu tak akan jadi masalah. Karena Zaidan sudah teramat rindu dengan istri dan anaknya yang di tinggal di rumah yang ada di tengah sawah.


"Aku ke sini saja nggak boleh bertemu dengan sayangku. Kok kak Zaidan diam-diam mau menemui mbak Dinda. Tak adil namanya."


"Ya ... ya ... nggak jadi. Kasihan sama adik iparku ini. Barangkali dia juga sedang menahan rindu." Kata Zaidan sedikit menggoda.


"Sepertinya hanya Fadly yang bisa puas diantara kita bertiga."


"Mungkin diriku sedang diuji seperti kalian juga. Aku belum berani menyentuhnya. Aku belum tega."


"Tapi bagaimana mana keadaannya sekarang. Sudah baikan?"


"Alhamdulillah tiap hari terapi rumah sakit dan pijat. Sekarang sudah bisa jalan tanpa kursi roda."


"Alhamdulillah, tak salah jika aku mengikhlaskan menikahkanmu lebih dulu."


"Hari-hari terakhir ini, sayang Mayasa sibuk berlatih bela diri."

__ADS_1


Aris dan Zaidan seketika terdiam. Karena tak dapat dipungkiri, bahwa Mayasalah yang tahu segalanya. Tapi mengapa dia diam.


__ADS_2