SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 45 : Bergambar kupu-kupu


__ADS_3

"Ini juga mendadak, niatnya lamaran saja dulu. Tak tahunya cucumu itu merengek nggak mau pulang kalau Dinda tak ikut pulàng bersama.


Nach lo ....akhirnya menikahlah malam itu juga."


"Dinda?" sebut Haydi dengan terperanjat


"Ada apa, apa kamu mengenalnya?"Tanya Hendiana


"Hemmmmm ... .Terlalu banyak nama Dinda, Kak. Hanya aku harap, aku mengenalnya."


"Semoga ..."


"Mam ... ini makannya." kata Shaffa yang datang membawa napan berisi nasi, lauk pauk lengkap dengan sayurnya. Dia meletakkannya di nakas.


"Kak Ana, rasanya aku pingin bertemu Zaidan saat ini juga."


"Ya ... boleh. Nanti biar kusuruh ke sini sebelum aku kembali ke Singapura."


"Kakak akan kembali?"


"Sore ini,"


"Secepat itukah?"


"Ini juga sudah tertunda 2 hari."


"Kenapa kak Ana nggak tinggal di Indonesia saja sich ... agar kita bisa sering bertemu."


"Lha, mas Kamal kerjanya di sana."


"Sudah, aku telpon dulu Zaidan."


Hendiana lalu mengeluarkan benda persegi panjang yang pipih dari dalam tasnya.


"Wah ... hp kakak bagus sekali." kata Haydi sambil berteriak kagum.


"Mas Kamal yang membelikannya."


Tanpa memperdulikan lagi percakapannya dengan Haydi, Dia mengangkat hp dan memencet nomor Zaidan untuk dihubungi.


"*Assalamu'alaikum , Mom."


"Wa'alaikum salam . Zai kamu nanti ke sini ya ... ke rumah mami Haydi."


"Ya, Mom. Sebentar aku tak antar Dinda dan Anya pulang."


"Tak usah."


"Ajaklah mereka ke sini. Perkenalkan istrimu pada keluarga besar kita."


"Baik, Mom."


"Assalammu'alaikum ."


"Wa'alaikum salam*."


💎


"Dari siapa, Mas."tanya Dinda sambil melipat mukenanya. Lalu memasukkan ke tas mungil yang dibawanya.


"Dari mommy. Kita disuruh ke sana. Ke rumah mami Haydi."


"Aku kok merasa aneh ya ..., ini mommy, itu mami. Apa ada lagi . Misalnya mama, bunda, ibu, mbok, mak. Benar-benar banyak banget orang tua mas. Aku jadi iri."


"Tak tahulah, Sayang. Mas ini hanya anak panti asuhan. Yang kebetulan diadopsi sama keluarga Dedy Kamal dan Mommy Ana. Akhirnya punya banyak mama dech."


"Lalu mami Haydi itu siapa?"

__ADS_1


"Mami Haydi itu maminya Layla."


"Oh ... Yang tadi datang ke sini ya ..."


Zaidan mengangguk.


"Mengapa harus panggil mami sich?"


"Layla dan aku tumbuh kembangnya bersama. Aku jadi terbiasa memanggilnya dengan sebutan mami. Sama dengan Layla."


"Inisiatif Mas atau permintaannya."


"Inisiatif mas, kenapa?"


"Oh ..."


"Beliau tak keberatan?"


"Keberatan , cuma mommy melarangku untuk mengganti dengan sebutan yang lain."


"Makanya sampai sekarang Layla masih berharap ke Mas."


Ada rasa kecewa yang menyusup di hati Dinda, manakala Zaidan menyebut nama Layla. Lalu dia diam seribu bahasa. Dia berdiri, akan meninggalkan Zaidan yang masih duduk di atas sajadah sehabis melakukan sholat dhuhur berjamaah.


Namun belum sempat dia melangkah, tangan Zaidan telah meraihnya. Hingga dia terjatuh dalam pangkuannya. Yang mendekapnya dengan sempurna.


"Mas ..." teriak Dinda ingin melepaskan diri.


"Hem ... marah atau cemburu nich."


"Siapa juga yang cemburu." jawab Dinda dengan kepala tertunduk. Tak mau beradu pandang dengan tatapan Zaidan yang mulai menggodanya.


"Sayang,"


Kata-katanya terhenti manakala melihat tatapan Dinda yang malu-malu. Dan wajahnya tampak bersemu merah. Yang membuat Zaidan semakin gemas untuk segera mendaratkan satu ciumannya di pipi dan bibir Dinda.


Belum sempat niatnya terlaksana ada mahluk lucu yang membuyarkannya.


Panggilan dari putri kecilnya yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu, membuat Dinda punya alasan untuk melarikan diri.


"Weck ...." Dinda berdiri sambil menjulurkan lidah. Membuat Zaidan tersenyum gemas.


"Dasar bundanya Anya ..." Sambil mencubit pinggang Dinda mesra. Namun tak kesampaian keburu Dinda lari, menyongsong putrinya.


" Alhamdulillah, putri bunda sudah bangun."


"Bunda , Anya. Ayah tunggu."


"Mau ke mana, Yah" tanya Anya.


"Ke oma Haydi."


"Nggak mau ... " teriak Anya. Pancaran cahaya keceriannya redup. Sekilas terlihat ketakutan di wajahnya. Tubuhnya bergetar. Membuat Zaidan maupun Dinda bingung.


"Ada apa , Sayang." Dinda mendekatinya dan memeluknya sambil mencium pucuk kepalanya.


"Anya takut bertemu tante Layla."terlihat bulir-bulir air matanya menetes dari sela-sela bening matanya.


Seperti kejadian sesaat yang lalu sebelum dia tertidur karena lelah menangis histeris.


"Coba Anya ceritakan pada bunda." kata Dinda sambil membopong tubuh mungil Anya. Duduk di tepi ranjang.


"Ya, Anya. Ceritakan pada Ayah dan Bunda tentang semuanya. Ayah dan Bunda siap mendengarkan." kata Zaidan sambil berjalan mendekat. Dibelai rambut putrinya itu dengan lembut. Anya tenang dalam pangkuan bunda Dindanya.


"Ayah, jangan dekat-dekat dengan tante Layla ya .... Dia itu jahat. Dia yang membuat Bunda Zahara berdarah."


"Benarkah." bisik Zaidan sambil menahan keterkejutannya. Terlihat dia menahan amarah. Memandang geram pada bayangan yang terbentuk pada cerita yang disampaikan putrinya. Dia menunggu dengan sabar dan senyum. Agar Anya menjadi tenang dan bisa menyelesaikan ceritanya.

__ADS_1


"Malam itu Anya baru mau tidur sama Bunda Zahara. Tante Layla datang pakai pakaian hitam -hitam. Wajahnya di tutup pakai kain hitam."


"Kok tahu kalau itu tante Layla. Kan ditutup."


"Anya kenal rambutnya, suaranya. Bunda Zahara juga memanggilnya dengan sebutan Layla."


"Lalu ?" tanya Zaidan hati-hati.


"Dia marah sama bunda Zahara. Lalu mendorong Bunda hingga jatuh. Dia membawa pisau. Mau menyakiti Anya. Bunda Zahara datang. Bunda yang kena dan berdarah."


Zaidan sangat terkejut dan sepertinya terpukul dengan apa yang dikatakan putrinya. Dia dapat membayangkan kejadian itu seolah-olah ada di depan matanya.


"Anya yakin itu tante Layla?"


"Anya tak yakin, waktu pisau mau mengenai Anya, Dia bilang ... "


"Bilang apa, Sayang."


"Aku bukan Layla. Sekali lagi aku katakan aku bukan Layla. Kenapa Layla dapat, aku nggak dapat. Justru anakmu yang bukan keluargannya yang dapat. Biar dia lenyap. Karena akulah yang berhak. Bukan anakmu." sambil mengekspresikan orang marah.


Melihat ekspresi Anya, kami menahan napas. Tetap mendengarkan cerita Anya dengan seksama. Meski aku gemetar.


Sesaat Anya berhenti berbicara. Pandangannya ketakutan.


"Mungkin masih ada yang lain, yang mau Anya ceritakan sama ayah dan bunda?"


"Dia pakai gelang rantai berwarna putih dan tangannya ada gambar kupu-kupu."


Zaidan terlihat berpikir keras. Namun tetap tenang. Dia lalu tersenyum memandang putrinya.


"Sekarang putri bunda nggak boleh takut lagi. Karena sekarang sudah ada ayah bunda yang akan selalu melindungimu, Sayang." kata Dinda.


"Dan tak mungkin tante Layla berani menyakiti kamu. Karena tante Layla sangat sayang sama kamu." Kata Zaidan menimpali.


Beberap kali Zaidan mengambil nafas panjang dan membuangnya dengan berat. Wajahnya terlihat gelisah. Memikirkan apa yang baru saja diceritakan oleh putrinya.


Berlahan tapi pasti Zaidan memeluk mereka berdua dengan erat. Sambil berkata.


"Kalian adalah milih ayah seutuhnya. Ayah akan melindungi kalian dengan seluruh kemampuan ayah. Mulai sekarang jangan takut. Allah bersama kita."


"Andaikan itu tante Layla, Ayah akan meminta pertanggungjawabannya dan menghukumnya. Jangan takut ya, Sayang."


Kurasakan tubuhnya bergetar. Sepertinya dia meneteskan air mata.


"Ya Tuhan, lindungi kami." bisiknya lirih.


Lama dia memeluk kami. Lalu mencium pucuk kepala kami masing-masing sebelum melepaskan.


"Sekarang kita ke rumah oma Haydi. Dan mengantarkan eyang putri ke bandara."


"Eyang putri mau balik sekarangkah, Ayah." tanya Anya manja. Seakan lupa dengan apa yang dirasakan selama ini dan yang baru saja diceritakan.


"Ayo cepat. Ayah tunggu di luar."


Dinda lalu membawa Anya ke kamar mandi meninggalkan Zaidan yang belum beranjak dari duduknya, termenung di tepi ranjang.


Layla yang bergelang rantai putih dan bertato kupu-kupu. Siapa dia ...


Bayangan itu mengusik pikiran Zaidan.


----------------------------------------------------------------------


Readers yang budiman ,


Mohon maaf masih banyak tipony.


Dan mohon dukungannya...

__ADS_1


Boleh like, komentar positif atau vote.


Agar author semangat dalam berkarya.


__ADS_2