
Detik demi detik berjalan, biarlah melukiskan sebuah cerita bagi insan yang terlelap dalam tidur. Namun seperti yang biasa kulakukan. Aku berusaha untuk terjaga di waktu yang ku ingin melihat mereka gembira. Apalagi itu untuk mommy Zaydan, yang sudah kuanggap sebagai mommyku sendiri
Meski belum satupun terjaga, karena malam masihlah sangat panjang. Tak menyurutkan raga ini untuk memberikan sesuatu yang jadi keinginannya. Meski hanya sekedar kue yang sederhana.
Berkutat dengan adonan di dapur seorang diri, bukan suatu yang diajadikan alasan untuk mengeluh bila semua dilakukan dengan keihlasan. Itulah Adinda Humairah, istri seorang direktur perusahaan yang kaya namun bersahaja.
💎
"Mas, sudah bangun." kata Dinda. Ketika melihat bayangan di sisinya.
"Kamu bangun jam berapa, sayang. Kok sudah pada mau matang."kata Zaidan
Sambil menatap istrinya yang tengah serius menekan-nekan ketan yang sudah matang dalam sebuah loyang.
"Belum-belum. Ini baru setengah jalan." kata Dinda mencegah tangan Zaidan untuk mengambil ketan yang mau dicetaknya di loyang.
"Untuk dijual?"
"Bukan, untuk mommy."
"Aku bantu."
"Nggak usah. Bentar lagi bi Sumi bangun."
"Ya sudah." kata Zaidan sambil mencium pipi Dinda.
"Ich ... Mas. Bau ach ..." kata Dinda sambil mengibaskan tangannya. Mulai lagi dech ....
Zaidan hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Dinda, menuju kamar mandi.
Waktu terus berjalan hingga fajar menjelang. Kesibukan Dinda dari dia terjaga pada jam setengah tiga hingga kini belum juga kelar. Untunglah bi Sumi siap membantu. Tinggal setahap lagi kue untuk mertuanya matang.
Dinda meninggalkan bi Sumi yang melanjutkan pekerjaannya. Menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, seperti yang dia lakukan menjelang azan subuh berkumandang.
Lalu kembali lagi ke kamarnya. Dilihat Zaidan sedang serius di depan leptopnya. Dinda terlihat tak suka dengan sikap Zaidan yang pinjam barangnya tanpa bilang terlebih dahulu.
Dinda cemberut, berjalan sambil mendekati Zaidan yang sedang asyik mengetik sesuatu.
"Mas, curiga sama saya ya....kok buka laptopku nggak bilang-bilang."
"Sinilah sayang, jangan seperti itu." kata Zaidan sambil melirik muka Dinda yang sedikit ditekuk. Membuat Zaidan makin gemas , ingin menggodanya.
Dinda berlalu tak perduli. Namun tak ayal, dia duduk di depan meja riasnya. Memandang Zaidan. Dengan mimik wajah yang sama. Membuat Zaidan ingin tertawa.
"Sini lihat ... untukmu." kata Zaidan sambil meraih tangan Dinda untuk duduk di sisinya.
Dinda diam, seakan enggan. Tapi dalam hatinya juga penasaran, apa yang ingin diperlihatkan Zaidan.
Berlahan dia bangkit, mendekati Zaidan yang sedang duduk bersandar di sisi ranjang. Hendak menuruti keingintahuannya tentang apa yang sedang diketik suaminya.
Kesempatan itu tak disia-siakan Zaidan. Dia menarik Dinda dalam pangkuannya. Dinda terkesiap, jantungnya seakan berhenti sejenak. Dan membiarkan dirinya dalam pelukan suaminya.
"Apa, Mas."
"Lihatlah, biar kamu nggak curiga." Tangannya tak berhenti mengetik meski dengan mendekap Dinda dalam pangkuannya.
"Maafkan Dinda, Mas. Aku nggak tahu."
"Mas yang harusnya minta maaf. Sudah menggunakan laptopmu tanpa izin. " kata Zaidan sambil berbisik di telinga Dinda.
"Mas harus menyelesaikan ini segera. Tak apa-apa kan, Sayang."
__ADS_1
Dinda tersenyum menatap wajah suaminya. Yang berada di atas wajahnya. Dalam dekat terlihat jelas ketampanannya. Yang beberapa saat yang lalu, ku telah mengabaikan, tidak memperhatikan. Dan kini telah membuat jantungku berdebar.
"Maafkan Dinda, Mas."
Dinda malu dengan prasangka yang ada dalam hatinya. Menduga yang berlebihan pada suami yang baru dikenalnya.
"Kita sepertinya sama, Sayang. Gila kerja. Kamu jam segini sudah mulai. Aku juga sama. Kamu kan tahu ... Anya tak bisa kutinggalkan. Malam begini mas baru bisa kerja dengan tenang."
"Iya, Mas. Tapi moga-moga ke depannya bisa lebih teratur."
"Kamu kangen sama mas, Sayang." kata Zaidan sambil mengetik dengan cepat.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Dinda bingung. Apa maksudnya ...
Kangen?..
Haruskah ku kangen pada orang yang ada di depan mata?!...
Oh ... mungkin yang dimaksud ....
Dinda tersipu dan menyembunyikan wajahnya dalam dada Zaidan. Dia mulai menikmati kemesraan yang senantiasa Zaidan hadirkan.
"Nach ... sekarang sudah selesai. Sudah kirim. Sebentar aku letakkan ini dulu." kata Zaidan sambil mencium rambut Dinda.
Dinda bangkit sejenak membiarkan Zaidan meletakkan leptop itu di meja riasnya.
'Mas ..."
"Ya ... katakan saja. Mas dengarkan" kata Zaidan sambil memeluk mesra istrinya. Detak jantungnya pun semakin tak berirama.
"Kenapa diam. Mas sudah siap mendengarkan nich." sambil mengalihkan wajah istrinya untuk dihadapkan pada wajahnya. Dia menikmati wajah isterinya yang terlihat memerah dalam dekapannya. Dan tangannya terasa dingin dan bergetar. Zaidan tersenyum.
"**Mau?"
Dinda hanya tersipu.
"Boleh. Tapi sayangnya yang ingin kupuisikan sekarang telah nyata ada di depan mata. Dan itulah puisi mas yang yang sempurna."
"Mas ... apa ini yang dirasakan bila berdekatan dengan suami." kata Dinda sambil meraih tangan Zaidan ke dadanya.
"**Iya." kaya Zaidan sambil tersenyum mendengar pertanyaan istrinya yang masih polos itu.
"Mas juga merasakannya." sambil meraih tangan Dinda. Meletakkan di dadanya. Dinda hanya tertawa.
"Bahkan lebih."kata Zaidan sambil menyentuh hidung Dinda dengan jari telunjuknya. Dan menatap dalam mata Dinda yang tampak bersinar. Membuat hasratnya bangkit mengetuk-ngetuk raganya. Agar tersampaikan pada yang sedang dirindukannya. Siapa lagi kalau bukan istrinya. Yang sekarang dalam pangkuannya.
Mendapat tatapan seperti itu, Dinda hanya diam terpaku dalam pelukan suaminya. Jantungnya makin kencang berpacu ketika wajah mereka bertemu. Tak mampu mengurai apa yang dirasa. Untuk mengerti akan ungkapan yang dimaksud suaminya. Dia memejamkan mata.
"Bunda ..." suara lirih Anya menyadarkan meraka. Rupanya dia bermimpi.
Segera Dinda melepaskan pelukan suaminya, menghampiri Anya yang sedang tertidur pulas.
Zaidan hanya mampu tersenyum menyembunyikan keinginan, kerinduan, tersimpat rapat dalam hatinya. Yang sampai saat ini masih sabar menunggu waktu yang dirasa tepat.
Dia tersenyum, menyaksikan Dinda memeluk putrinya sambil membelai rambutnya dengan lembut.
"Tunggu di rumah kita." bisiknya di telinga Dinda.
Rumah kita ...?
Untuk kesekian kalinya Dinda hanya bisa dibuat terbengong-bengong terhadap ungkapan-ungkapan suami padanya.
__ADS_1
"Aku mau ke kamar mandi dulu. Siap-siap mau subuh."
"Iya, Mas."
"Sayang juga harus bersiap-siap. "
"Nanti kalau Anya bangun, bagaimana?"
"Memang demikian. Anak kecil lebih peka menerima kebaikan. Kadang kita salah merespon."
"Maksudnya?"
"Seperti tadi, sebenarnya secara naluri dia tahu waktunya sholat. Makanya tubuhnya ingin bangun. Tapi karena kamu peluk akhirnya tertidur lagi dech..."
"Berarti kalau dia bangun, seharusnya dibiarkan."
"Cerdas ..."Telunjuknya mengetuk kepala Dinda lembut. Sambil berlalu pergi.
💎
Nuansa pagi terpancar seiring mentari membelah cakrawala di ufuk timur. Menembus remang bayang-bayang kabut sisa embun yang turun di tengah malam, terlewati dengan sempurna. Masih terasa sejuk air wudhu yang membasahi muka. Meski terjeda dengan sholat subuh.
Sayang indah pagi harus kulewatkan, untuk sebuah rutinitas yang selalu kulakukan. Dan juga menyiapkan sarapan orang-orang yang tersayang. Yang sekarang mereka menginap di tempatku.
Hingga tak tahu ada sebuah mobil berhenti di depan rumah.
"Assalamu'alaikum ..."
"Mbak Dinda, sepertinya ada tamu?"
kata bi Sumi sambil berjalan ke depan meninggalkanku berkutat dengan penggorengan. Sesaat kemudian kembali.
"Siapa?"
"Sepertinya supir pak Zaidan."
"Supir?" aku mengeryut dahi. Seingatku Zaidan tak memiliki supir pribadi. Siapa ya ....
"Orang yang dulu mengantarkan mbak Dinda sama pak Zaidan ke sini."
"Oh ... pak Aldo. tolong lanjutkan menggoreng ikannya, Bi."
"Baik, Mbak."
Aku berlalu menemuinya di depan rumah. Yang kebetulan belum di ajak masuk oleh bi Sumi.
"Pak Aldo, silahkan masuk. Pak!"
"Zay ada, Mbak."
"Belum pulang dari masjid sejak sholat subuh tadi. Mungkin jalan-jalan dulu sama kakak."
"Ada sesuatu yang pentingkah. Sampai-sampai sepagi ini pak Aldo harus ke sini."
"Tidak ada apa-apa, Mbak. Bolehkah saya tunggu di sini?"
____________________________________________
Readers yang budiman, mohon dukungannya ya...
Bisa berupa like, vote atau komentar positif. Agar author bersemangat dalam berkarya.😚😚
__ADS_1