SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 38 : Bunda Anya


__ADS_3

"Oh ya Mbak Dinda. Ini baju nyonya Hendiana dan mbak Lisa. Zaidan , Anya juga ada."


"Terima kasih, Pak"


"Selamat ya, Mbak Dinda ..."


"**Untuk?"kata Dinda


Aldo hanya tersenyum dengan tanda tanya dan kebahagian. Sebenarnya Dinda sudah mengerti maksud dari ucapan Aldo. Tapi selalu saja Dinda menyembunyikan pernyataannya, agar lawan bicaranya bisa mengungkapkan maksudnya dengan leluasa.


"**Bunda Anya." Kata Aldo.


Membuat Dinda tak bisa lagi berpura-pura tidak tahu.


"Terima kasih."jawab Dinda.


"Mana Dia?"


"Masih tidur."


"Dia selalu bikin cerita yang bahagia buat kita. Tapi hatinya rapuh untuk sebuah kedukaan. Dan memang dia masih terlalu kecil untuk mengerti itu"kata Aldo dengan pandangannya menerawang menyelami rasa gadis kecil yang baru beberapa hari ini bersamanya.


"Kangen keluarga ya, Pak?" Kata Dinda melihat Aldo yang seolah-olah bergumam untuk dirinya sendiri. Aldo hanya tertawa.


Dari belokan gang , Zaidan melihat Aldo sendang bercakap-cakap dengan istrinya. Terlihat santai dan gembira. Sesekali mereka tertawa. Entah mengapa dalam hati Zaidan timbul rasa cemburu.


Zaidan berjalan dengan tenang, mengiringi Alfath. Menyembunyikan rasa cemburu yang tiba-tiba menggelitik hatinya. Hingga sampai di rumah Zaidan. Dia memandang Dinda sesaat tanpa sepengetahuanya. Lalu mendekati isterinya dan berbisik lembut di telinga Dinda.


"Assalamu'alaikum sayang."


Lalu mengecup mesra dahi Dinda di depan Alfath dan Aldo. Membuat Dinda kaget dan mundur selangkah. Tak menyangka akan mendapat kejutan dari suami di tempat terbuka. Tak ayal membuat pipinya bersemu merah. Dan dadanya bergetar.


"Waalaikum salam. Mas sudah datang?"


Dinda menyambutnya dengan mencium punggung tangan Zaidan dengan tenang tapi mesra (menurut Dinda). Zaidan tertawa sambil melirik Aldo.


Aldo dan Alfath menyaksikan pasangan pengantin baru memamerkan kemesraannya itu dengan tersenyum dan hanya mampu membulatkan mata seakan tak percaya. Sepagi ini sudah disuguhi kemesraan, yang bikin iri orang yang melihatnnya.


"Bikin iri aja."kata Aldo.


"Sengaja." Jawab Zaidan.


Alfath yang masih joblo menyaksikan hal itu, ingin tertawa tapi ditahannya. Karena sebenarnya dia merasa malu sendiri. Atas kemesraan bos dan adiknya. Tapi dia bisa memaklumi. Mereka sudah menikah. Jadi siapa yang mau melarang. Sudah sah.


"Mas, saya masuk dulu."kata Dinda yang tampak malu atas sikap Zaidan terhadap dirinya.


Lalu dia meninggalkan para pria itu di terasnya, untuk melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda.


"Pak Aldo, tumben subuh-subuh sudah datang."


"Mengantarkan pakaian, sekalian menjemput nyonya Hendiyana dan mbak Lisa."


"Sarapan dulu, Pak. Sambil menunggu nyonya bersiap-siap."

__ADS_1


"Dengan senang hati."


Tanpa malu-malu Aldo menerima ajakan Alfath. Dia tersenyum senang. Memang ini yang diharapkan. Pagi-pagi sudah bisa mencicipi masakan Dinda.


Alfath meninggalkan mereka berdua. Pergi ke dalam. Menjalani rutinitasnya setiap hari, termasuk panggilan alam yang lama dia tahan. Dan kini, cukup membuat sakit di perutnya. Ingin segera ke belakang. Rutinitas pagi dari badan yang belum bisa kendalikan.


"Aku tinggal dulu Zay, Aldo."


"Ya, "


Setelah Alfath berlalu dengan terburu-buru. Aldo memperlihatkan kegelisahan di wajahnya.


"Ada apa Al,"


"Zay, apa kamu mau mengadakan pesta resepsi untuk pernikahan kalian."


"Menurutmu, bagaimana?"


"Beresiko, tapi mungkin dengan itu pembunuhnya akan muncul."


"Mungkin satu bulan mendatang, Al. Dan aku berencana untuk tinggal di kota."


"Tapi apa kamu sudah siap?"


"Aku ingin segera tahu siapa yang menginginkan keluargaku."


"Di mana itu?"


"Baguslah."


"Zay, Aku mau pulang hari ini."


"**kok?"


"Kangen keluargalah ... dan memberi kesempatan pada pengantin baru menikmati harinya."


"Haaalaaaah kamu ini. Aku tinggal dulu ya ..."kata Zaidan.


Dia pergi meninggalkan Aldo sendirian di teras. Dengan secangkir kopi dan makanan kecil. Yang baru saja dihidangkan oleh bi Sumi.


Dia menikmati hidangan, sambil memandang indahnya cakrawala yang mulai menampakkkan wajahnya. Remang kabut berlahan menghilang. Semburat warna merah, jingga menghias indah di langit biru. Terlihat awan berjalan beriringan bersama hembusan angin yang bertiup. Hawa dingin yang hadir masih juga terasa walau mentari sudah mulai menampakkan diri. Sepertinya akan segera pergi dengan rasa hangat dari kopi yang akan ku minum ini. Gumam Aldo seorang diri tanpa ada yang menemani. Hanya bayangan kekasih yang jauh, namun sekarang mulai menari-nari di pelupuk mata. Menggapai kerinduannya pada keluarga di seberang sana.


💎


"Bi Sumi, tolong semuanya ditata di atas meja. Aku tinggal dulu."kata Dinda sambil berjalan menuju ke kamarnya. Diikuti Zaidan yang mengikuti di belakangnya.


Kali ini Dinda hendak menyiapkan barang-barang yang akan dia bawa ke rumah Zaidan. Termasuk memilih pakaian-pakaian yang akan dia gunakan. Sesekali dia menoleh pada Zaidan yang duduk di tepi ranjang, yang senantiasa memperhatikan apa yang dilakukannya.


"Mas, bagaimana dengan baju ini?"


"Boleh ...."


"Yang polkadot."

__ADS_1


"Emmm ... mas nggak terlalu suka. Tapi kalau sayang suka , boleh."


"Kalau mas nggak suka ... aku tinggal saja. Aku lebih suka ridho suami"


"Wah, mas jadi tersanjung nich."


"Sudah besok kita jalan-jalan ... nanti Sayang boleh pilih baju yang mana?" Kata Zaidan sambil menggelitik Anya yang masih tertidur di ranjang Dinda.


"Ayah?!"kata Anya kesal, karena tidurnya terganggu.


"Anya mau di sini terus ... Ayah dan Bunda Dinda mau balik ..."kata Zaidan dengan lembut. Alhamdulillah taktiknya berhasil. Bisa membangunkan Anya yang masih tertidur pulas. Sekarang matanya sudah mulai terbuka.


"Bener Ayah. Bunda mau pulang ke rumah kita?"


Mendengar bunda Dinda akan ikut mereka pulang ke rumahnya, membuat Anya senang. Dia segera bangun dan memeluk ayahnya yang duduk di tepi ranjang. Lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Ayah, ini kamar siapa?"


Terlihat wajahnya kebingungan. Mendapati dirinya berada dalam kamar yang masih asing baginya.


"Sekarang kita di kamar bunda Dinda. Ayo bangun, nanti ayah bunda tinggal lho."


Senyum Anya mengembang. Lalu meliukkan badannya sambil menggerakkan kedua tangannya ke atas. Uuuaahhg ....


"Bau... ah. Ayo mandi dulu."kata Dinda sambil menuntun Anya turun dari ranjang. Setelah selesai membereskan pakaian yang akan dibawanya ke rumah Zaidan.


Tanpa banyak perlawanan Anya mengikuti Dinda menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Terlihat aura keceriaan pada raut wajahnya..


Di ruang tengah berpapasan dengan kak Lisa yang sudah rapi dan bersih sedang menuju meja makan. Entah godaan setan dari mana, tangan jahil kak Lisa mulai beraksi. Dia menyibak sedikit kerudung yang Dinda pakai.


"Kok belum basah?"kata Kak Lisa menggoda adik iparnya ini. Wajahnya tampak berkerut namun terlihat gembira.


"Apa-apaan kakak ini ..." Sontak Dinda berteriak kaget dengan apa yang dilakukan kakak iparnya itu.


Reflek tangan menutup kembali kerudung yang sempat tersingkap. Terlihat rona merah bersemu di pipinya.


"Kak Lisa ..."


Dengan wajah agak cemberut dia pergi meninggalakan Lisa dengan senyum kemenangannya. Yang tak henti-henti menjahilinya. Dia kembali menuntun Anya menuju kamar mandi.


Sekarang semua sudah terlihat bersih dan rapi. Duduk bersama di meja makan besar untuk menikamati sarapan pagi bersama. Tak terkecuali Aldo.


Setelah semua selesai sarapan dengan menu yang disediakan Dinda. Nyonya Hendiyana dan kak Lisa berpamitan.


"Mom, pulang bersama Aldo ya ... Aku akan mampir ke KUA dulu. Bersama Dinda dan Anya. Menyelesaikan surat-suratnya."


"Ya ... sekalian mommy akan mampir ke paman dan bibimu. Haydi dan Handoko. Lama tidak bertemu mereka." kata nyonya Hendiyana.


____________________________________________


Readers yang budiman, mohon dukungannya ya...


Bisa berupa like, vote atau komentar positif. Agar author bersemangat dalam berkarya.😚😚

__ADS_1


__ADS_2