
Zaidan diam, memejamkan mata. Sekarang baru dia sadari. Atas sikap momminya selama ini. Sejak ia masih kecil seolah-olah ingin mendekatkannya dengan keluarga Haydi. Ternyata dia bagian dari keluarga ini. Tetapi mengapa Haydi tak peduli padanya. Hingga dia harus terdampar di panti asuhan. Dan mengapa yang mengambilnya adalah daddy Kamal dan mommy Ana. Bukan mami Haydi sendiri. Ah ... cukuplah kutahu mami Haydi adalah mami kandungku. Toh semua peristiwa itu telah berlalu. Tak perlu diusik lagi.
Dinda yang melihat suaminya terdiam lama, beranjak mendekatinya. Terlihat tetesan bening keluar dari matanya yang terpejam.
Dengan ragu dia duduk dekat Zaidan dan mengusap butiran bening itu. Zaidan memeluknya dan menangis di bahunya. Anya yang melihat itu menjadi bertanya-tanya.
"Bunda, mengapa oma menangis, tante dan ayah juga," tanya Anya bingung..
"Tidak apa-apa, Anya. Kadang ayah juga perlu menangis, tante juga.Bahkan oma juga boleh menangis asal tidak selalu."
Anya terlihat puas mendengar penjelasan bundanya. Dia mengambil selembar tissu yang ada di nangkas diberikan pada ayahnya.
"Terima kasih, Sayang." kata Zaidan sambil mengusap rambut putri lembut.
"Mas, itu mami. Menunggu mas ... datangi dia."
"Baik, sayang."
Zaidan segera beranjak mendekati maminya. Dan memeluk Haydi dengan erat seakan tak ingin dia lepaskan.
"Maafkan mami, Zai. Selama ini tak bersikap baik padamu."
"Tak apa, Mam. Semua ada hikmahnya."
"Dimana Layla?"
"Dia perlu menenangkan diri dulu, Mam."kata Zaidan.
Shaffa yang diam mematung di sofa yang dia duduki. Mulai bangkit dan berjalan ke arah
Haydi yang sedang memeluk Zaidan.
"Kak," Dia menghambur memeluk Zaidan. Tetesan bening tak mampu dia bendung. Dengan leluasa mengalir di pipinya.
"Ya ..."Zaidan mendudukkan di sisinya dan mereka memeluk Haydi bersama-sama.
Haydi menarik nafas panjang. Tergambar kelegaan di wajahnya. Namun dia tak bisa menahan manakala air matanya ingin keluar lagi.
"Putra-putri mami sekarang bisa berkumpul. Mami sangat bahagia."ucap Haydi.
Membuat semua larut dalam kebahagiaan yang mungkin sulit untuk diungkapkan.
Baik Dinda maupun Ana turut merasakan apa yang mereka rasakan juga.
Anya duduk di sisi bundanya. Masih binggung dengan sikap orang-orang dewasa di dekatnya.
Sesaat yang lalu mereka semua tertawa bersama. Bahkan bermain sampai berjatuh-jatuhan. Tapi mengapa saat ini semua terlihat sedih. Menangis di tempat masing-masing. Semua itu membuat hatinya gundah. Sehingga dia pun turut menangis dengan suara terisak. Meski tak tahu mengapa dia harus menangis.
Dinda meraih putri kecilnya itu. Memangku dalam gendongannya. Mengajaknya ke luar kamar. Agar anak yang belum mengerti benar dengan urusan orang dewasa tak larut dalam kesedihan. Karena itu bukan dunianya.
"Mas, aku tinggal dulu."
"Baiklah,"
Dinda meninggalkan Zaidan di kamar itu beserta keluarganya , dengan tetes air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Bunda, mengapa menangis, apa Anya nakal. Hingga membuat semuanya menangis."
"Tidak, Sayang. Putri bunda ini malah yang bikin kita selalu bahagia." kata Dinda sambil memeluk dan mengecup pucuk kepala Anya.
"Ayo kita ke taman, memetik bunya sakura."
"Kalau itu membuat Bunda tak sedih lagi." Masih dengan isak yang lirih menghilang.
Dinda berhenti sejenak di ruang keluarga yang luas. Lalu duduk , melepas Anya dari pelukannya. Sejenak Anya hanya diam menatap bundanya. Tak berani dia mengganggu. Akhirnya dia meletakkkan kepalanya di pangkuan bunda Dinda. Untuk mendapatkan belaian lembut jari-jari bunda Dinda. Yang membuat matanya terpejam.
Mata Dinda tertuju pada sebuah pintu yang tertutup rapat di ruangan atas. Mungkinkah itu kamar Layla. Karena dari kamar itu terdengar isak tangis yang lirih menyentuh.
__ADS_1
Ingin dirinya menghampiri ruangan itu, namun diurungkan. Mungkin kesendirian akan lebih membentu mengenali dirinya. Bagaimanapun kenyataan ini adalah sulit untuk dirinya. Disaat Layla amat berharap sangat, bisa bersanding dengan Zaidan, namun kenyataanya berkata lain. Kebenaran yang lama tersimpan, terungkap juga. Bahwa mereka adalah saudara.
Untunglah tak lama Layla membuka pintu. Berjalan lemah dengan mata sembab, berjalan ke sebuah ruangan di sisi ruang keluarga ini. Entah itu ruangan apa? ...
Sekejap sunyi, Dinda tak tahu apa yang dilakukan Layla di sana. Ada sebersit kekhawatiran melihat gadis yang kini menjadi adik iparnya. Namun perasaan itu dibuangnya jauh, ketika lapat-lapat terdengar alunan suara biola dimainkan. Iramanya syahdu dan penuh penghayatan. Ungkapkan kesedihan yang tersimpan dalam kalbunya. Rasa itu seakan tersampaikan pada yang dituju.
Dari kamar Haydi, berlahan Zaidan dan Shaffa berjalan beriringan. Masih dengan sisa-sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya. Yang tak mampu mereka sembunyikan. Membimbing langkah mereka kemana asal alunan kesedihan dari biola yang dimainkan.
Tak ada percakapan yang terdengar. Hanya saja alunan itu semakin sempurna dengan adanya suara piano dan gitar yang dipetik secara bersama-sama. Bersama-sama dalam rasa yang ada. Mewakili kata dari jiwa yang saat ingin tak bisa diungkap.
Entah lagu apa yang mereka mainkan hingga air mata Dinda tak bisa lagi dibendung.
Dinda memberanikan diri melangkah mendekati ruangan itu. Dia tertegun melihat tiga orang bersaudara itu memainkan alat-alat musik masing-masing sambil memejamkan mata.
Terlihat Layla terisak seakan tak sanggup lagi menyelasaikan permainan biolanya. Namun dia tetap bertahan mengiringi suara merdu sebuah lagu yang mulai mengalun lirih. melengkapi permainan mereka.
Suara merdu dari bibir dari suara seorang pria. Mungkinkah itu suara suamiku.
🎶
*Ribuan malam aku gambarkan
Melukiskan hati yang penuh aral
Tentang suatu peristiwa
Anganku berdesir menyebutmu
Tentang waktu kian terus berjalan
Tiap detik bila kubertanya
Kemanakah muara cinta
Di teraman langit kutasbihkan
Padamu harapan kusandarkan
Bicara cinta tak sekedar cinta
Jalanku belum sempurna
Pemilik cinta ini rasaku
Berucap gemuruh engkau yang tahu
Walau mataku tak bisa menatap
Namun hatiku bisa melihat cinta
Melukis hatiku kepadamu
Ya Allah*
🎶
Dengan segenap rasa lagu itu dialunkan. Sambil memainkan tuts-tuts piano tanpa dia menatapnya.
Air mata Layla terus menetes dari sudut matanya yang terpejam. Tanpa mempengaruhi tangannya yang terus memainkan biola yang ada di bahu kirinya.
Sedangkan Shaffa mengiringinya dengan ritme gitarnya.
Selesai sudah satu lagu Zaidan nyanyikan. Namun permainan mereka belum juga berakhir.
Dari bibir mungil Shaffa melanjutkan pula sebuah lagu dia nyanyikan.
🎶
__ADS_1
*Pertemuan ini
Menjadi suatu berarti
Dikala diri men**gerti
Untuk warna-warna hati
Ruang-ruang jiwa
Hanya untuk maha Kuasa
Syair-syair cinta
Tercipta karena dia
Kupu-kupu cinta
Terbanglah tinggi menuju cahaya
Hinggaplah engkau di bunga yang indah
Terbang bersama hembusan angin cinta
Ya Illahi Robbi
Tiada lain hanyalah namamu
Satukan cinta ini dalam bingkai
Untaian ridhomu
🎶*
Bait demi bait Shaffa nyanyikan dengan segenap rasa. Dengan diiringi permainan piano dan biola kakak-kakaknya yang memang sudah pernah melalang buana di kala remajanya.
Namun permainan mereka harus berakhir ketika Layla sudah tak mampu menyangga tubuhnya. Dia Limbung dan hendak jatuh.
Zaidan segera menghentikan permainan pianonya. Dan menyambar tubuh Layla yang hendak jatuh.
"Layla, adikku."
"Kakak. Kenapa kakak selama ini menyembunyikan ini padaku. Hingga aku harus jatuh cinta pada kakak."
"Layla, apapun yang sudah terjadi bukan kuasa kita."
Layla terus terisak di pangkuan Zaidan. Dia amat terguncang dengan kenyataan yang dia hadapi. Tentang dirinya, tentang perasaanya pada Zaidan. Yang tak lain adalah kakak kandungnya.
"Kakak akan selalu menjagamu sebagi kakak. Dan memastikan kamu bahagia. Berbahagialah kita dipertemukan dalam ikatan yang lebih kuat , sebagai saudara."
"Baiklah, kakak. Mulai sekarang aku akan belajar menerimamu sebagai kakak aku. Tak lebih."
Zaidan mendekap Layla dengà n kasih sayang. Dinda memberanikan masuk ke ruangan itu sambil membawa segelas air putih. Mendekati mereka berdua dan memberikan gelas itu pada Zaidan. Untuk
diberikan pada Layla.
Dengan berlahan dia memberikan minuman itu pada Layla dan membantu untuk meminumnya.
"Kakak ipar, maafkan aku."
"Sudahlah."
Layla memejamkan mata tanpa daya. Zaidan menggendongnya menuju kamarnya yang ada di atas, diiringi Dinda.
"Temani dia."
"Baik , Mas. Anya?"
__ADS_1
"Dia masih tidur di sofa."