
"Bagaimana keadaanya sekarang."
"Sudah lebih tenang."
"Mommy mau balik."
"Aku tak ikut ya...."
"Baiklah."
"Anya."
"Ikut aku."
" Emmm ... malam ini kita ..."
Dinda tak jadi meneruskan kat-katanya karena mendapat tatapan dari suaminya.
Zaidan tersenyum mendengar kata-kata istrinya, yang terlihat di matanya semakin manja.
"Kangen ..."
"Bukan itu. Mami masih sakit, Layla belum stabil benar."
"Kalau engkau setuju. Sementara waktu kita tinggal di sini. Aku mau menemani mami."
"Aku istrimu. Sangat mendukung keputusàn itu. Apalagi untuk berbakti pada orang tua."
"Terima kasih, Sayang. Sesuatu banget itu bagi mas. Apalagi saat seperti ini ... maaf aku tak merayumu. Tapi saat ini aku sungguh membutuhkan dukunganmu untuk segalanya."
"Ini dulu kamarmu, kah?"
"Iya."
"Ayah, Bunda. Eyang sudah siap." panggil Anya.
"Bunda, aku tinggal dulu ya ..."
"Ya. Baik."
"Jangan lupa. Nanti masak yang enak ya..."
"Hemmmmm ... sana. Mommy sudah menunggu , tuh!"
"Bunda, kami pergi dulu." Dan seperti biasa dia lansung memberi kecupan di dahiku.
Perlakuan itu sudah sering kuterima darinya. Namun mengapa dada ini selalu berdebar-debar bila Zaidan melakukannya untukku.
Kutatap orang-orang yang sejak beberapa hari mengisi hariku pergi meninggalkan pelataran rumah mami Haydi.
Mas ... rumit banget cintamu. Aku merasa Layla adalah cinta pertamamu.Entah rasa cemburu ini seakan datang mengusik pikirku.
Ya Tuhan, berilah hamba daya mengubah arah hembusan cintanya dalam pelukan kasih dan ridhomu. Dan berilah Layla arah cinta dalam cahaya kasihmu.
"Layla, kamu sudah bangun."
"Kak Zaidan, kemana?"
"Ah kamu Layla. Baru bangun sudah tanya kakak Zaidanmu. Kakak jadi cemburu."
"Maaf, Kakak ipar. Kakak jangan cemburu."
"Iya Layla. Tenanglah. Mas Zaidan mengantarkan mommy ke bandara."
"Kakak ipar ini dewasa banget. Pantas kak Zaidan terpesona."
"Biasanya kalau orang memuji pasti ada maunya."
"Iya, kakak tinggal sini dulu ya...."
"Kakak terserah suami saja."
"So sweet ... kakak ipar."
Layla, kalau aku melihatmu seperti ini. Membuat hilang rasa cemburuku padamu.
"Sudah Layla. Kakak mau bikin sesuatu untuk makan malam kita."
__ADS_1
"Kita, atau kak Zaidan."
Ternyata orang-orang di rumah ini suka sekali bercanda. Dari kak Lisa hingga Layla tak habis-habisnya menggoda.
"Wouw .... pipi kakak bersemu merah."
Bagaimanapun sulit bagiku menutupi rasaku yang selalu muncul bila mereka menggoda. Aku tak tahu harus menyembunyikan itu dari mereka. Bila kubiarkan mereka tertawa. Bila kusembunyikan bagaimana caranya?
Aku tak tahu.
"Udah ah ... kamu ini ada-ada saja."
"Kak, boleh aku minta sesuatu?"
"Ya, apa?"
"Buat kak Zaidan dan Anya bahagia."
Dalam hati aku hanya tertawa mendengar permintaannya. Ya ... itu juga keinginanku Layla.
"Kok, kakak senyum saja."
"Kebahagian kakak akan lengkap bila kamu juga mendapat pendamping yang bisa membahagiakanmu."
"Aku akan mencoba untuk membuka hatiku. Cuma sementara aku ingin menikmati masa aku sendiri, Kakak ipar."
"Aku harus panggil apa ke kamu. Usia kakak lebih muda darimu?"
"Ya ... Layla saja, seperti kak Zaidan memanggilku."
"Boleh. Tapi kasih tahu aku, makanan kesukaan keluarga ini. Nanti kakak akan bikinkan."
"Terserah kakak saja. Paling-paling kalau nggak suka nggak akan di sentuh."
"Waduh ... sadis."
Layla hanya tertawa. Dinda bahagia melihatnya. Kalau semua ikhlas tentu beban yang beratpun akan terasa ringan. Semoga Layla dapatkan itu. Ya ... keihlasan untuk melepaskan keterikatan hatinya pada sosok yang diketahui sebagai kakak kandungnya.
💎
Melihat putra-putrinya berkumpul, membuat Haydi punya kekuatan. Hingga malamnya, sudah bisa bersama-sama berkumpul di meja makan. Menikmati masakan Dinda.
"Kakak ipar yang memasaknya, Mam." jawab Layla.
"Makanya kakak kasih untuk bikin restoran. Alhamdulillah sekarang sudah berjalan."
"Benar begitu kakak ipar. Kakak sudah punya restoran?"
"Kakak hanya menjalankan saja, modalnya dari kakakmu," Kata Dinda sambil tangannya menyuapi Anya. Tak mau makan sendiri, minta disuapi. Sepertinya dia ingin bermanja pada bundanya.
"Lho ... cucu oma kok minta disuapi."
Yang diajak bicara langsung menampakkan cemberut di wajah. Enggan untuk makan lagi. Dinda hendak merayunya kembali dengan memberi suapan lagi. Namun tak diperdulikan.
Lha kok, malah disambar sama Zaidan.
" Yang besar juga boleh disuapi kok, Oma." jawab Zaidan sambil menyambut suapan yang masih ada ditangan Dinda, yang belum sempat diberikan olehnya pada Anya.
"Mas, untuk Anya." kata Dinda. Membuat Dinda salah tingkah. Apalagi mertuanya dan juga adik-adik iparnya senyum-senyum melihat tingkah kakaknya itu.
"Adik ... nggak mau makan. Ya ayah yang makan."jawabnya santai sambil melihat Anya.
"Nggak boleh ... baik aku ganti. Harus dimakan." kata Zaidan sambil memberi suapan pada Dinda.
"Apa-apan sich!"
"Hemmmm ..."Pandangan Zaidan tajam, lembut memerintah.
Mau tak mau Dinda mematuhinya. Dengan engan dia menerima suapan dari suaminya.
"Ayah untuk aku mana?" kata Anya tak mau kalah.
"Oke ... dimakan ya...." kata Zaidan sambil memberi suapan terakhir kepada putrinya. Lalu mengambil piring yang ada di tangan Dinda.
"Bunda juga harus makan."Dia memberi suapan kepada istri dan anaknya secara bergantian.
"Mam, kita nggak dianggap."bisik Shaffa dengan suara keras. Haydi hanya senyum-senyum melirik mereka berdua. Lalu beralih pada kedua putrinya yang juga seyum-senyum menahan tawa.
__ADS_1
"Hem ... hem ... hem ..." Shaffa berdehem penuh arti sambil mengambil segelas air putih.
"Mas ... biar aku makan sendirilah." kata Dinda dengan merajuk , meminta piringnya yang kini berada di tangan Zaidan.
"Siapa juga yang mau menyuapi bayi besar." diberikannya piring itu pada Dinda. Membuat Dinda geram.
Dengan menahan malu Dinda melanjutkan makannya. Sedangkan Anya sudah selesai menyantap makanannya bersama dengan ayahnya.
"Kakakku itu bikin orang cemburu aja. Pamer kemesraan pada yang masih jomblo ini."
"Lha ... mau dicarikan kakak."
"Belum kepikiran, Kak. Kalau kakak tak keberatan, aku ingin melanjutkan S3 ku."
"Itu bagus."
"Mami nggak apa-apa kalau aku melanjutkannya ke Australia?"
"Kalau itu maumu, mami nggak keberatan Layla. Lalu perusahaan papamu siapa yang pegang?"
"Sekarang sudah ada kak Zaidan yang lebih ahli. Biarlah dia yang memimpinnya."
"Bagaimana Zaidan?"
"Tidak mengapa, Mam. Nanti biarkan Aris yang jadi wakilku di sana. Hanya saja untuk sementara ini, bisakah kakak minta bantuanmu untuk menggantikan tugas Aris. Sebelum kakak mendapat gantinya."
"Kakak ...."
"Kakak mengerti. Itu akan jadi tugas kakak untuk menjelaskan pada kakak ipar."
"Nggak apa-apa Layla, aku percaya dengan keputusan kakakmu, Zaidan."
"Baiklah."
💎
Bayi lucu yang mengenakan bando di kepalanya itu mungkin Layla. Lalu itu Zaidan kecil yang polos. Mereka waktu kecil juga menggemaskan.
Dan itu foto-foto mereka ketika memainkan piano dan biola bersama-sama. Zaidan umur 12 tahun sedang duduk di kursi piano dan Layla yang masih 6 tahun duduk di sampingnya.
Umur 9 tahun Layla sudah ahli memainkan biola. Dan itu foto mereka berdua Zaidan dengan pianonya, sedangkan Layla dengan biolanya. Dan itu sertifikat-sertifikat mereka berdua dalam semua ajang perlombaan yang mereka ikuti.
"Humaira sayanga, kamu belum tidur."suara lembut berbisik di telingaku. Aku menoleh. Kudapati mata sayu suamiku menatapku dengan senyum nakalnya.
"Mas juga belum tidur?"
"Serasa ada yang hilang di samping mas, hingga mas terbangun. Ternyata kamu nggak ada."
"Aku pingin ambil air, haus."
"Kok tak balik-balik."
"Mau lihat foto-foto mas. Tadi siang mau melihat tapi tak sempat."
"Sayang, masih mencurigai mas?"
"Aku percaya. Hanya saja bagiku begitu rumit tautan hati Layla sama mas. Aku jadi bertanya. Mengapa?"
"Sekarang ...?!"
"Sekarang aku mengerti. Foto-foto ini menjelaskannya."
"Terima kasih, Humaira. Kuharap kecemburuanmu tak membabi buta. Mas tak tahu, harus menjelaskannya bagaimana lagi."
"Benarkah mas sudah tak ada hati sama Layla?"
"Semenjak mami tak merestui kami. Sejak saat itu aku telah menposisikan Layla sebagai adik. Tapi aku mengerti Layla tak bisa."
"Sudah sayang. Temani mas malam ini. Aku tak bisa tidur bila kamu pergi."
Whhhaadeeech .....
______________________________
Readers yang budiman .
Mohon dukungannya ya..
__ADS_1
Like, komentar positif atau vote. Agar Author semangat dalam berkarya.