
"Ayah, makanlah dulu." kata Dinda menenangkan.
"Dia tak kenapa-napa kan?"
"Semoga cepet baikan." jawab Dinda.
Sebenarnya Dinda sangat mencemaskan kedaan Mayasa. Tapi, tak ingin membuat Zaidan gelisah.
"Pak Zaidan, saya ingin merawat Mayasa."kata Fadly ringan tanpa beban. Membuat dahi Zaidan berkerut.
"Maksudnya?"
Entah mengapa lidah Fadly menjadi kelu ketika melihat reaksi Zaidan yang penuh selidik.
Zaidan lalu memandang istrinya dan mamy Haydi. Mereka berdua diam.
Entah apa yang mereka pikirkan, sehingga tak lama mereka berdua bisa menganggukkan kepala.
"Silahkan menikmati hidangan dulu, nanti kita bicara."
Fadly mengangguk. Melanjutkan makannya dengan tenang.
Mama Veronica tersenyum saja dan mengacung jempolnya pada putranya secara rahasia.
"Mama mendukungmu."
💎
Usai sudah menikmati hidangan yang sangat nikmat. Ditambah pula bumbu kehangatan, yang dihadirkan oleh keluarga Zaidan. Hingga Fadly dan mama Veronica tak canggung untuk larut dalam tawa canda yang hadir, disela-sela acara makan malam.
Sementara mama Veronica dan Haydi kembali lagi ke kamar Mayasa. Zaidan mengajak Fadly, berbincang-bincang di teras rumah. Sambil menunggu mbak Atun selesai memijat Mayasa.
"Pak Fadli, sebenarnya apa maksud kata-kata Bapak tadi?"
Zaidan masih menggunakan bahasa resmi, mengingat mereka adalah rekan bisnis, yang sedang mengerjakan sebuah proyek.
"Maaf sebelumnya, bolehkah saya memanggil pak Zaidan dengan sebutan kakak, seperti Mayasa mamanggilmu?"
Ini orang benar-benar sangat percaya diri. Tak ada sedikitpun ada keraguan dalam mengungkap keinginannya.
Tetapi hal seperti ini sudah lama Zaidan tunggu. Karena Zaidan tahu benar bahwa selama ini, yang dia saksikan jalan dengan pria adalah Mayasa. Sebelumnya dia menyangka dia adalah Layla.
"Boleh, kalau itu membuat pak Fadly nyaman"
"Dan jangan panggil aku 'pak', panggil nama saja."
Zaidan menggangguk pelan.
"Kak Zaidan, aku ingin melamar Mayasa sebagai isteriku. Kalau kakak berkenan. Aku takut kehilangan dia lagi."
Zaidan berfikir sejenak, sambil memandang Fadly. Dia seakan ingin menerka seberapa besar kesungguhannya.
"Aku tak tahu. Mayasa yang akan menjalaninya. Tapi yang aku tahu bahwa aku kakaknya, yang punya hak untuk menyerahkan pada siapa adikku akan kutitipkan."
"Maksud kak Zaidan?"
"Apa kamu yakin, kèlak bisa menjadi imam yang baik, untuk Mayasa dan keluargamu."
"Aku akan berusaha, Kak."
"Mayasa baru saja belajar, apa kamu sanggup mengajarinya."
"Aku mencintainya, Kak."
"Aku juga tahu itu Fadly."
"Lalu, apa yang harus saya lakukan, agar kakak merelakan Mayasa bersamaku."
"Sebagai ujian awal, tolong bacakan 3 surat terakhir juz 30."
Fadly diam mematung. Tak sangka yang diminta Zaidan hal yang tak pernah dia bayangkan selama ini.
Apalagi sejak kecil belum pernah dikenalkan orang tuanya tentang bacaan itu. Meski kedua orang tuanya adalah seorang muslim. Tapi keduanya tak mampu membaca Alqur'an.
__ADS_1
Pernah masuk TPQ tapi hanya 1 minggu. Lalu kemudian tak berlanjut. Apalagi orang tak pernah peduli, apakah dia bisa membaca Al Qur'an atau tidak. Karena yang terpenting, bila mau hidup bahagia, maka harus bisa cari uang.
Dengan tertunduk malu, dia bertanya pada Zaidan.
"Kak, 3 surat terakhir itu apa ya ..."
Zaidan tersenyum menatap Fadly yang belum punya keberanian mengangkat kepala.
Ini sudah diperkirakan oleh Zaidan. Tapi Zaidan tak mau main-main, demi kebahagian adik-adiknya.
"Tiga surat qul. An Naas, Al Falaq, Al Ikhlas."
"Kak ....?"
Zaidan menggelengkan kepala. Membuat Fadly sedikit putus asa.
"Kapan kamu hendak melamar adikku?"
"Besok, sama harinya saat Aris melamar Layla."
"Maksudnya besok lusa ...."
"**Oh ...."
"Kalian janjian?"
"Enggak, hanya kebetulan. Habis aku nggak bisa merawat Mayasa, kalau nggak jadi suaminya. Mayasa bilang seperti itu."
"Kalau gitu tolong ditunda, sebelum kamu lulus baca surat itu."
"Kok gitu, Kak. Apa Aris juga kakak beri tantangan sepertiku."
"**Pasti."
"Kalau sà at ini aku tak bisa, Kak. Insya Allah besok aku akan usahakan."
"Gitu dong, Bro. Kakak iparmu ini menunggumu." kata Zaidan sambil menepuk bahu Fadly.
Senyum Fadly mengembang, meski dengan sedikit ragu.
"Ayo,aku juga mau tengok dia. Sejak kejadian aku belum ketemu dia.Terima kasih sudah mengembalikan Mayasa pada kami."
"Aku mau halalnya, Kak. Dulu dia menghilang dariku karena ingin bertemu keluarganya. Biarlah nanti, kalau dia sudah siap akan kubawa. Tentu dengan halal, seperti yang dia minta."
"Mayasa pasti beruntung mendapatkanmu. Tolong bimbing dia. Jadilah imam yang baik untuknya. Penuhi syaratnya."
Fadly mengangguk mantap.
"Kalau besok belum sempurna, tolong dimaafkan, Kak."
Zaidan menggelengkan kepala. Dia menatap Fadly dengan tersenyum.
Lalu, mereka berdua berjalan beriringan, menuju kamar Mayasa.
Sesampai di sana, terlihat sepi. Mama Veronica dan mamy Haydi sudah tak ada lagi di sana.
Alhamdulillah Mayasa sudah selesai dipijat oleh mbak Atun.
Terlihat Mayasa tertidur dengan tenang di atas ranjangnya. Mungkin tubuhnya sudah lebih baik, hingga dia bisa nyaman tidurnya.
Fadly memandang Mayasa dari pintu. Tanpa menginginkan lebih. Agak segan juga dia dengan Zaidan.
Dia memandang Zaidan yang duduk di sisi Mayasa berbaring. Membelai kepala Mayasa dengan lembut. Dan mencium dahi Mayasa.
Semua itu dilakukannya di depan Fadly. Hingga Fadly faham benar, beginilah cara Zaidan menyayangi keluarganya. Mesra dan sangat mendalam, penuh kehangatan.
Dia berlahan berjalan mendekati Zaidan, berdiri di samping ranjang Mayasa.
"Kak Zaidan," Mayasa membuka matanya.
"Istirahatlah, sudah enakkan."
"Ya, Kak."
__ADS_1
Pandangan Mayasa tertumpu pada sesosok pria, yang ada di sebelah Zaidan.
"Kak Fadly belum pulang?"
"Ini kakak mau pulang. Bagaimana setelah dipijat."
"Jauh lebih baik. kata mbak Atun perlu 3 sampai lima kali pijatan agar normal."
"Ya, besok kusuruh memijatmu lagi."
"Terima kasih, Kak Fadly."
"Kakak pulang dulu. Besok kakak ke sini lagi."
"Kakak." Mayasa meraih tangan Fadly.
"Sudah jangan katakan apapun." Fadly meraih tangan Mayasa dan mencium punggung telapak tangannya. Menepuk berlahan sebelum melepaskannya.
"Ayah ...."
Tak sangka Anya masuk tiba-tiba, menghampiri mereka.
"Ada apa, Sayang." Zaidan mendudukkannya di pangkuannya.
"Aku tadi sudah nambah lagi 10 ayat."
"Hebat putri ayah. Boleh ayah dengar sekarang?"
Anya menggaguk.
Tak lama kemudian, dia sudah melafaldkan kesupuluh ayat dari surat Al Mulk, dalam pangkuan Zaidan.
Mendengar suara Anya, yang mengalunkan ayat-ayat Al Qu'an dengan sangat baik dan tartil, membuat Mayasa dan Fadly sangat terpesona dan terharu.
"Kereeenn ..."
Fadly mengacungkan kedua jempolnya begitu Anya selasai membacanya.
"Sini, mendekat sama ammah!"
Anya mendekat untuk mendapat hadiah dari Mayasa. Berupa ciuman kecil di kedua pipinya yang tembem itu.
"Nanti ammah diajari ya ..."
"Boleh, tapi Anya diajari melukis ya ..."
"Oke ..."
Keduanya memautkan kedua jari kelingking.
"Kakak jadi betah di sini nich ... tapi kasihan mama. Besok kakak ke sini lagi ya ..."
"Terima kasih. Kak Fadly."
"**Ya ... doakan besok kakak lulus tes,"
"Tes apa?"
Fadly hanya tersenyum menatap Mayasa. Lalu melangkah pergi. Biarlah itu jadi rahasia kakak Zaidan dan dirinya.
"Semoga cepat sembuh ..."
"Aamiiin..."
"Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikum salam ...."
_________________________
Maaf masih banyak tiponya.
Readers yang budiman. Mohon dukungannya, saran positif, like atau vote. Agar author bersemangat dalam berkarya.
__ADS_1
Moga-moga karya ini bisa menjadi bà caan favorite