SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
extra part


__ADS_3

3 tahun kemudian tampak di sebuah taman, sebuah keluarga kecil yang sedang berkumpul. Dengan 1 anak perempuan yang dikelilingi 2 orang baby kembar.


"Kakak Anya, punya bola."


"Hore....," celoteh Atira.


"Hoyyey ...." Aqila tak mau kalah. Bicara Aqila masih cedal dibanding kembarannya.


Keduanya berlari menuju ke arah Anya yang memainkan sebuah bola. Berebut ingin memilikinya.


Anya sampai terbengong-bengong melihatnya. Membuat bola itu terlepas. Atira segera mengejarnya. Dan mendapatkan bola itu. Sedangkan Aqila sudah tertinggal, hanya bisa memandang kecewa.


"Kak Akiya, ala mau."celoteh Aqila pada Atira


"Yey. Kakak dulu yang ambil."


"Kalian nggak boleh berebut. Bergantian."kata Anya menengahi. Tapi Atira tak mau berbagi. Membuat Anya bingung harus bagaimana.


"Sudah, sudah kalau gini kakak Anya ambil."


"Ya, Kakak."jawab Atira kecewa.


Setelah bola itu sudah berada di tangannya. Aqila dan Atira malah menangis.


"Bunda, adik Aqila dan Atira menangis."


"Kenapa?"


"Atira tak mau berbagi."


"Anya lupa ya ... kalau punya 2 adik?"


"Uangnya nggak cukup untuk beli dua."

__ADS_1


"Untung tadi ayah lihat waktu Anya beli. Nich satunya." kata Zaidan.


"Oke. sekarang nggak boleh berebut. bisa satu-satu." kata Anya sambil melempar bola warna merah dan biru pada mereka.


"Aku/ayu mau warna/wanya biru/biyu." jawab mereka serempak. Lalu dua-duanya mengejar bola yang berwarna biru.


Berebut lagi, tak ada yang mau mengalah. membuat Anya diam mematung, bingung dan bersedih. Pada akhirnya ikutan menangis.


"Bunda,adik-adikku berebut lagi nggak ada yang mau mengalah."


Dia berjalan sedih mendekati bunda Humaira. Duduk di pangkuannya sambil menangis.


"Lho kok sedih."kata ayah Zaidan.


"Sini, sama ayah."


Diapun menurut saja ketika ayah Zaidan menarik tangannya dan mengambil bola merah dan biru ditangan adik-adiknya.


"Ya, Ayah." jawab mereka kompak.


Ayah Zaidan pun pergi meninggalkan mereka bertiga, bermain dengan riang.


Mendekati bunda Humaira yang tersenyum gembira.


"Kenapa Bunda.Ada yang lucu?"


"Tidak Ayah. Bunda bahagia. Tak sangka semuanya akan berlalu dan kita bisa hidup dengan tenang. Tanpa ada lagi gangguan."


"Kata siapa tanpa gangguan. Bunda selalu menggoda ayah. Apa itu bukan gangguan."


"Ayah!!!" Teriak Dinda manja sambil mendaratkan 1 cubitan kecil di pinggang Zaidan. Sudah jadi kebiasaan ....


"Aiii ... Bunda. Sakit tahu ... dilihat sama Anya, tuch."

__ADS_1


Tak berselang lama, Aris dan Layla datang bersama Tiva yang sudah diasuh oleh mereka bersama bayi mungilnya.


"Assalamu'alaikum.... kakak."


"Sudah lamakah?"


"Belum lama."


"Tinggal Mayasa yang belum hadir."


"Sedang ke sini. Masih di jalan."


"Nah itu dia."


Terlihat Mayasa yang mendorong kereta dorong untuk ke 2 putri mereka,


"Alhamdulillah semua sudah datang. Kita sarapan dulu. Baru setelah itu kita ke makam mami Haydi."


"Iya."


Rupanya setelah kejadian itu tak berselang lama kesehatan Haydi menurun dan dia meninggal dunia. Sedangkan Ryan mendapatkan hukuman mati atas semua kejahatannya. Dari bandar Narkoba, penyelundupan senjata, perencanaan pembunuhan. Dan Yang paling nyata adalah membunuh rekan-rekannya. Termasuk disana Son dan Handoko.


Tinggallah kini, Putra-putrinya mereka yang telah berkeluarga semuanya. Termasuk Shaffa yang menikah dengan Reza. Dan kini harus mengurus perusahaan Daddy Kamal di Australia.


____________SSSSSSSSSSS____________


Demikian readers akhir Novel ini. Semoga bisa menghibur dan bisa diambil pelajaran untuk kita.


Jangan lupa beri vote atau like setelah baca.


Saran juga boleh.


Assalamu'alaikum wr wb.

__ADS_1


__ADS_2