SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 80 : Hadiah Untuk dan Dari Anya


__ADS_3

Fadly dan mama Veronica berjalan berlahan mengikuti Dinda dan Anya yang sedang mendorong kursi roda Mayasa.


Tak henti-hentinya Anya berceloteh tentang pengalamannya bersama ke 2 penculik itu. Dinda tak bisa membayangkan peristiwa yang menimpa putrinya tadi siang.


"Anya, siapa yang mengajarimu?"


"Ammah."


Dinda melirik Mayasa yang sedang tertawa lebar mendengar cerita Anya. Dia bersyukur Anya sudah mampu membela diri.


Tapi kini makin dia sadar, bahwa keluarganya selalu dalam intaian orang-orang jahat.


"Mayasa, apa yang terjadi denganmu."


"Tak terjadi apa-apa, Kak."


"Dia apa-apa, Mbak. Aku mendapati dia tergeletak di atas rumput." sahut Fadly.


Jalan Dinda seketika berhenti. Menatap Fadly , seakan tak percaya dengan ceritanya.


"Jangan didengarkan, Kak."


"Mayasa, kamu terluka?"


"Hanya pegal dan nyeri saja, Kak."


"Fadly, sudah kamu telpon?" tanya mama Veronica.


"Sudah. Itu dia datang."


Terlihat seorang wanita paruh baya memasuki gerbang rumah Haydi. Berjalan menghampiri mereka.


"Saya di-wa sama pak Fadly. Apa benar ini rumah bapak Zaidan?"


"Benar," kata Layla yang kebetulan ada di situ.


"Siapa yang akan saya pijat?"


"Ini orangnya, Bu." kata Fadly menunjuk ke arah Mayasa.


"Tapi, bolehkah saya sholat maghrib dulu?"


"Boleh ... boleh. Kebetulan kami juga sudah melaksanakannya." jawab Dinda.


Fadly tengok kesana-kemari, kemudian menatap Mayasa.


"Kak Fadly juga harus dholat dulu. Itu ada pak Aslam. Berjamaah geh, sama pak Aslam. Di musholla depan."


"Mama?"


"Mama biar sama mbak Atun saja di dalam." jawab mama Veronica.


"Kak, Mayasa tak tahu bagaimana sholatnya sekarang. Mayasa benar-benar tak bisa berdiri?"


"Tak apa sambil duduk." Dinda mengantarkan Mayasa ke kamar bawah bersebelahan dengan kamar Haydi.


Dia membawa Mayasa ke dalam kamar mandi, untuk mandi dan berwudhu.


"Maaf, Kak. Merepotkan."


Dinda hanya tersenyum menatap adik iparnya itu. Dalam hati, dia bisa merasakan, bahwa keadaan Mayasa saat ini lebih buruk, dari pada waktu meninggalkan rumah, tadi pagi.


Terbukti dia sangat susah sewaktu akan mengusap wajah, tangan atau bagian tubuh yang lainnya. Sehingga harus dibantu.


"Sudah, kamu duduk di kursi saja sholatnya."

__ADS_1


"Ya, Kak."


Setelah siap semuanya, Mayasa bisa sholat dengan nyaman, Dinda meninggalkannya. Dia menuju dapur untuk menyiapkan makan malam bersama, di bantu oleh Layla dan Shoffa.


Alhamdulillah semua sudah siap, sebelum semuanya turun dari tempat sholat.


Terlihat mami Haydi berjalan beringin dengan mbak Atun dan mama Veronica.


Memang sejak selesai melaksanakan sholat maghrib berjamaah tadi, mami Haydi belum beranjak dari tempatnya. Dia masih bertafakur pada yang Kuasa.


Mereka semua menuju kamar Mayasa. Bersamaan dengan Dinda yang ingin ke sana juga.


"Alhamdulillah Mayasa, kamu kembali." Haydi mencoba memeluk Mayasa, tapi dicegah oleh mama Veronica.


"Mengapa, saya tak boleh memeluknya?"


"Maaf, saya hanya mau bilang ... hati-hati."


"Oh ... terima kasih."


Haydi melanjutkan keinginannya untuk memeluk Mayasa dengan hati-hati sekali. Mama Veronica melihat Haydi dengan penuh pengawasan. Hingga Haydi dibuat bertanya-tanya. Ada apa dengan mama Veronica ini ?


"Mama jangan berlebihan, mamy Haydi jadi bingung nich" kata Mayasa melihat Haydi mulai timbul rasa curiganya.


"Nggak apa-apa, Nak. Mamamu Veronica amat sayang padamu. Apa selama ini, kamu tinggal di sana?"


Mayasa mengangguk. tapi tak mau memberi keterangan lebih.


Untunglah pembicaraan itu tak berlanjut. Karena Mbak Atun menyelanya.


"Apakah saya bisa mulai memijitnya?"


"Segeralah, kasihan putriku." jawab mama Veronica.


"Bisa berbaring di kasur?" tanya mbak Atun.


Melihat itu semua, Dinda yang sejak tadi berdiri di dekat pintu. Agak bingung juga. Karena bila dia yang mengangkatnya, juga tidak akan kuat. Mohon bantuan pada mami dan mama Veronica, kelihatannya tak mungkin. Keadaan mereka juga lemah.


Tengok kesana-kemari. Yang terlihat hanya Fadly. Sepertinya akan menuju ke sini.


Kebetulan ...


"Pak Fadly, ke sini!"


"Ya, Bu Dinda."


"Tolong angkat adikku!"


Tanpa menjawab, dia berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamar, melewati Dinda yang termangu di pintu.


Sudah dibayangkan oleh Fadly, bahwa Mayasa memerlukan bantuannya untuk mengurus dirinya sendiri. Tapi memang dia itu keras kepala, kalau urusan minta bantuan.


"Biar aku angkat, Ma."


"Ya, Nak Fadly." mamy Haydi menyahutinya.


Fadly berlahan mengangkat tubuh lemah Mayasa ke pembaringannya.


"Sayang, Kamu lekas baik ya .... aku merindukanmu." kata Fadly sebelum meninggalkan kamar itu.


Dia memegang tangan Mayasa, sebelum meninggalkan kamar itu.


Dinda dan mami Haydi kaget dengan sikap Fadly. Tàpi membiarkannya.


"Maaf, bisa semuanya keluar." kata mbak Atun.

__ADS_1


"Mari, Mama dan Pak Fadly kità makan dulu."


Berempat mereka menuju meja makan. Di sana telah mènunggu Layla, Shaffa dan Anya.


Belum lama mereka duduk, Zaidan tiba.


"Ah, semuanya sudah mau makan. Hampir saja aku ketinggalan."


"Mas, sudah cuci tangan?"


"Sudah pastilah, di depan sebelum masuk."


"Rupanya ada tamu."


"Maafkan kami, Pak Zaidan."


"Apa yang perlu dimaafkan."


kata Zaidan sambil menarik sebuah kursi. Baru sadar kalau tangan yang satunya sedang memegang sesuatu.


"Anya, sini. Ini hadiah dari pak polisi. Katanya Anya luar biasa, sudah berani membela diri dari orang jahat."


Anya yang kebetulan duduk di sebelah ayahnya terlihat gembira. Meraih hadiah itu dengan suka cita.


"Terma kasih, Ayah." ujar Anya yang dibarengi sebuah ciuman untuk ayahnya. Yang dibalasnya pula dengan sebuah kecupan di dahinya.


"Emmmuuuuahhhh ... putri ayah yang pemberani dan baik hati."


Mama Veronica dan Fadly, dibuat cemburu oleh sikap Zaidan, yang ditunjukkan pada keluarganya.


"Sayang Anya, kenapa om Fadly nggak dikasih hadiah di pipi persis ayahmu. Kan om juga nyelamatin ammah Mayasa ..."


Anya melirik ayah bundanya, meminta persetujuan. Keduanya mengangguk.


Dengan gembira Anya menuju tempat Fadly.


Tak membuang waktu, Fadly turun dari kursinya dan meraih Anya dalam pangkuannya. Menghujani Anya beberapa kali kecupan. Baik di pipi, dahi, hidung dan matanya. Saking gemasnya.


Melihat itu mama Veronica juga menginginkannya.


"Oma, bagaiman?"


Anya melihat Fadly. Fadly tersenyum. Lalu membawa Anya yang masih dalam pangkuannya mendekati mamanya.


Anya memberikan ciuman terbaiknya di pipi mama Veronica. Dan dibalas dengan kecupan di pipi Anya.


"Sudah Oma dan Om Fadly, Anya mau makan."


"Ya, Sayang."


Anya berlari menuju kursinya. Duduk manis di depan piringnya, yang sudah diisi oleh Dinda. Baik nasi dan juga lauk pauk yangsekiranya dia suka.


"Eh ... ya, maaf. Mana Mayasa?" Zaidan baru menyadari kalau Mayasa tak bersama mereka.


"Lagi dipijit sama mbak Atun, di kamarnya." jawab Dinda.


"Dia tidak apa-apa tho, Fadly." kata Zaidan sambil menunggu Dinda mengambilkan nasi untuknya.


"Ayah, makanlah dulu." kata Dinda menenangkan.


_________________________


Maaf masih banyak tiponya.


Readers yang budiman. Mohon dukungannya, saran positif, like atau vote. Agar author bersemangat dalam berkarya.

__ADS_1


Moga-moga karya ini bisa menjadi bàcaan favorite


__ADS_2