SENYUM ANYA

SENYUM ANYA
BAB 78 : Bertemu Mayasa


__ADS_3

Allah maha melindungi.


Beruntunglah pria itu dapat keluar dari mobil, dengan menyeret temannya yang belum sadarkan diri, sesaat sebelum kereta api itu menabraknya.


Hanya saja, karena masih teramat dekat dengan mobilnya, maka hantaman mobil ke tubuhnya tak bisa dihindari. Yang menyebabkan mereka terpelanting dan luka-luka di banyak tempat.


Tak berapa lama beberapa polisi datang, mengamankan kedua penculik itu. Satu palisi yang lain mengatur lalu lintas yang mulai padat. Karena banyaknya warga yang datang berkerumun, ingin menyaksikan peristiwa itu.


"Pak Zaidan, kami tunggu kedatangannya di kantor, untuk berikan keterangan."


"Segera kami akan ke sana."


"Putri bapak tidak apa-apa?"


"Alhamdulillah,"


"Kami tinggal dulu."


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama."


Ke dua polisi itu pergi sambil membawa kedua penculik, yang sudah tak berkutik lagi. Seorang yang tadi tidak sadarkan diri, kini telah siuman. Dan hanya menurut saja ketika polisi membawanya.


Sedangkan Anya dalam dekapan Zaidan. Dia memeluk putrinya dengan erat. Seakan tak mau melepaskan lagi.


"Kak, bagaimana Anya." tanya Layla setelah bisa menyibak kerumunan orang, untuk menemui Zaidan. Diikuti oleh Aris dan Fadly.


"Anya nggak apa-apa, Sayang?" kata Layla membelai lembut Anya, yang masih di bahu Zaidan.


Anya tersenyum kecil di bahu ayahnya. Seketika Layla meraih dan memeluknya. Bertubi-tubi dia mencium keponakannya sebagai rasa bahagia yang tak bisa dia katakan.


"Alhamdulillah, Kamu selamat. Tante khawatir."


Anya menerima itu dengan gembira pula. Meski dia merasa ada sedikit rasa panas di bahunya. Mungkin efek dari cubitan pria yang menculiknya. Tapi dia terlihat bahagia bisa memeluk ayah Zaidan dan tante Layla.


Tak lama setelahnya, Anya terlihat sendu. Dia menatap ayah Zaidan.


"Ayah, ammah Mayasa di mana?"


"Ammah!?"


Zaidan baru sadar kalau meninggalkan Mayasa seorang diri di taman. Sampai kini dia tak tahu apa yang terjadi dengan Mayasa.


Yang dia dengar dari sambungan telepon, yang tersampaikan padanya .... Dia mencoba melawan penculik itu. Dan ....


Setengah berlari, dia menuju ke mobilnya.


"Pak Zaidan, biar saya saja yang menjemputnya ... Anya perlu istirahat!" kata Fadly sambil mengejar Zaidan.


Zaidan berhenti dan menoleh pada Fadly. Sejenak dia diam, ingin menerka apa yang tersembunyi dari balik keinginanya itu.


"Baiklah, aku percaya padamu. Bawa dia pulang ke rumahku. Aku tak mau dia kenapa-napa.... Sekarang dia di taman."


"Terima kasih,"


Fadly meninggalkan Zaidan, menuju ke mobil. Yang mana, mamanya dengan cemas menunggu kabar darinya.

__ADS_1


"Bagaimana Anya, Fadly?"


"Alhamdulillah, Ma. Dia selamat. Penculiknya yang terluka kena hantaman mobilnya sendiri."


"Alhamdulillah ..." Mama fadly bersyukur, terlihat wajahnya tersenyum gembira.


"Ma, kita ke taman dulu ya ... jemput Mayasa."


Mama Fadly tampak bingung dan berfikir. Tapi tak berani bertanya, khawatir mengganggu Fadly yang sedang menyetir.


"Ada apa, Mama?"


"Jadi tadi Mayasa dengan Anya?"


"Ya, sepertinya ada apa-apa dengan Mayasa. Terlihat Zaidan tadi sangat panik."


"Aku jadi khawatir,""


"Sudah, Mama. Kita lihat dulu."


Tak lama mobil mereka memasuki taman kota itu. Suasana sangat sepi, mungkin karena sudah sangat sore.


Matahari sudah terlihat mulai memerah, seakan memberi kabar, saatnya dia meninggalkan alam ini, untuk kembali ke peraduanya.


Tak bisa di pungkiri, rindu yang lama dipendam. Sekarang tengah mengusik jiwanya. Membawa kakinya melangkah dengan penuh harapan. Namun kecemasan kini dia rasa. Karena belum juga dia temukan sosok yang selama ini dinanti, dan kini dia tengah mencari.


Dimanakah, kan kutemukan dia ....


Hatinya bertanya-tanya.


Dia melihat area itu dengan resah. Sekali lagi dia melihat ke semua penjuru arah, tak tampak juga orang yang kini selalu menghias angannya. Dia ingin bertanya. Namun tak terlihat orang, untuk dia bisa mendapatkan kabar tentangnya.


Lama kaki berkeliling, hingga rasa putus asa menghampiri. Membuat matanya berkaca-kaca. Mengapa orang yang sangat dia nantikan sulit untuk ditemukan. Dia berteriak,


"Mayasa ... dimana dirimu , Sayang."


Tubuh yang tergeletak lemah diatas rumpun hijau, membuka mata. Mendengar teriakan orang yang telah lama dia kenal. Dengan sekuat suara yang dia bisa, dia menyahutinya.


"Kak Fadly ... aku di sini."


Dia berusaha bangkit, dengan menahan nyeri di dada dan juga kaki. Bahu yang satu, bekas tertembak belum bisa menahan tubuhnya. Bahu yang satunya lagi terkena imbas dari pukulan. Hingga dirinya binggung harus bagaimana ....


Tapi tetap saja dia berusaha, Hingga mampu menyandarkan tubuh, di pohon beringin kecil.


Dan sekali lagi dia berteriak,


"Kak Fadly ... kemarilah. Mayasa di sini."


Gema suara yang memenuhi taman yang sepi, terdengar jelas di telinga Fadly. Membuat dirinya bersorak gembira dan bahagia.


Setengah berlari dia menghampiri sumber suara. Yang terdengar bagai alunan simpony yang menghayutkan angannya, akan rasa di hatinya.


Ada nyeri yang menusuk di hatinya, manakala melihat orang yang disayangi, duduk lemah bersandar di pohon itu. Ingin ... sangat ingin dia menangis, melihat keadaan yang bikin hati teriris.


Kau seorang wanita. Tak seharusnya engkau diperlakukan seperti ini. Ingin dia marah ... tapi pada siapa.


Yang membuatku tenang, meski keadaanmu lemah seperti itu, engkau tetap tersenyum. Padaku ... ya ... padaku. Karena saat ini, hanya aku yang ada di hadapanmu. 😊

__ADS_1


Fadly menghampiri Mayasa. Berjongkok di sampingnya.


"Kak Fadly." kata Mayasa memecah kesunyian.


"May, kenapa selama ini ... kamu menghindariku."


Mayasa tersenyum seakan tak peduli.


"Kak, bisa ambilkan kursi roda itu ..."


Aris menatap kursi roda yang ditunjuk oleh Mayasa. Siapa yang tidak bertambah sedih, melihat semua ini.


"May, kakak nggak tahu kalau kamu menderita seperti ini."


Dia memeluk Mayasa dengan meneteskan air mata.


"Kak Fadly ini nggak sopan banget. Peluk-peluk Mayasa." teriak Mayasa.


"**Lagian ... kenapa pakai menangis segala. Harusnya yang nangis itu aku, tahu ?!"


"Ya ... ya ... tuan putri. Hamba ambilkan."


Fadly mencoba tersenyum melihat ketegaran Mayasa. Meski dalam ketidakberdayaan.


"Ya ... rusak." kata Fadly memperlihatkan kursi roda yang sudah penyok padanya.


"Tuan putri tunggu sini sebentar, Fadly akan ambil mobil dulu."


Setengah berlari Fadly mencapai mobilnya.


"Ada apa, Nak?" mama Fadly bingung mendapati putranya kembali dalam keadaan menyeka air mata.


"Maaf, Mama. Mama bisa duduk di belakang?" ujar Fadly sambil menyembunyikan air mata, yang ingin sekali keluar.


"Tapi mengapa?"


"Mayasa, Ma. Dia tak bisa jalan."


"Sudah jangan menangis. Mama tahu maksudmu."


"Terima kasih, Ma."


"Mayasa lebih membutuhkan kamu. Jadi tunjukkan, kalau kamu kuat."


Mama Fadly berlahan pindah ke belakang. Sementara Fadly duduk di kemudi, memutar mobilnya.


Dengan pelan dia membawa mobil itu, dimana Mayasa menantinya. Terlihat buliran-buliran bening menetes dari ujung matanya.


"Kak, apa kakak bisa menerima Mayasa seperti ini?" bisiknya lirih pada angin yang menyapanya.


Namun manakala mobil itu ada di depannya, kembali senyumnya menghias wajahnya. Seakan tak pernah terjadi apa-apa.


_________________________


Maaf masih banyak tiponya.


Readers yang budiman. Mohon dukungannya, saran positif, like atau vote. Agar author bersemangat dalam berkarya.

__ADS_1


Moga-moga karya ini bisa menjadi bàcaan favorite readers.


__ADS_2